
Aku meremas botol mineral dalam genggamanku. Ada rasa mengganjal dalam hatiku dan aku tidak dapat memastikan penyebabnya.
"Nilai gue anjlok pas naik kelas sebelas. Lo ingetkan, lo marah besar dan diemin gue, ketusin gue lama banget. Gue awalnya ngerasa bersalah karena mikir lo wajar marah. Mama sama Papa juga gitu sama gue. Tapi lama-lama gue ngerasa lo udah gak betah lagi jadi pacar gue."
"Puncaknya waktu lo larang gue buat buat main futsal bareng temen-temen. Gue ngerasa apa-apa gue salah. Kerjaan lo cuma marah-marah. Gue pikir lo gak mau lagi sama gue."
Aku menarik napas dalam-dalam. Hal seperti itu sudah menghancurkan hubunganku.
Tapi bukan itu maksudku.
"Trus? Kenapa lo mau kita balikan?" tanyaku pelan.
"Karena gue tau, keputusan gue salah. Gue kejar belajar satu bulan full buat UAS. Habis ujian, gue sakit dan dirawat. Gue berhasil kejar nilai, walaupun mepet. Di situ gue pikir, lo digituin gue karena peduli sama gue. Karena...ya jujur gue mau belajar karena omongan lo."
Bibirku bergetar. Ada rasa aneh yang memicu perasaan sensitifku. Ingatanku kembali memutar kejadian waktu lalu. Aku ingat betul wajahnya yang merengut saat aku marah padanya saat akan pergi bersama temannya. Bukannya apa, aku hanya tidak ingin dia mengulang kelas. Karena benar, aku peduli padanya.
Tapi lihat apa yang terjadi.
Aku memejamkan mataku. Ada rasa bersalah yang terselip. Aku tak menyangka bahwa sikapku akan berdampak demikian.
Seharusnya aku tidak egois dengan tidak memikirkan perasaannya.
"Gue minta maaf," ujarku tanpa sadar.
Dari sudut mataku, aku lihat Rael menoleh padaku. Sebelum dia bicara, gerombolan teman sekelasku datang sehabis olahraga. Kami sama-sama diam saat mereka lewat dan memasuki kelas. Beberapa ada yang menoleh untuk melihat, beberapa tak peduli.
Aku menarik napas. "Tapi semuanya gak bisa lagi berubah 'kan?" aku menatapnya dan berdiri.
Rael menegakkan tubuhnya.
"Lo bener. Gue peduli sama lo. Sangat. Tapi cara gue salah. Kerjaan gue cuma marah-marah dan gak mikirin perasaan lo. Gue minta maaf. Rael, satu hal yang perlu lo tau, semua hal yang lo pikirin tentang gue itu salah."
"Gue tau," jawab Rael. "Gue salah."
Sekarang aku yakin, semuanya berasal dari diriku sendiri. Perbedaan itu terletak di antara keegoisan dan ketidak pekaan. Perasaan menggebu dalam dadaku justru rasanya semakin menyesakkan begitu aku berusaha untuk meredakannya.
"But nothing would change," lirihku. Aku tidak sempat melihat wajahnya saat aku memilih untuk memasuki kelas tanpa menunggu jawabannya.
◻◻◻
Perasaanku semakin memburuk. Setiap kali aku berusaha menenangkan diri, semakin aku terbayang oleh perasaan itu sendiri.
"Alu, kalau lo emang sakit, mending ke UKS. Lo mirip orang gila sumpah."
Aku melirik Liona sekilas kemudian mengabaikannya. Bel pulang berbunyi lima belas menit lagi namun menunggu seperti ini rasanya seperti hendak mati. Yang ingin aku lakukan saat ini hanya tidur dan melupakan semuanya.
__ADS_1
Aku menghela napas dan berusaha memfokuskan diri selama lima belas menit itu. Hujan mulai turun perlahan. Dalam hitungan detik menjadi rintikan lebat.
Nanti Papa jemput di sekolah.
Begitu pesan yang Papa kirimkan padaku.
Aku mengemasi barangku. Andin sudah duluan sementara Liona mendapat tugas piket. Dapat aku lihat seorang cowok tinggi berdiri di depan pintu kelas. Aku penasaran dengan reaksi yang Liona berikan. Gadis itu sendiri pura-pura sibuk dengan kegiatan menyapunya.
Aku menggeleng pelan dan memutuskan untuk segera keluar. Banyak murid-murid yang berkeliaran untuk sekedar menunggu hujan reda.
Tapi kenapa harus di depan sana? Itu menganggu orang yang akan lewat.
Mobil Papa sudah terparkir di pelataran parkir yang terlindung dari hujan. Aku segera mengambil jalan memutar untuk sampai ke sana. Sebelum aku melihat Rael dan Gama sedang ambil ancang-ancang untuk berlari dalam hujan.
"Bentar. Bentar," kata Rael terdengar samar di telingaku. Aku juga mendengar Gama berdecak kesal karena dia sudah terlanjur melangkah ke depan dan sedikit basah terkena air hujan
"Buruan!"
Dan keduanya saling mendorong. Kadang saling menarik seperti anak kecil.
Tanpa aku sadar, keduanya menoleh padaku saat menyadari kehadiranku. Rael yang semula sudah bersiap berlari berbalik menghadapku. "Pulang sama siapa?" tanyanya.
Aku berdehem pelan. "Dijemput."
Dia mengangguk. Aku menggigit bibir bagian dalamku. "Gak nunggu hujan berenti?"
"Kita udah telat dua menit. Gue gak mau disuruh bersihin lapangan."
"Iya. Gue tau."
Aku melirik sekilas mobil Papa yang masih terparkir dan aku sadar mungkin Papa sudah menunggu lama.
Aku menghela napas. Aku tidak tahu ada apa denganku. Aku hanya tiba-tiba merasa lelah. Alih-alih meninggalkan mereka berdua, aku malah merogoh ranselku dan mengeluarkan payung biru kecil yang biasa aku bawa.
Oke Aloona. Just give it to him and leave.
Aku tidak mau melihat reaksinya. Jadi aku hanya langsung berbalik badan meninggalkan keduanya menuju pelataran parkiran.
"Titip salam buat om Erlang ya!"
Samar-samar aku mendengar dia berseru dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.
◻◻◻
Pagi-pagi sekali. Sebelum bel masuk berbunyi. Aku sudah menemukan Rael berjalan menuju ke arahku yang akan memasuki kelas. Dengan ripped denim dan rambut acak-acakan. Kutebak karena bawa motor tidak memakai helm.
__ADS_1
Aku tidak tahu. Mengingat percakapan kami kemarin rasanya ada sedikit penyesalan dalam diriku sendiri hingga rasanya aku tidak berhak membencinya.
Dia menyodorkan sesuatu. Sesuatu yang biru dan familiar. Sudut bibirku berkedut membentuk senyum tipis. Aku hendak mengambilnya namun cowok iseng itu menariknya lagi.
Rael memposisikan payung itu di belakang kepala dan menghela napas sambil menatapku.
"Udah kebukti 'kan? Kalau kemarin-kemarin itu cuma salah paham," katanya.
Aku mengernyit. "Tapi omongan lo belum sepenuhnya dapat dipercaya."
Dia terdiam.
Sial. Ada apa dengan diriku? Rasanya ada yang nyeri.
"Kalau pun semua yang lo bilang itu fakta, gak akan ada yang berubah," lirihku tanpa menatapnya.
Rael memperbaiki posisi berdirinya. "Jadi kita udah benar-benar putus?"
Aku tidak menjawab.
"Mungkin lo bener. Abis hujan selalu ada pelangi. Tapi pelangi gak bakal ada kalau gak ada hujan 'kan?"
Aku menatapnya.
"Gak ada juga yang bilang kalau awan gak bisa bikin pelangi."
Aku mengedip, diam-diam kebingungan dengan kata-katanya. "Pelangi gak bakal ada kalau ada awan," kataku.
Rael malah tersenyum tipis. "Gue tau. Tapi liat makna tersiratnya. Gue tau lo paham maksud gue."
Rael menyodorkan lagi payung itu padaku. "Walaupun awan bikin hujan turun, bukan berarti awan gak bisa bikin pelangi. Kalau memang itu keputusan lo, gue hargain."
Oh.
Aku menggigit bibir dalamku dan menerima sodoran itu. Namun Rael menahan sisi lainnya.
"Tapi...biarin gue berjuang lagi buat lo."
Sungguh rasanya ada sesuatu yang meletup-letup dalam dadaku. Mulutku mendadak bisu. Aku memperhatikan matanya.
Aku ingin menemukan kebohongan.
"Sampai gue dapetin lo lagi, tolong jangan deket-deket cowok lain."
Kenapa baru sekarang?
__ADS_1
Kenapa baru sekarang wajah tulus dan penuh keseriusan itu kamu tunjukan?
◻◻◻