
Malika Ashifa.
Nama itu melejit lagi untuk kesekian kalinya saat sebuah biografi terpajang apik di Mading Jurnalistik. Cantik dan berprestasi dengan kecerdasan yang tidak diragukan lagi. Posisinya sebagai mayoret Marching Band membuat seantero sekolah mengenalnya.
Aku kembali mengalihkan pandanganku ke depan dan melanjutkan langkah ke kelasku. Entah mengapa setelah melihat sekilas biografi itu membuat moodku semakin jelek. Semalaman aku terus-terusan memikirkan Rael hingga aku mengalami insomnia ringan.
Sejak aku tanpa sengaja mengatakan kalimat tabu itu kemarin, rasanya aku tidak punya muka lagi untuk berhadapan dengan cowok yang berstatus pacarku itu.
Aku tau Rael akan meninggalkanku, tapi aku malah mempercepat itu terjadi. Mungkin setelah ini Rael akan berkata, 'Lo bener. Gue nembak lo lagi karena putus dari Malika. Maafin gue. Kita berakhir.'
Iya. Malika itu mantannya Rael. Lebih tepatnya, karena cewek itu Rael memutuskanku. Dan saat mereka putus, Rael meminta sebuah hubungan lagi denganku.
Terdengar brengsek 'kan?
Aku tahu.
Aku menghela napas dan menepuk wajahku pelan sebelum masuk kelas. Andin sudah duduk manis di kursinya sambil memainkan ponselnya.
Aku duduk di kursiku. "Liona gak datang?" tanyaku melihat kursi di sebelah kananku masih kosong, padahal bel masuk sebentar lagi berbunyi.
"Datang. Ngapel dulu ke kelas pacar. Ganjen," jawab Andin dengan makian di akhir katanya. Terdengar kasar, tapi baik bagi Andin maupun Liona, itu bukanlah masalah besar.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Saat aku hendak mengutak-atik ponselku, Rael tiba-tiba datang dan berdiri di depanku. Kedatangannya yang tiba-tiba membuatku tak sempat berpikir untuk berkata. Katakanlah aku sedang berusaha menghindarinya.
"Gue mau ngomong. Gak di sini," katanya dengan wajah tanpa ekspresi.
Aku membuka mulutku hendak berkata, tapi aku tidak punya ide hendak mengatakan apa. Saat Rael terlihat tidak sabaran menunggu, bel sudah berbunyi hingga seluruh siswa yang berada di luar masuk ke dalam.
Aku lihat cowok di depanku ini mengatupkan bibirnya dengan alis menyatu. Aku tahu ia kesal karena niatnya terhalang. Aku mengalihkan pandanganku karena dia menatapku lama membuatku merasa tak nyaman. Orang-orang mulai bertanya apa yang dilakukan cowok di depanku ini.
Setelah terdiam sejenak, akhirnya Rael memutuskan untuk pergi. Tapi aku yakin dia tidak akan menyerah. Aku mulai memikirkan tempat untuk kabur saat istirahat nanti. Karena demi Tuhan, aku belum mau berbicara dulu dengannya. Bukan marah padanya, tapi aku malu pada diriku sendiri.
Haah—
◻◻◻
Waktu istirahat terasa lebih cepat datang. Aku mengemasi bukuku dan mengatakan pada Andin bahwa aku tidak ke kantin. Aku ingin mencari suasana yang tenang dulu.
Aku berjalan di koridor tanpa suara sambil celingukan.
Astaga, kenapa aku jadi seperti orang bodoh begini?
Bahuku turun dan helaan napas keluar dari mulutku. Hanya karena Rael aku jadi seperti ini. Aku yakin aku sudah tak menyukainya, tapi sebagian dari diriku berkata sebaliknya. Sebenarnya ada apa denganku?
Tanpa sadar, seseorang mencengkram lenganku dari belakang. Belum sempat menoleh, tarikan kuat itu menarikku berbalik. Aku yang semula hendak mencuci muka ke toilet dipaksa untuk mengikuti langkahnya. Gagal sudah rencanaku untuk menghindar karena orang yang ingin kuhindari sudah membawaku ke lantai paling atas.
Aku menatapnya yang sedang mengunci pintu pintu rooftop dengan mata membesar.
Kenapa Rael bisa memegang kunci rooftop?
__ADS_1
Dan kenapa pula harus di kunci dari dalam?
Cowok itu mengantongi kuncinya dan berbalik menatapku. Aku mengerjap gugup. Apa yang harus aku katakan? Rael sendiri malah diam menatapku dengan alis berkerut.
Akhirnya aku lihat dia menghela napas lalu merogoh kantong celananya yang sebelah kanan. Tanpa aku sangka dia menyodorkan susu kotak yang biasa ia belikan untukku.
Aku berdecak dalam hati. Oww.
Mengingat insiden kemarin, aku pikir dia tidak perlu repot-repot membelikanku susu kotak sebelum kedinginan ini berakhir.
Aku menatap Rael dan susu kotak itu bergantian, setelah aku mengambilnya, cowok itu malah menarik tanganku mendekat ke tembok pembatas yang berhadapan langsung dengan udara yang bertiup agak kencang. Lebih dari itu, dia menaiki sesuatu seperti undakan dinding dan duduk di sana.
Aku menjerit protes karena dia juga membawaku. Jantungku langsung melompat-lompat saat aku melihat ke bawah karena posisi kami lebih tinggi dari pembatas.
"Kalo jatuh gimana?!" seruku tegang sambil mencengkram lengannya.
"Ya mati," jawabnya santai membuatku berdecak geram.
Aku masih gemetaran saat melihat ke bawah.
"Lo bakal beneran jatuh kalau terus ngeliat ke bawah."
Rael menarik bahuku ke belakang dan aku memegangi dadaku cemas. Rael melepaskan bahuku tapi aku masih mencengkram tangannya.
Persetan dengan gengsi. Nyawaku lebih penting.
Rael meletakkan kakinya di atas pembatas dan merogoh sakunya lagi. Setelah berusaha menenangkan diri, aku kembali dibuat kaget saat Rael mengeluarkan sebatang rokok lengkap dengan pemantiknya.
"Nyalain, gue turun." aku mengancam dengan tajam.
"Kuncinya di gue," katanya membuatku kesal. Tepat saat ia akan membakar ujung rokok itu, aku buru-buru merampasnya kemudian melemparnya ke bawah hingga terjatuh dari gedung sekolah itu.
Kami sama-sama terdiam melihat rokok itu jatuh. Dia menatap ke arahku dengan tatapan datar kemudian malas-malasan menyimpan pemantik apinya.
"Sejak kapan lo ngerokok?"
"Baru."
Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat. Rael tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada cowok ini.
Apa ini bentuk kefrustasiannya karna putus dari Malika?
Aku memutuskan untuk tidak peduli lagi tentang itu. Lagipula saat ini Rael tak dapat diajak bicara baik-baik.
"Bentar lagi masuk," kataku memberitahu. Sengaja mengode agar dia segera mengatakan apa tujuannya membawaku kemari.
Aku menatap ke depan tapi aku tau dia menatapku. Tiba-tiba kepalanya jatuh di bahuku lalu semakin turun hingga kepalanya dipangkuanku dalam posisi miring hingga aku hanya melihat sisi wajahnya.
Aku menjerit. "Jangan main-main! Lo kira kita lagi di lapangan? Kalau jatuh gimana?!" seruku karena Rael sangat tidak tau tempat. Aku saja masih ketakutan sampai sekarang tapi dia justru berbaring seperti ini.
__ADS_1
Dia tidak melihatku. "Bolos bareng gue," katanya pelan seperti sedang membujuk.
Aku berdecak kesal.
Kenapa keras kepalanya harus muncul sekarang?
Aku tidak mengatakan apapun. Menunjukan padanya bahwa aku sedang begitu kesal. Dia pun bergeming dengan mata tertutup. Tapi, melihatnya seperti ini, aku tiba-tiba menghela napas.
"Kebalik."
Rael bersuara tiba-tiba hingga aku kebingungan menatapnya yang tidak menatapku.
"Hm?"
"Gue mau kita balikan bukan karena gue putus sama Malika,"
"..."
"Tapi gue putusin Malika biar bisa balikan lagi sama lo."
Aku mengerjap.
"Gue gamon," lirihnya.
Aku terdiam seribu bahasa. Entah paru-paruku yang mengembang atau rongga dadaku yang menyempit, yang pasti aku merasa begitu penuh hingga jari-jariku tidak bisa diam.
"Sama dong," sahutku.
"Apanya?"
"Sama kayak waktu kita putus. Lo mutusin gue biar bisa pacaran sama Malika."
Rael membuka matanya dan merubah posisinya menjadi telentang membuatku melotot. "**** jangan gerak!!" seruku memegangi tubuhnya takut kalau dia terjatuh.
Rael mengacuhkan peringatanku. "Lo marah."
Itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan. Aku tidak tahu lagi harus bicara apa jadi aku hanya diam dengan raut tak bersahabat.
"Lo bukan pelarian gue," katanya.
Aku mengalihkan pandanganku asal tak menatap ke arahnya.
"Lo gak perlu menghindar. Gue cuma balik ke tempat dimana seharusnya gue berada. Aloona, gue sayang lo."
Tolong beri aku saran, aku harus jawab apa?
Aku membuang napas berat lalu menyandarkan punggungku. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang. Rael bisa dengan sangat mudah membolak-balikkannya. Dia membuatku membencinya dengan sangat.
Dan sekarang, hanya dengan mendengar penuturannya aku dengan sangat mudah luluh.
__ADS_1
Bodohnya aku.
◻◻◻