Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Pertanyaan


__ADS_3

Suara bising terdengar hingga ke seluruh penjuru sekolah. Sekolah sudah berakhir sekitar tiga puluh menit lalu. Bukan berakhir dalam artian sebenarnya. Hari sabtu seperti ini, PBM berakhir tiga jam lebih cepat dan dilanjutkan dengan kegiatan ekskul.


Karena, Kak Annika dan Kak Fadli tidak bisa datang, maka ekskul fotografi diliburkan. Aku menjadi pengangguran dan hanya bisa menonton anak Marching Band latihan dari lantai dua.


Banyak orang yang menonton pertunjukan itu. Dari lantai satu maupun lantai dua. Tapi aku yakin, yang mereka sukai itu bukan lagunya, tapi orangnya.


Aduh, kenapa aku jadi sarkas begini?


"Gue turun dulu ya," kataku pada Viona, teman satu ekskulku.


Aku tidak tahu kenapa, moodku jelek akhir-akhir ini. Aku suka bicara sarkas dan ketus.


Saat hampir sampai di kelas, seorang cowok yang sangat aku kenal keluar dari kelasku. Aku berhenti saat dia sampai di depanku.


"Lo gak ekskul?"


"Pelatihnya gak datang," jawabku. "Lo bolos lagi?" tanyaku balik.


Rael nyengir. Tanpa menjawab, dia menarik tanganku. Aku memutar bola mataku malas dan dengan pasrah mengikutinya kemanapun dia membawaku.


Kami sampai di sisi lain gedung, tepatnya lapangan futsal. Rael menarikku untuk masuk lebih dalam dan duduk di kursi pinggir lapangan. Aku tak sempat berkata, Rael memberikan sebuah susu kotak ke tanganku.


"Lo nonton gue," katanya sambil memperbaiki ikatan tali sepatunya.


"Kalau gue kena bola gimana?" tanyaku tak serius.


Rael bangkit dan menatapku. "Gue tonjok yang nendang bolanya."


Aku hendak mencibir, aku justru mendengar kekehan Rael. Cowok itu membuka seragamnya hingga menyisakan kaos putih polos di tubuhnya.


"Pegangin," katanya melempar seragam itu padaku dan berlari masuk ke lapangan.


Aku menjengit. "Iih bau," protesku mengangkat seragam itu. Tapi Rael tak mengacuhkannya sama sekali.


Dia sempat menoleh hanya untuk menertawakanku.


Siapa yang tidak akan luluh? Aku memang berkata bahwa aku membencinya, tapi sebagian dari diriku sangat lemah terhadap rayuan cowok itu. Aku tidak tahu itu bisa dikatakan sebagai rayuan atau tidak. Anggap saja begitu.


Aku membuang napas. Akhirnya aku berusaha menyamankan diri di tengah lingkungan dominan cowok ini. Aku menyingkirkan semua perasaan tak enak itu karena di depan, samping, ataupun belakangku, yang ada hanya laki-laki. Walaupun mereka tak terlalu memperhatikanku.

__ADS_1


Aku tidak tahu sudah berapa lama aku duduk di situ hanya untuk memperhatikan pacarku bermain futsal. Susu kotak yang diberikannya pun hanya aku genggam bersamaan dengan seragamnya di pangkuanku dan ranselnya di sebelahku.


Ditengah keramaian anak-anak futsal, aku masih bisa samar-samar mendengarkan dentuman musik Marching Band di sisi gedung sebelah.


Diam-diam aku memikirkan kenapa Rael memilih bermain di sini sementara ada seseorang di sana yang menunggunya untuk datang menonton. Maksudku Malika. Jika dibandingkan dengan Malika, aku bukanlah apa-apa. Ibarat dia kuaci, aku sampahnya.


Tanpa berpikir dua kalipun, orang-orang hanya akan memilihnya.Aku cukup tahu diri untuk tidak menyangkal itu.


Kenapa Rael harus repot-repot menghabiskan waktu bersamaku?


Sial. Dadaku sesak lagi.


Sadar dari lamunanku, aku lihat Rael menghampiriku. Aku menegakkan tubuhku dan dia berdiri di depanku. Sebelum aku sempat bertanya, Rael meraih tanganku untuk berdiri. Mengambil ranselnya dan menarikku pergi dari sana.


Aku tidak tahu apa yang terjadi, jadi aku menurut saja. "Kenapa sih?" tanyaku akhirnya karena mulutku sudah gatal hendak bertanya sedari tadi.


Dia melirik sekilas lalu melanjutkan langkah. Aku membuang napas lelah karena kakiku mulai pegal mengikutinya. Rasanya aku memutari satu sekolah, belum lagi keramaian yang membuat telingaku berdengung.


Aku tidak tahan lagi. Aku menahan tanganku hingga Rael ikut berhenti. "Kaki gue gak sepanjang kaki lo. Langkah gue lebih banyak," kataku ketus. "Kaki gue pegel."


Aku lihat Rael mengerjap sambil menatapku. Dia menghela napas. "Sorry. Gue mau cari tempat yang enak. Muka lo udah merah tuh."


Aku merengut dan menatapnya kesal. "Kenapa? Jelek?" tanyaku ketus.


"Gak. Cantik."


Aku mencibir saat dia tersenyum geli. "Lo bawa gue karena kalau gue lama kena panas, gue makin jelek. Iya 'kan?"


Rael menggeleng sambil menghela napas. "Nanti iritasi. Gatal. Garuk-garuk. Luka," katanya. "Lagian gak percayaan banget sih. Bawa sunblock gak?"


Aku merengut. Ingin menjawab lagi tapi Rael sepenuhnya benar. Jadi aku hanya mengangguk mengiyakan.


"Ya udah. Kita cari tempat enak dulu."


Aku tutup mulut. Setelah melewati lapangan tempat anak-anak Marching Band latihan, kami akhirnya memutuskan untuk istirahat di samping kolam ikan dekat taman.


Aku mengipas wajahku dengan tangan. Dan merogoh ransel dan mencari sunblok yang biasa aku bawa. Bukannya apa, ini demi keamanan.


Apa aku terdengar seperti seorang penyakitan?

__ADS_1


Aku tahu diri kok untuk tidak menyangkal.


Aku memakainya dengan cepat agar tidak menarik perhatian orang lain. Aku tidak mau orang berpikir bahwa aku gadis yang suka bersolek, karena memakai sunblok sementara anak-anak lain yang berjam-jam di tempat panas tidak mengenakannya. Terutama anak Marching Band.


Aduh, Marching Band lagi.


Aku tiba-tiba benci ekskul itu. Kemudian aku tersadar. Kami duduk tepat di samping kanan mereka latihan. Walaupun posisiku sedikit menjorok, tapi tidak menutupi akses penglihatan. Malah pemandangan semakin bagus. Ditambah tempat yang teduh membuat yang menonton di sekitarku semakin menikmatinya.


Aku melirik Rael. Pacarku itu sedang meneguk air mineralnya lalu mengusapkan wajah berkeringatnya ke lengan kaosnya. Aku menatap ke depan lagi, lalu ke Rael lagi. Begitu sampai beberapa kali.


Ah, aku lelah. Aku pasrah. Aku tidak peduli lagi.


Aku menarik sedotan dan menancapkannya pada susu kotak yang sedari tadi aku abaikan.


Tatap saja sepuasnya.


Mau bagaimanapun, orang yang menarik perhatianmu bukan aku. Jadi, ok fine saja yang bisa aku katakan. Mau protes pun itu bukan hakku. Toh, aku juga tidak bisa memaksamu. Jadi, percuma saja.


Beberapa menit kemudian, pertunjukan selesai. Marching Band menjeda latihan untuk istirahat. Dan selama itu pula tidak ada percakapan antara aku dan Rael.


Aku diam saja. Aku tidak menatap ke arahnya. Aku tidak tahu, tapi aku hanya merasa kesal namun tidak bisa aku ungkapkan. Susu kotak di tanganku mendadak berasa hambar. Jadi aku meletakkannya di sisiku walaupun baru beberapa teguk aku minum.


Aku rasa aku sudah tidak perlu lagi berada di sini. Aku ingin pulang. Aku menoleh menatap Rael yang memandang ke depan. Saat aku hendak berkata, sesuatu menarik perhatianku.


Tepatnya pada noda berwarna keunguan di pelipisnya. Tidak terlihat begitu jelas karena tertutupi poninya yang agak panjang. Tapi mataku tidak salah lihat.


Aku mengulurkan tanganku. Menyingkap rambut itu hingga terlihat lebih jelas. Rael tersentak saat ujung jariku menyentuhnya.


"Yang waktu itu...bukan cuma perkelahian satu pihak 'kan?" tanyaku dingin.


Rael menarik tanganku, namun dia kembali menghadap ke depan, enggan menatapku.


Aku mengatupkan mulutku. "Kalau lo anggap gue pacar lo, kasih tau ada masalah apa lo sama Rivan," kataku. "Tapi kalau lo gak mau." aku menggedikkan bahuku. "...ya terserah."


Aku lihat dia menolehkan kepalanya padaku. Tapi aku buru-buru berdiri dan pergi setelah meletakkan seragamnya.


...berarti lo gak anggep gue sebagai pacar lo.


◻◻◻

__ADS_1


__ADS_2