
Mie ayam yang sedang kuaduk-aduk tidak terasa lebih enak. Baru beberapa suap, aku sudah tak lagi mood untuk memakannya. Semuanya hanya karena seorang cowok yang duduk di sampingku. Semenjak kedatangan, cowok itu tidak mengatakan apapun.
Aku meletakkan sendokku. "Lo di sini bukan cuma mau liatin gue makan 'kan?" tanyaku jengah.
Rael malah menopang pipinya dan menatap ke arahku. "Abisin dulu. Baru gue ngomong," katanya.
Aku mengernyit. Apa-apaan itu? Dan kenapa rasanya aku sangat ingin memukul wajah tembok itu dengan mangkok di depanku ini?
Aku merengut dan menyuap lagi satu sendok mie ayam yang sudah kupesan ini. Mendadak aku merasa mual. Moodku jelek, dan mie ayam ini membuatku hendak muntah. Tapi karena cowok di sampingku, yang tidak berhenti memandangiku, berhasil membuatku menghabiskan mie ayam itu.
Rael tersenyum. "Bagus," katanya menepuk-nepuk kepalaku pelan. "Makan tuh mie ayam."
Aku mendelik padanya dan meletakkan air putihku kesal. "Lo mau ngomong apa sih?"
Rael menggeleng. "Gak baik ngomongin masalah rumah tangga di muka umum."
"Uhuk-uhuk!!" Andin dan Liona sontak batuk-batuk yang disengaja. Aku memandang mereka datar karena akting yang berlebihan.
Rael melempar remukan tisu pada dua sahabatku itu dan mengusir keduanya. Tanpa disuruh pun keduanya memang akan pergi, namun pacarku ini terlihat kesal karena ulah Andin dan Liona.
Aku menatap Rael, begitu pun dia yang menatap ke arahku.
"Kenapa?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Lo mau ngomong apa?"
Rael tidak langsung menjawab. Cowok itu malah menatapku dengan tatapan yang lebih manusiawi. "Cium?"
Mataku membola. "H-huh?!"
Rael mendekatkan wajahnya. "Katanya ciuman bisa mengembalikan semangat."
Aku mengedip. Kejadiannya sangat cepat. Seperkian detik kemudian aku merasakan sesuatu yang hangat di sudut mata kiriku.
Aku refleks mendorongnya dan bangkit berdiri. Dengan tangan kanan, aku tutupi mulutku sendiri. Jantungku melompat-lompat dan wajahku terasa terbakar. Aku mendengar pelakunya terkekeh dengan merdunya.
Sial—
Aku berusaha menenangkan diriku sendiri. Aku melirik ke sekitar. Sebagian besar sibuk dengan urusan mereka, namun sebagian lagi justru menatap ke arahku.
Aku menarik napas dan menghempaskan tubuhku lagi di samping Rael. Aku merengut seragam bagian dadanya dan menatapnya tajam. "Sekali lagi lo ulang, tu bibir gue kempesin," ancamku tapi dia malah tertawa seolah ada yang lucu.
__ADS_1
Aku kesal sekali. Aku bangkit berdiri dan pindah ke kursi depan tepat dua sahabatku tadi duduk. Rael melipat kedua lengannya di atas meja dengan tatapan lurus padaku.
"Gue harus ngebuktiinnya gimana lagi biar lo percaya?"
Aku mengedip. "Lo ngomong apaan sih?" tanyaku.
Rael menyatukan alisnya. "Aloona, gue sayang lo. Apa itu gak cukup?"
Aku harus berkata apa? Jantungku sudah berdetak tak beraturan hingga aku sulit untuk memikirkan kata-kata yang tepat. Sedangkan Rael sendiri masih menatapku dengan dahi berkerutnya.
"Malika bukan siapa-siapa gue. Kita gak ada hubungan."
Jadi ini tentang Malika? Jadi Rael tau aku sedang salah paham? Dan sekarang dia sedang berusaha menjelaskannya.
Maaf-maaf saja, tapi itu tak berguna.
"Kalau gue bilang, gue gak percaya gimana?" tanyaku balik.
Rael tidak menjawab. Cowok itu malah menghela napas dan menatapku lama. Sebenarnya aku tidak tahan untuk ditatap selama ini, tapi karena aku sedang kesal, aku tidak ingin mengalah soal apapun. Jadi matanya kutatap balik dengan semua keberanian yang aku punya.
Beberapa detik kemudian, alisnya bertaut lagi. Kali ini jelas ketidaksukaan terlihat di wajahnya. "Jangan liat orang lain kayak gini selain gue," katanya. "Ngerti?"
Aku tidak mengatakan apa-apa.
◻◻◻
Gagal sudah. Segala yang sudah kurencanakan di kepalaku gagal sepenuhnya. Aku sudah memikirkannya lama, bagaimana hubungan ini cepat berakhir dan tentang kebebasan diriku dari perasaan ini.
Aku ingin bebas.
Hubungan ini membuatku lelah.
Aku menekan wajahku lebih kuat ke punggung Rael.
Tapi aku lemah. Hanya karena rayuan kecil aku luluh. Aku tidak tahu, apakah karena aku terlalu bodoh atau karena aku yang terlalu mencintainya.
Aku merasakan Rael memegang tanganku di pinggangnya. "Mau hujan. Pegangan. Gue mau ngebut."
Aku mengencangkan peganganku seperti yang dia minta. Laju motornya perlahan lebih cepat. Beberapa menit kemudian, kami sampai di depan rumahku. Gerimis mulai terasa saat kami sampai.
"Gue gak mampir. Salam sama tante Amira."
__ADS_1
Aku mengangguk. Menatapnya yang tetap duduk di atas motornya. Rael balik menatapku, lalu tiba-tiba mematikan mesin motornya. Cowok itu menarik tangan kananku dan menggenggamnya.
"Aloona," panggilnya. Matanya terlihat lelah. Aku hanya menatapnya sekilas. Kemudian aku mendengar cowok itu menarik napas. "Mungkin lo gak pernah tau, tapi kehilangan lo sekali adalah hal yang paling gue sesali."
??
Apa aku tidak salah dengar? Aku mengangkatnya pandanganku lagi ke arahnya. Kali ini lebih lama karena aku sibuk memperhatikan matanya, siapa tahu aku bisa melihat kebohongan atau keraguan di sana.
Rael menghela napas lagi.
"Kebanyakan ngehela napas bisa bikin lo cepat tua," kataku. Sedikit familiar dengan kata-kata itu. Tapi aku lupa.
"Kata siapa?"
"Gak kata siapa-siapa?"
"Cowok bukan?"
Aku menatapnya lebih lunak. "Gak kata siapa-siapa," ulangku dengan nada yang lebih halus.
Tapi alis cowok itu berkerut lagi menunjukan rasa tidak sukanya. "Jangan liat orang lain kayak gitu selain ke gue."
Hmm. Terdengar familiar.
"Kalau ada masalah, jangan ngadu ke orang lain. Ngadu ke gue."
"..."
"Jangan pergi ke orang lain. Pergi ke gue."
"..."
"...jangan nangis ke orang lain. Nangis ke gue."
Aku mengedip. "...are you jealous?" bisikku tanpa sadar.
"...Iya."
Hmm? Aku tersadar saat Rael balas berbisik. Aku yakin kalau suaraku sangat kecil dan Rael tidak mungkin mendengarnya. Wajahku panas. Aku tiba-tiba malu dengan diriku sendiri. Beraninya aku berkata demikian.
Aku buru-buru merogoh ranselku dan menarik jaket denimnya yang belum sempat aku kembalikan. Aku lemparkan ke wajahnya dan berbalik untuk berlari kecil menuju teras rumah.
__ADS_1
◻◻◻