Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Mulai


__ADS_3

Entah bagaimana ceritanya, semuanya menjadi seperti ini. Semuanya melenceng dari rencana awal yang telah aku susun.


Putus, menjauh, melupakan. Thats the plan.


Sekarang hanya ada perasaan yang tiba-tiba muncul, yang tidak pernah aku inginkan namun hatiku menyukainya.


Hati tidak pernah salah.


Aku benci mengatakannya, tapi harus aku akui ungkapan itu ada benarnya.


Perasaan itu masih bersisa. Tapi di saat pikiranku menolak namun hatiku menginginkan, itu dinamakan apa?


Acara melihat-lihat pameran kemarin berakhir dengan tenang. Soal perkataan Rael, bahkan dia sendiri nampaknya tidak ingin mendengarkan jawaban dariku. Setelah mengatakan kalimat itu, dia hanya tersenyum dan mengajakku keluar, tanpa menunggu jawaban dariku.


Mengesalkan bukan?


Mengapa?


Entahlah. Aku juga tidak tahu mengapa. Aku hanya merasa kesal.


Aku berakhir dengan menghela napas. Lagi-lagi.


Sekarang, lain lagi masalahnya. Ini adalah hari pertama Andin melakukan pembalasan terhadap pengeroyokan padanya kemarin lusa. Ini bukan main fisik, namun lebih condong untuk mempermainkan mereka secara mental. Semacam pembullyan mungkin. Tanpa otot.


"Gue bilang gue gak mau ikutan," protesku saat Andin dan Liona mengajakku memasuki kantin. Tempat pertama mereka menjalankan rencana.


Andin menatapku datar. "Fine. Gue gak bakal ngajak lo. Emang lo gak mau makan? Gak laper? Orang cuma mau ngajak makan kok."


Andin melengos, berlalu begitu saja. Liona merangkul bahuku dan mengajakku masuk kantin. Aku menghela napas dan menurut. Tidak ikut campur bukan berarti tidak boleh makan. Perutku juga perlu diisi karena sehabis pulang dari pameran kemarin aku tidak makan lagi sampai sekarang.


Aku dan Liona pergi memesan baso dan minuman dingin. Kemudian, Liona menyenggol lenganku dan dengan dagunya dia menunjuk ke belakang.


The plan is started.


Perhatikan langsung tertuju pada anak-anak Marching Band, terkhususnya Malika yang membawa nampannya.


Dia tidak mendapatkan meja kosong.


Hari ini, ada sebuah perubahan mencolok. Penghuni kantin sebagian dipenuhi anak-anak IPS, sebagian lagi anak-anak famous dari IPA dan sisanya anak-anak lain yang lebih dulu mengisi meja.


Trouble maker.


Seka dan Maira.


Saat keduanya bertemu, mereka akan menghancurkan apa yang mereka lihat. Kondisi kantin sangat riuh, aku tahu itu disengaja. Sengaja menunjukkan siapa yang berkuasa.


"Yah, gak ada yang kosong ya?" kata Malika tanpa niat bertanya, hanya untuk mengode agar ada yang sudi memberikan kursi atau menggeser duduknya.


Maira pura-pura melihat sekeliling. "Guys, ada yang kosong gak? Kasian nih yang gak dapat meja."


Namun tidak ada yang menjawab. Maira mencibir. "Yah dikacangin. Emang dasar orang gak makan pernah setahun sekalinya makan kayak gembel. Ck ck ck, bangga gue sama anak IPA."

__ADS_1


Aku tidak tahu jenis ungkapan apa itu. Memaki kemudian mengaku bangga. Ekspresinya benar-benar menunjukkan kepuasan.


Mai. Mai. Lo yang terbaik.


"Eh Seka, lo bukan kain pel. Bolak-balik gitu. Kuker deh." kemudian dia kegelian dengan ucapannya sendiri.


"Bacot yah," sahut Seka.


Lupakan tentang mereka. Aku kembali fokus pada Malika. Gadis itu masih berdiam diri sambil memandangi Maira yang sibuk memanasinya dan mengabaikannya seolah dia tidak ada di situ.


"Perasaan tadi saosnya masih ada deh. Mai lo minum ya?" Andin yang berada di meja yang sama menyahut.


"Ih bacot," sahut Maira. "Eh yang di situ. Siapa sih yang pojok itu? Ambilin saosnya dong."


Aku mengernyit. Maira menyuruh seorang gadis yang berdiri di sebelah kiri Malika. Aku tahu siapa itu. Itu Thalita.


"Nih saosnya kak." Thalita memberikan saos itu dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang loyang baksonya.


Bukannya langsung mengambil, Maira malah mengulur-ulur waktu. "Bentar deh. Eh, Seka jangan pacaran mulu. Gimana sih," cerocosnya mengabaikan Thalita.


"Eh sini-sini mau saosnya," kata Andin yang duduk diapit anak-anak lain di bagian tengah.


Thalita menyodorkan saosnya, namun karena terlalu jauh dan berseberangan, belum lagi dengan padatnya para gadis di sana menyebabkan keseimbangannya terganggu. Loyang bakso di tangan kirinya terjatuh dan—


Pecah.


Maira tersentak kaget. "Duh, kenapa nih?" Maira bangkit.


Sebelum gadis itu melontarkan kata-katanya pada Thalita, aku menarik ujung seragamnya hingga dia menoleh. Segera aku tarik tangannya untuk duduk di sebelahku, di ujung kursi hingga kami berdempetan.


"Gue kenal dia. Dia bukan bagian dari target," bisikku.


Andin menatapku sangsi. "Lo mabok? Dia juga ikutan ngeroyok gue waktu itu."


Aku terkejut. Aku menatap Thalita yang sibuk membereskan kekacauan yang terjadi di bantu teman-temannya. Sulit dipercaya, aku mengenal anak itu dengan baik. Dia bukan orang seperti itu.


Ditengah rasa ketidakpercayaanku, Malika duduk membantu. Aku bisa melihat wajah geramnya dari samping. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka berdiri. Thalita mengantarkan pecahan kaca ke belakang sementara Malika menghadap kami.


"Jadi gitu ya jadi senior. Minta tolong boleh, tapi jangan sampai merugikan orang lain gitu dong. Dia emang junior, tapi bukan berarti kita bisa seenaknya," ujar Malika masih dalam intonasi lembut.


"Dih, mulai lagi deh capernya," kata Andin pelan di sebelah kananku.


"Bentar deh. Kok lo nyalahin kita?" Maira bangkit. "Perasaan, temen-temen gue gak ada deh yang kasarin dia. Gue ngomongnya juga baik-baik aja kok."


"Liatkan yang terjadi."


Maira tertawa. "Kenapa lo gak nyalahin dia? Dianya aja yang bego. Kalau emang mau bantuin ya jangan setengah-tengah. Udah tau mau ngasih saos, baksonya dipegang juga. Kan bisa ditaro dulu. Atau kalau gak mau nolongin, ya tolak aja. Gue juga gak maksa, kan?"


Malika terdiam, tidak punya argumen lain. Karena Maira benar. Walaupun mereka memang menargetkan Thalita, tapi perihal tadi itu, sama sekali bukan karena tentang Maira yang minta tolong.


Seka yang sedari tadi bersama pacarnya pun ikut nyempil. "Temen gue bener. Nah, lo kan seniornya yang baik, tolong bilangin sama junior lo itu. Lain kali kalau mau nolongin ambilin saos, letakkin dulu baksonya. Biar gak jatoh lagi."

__ADS_1


Aku menghela napas. Merasa tak enak tentu saja. Sedangkan mereka terlihat cuek-cuek saja.


Malika mati kutu. Mau bagaimana lagi? Kalau itu aku, aku akan bersikap demikian pula. Yah, sekurang-kurangnya minta maaf.


Lalu terdengar deheman keras dari belakang memecah suasana. "Ayo ah kelapangan."


Aku menoleh ke belakang karena suara itu. Iya, itu Rael. Cowok itu bahkan menarik paksa teman-temannya yang malas berdiri. Demi mengosongkan meja itu.


Untuk Malika.


Terlihat dari isyarat anggukan kepalanya pada gadis itu dengan senyum tipis.


Aku kembali mengalihkan pandanganku ke depan. Anak-anak Marching Band itu sudah berlalu ke sana.


Jangan pedulikan. Suara kepalaku.


Tiba-tiba aku teringat dengan pesananku yang belum aku ambil. Aku menghela napas dan berdiri. "Gue ambil baso gue dulu," kataku saat Andin menoleh dan dia mengangguk.


Ternyata Liona masih di sana. Duduk di kursi depan stand bakso sambil menikmati gorengan.


"Udah abis yah? Padahal seru," katanya.


Aku menggeleng pelan dan mengambil baksoku. "Ayo ah, yang lain nanyain lo," ajakku dan gadis itu mengiyakan.


Aku melangkah duluan dan Liona mengekor di belakang setelah mengambil baksonya. Saat dalam perjalanan menuju meja Andin, ada Rael berjalan berlawanan arah denganku dalam satu jalan lurus.


Sial. Aku tidak kenapa aku jadi begini labilnya. Tiba-tiba saja aku tidak mau bertemu dengannya. Saat dia menyadari keberadaanku di depannya, aku melangkah lebih cepat demi mencapai meja Andin yang dipisahkan satu meja lagi denganku, sebelum dia sampai duluan di sana.


Yang lain dengan senang hati menggeser duduknya tanpa protes saat aku menyelip di antara Andin dan Maira. Aku berdehem dan pura-pura tak tahu apa yang terjadi.


Selama beberapa detik aku lihat tidak ada perubahan. Sampai anak-anak cowok itu berlalu melewati meja yang aku duduki. Aku mengangkat kepalaku dan melihat Rael sedang berangkulan dengan Gama keluar kantin.


"Yah, Alu ngambek," ujar Liona yang duduk di depanku dengan bibir bawah dikelupas keluar. Main-main.


Aku menghela napas. Ada apa denganku sebenarnya? Perasaan itu terasa tak menentu dan selalu berubah setiap saat.


Kadang dia bersikap manis, kadang menyebalkan, kadang brengsek. Kadang aku merindukannya, kadang aku membencinya, kadang aku hendak menangis karenanya.


"Nah kan. Gue udah bilang."


Ada beban di bahu kiriku saat Seka meletakkan tangannya di sana. "Sekarang, perasaan lo apa kabar?"


Aku memejamkan mataku sebentar sebelum menoleh padanya. Aku menatapnya datar sementara dia hanya memberikan senyum simpul.


Si brengsek ini.


Aku menyentil dahinya hingga dia mengaduh dan menarik dirinya.


"Nyempitin aja lo."


***

__ADS_1


__ADS_2