Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Penghuni UKS itu, Adrian


__ADS_3

Pagi-pagi begini, telingaku sudah direcoki oleh kata-kata kasar Andin dan Liona yang saling adu mulut. Demi Tuhan ini masih pagi, kenapa harus buang-buang energi bahkan sebelum digunakan untuk belajar.


"Ganjen!"


Aku menutup kedua telingaku. "Dilarang berkata kasar di samping gue," kataku ketus.


"Lo juga. Ganjen."


Aku menghela napas. Kedua temanku ini kemudian saling memainkan ponselnya. Aku harus bersabar untuk menghadapi dua orang yang sama-sama keras ini. Mimpi apa aku mendapatkan sahabat-sahabat seperti ini?


"Lu, temenin gue ganti meja," pinta Andin di sebelah kananku. Aku mengangguk saja. Lebih baik keduanya pisah jika bersama mereka harus bertengkar.


Aku berjalan beriringan dengan Andin keluar dari kelas. "Ambil meja dimana?" tanyaku.


"Di gudang."


Aku mengernyit. "Di gudang bukannya udah rusak semua."


"Semester kemarin 'kan kita dapat properti baru. Masih banyak yang bagus yang diganti. Biarpun usang tapi lebih mending daripada meja bekas coretannya si Liona ganjen."


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Kadang aku heran, di satu waktu mereka bertingkah layaknya musuh abadi, namun di lain waktu mereka bisa sangat akur layaknya sahabat dari kecil. Bagaimana mereka bisa tahan dengan hubungan seperti itu?


Andin memasuki sebuah ruangan kotor dan berdebu. Satu lagi sumpek. Aku berdiri di depan pintu. "Kita minta sama Pak Anton aja deh. Mejanya kotor," kataku pada Andin yang sudah mencari mana meja yang tepat.


"Gak usah. Nanti Pak Anton ujung-ujungnya nanya kenapa. Masa iya dia harus tau masalah gue sama si ganjen Liona?"


Aku menghela napas. "Hati-hati," kataku saat melihat Andin menarik sebuah meja paling ujung. Aku menghampirinya untuk membantu.


"Itu turunin dulu kursinya," kataku menyentuh kursi-kursi yang terletak di atas meja yang Andin inginkan.


"Awas." Andin menarik kursi itu tanpa mengangkatnya hingga jatuh dengan suara keras.


Aku menutup mulutku dengan lengan kananku saat merasakan debu beterbangan. Mataku memicing sambil mengibaskan tanganku menghalau debu.


"Eh?!"


Aku menoleh pada Andin yang terlihat kaget.


"Lo kan gak boleh ngehirup debu kayak gini. Astaga, gue lupa!" seru Andin lalu mendorongmu keluar. "Maafin gue. Lo tunggu aja di sini," lanjut Andin dan segera masuk ke dalam.

__ADS_1


Aku ingin menyusul, tapi Andin benar. Aku mengusap hidung. Lalu terbatuk beberapa kali hingga tenggorokanku sedikit perih.


"Lo gak papa?"


Seseorang menepuk bahuku pelan. Aku mendongak dan menggeleng sembari mengusap bibirku. "Awas dulu," kataku mendorongnya pelan dan pergi ke teras gudang untuk mencari udara segar.


Setelah merasakan dadaku sedikit lapang, aku kembali ke depan gudang tepatnya cowok itu menatapiku. Aku berdehem pelan untuk menghilangkan rasa mengganjal di tenggorokanku.


"Ngapain lo di gudang kayak gini?"


"Nyari meja," jawabku dan tak lama Andin datang dengan menyeret meja yang tampaknya sudah dibersihkan dari debu.


Adrian mengangkat alisnya. "Oh, gue kira ngapain." dan cowok itu mengantongi tangannya dan berlalu dari hadapanku dan Andin yang melongo.


Andin bersungut lalu menarik mejanya. Karena kasihan, aku ikut mendorongnya pelan dari belakang. Aku diam saja saat Andin menggerutu tentang Adrian yang berjalan santai di depan kami.


Diam-diam aku setuju dengan Andin. Adrian bahkan tidak peduli atas nama laki-laki yang melihat perempuan kesulitan. Yah, walaupun sebenarnya mengangkat satu meja bukan hal yang sulit. Tapi kepeduliannya patut dipertanyakan. Niat membantupun tidak ada, terbukti dia tetap berjalan santai setelah Andin menyindirinya sampai ke kelas.


◻◻◻


Liona sedang galau. Dia sedang ada masalah dengan pacarnya, Ian. Tapi masalahnya bukan itu, kalau Liona sudah galau seperti ini, yang jadi korban itu adalah aku. Sepanjang waktu dia menempel padaku hingga aku jengah karena sikapnya.


"Wajah lo jijikin tau gak?" Andin berkata malas di sisiku yang satu lagi. "Si Ian gak bakal liat, jadi gak usah pasang muka kayak gitu."


Liona mengangkat kepalanya hanya untuk mencibir Andin kemudian kembali ke posisinya.


Hei, apa mereka tidak memikirkan aku sama sekali?


"Hai girls," sapa seseorang. Merangkulku dan Liona bersamaan dari belakang.


"Apaan sih? Jangan pegang-pegang," gerutu Liona hingga Sheva mengangkat tangannya bingung. Cewek itu berpindah ke sisi Andin.


"Biasa. PMS," ujar Andin dan Sheva hanya mengangguk.


"Eh Aloona."


Aku menoleh pada Sheva.


"Itu soal yang kemarin. Gue minta maaf. Gue gak sengaja."

__ADS_1


Aku mengangkat alisku. "Oh. Gak papa. Gue juga minta maaf. Jus lo tumpah."


"Gak. Salah gue. Lo gak perlu minta maaf," lanjut Sheva. "Gue bisa tanggung jawab kok. Jaketnya."


Aku mengernyit. "Gak usah. Udah gue cuci kok."


Sheva mengangguk. "Yah, gue gak bisa ngelakuin apa-apa dong."


Aku tersenyum tipis. "Nyante aja kali."


Sheva akhirnya pamit untuk gabung dengan teman-temannya. Aku diam saja memperhatikan gadis tinggi dan cantik itu duduk di kerumunan teman-temannya.


Bahuku mulai terasa pegal. Aku melirik Liona dan menggedikkan bahuku. "Mau sampe kapan lo kayak gitu?" tanyaku. "Udah nyampe noh, lo bisa nyander di dinding daripada di bahu gue."


Liona mengangkat kepalanya dan menatap meja kosong yang aku tunjuk lalu menatapku. "Tega ya lo," katanya cemberut dan duduk di salah satu kursi itu.


"Nitip gak?" tanyaku. Liona hanya menggeleng.


Fine. Terserah.


Aku pergi bersama Andin untuk memesan makanan. Hari ini aku ingin batagor pedas dengan es teh manis. Namun saat dalam perjalanan, aku melihat Rael. Sedang berjalan ke arahku.


Aku tak tahu apa yang aku pikirkan. Tanganku refleks menarik tangan Andin berputar arah. Dan kami terdampar di stand mie ayam.


"Lo beli mie ayam?" tanya Andin.


Aku tidak menjawab. Punggungku terasa tegang namun aku mengabaikannya. Aku buru-buru memesan semangkok mie ayam kepada penjualnya.


Ya Tuhan, kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa aku ketakutan bertemu dengannya seperti ini?


Setelah menunggu beberapa saat, aku perlahan mengintip ke belakang dan menghela napas lega saat tak menemukannya dimanapun. Selesai dengan pesanan, aku bersama Andin kembali ke meja Liona menunggu. Tapi sahabatku yang sedang PMS itu tidak sendirian.


"Nah loh mau kabur kemana lagi?"


.


.


.

__ADS_1


◻◻◻


__ADS_2