Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Memancing Masalah


__ADS_3

Yang bilang akan berjuang itu dirinya sendiri. Terlepas dari hal itu, kami tidak memiliki hubungan apapun lagi. Namun setiap kali dia muncul,rasa bersalah itu justru menyerangku seolah-olah semua yang terjadi adalah kesalahanku.


Cowok itu berlari kencang seperti angin melewati kelasku. Diikuti beberapa anak osis di belakangnya.


Hari ini, tanpa angin tanpa hujan, osis tiba-tiba mengadakan razia dadakan. Pertama mendengar isunya saja, anak-anak khususnya cowok sudah berlomba-lomba melarikan diri.


Aku menggelengkan kepalaku. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi. Anak-anak tetap rusuh sampai bel istirahat berbunyi.


Aku beserta Andin dan Liona segera menuju kantin. Tiba-tiba saja ada seorang cowok tinggi berdiri di depan kami. Aku dan Andin sontak berdehem pelan sementara Liona diam saja.


"Mau kemana?" tanya cowok itu khususnya pada Liona.


"Kantin."


Rasanya aku hendak tertawa mendengar cicitan Liona.


"Kayak gitu?"


"Kayak gitu apanya?"


Ian, cowok kalem itu diam sebentar sebelum menarik tangan Liona dan membawa sahabatku itu. Aku dan Andin sontak melambai-lambai padanya.


"Gue mencium bau-bau CLBK nih," kata Andin.


"Gue pikirnya mereka gak pernah putus. Cuman marahan aja," kataku melanjutkan langkahku ke kantin.


Ada meja kosong di pojok kiri. Andin memimpin berjalan ke arah sana. Namun, tepat saat Andin meletakkan baksonya, ada mangkok lain yang juga terletak di sana.


"Oh ada yang punya ya?" tanya Andin kaget.


Aku terdiam di posisiku.


Malika tersenyum. "Its ok. Kita bisa berbagi."


Andin balas tersenyum paksa. "Of course. Kita gak mungkin kelahi 'kan?" sarkasnya dan mendudukan dirinya di sana.


No, Andin. Jeritku dalam hati.


Andin menarikku paksa duduk di sampingnya. Aku duduk dan berdehem canggung. Tiba-tiba tidak tahu harus bicara apa.


Aku melirik Andin sinis.


"Gue gak mau ya ngalah buat dia, lo juga," bisiknya.


Sudah kuduga. Baik Andin maupun Liona, kedua sama-sama memiliki ego yang tinggi dan keras kepala. Mereka tidak akan mau mengalah walaupun dengan hal kecil.


"Udah lama ya kita gak ketemu deket kayak gini, seat mate," kata Malika dengan senyum malaikatnya pada Andin.


"Mantan kali," sahut Andin santai tapi aku tahu dia sedang sinis saat ini, dalam kepalanya.


Tiba-tiba dari arah belakang muncul Liona dan jus jambunya. Dia menatap bingung. "Ada angin apaan nih?" tanyanya heran melirik patner makan kami.


"Tornado. Hampir aja Aloona roboh, untung gue pegangin."


Aku melirik Andin super datar. "Apaan deh? Ga jelas banget teman gue."


Liona berdehem. Lalu menyelip di sampingku hingga aku mau tak mau menggeser lagi ke arah Andin.


"Wah ada reuni tak terduga ya," ujar Liona.


"Lo gak makan?" potongku.


"Gak," jawab Liona singkat dan kembali menoleh pada Malika. "Gimana kalau kita main game kecil-kecilan?"


Liona. Aku menggeram dalam hati. Was-was jika sahabatku yang satu ini buat masalah lagi.


"Tadi lo sama Ian ngapain?" tanyaku mengalihkan.


Benar saja. Jika menyangkut Ian, Liona jadi lupa tujuannya apa. Dia sempat mendelik padaku karena menganggu kesenangannya. Tapi dia tetap menjawab pertanyaanku.


"Gue diomelin karena pakai baju pendek. Tapi ujung-ujungnya ngasih jaket buat nutupin coretan Bu Rosti di baju gue."


"Lo seneng 'kan?" goda Andin.


Liona sempat salah tingkah sebelum menyuruh kami tutup mulut saat ingat apa tujuan awalnya.


"Eh, jadi gini. Nanti giliran yang main ngasih clue dan yang lain


nebak. Tentang apa aja boleh. Yang bisa nebak bisa kasih satu perintah


buat yang ditebak."

__ADS_1


Perasaanku tidak enak.


"Ayo!" sahut Andin.


Malika tersenyum lagi. "Boleh. Tapi gak ada curang ya?"


Aku menghela napas. Memilih untuk tidak ikut campur. Aku yakin kedua sahabatku ini hanya mencoba untuk mengerjai Malika dan teman-temannya. Aku tidak tahu kenapa, keduanya sangat membenci primadona di depanku


ini.


Katanya, waktu kelas sepuluh, Andin dan Malika ini sekelas dan teman sebangku. Katanya mereka sangat dekat. Tapi aku tidak tahu kenapa situasinya menjadi begini.


Sedangkan Liona sendiri, aku tidak tahu apa masalahnya dengan Malika. Entah karena mereka mempunyai masalah pribadi, atau hanya kebiasaan Liona saja yang suka cari gara-gara.


Arrgh, situasi macam apa ini?


"Gak bisa diraba tapi bisa dirasa?" Malika memulai.


"Oksigen," jawab Liona.


"Bener sih. Tapi bukan itu."


"Kentut?"


"Itu bau," sahut Andin atas jawaban Liona.


Semuanya menyerah. "Cinta," jawab Malika.


Entah kenapa aku mencibir dalam hati.


Karena tidak ada yang bisa menjawab, Malika mulai lagi. "Dia datang untuk menguatkan. Dia pergi setelah kita kuat."


"Kita lagi main apaan ya? Kok rasanya jadi kelas bahasa?" Andin bergumam sarkas.


"Gue tau," kata Liona. "Masalah."


"Masalah ada biar kita jadi kuat. Setelah kita selesaian masalah itu, dia pergi."


"Ok. Kali ini lo bener," jawab Malika dan Liona bersorak kecil.


Aku menggelengkan kepalaku. Temanku ini sangat terobsesi mendapat giliran. Aku was-was.


"Dia kembar. Tapi gak sama."


"Kembar nonidentik," jawab Malika.


"Salah."


"Kepribadian ganda?" sahut Andin.


"Salah," jawab Liona. "Nyerah?"


Karena tidak ada yang bisa menjawab, Liona akhirnya tersenyum dengan palsunya.


"Muka dua," jawabnya. "Dia kembar. Tapi yang satu bilang suka yang satunya bilang gak."


Thats it. Ini tujuan Liona yang sebenarnya. Aku lihat ekspresi Malika berubah namun dalam sekejap ia memulihkannya secepat rautnya berubah.


Kedua temanku itu nampaknya saat menikmati saat-saat itu bahkan sempat saling bertos ria tepat di belakang kepalaku.


Liona memulai lagi. "Dikasih hati minta jantung."


"Gak tau diri 'kan?" sahut Malika ikut sarkas. Liona menggeleng.


"Ngarep!!" seru Andin. "Dikasih hati minta jantung, ya namanya ngarep."


"Nah itu bener. Mantap sis."


Andin dan Liona bertos lagi. Mereka semakin gencar mencari gara-gara.


"Ada air diretakkan tanah," mulai Andin.


"Pelakor!!" seru Liona secepat kilat membuatku tersentak kaget. Keduanya bertos lagi.


Perhatianku justru diam-diam tertuju pada Malika. Wajahnya nampak pias menyadari Andin dan Liona menyindirnya habis-habisan hingga telinganya memerah. Aku meringis melihat kelakuan dua temanku ini.


Aku pura-pura menatap baksoku saat Malika melirikku dan berdehem untuk menghentikan Andin dan Liona.


"Bentar lagi masuk. Buruan makan," kataku.


"Yah, gak asik."

__ADS_1


Ampun Liona. Ampun. Aku benar-benar tak habis pikir tentang temanku yang satu ini. Keberaniannya patut diacungi jempol. Dia bahkan tidak terganggu sama sekali dengan tatapan membunuh dari antek-antek Malika


yang menemani gadis itu.


"BANGSAT LO!! TOLONGIN GUE GYAAHHH!!"


Teriakan itu membuatku sontak saja menoleh dan menyerngit. Seorang cowok yang berteriak seperti seorang gadis yang hendak diambil keperawanannya.


"Balikin atau beneran gue grepe-grepe."


"ARRGHH!! JANGAN TARIK CELANA GUE!! IH BANGSAT!! GYAAHHHH!"


Aksi itu menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak. Bagaimana tidak? Ketua osis kita yang berwibawa sedang guling-guling di lantai dekat arah masuk kantin. Menjadi bulan-bulanan anak kelas dua belas yang sebenarnya adalah sohibnya sendiri.


"Gue bilangin doi lo kalau lo homo."


Rael sempat berhenti sejenak mendengar ucapan ketua osis itu. "Beneran kita gilir lo kalau gitu," katanya acuh dan melancarkan aksinya lagi.


Ketua Osis yang bernama Galang itu menjadi panik dalam sekejap sebelum tanpa sengaja saling bertatapan denganku. "Eh Kak Loona!"


Aku tersentak kaget begitu dia memanggil. Atensi yang semula berpusat padanya, kini teralihkan padaku termasuk Rael. Penampilannya berantakan. Rambutnya acak-acakan dan seragamnya sedikit kusut. Lagi, rautnya nampak keruh.


Dia mengalihkan pandangannya sebentar sebelum menatapku lagi tanpa berpindah dari atas tubuh Galang. "Dia ambil braceletnya," katanya mengadu.


Aku mengedip dan berdehem canggung karena banyak orang di sana.


"B-bukannya mau lo tonjok?"


Eh? Aloona!!


"Hah?" Rael mengedip dan mencerna sebentar. "Oh iya gue lupa," katanya dan menatap Galang lagi.


"Sorry Lang, tapi gue udah janji buat nonjok siapa aja yang udah ambil braceletnya."


"E-eh?! Bentar! Bentar!! OKOK!! GUE BALIKIN!! GUE BALIKIN!!!" seru Galang panik saat Rael mengangkat tinjunya.


"Ya harus lo balikin. Tapi gue udah janji," ujar Rael.


Aku meringis mendengar jeritan Galang yang menolak ditonjok oleh Rael.


"Kak Alu tolongin gue!!"


"Udah!" seruku akhirnya. Tidak tahan menjadi tontonan dan pelototan anak-anak karena akulah penyebab hal ini terjadi.


Rael menoleh menatapku. Aku menggeleng padanya memintanya berhenti.


"Tapi gue udah janji."


Aku melotot padanya hingga dia menyerah dan menarik tubuhnya dari Galang. "Balikin!" katanya ketus pada Galang.


Dengan tak kalah ketus, Galang bangkit dan merapikan pakaiannya. Galang merogoh kantong celananya dan melempar bracelet itu pada Rael yang langsung ditangkap cowok itu.


Bracelet yang aku berikan di hari kami putus.


Aku menggelengkan kepalaku. Seleraku mendadak hilang entah karena apa. "Gue balik dulu," kataku pelan pada Andin dan Liona.


"Gue ikut," kata Liona disusul bangkitnya Andin.


"Ayo gue anter," kata Rael berdiri di depanku dengan senyum mautnya.


 


 


◻◻◻


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2