Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Berkelahi


__ADS_3

Rafael Juna Raja.


Nama yang sangat indah, namun entah kenapa selalu membuat aku kesal.


Pagi ini, aku mendengar pacarku itu berkelahi dengan anak IPS. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Yang aku tahu, Rael tidak terlalu suka mencampuri urusan orang lain, kecuali itu mengusiknya.


Sepanjang pelajaran aku memikirkan cowok itu, membuatku uring-uringan. Menunggu-nunggu kapan istirahat tiba. Aku sangat ingin menemuinya dan menarik telinganya hingga ia minta ampun.


Biasanya, perkelahian seperti ini disebabkan oleh masalah wanita. Bukannya aku ge-er. Tentu saja. Wanita yang aku pikirkan tentu saja bukan aku.


Siapa tahu mereka meributkan tentang wanita lain. Calon penggantiku mungkin?


Aku menghela napas. Balikan sama mantan membuat perasaanku tidak lagi sama. Setiap saat, kepalaku dipenuhi oleh prakiraan-prakiraan yang akhirnya hanya akan membuatku sakit hati sendiri. Kepercayaan diriku menurun drastis dan aku selalu menebak-nebak kapan Rael akan memutuskanku atau siapa wanita yang akan menjadi penggantiku.


Apa aku terkesan terlalu menjelekkan Rael?


Anggap saja begitu. Karena Rael sangat brengsek dan aku membencinya.


Satu lagi, anggap saja aku menemuinya untuk memberinya pelajaran, bukan karena khawatir.


◻◻◻


Aku menggenggam sebuah susu kotak di tanganku. Susu yang biasa Rael belikan. Namun mungkin karena masalah perkelahian tadi, dia tak sempat membelikannya, jadi aku yang membelikan susu ini untuknya.


Aku tahu Rael tidak suka susu. Maka dari itu aku akan paksa dia minum sebagai hukuman.


Aku melihat Andre—sahabat Rael sedang duduk-duduk memainkan ponselnya di depan UKS. Aku kesini karena seorang teman di kelas Rael memberitahuku kalau orang yang aku cari sedang berada di UKS saat ini.


Andre menoleh melihatku dan memperbaiki posisi duduknya. "Lo cari Rael?" tanyanya.


Aku kenal dia. Kami pernah sekelas waktu kelas sepuluh. "Iya. Dia di dalam 'kan?"


Andre mengangguk. Aku melirik ke dalam melalui kaca yang sebenarnya tidak bisa memberiku pandangan yang jelas.


"Gue boleh tanya?"


Aku mengajak Andre bicara. Dia mengangguk dan mengabaikan ponselnya. "Kalau gue tanya Rael, mungkin dia bakal ngeyel dan malah bikin gue kesel," kataku.


Andre terkekeh dan mengganguk paham seolah dia mengerti Rael dengan sangat.


Aku melanjutkan. "Ada masalah apa dia sama Rivan sampai tonjok-tonjokan?"


Andre menghela napas sembari berpikir. "Gimana ya. Gak tonjok-tonjokan juga. Si Rael yang berhasil nonjok Rivan. Rivan gak kesampaian nonjok dia. Masalah detailnya gue gak tau, tapi mereka bahas tentang ekskul. Yang gue denger."

__ADS_1


Masalah laki-laki banget.


Tapi setahuku, Rael tidak ada masalah dengan ekskulnya. Dia terhitung royal dengan teman-temannya. Gengnya hampir tersebar dari seluruh kelas sampai junior-junior dan senior yang sudah lulus.


"Duduk Lu. Gak capek berdiri mulu?"


Aku menggeleng mendengar tawaran Andre. Aku hanya ingin menemui Rael dan hendak bertanya soal ini. Sebelum itu, aku ingin mewujudkan keinginanku untuk menarik telinganya karena tanganku sudah sangat gatal untuk melakukan itu.


"Ekskul musik bakal adain event sabtu. Fotografi ambil bagian gak?"


Pertanyaan tiba-tiba Andre menghentikanku yang akan menekan kenop pintu. Aku menatapnya dan mengernyit. "Gue belum dapat kabar. Mungkin kayaknya."


Andre memaksa senyum. "Oh gitu. Kalau futsal mah gak hubungannya. Iya gak?" Andre tertawa yang dalam pendengaranku, tertawa paksaan. Yang membuatku mau tak mau tertawa juga.


"Mau nyumbang lagu, gue gak bakat nyanyi."


"Gue tau," jawabku.


"Gak usah sungkan, gue sadar diri kok suara gue pas-pasan."


"Gak. Gue gak sungkan," jawabku memaksa tawa.


"Oo."


"Oke." aku menghela napas. Tiba-tiba teringat aku harus menemui Rael sebelum bel masuk berbunyi.


Andre hendak berkata lagi, namun karena aku malas mendengar omongan tak bermutunya, aku memberikan sekilas senyum dan mendorong pintu untuk masuk ke UKS.


Aku yakin mataku tidak salah lihat.


Aku tidak perlu terkejut melihat pacarku ditemani gadis lain. Bukankah aku sudah memperkirakannya?


Tapi kenapa hati lo sakit? Suara kepalaku.


Aku menarik satu kakiku melangkah mundur. Pelan-pelan aku tutup pintu tanpa meninggalkan suara. Cat pintu yang berwarna putih memenuhi penglihatanku dan sekilas aku melihat Andre berdiri menatapku.


Aku tidak menatapnya. Aku sudah tahu tatapan macam apa yang akan dia berikan padaku.


Jadi ini alasan kenapa dia dengan anehnya menanyakan pertanyaan tidak penting. Untuk mengulur waktu, demi temannya—


Aku diam-diam menghela napas. "Gue ke toilet dulu," kataku dan beranjak pergi tanpa menunggu jawaban Andre.


◻◻◻

__ADS_1


"Gue pesen jus gue dulu. Jus jambu gue entah gimana bisa ilang gitu aja. Seinget gue, gue gak pernah mihara tuyul tuh," celetuk Liona sambil berdiri.


Aku mengabaikannya. Jus jambu yang dia maksud sudah berpindah ke lambungku. Iya, tuyul yang dia maksud adalah aku.


Salahnya sendiri diam saja saat aku menghabiskan jus itu.


"Lo kenapa?" tanya Andin di sebelahku.


Setelah berdalih hendak ke toilet, aku menghampiri kedua sahabatku yang sedang nongkrong di kantin. Susu kotak yang aku bawa masih aku pegang. Entah kenapa aku hanya tertarik untuk meminum minuman berwarna Pink di depanku itu hingga habis.


"Rael gimana?"


Andin bertanya. Tidak mungkin 'kan aku jawab kalau saat ini pacarku sedang ditemani gadis lain? Bisa-bisa aku diceramahi apalagi jika sampai Liona yang tahu.


"Di UKS lagi tiduran. Nanti aja gue temuin kalau udah bangun," dalihku dengan akting. "Eh, tugas proyeknya kita kerjain si rumah lo ya?"


Aku mencomot kerupuk pangsit di mangkuk Andin, dia tidak keberatan.


Andin mengerutkan dahinya. Mungkin bingung karena aku tiba-tiba minta di rumahnya, karena rencanya awal adalah di rumahku. Tapi gadis itu tetap mengangguk setuju.


"Oke."


Tak lama Liona datang dengan segelas jus jambu baru. Wajah kesalnya sudah hilang. Aku tahu hal yang tadi tidak akan membuatnya marah. Aku tahu sahabatku, Liona terhitung royal dengan teman-temannya walaupun bermulut pedas.


"Tugas proyek di rumah gue," celetuk Andin memberitahu Liona. Aku mengangguk.


"Terserah. Dimana pun boleh, asal kulkasnya penuh," jawab Liona cuek.


"Sorry-sorry to say, kulkas udah gue kuras kemarin. Jadi yang bisa gue tawarin cuma air putih." Andin menjawab santai.


Liona menatapnya. "Oh gitu. Tenang aja, nanti gue bawain cemilan yang banyak buat kita. Plus ngisi kulkas lo yang gak ada isinya. Oops, yang cuma air dingin sama batu es."


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Mulai lagi. Tapi setiap kali mereka seperti ini, selalu membuatku merasa terhibur.


Selagi menyaksikan kedua sahabatku ini adu mulut, aku melihat seorang gadis yang aku kenal lewat di sampingku dari arah belakang.


Malika sudah kembali, artinya dia sudah selesai dengan Rael.


Aku mulai berpikir, kalau mereka masih saling suka, kenapa harus putus?


Mungkin Rael menyesal memutuskan gadis seperti Malika. Tidak sepertiku, Malika gadis idaman para laki-laki. Kenapa harus disia-siakan? Dan Malika kenapa harus kembali secepat ini? Dia bisa menemani Rael seharian penuh.


Lagipula aku tidak lagi berniat untuk menemui Rael hari ini. Aku seperti gadis yang kecewa berat dengan kekasihnya. Tidak. Aku hanya memberi mereka waktu. Kasihan Rael dan Malika yang mungkin sudah lama tak bertemu.

__ADS_1


Aduh, kenapa mataku terasa perih?


◻◻◻


__ADS_2