Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Uncontrolled


__ADS_3

*That feelings come and gone without permisssion.


But when them came true, them wont stop*.


Sekeras apapun aku mencoba untuk mengabaikan, kenyataannya adalah aku yang selalu kembali ke tempat dimana dia berada.


Aku membencinya. Aku membenci diriku sendiri.


Uncontrolled.


"Berhenti atau gue siram lagi pakai air cucian piring."


Kalimatku yang terakhir berhasil menarik atensi keduanya.


◻◻◻


"Kalian duluan aja," kataku pada Liona dan Andin.


Keduanya saling bertatapan sebelum menggeleng kompak. "Gak bisa. Kita udah janji buat jadi bodyguard lo."


Aku menarik sebelah tangannya masing-masing. "Gue mohon. Ada yang harus gue perjelas di sini. Please, biarin gue nyeleseiin semuanya."


Andin dan Liona tidak segera menjawab. Rautnya tampak tidak terima namun akhirnya mereka setuju untuk meninggalkanku seorang diri.


Aku menarik napas dalam. Segera setelah pintu UKS ditutup dari luar, aku berbalik ke arah dua orang yang barusan berkelahi di kantin.


Jangan salahkan aku yang membawa mereka ke UKS, tapi jika tertangkap guru BK, itu lebih buruk.


Aku mengedip. Keduanya menatapku dan kemudian aku sadar dengan apa yang telah aku lakukan.


Aku mendadak gugup. Apa yang harus aku katakan?


Sial.


"Jadi—"


"Diem!" potongku.


What?! Aloona!


Aku terdiam beberapa detik. Jujur saja aku tidak tahu apa yang harus aku bicarakan.


Kemudian, aku mendengar cowok berandalan itu mendengus. Aku menatapnya sedangkan dia menoleh pada Rael.


"Lo udah nonjok gue dua kali. Pertama karena si mayoret, yang pasti gak ada hubungannya sama lo. Kedua karena mantan lo, yang juga gak ada hubungan sama lo karena udah jadi mantan. Jadi sebenarnya lo mau apa? Lo beneran cari masalah sama gue?"


Rael menatapnya datar. "Lo yang cari masalah sama gue. Apa tujuan lo gangguin dia?"


"Lo lupa dia udah nyiram gue?"


"Yang disiram itu gue. Lo aja yang deket-deket makanya kena siram," sergah Rael.

__ADS_1


"Enak aja lo ngomong."


"Kenapa? Mau berantem?"


Aku memejamkan mataku dan menghela napas. Kepalaku mendadak pusing mendengar perdebatan mereka. Alih-alih terlihat seperti musuh, mereka justru terlihat seperti kawan baik yang saat bertengkar menjadi sangat kekanakan.


Cowok berandal itu mendengus lagi dan menatap ke arahku. "Jadi kita mau ngapain di UKS? Lo mau ngobatin luka gue?" tanyanya membuatku mengernyit. "Nih, bibir gue. Perih banget di tonjok mantan lo."


Memang ada luka kecil di sana. Sebenarnya tak jauh berbeda dengan Rael. Ada luka lebam di wajahnya. Namun bedanya, Rael nampak tidak terlalu mempermasalahkan luka itu.


"Gak," jawabku. "Gue cuma gak mau kalian kelahi pakai nama gue."


Keduanya diam menatapku. "Terserah kalau kalian mau berantem. Kelahi sampai mati pun bukan urusan gue, tapi jangan bawa-bawa nama gue. Gue gak mau orang lain bilang gue biangnya."


"Hmm, kalau Malika boleh?" kata cowok berandalan yang tidak aku ketahui namanya itu. Dia menyeringai tipis. Aku tahu kalau dia hanya mencoba memanasiku saja.


"Boleh," jawabku tegas. "Sheva juga boleh."


Aku mengedip dua kali. Baru sadar tentang apa yang aku katakan.


Stupid Aloona.


Aku mempertahankan ekspresiku dan mencoba tenang.


"Sheva siapa? Selingkuhan lo?" tanya cowok berandal itu pada Rael. "Oo kalian putus gara-gara Sheva ini?"


Rael menggeram pada cowok itu. "Mulut lo licin banget sih."


"Aloona. Tunggu dulu."


Aku gagal membuka pintu karena Rael tiba-tiba menahanku. "Gue mau ngomong," katanya.


Sebelum aku menjawab, Rael sudah berbalik lagi ke dalam dan kembali sambil menyeret cowok berandal itu ke luar UKS. Pintu pun dia kunci dari dalam.


Aku mendadak gugup. "Kenapa dikunci? Bahaya." aku bergumam di akhir kata.


Rael tidak mengatakan apapun. Cowok itu malah melirik ke arah pintu dan memukulnya keras. "Jangan nguping!!" serunya dan disusul suara orang mengaduh dari luar.


Aku mengalihkan pandanganku. Momen kali ini sungguh terasa canggung. Selain karena kami tidak punya hubungan lagi, rasa sakit itu juga masih bersisa.


"Lo nahan gue bukan cuma buat diem-dieman aja kan?" tanyaku akhirnya karena dia berdiam diri cukup lama.


"Gue gak tau mau mulai dari mana," katanya pelan.


Aku mengangkat pandanganku dan menatapnya dengan bingung. "Soal apa?"


"Kesalahpahaman."


"Kesalahpahaman yang mana?" tanyaku setengah geli mengabaikan tautan alisnya menunjukan ketidaksukaannya.


"Kalau gue ceritain, lo mau denger?"

__ADS_1


Aku menggeleng. "Gak usah lo ceritain. Gue udah terlanjur gak bisa percaya lagi sama lo."


"Tapi lo harus dengerin gue." dia bersikeras.


Aku menahan rasa kesalku. "Biar gue perjelas. Kita udah putus. Gak ada hubungan lagi. Jadi kalau lo ceritain sekalipun, itu gak bakal ngerubah apa-apa," kataku. "Kita itu beda. Gak cocok. Yang ada cuma masalah, cekcok, masalah lagi, cekcok lagi."


"Tapi gak harus putus juga."


Aku menahan diriku untuk tidak tertawa karena ucapannya. "Gak harus putus?"


Haha dasar brengsek.


"Rael, biar gue kasih tahu. Gue gak bisa jalanin hubungan dimana cuma gue yang berharap sementara satu orang lagi gak berharap sama sekali tentang gue. Seharusnya lo berterimakasih, gue udah kasih jalan dan lo gak punya beban kalau lo mau jaga perasaan gue."


Rael menarik napas dengan bibir mengatup. "Aloona, gue pernah bilang kan kalau perasaan gue gak pernah berubah?" tanyanya dengan nada melunak. "Baik sama Malika maupun sama Sheva. Atau sama siapapun. Dan gue gak pernah bohong tentang itu."


Aku menatapnya tanpa ekspresi. "Abis hujan selalu ada pelangi. Kadang keliatan kadang enggak, tapi pasti ada," kataku.


"Gue percaya habis ini bakal ada kebahagiaan lain buat gue. Gitu juga dengan lo." aku menatapnya. "Find your own happiness," lirihku di akhir.


◻◻◻


Aku berpapasan dengan Sheva saat akan memasuki kelas. Aku hendak berpura-pura tidak melihatnya, namun kondisinya yang agak janggal menarik perhatianku.


Wajahnya terlihat datar dan kantung mata di sana. Terlihat memprihatinkan, mirip dengan kondisiku pagi tadi.


Bukankah itu aneh? Kemarin dia berhasil membuat kami putus, bukankah seharusnya dia senang?


Dia melewatiku. Tak ada sepatah katapun yang terucap baik darinya maupun dari diriku sendiri.


Aku menghela napas dan memasuki kelas. Aku langsung masuk saja karena waktu itu kelas sedang diskusi berkelompok.


"Hampir aja gue keluar buat nolongin lo," kata Liona.


Aku menatapnya bingung.


"Tadi kan lo bertemu sekutu yang berkhianat. Takutnya ada perang dunia ke tiga," lanjutnya.


What ever, Liona.


"Lo tau gak kalau tim voli kalah turnamen kemaren?" tanya Andin.


"Ceritanya, kemarin Rael datang ke tim voli dan nyeret Sheva ke luar. Gak ada yang tau buat apa tapi katanya mantan lo marah-marah. Baliknya, wajahnya kayak habis nangis gitu. Trus pas tanding sering kecolongan. Mereka kalah dan timnya nyalahin dia karena main jelek."


Aku terdiam. Tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak tahu harus merasa prihatin atau malah merasa senang.


Apa aku terdengar jahat? Tapi aku tidak dapat membohongi perasaanku. Di satu sisi aku merasa kasihan, di sisi lain ada suatu perasaan kepuasan tersendiri.


Aku menopang daguku dengan kedua tangan di atas meja. "Ribet," gumamku pelan.


◻◻◻

__ADS_1


__ADS_2