Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Jawaban


__ADS_3

Aku pulang dengan kekecewaan. Rael tidak mau memberitahuku. Rael sudah memberi jawaban atas kepastian yang aku inginkan.


I am not his girlfriend.


Seberapa keras pun aku mencoba, tetap saja rasanya menyakitkan.


Sebenarnya, ini bukan masalah besar. Bukan soal perselingkuhan atau apapun. Tidakkah kalian paham aku sedang mencoba mencari jawaban.


Aku sudah memberinya pilihan. Ini bukan soal dia berkelahi atau tidak. Intinya adalah soal dia anggap aku pacar atau bukan.


Dan dia memilih untuk tidak memberitahuku. Artinya dia mencoba mengatakan bahwa dia tidak bersungguh-sungguh tanpa mengatakannya secara langsung.


Mungkin selama ini dia sedang mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya padaku dan aku sudah memberikan moment kepadanya untuk menjawab.


Bukankah aku sangat baik?


Sial—


Dia brengsek. Seharusnya aku bersyukur bisa terbebas darinya. Bukan menangisinya seperti ini. Rael tidak pantas ditangisi. Jangan tanya kenapa aku terdengar jahat, menjadi aku rasanya menyakitkan, tahu.


Aku berbaring di atas kasur tanpa mengganti seragamku. Aku memejamkan mata berusaha meredam kekesalanku hingga tanpa sengaja aku tertidur dengan pipi menempel di kasur.


Aku terbangun dengan sendirinya. Matahari masih bersinar, jadi ini belum malam. Aku menggeliat dan mengambil ponselku untuk melihat jam. Pukul 16.20. Tapi bukan itu yang membuatku melongo.


Enam panggilan tak terjawab.


Dua pesan chat.


Dua belas Line chat tak terbaca.


Dan dua buah voice note.


🔉 Gue ke rumah.


Aku tersentak saat membuka voice note yang terakhir. Tanpa pikir panjang aku segera berlari menuju pintu dan membukanya. Terlalu terburu-buru, aku tidak sempat mengelak saat seseorang berdiri tepat di depan pintu. Aku menabraknya dan mengaduh saat keningku membentur dagunya.


"Sakit~" aku meringis pelan sambil memegangi keningku.


Tanganku ditarik masuk ke dalam kamarku sendiri. Setelah memastikan keadaan aman, pintu dikuncinya dari dalam. Sebelum aku protes, Rael melayangkan tangannya padaku.


Maaf. Terlalu kasar. Maksudku menyentil dahiku dengan jarinya. Hehe.


Rael bersedekap dada menatapku. "Kenapa tadi gak nunggu gue?"


Aku menurunkan kedua bahuku. Seharusnya aku yang marah, tapi dia malah menatapku dengan tatapan tajam itu seolah-olah akulah yang bersalah di sini.


"Bisa kita putuskan sekarang?"

__ADS_1


Rael mengernyit. "Apanya?"


Aku mengerjap. "Hm—hubungan." aku menggedikkan bahuku.


Reaksi Rael di luar dugaanku. Dia malah mencubit pipi kiriku keras hingga aku mengaduh kesakitan.


"Pilihan macam apa yang tadi itu?!" dia berkata gemas tanpa melepaskan tangannya.


Aku meringis lirih. "Gak macam-macam. Tinggal pilih."


"Gak ada hubungannya dengan masalah pacaran."


Aku kesal. Aku melepas paksa cubitannya walau itu terasa lebih menyakitkan. "Ada," jawabku tak kalah tegas. "Lo anggap gue apa gak?"


"Gak ngaruh."


Aku bertambah kesal. "Seenggaknya gue tau masalah lo."


"Tapi gue gak mau berbagi masalah sama pacar gue." Rael ngotot.


"Tapi gue gak mau senang-senang aja sementara pacar gue gak." aku ikut-ikutan ngotot hingga Rael memijat dahinya sendiri.


Rasakan. Rael memang keras kepala. Tapi jika dibandingkan denganku, aku lebih keras kepala.


Aku mengatupkan bibirku rapat. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Hanya tatapan lelah yang dia berikan.


Aku menarik napas. "Oke. Jadi kesimpulannya?" aku menatapnya jenuh. Dia tidak bereaksi jadi aku melanjutkan perkataanku. "Kita puthmp—"


Aku memegang tangan Rael yang membungkam mulutku. Dia menatapku tajam membuatku tak bergeming.


"Fine. Gue ceritain."


Haha, rasain. Bagaimana rasanya dikeras kepalain?


◻◻◻


"Salam buat Mama kamu ya."


"Siap." Rael menyalami tangan Mama setelah menerima bungkusan kue dari Mama. Mama masuk ke dalam rumah meninggalkan aku berdua dengan Rael di teras.


Rael memasang sepatunya. Cowok itu sudah lengkap dengan jaket dan ranselnya. Rambutnya agak basah setelah berwudhu untuk shalat maghrib tadi. Sementara aku berdiri di sampingnya, menatapinya.


Rael menatapku. Cowok itu mencolek lenganku. "Kok masih marah?" tanyanya menggoda.


Aku berdecak. "Udah hampir jam delapan. Buruan pulang," kataku.


"Yah diusir." Rael menggedikkan bahunya lalu berdiri dengan kantong pemberian Mama di tangan kanannya.

__ADS_1


Rael menaiki motornya sementara aku sendiri diam sambil menatapinya. "Hati-hati," kataku pelan. Rael tersenyum kecil mendengar ucapanku. Cowok itu menstater motornya. "Jangan kangen," godanya.


"Gak," jawabku cepat.


Aku sempat mendengar dia tertawa sebelum memacu motor keluar dari pekarangan rumahku.


Aku menghela napas lalu menatap langit malam. Bintang saat itu tidak terlalu banyak. Udaranya pun dingin. Aku menatap ke arah perginya Rael lagi dan aku merasakan perasaanku yang campur aduk.


Rivan bilang gue gak pantes jadi cowok lo.


Aku memejamkan mataku. Selama hampir tiga puluh menit aku mendengar Rael melampiaskan uneg-unegnya soal Rivan. Semuanya tentang aku. Tidak ada soal ekskul seperti yang Andre bilang.


Kan anjing. Gue kesel banget sumpah.


Umpatan Rael masih terngiang di kepalaku. Kadang aku merasa geli karena Rael tidak pernah seperti ini sebelumnya.


Rivan gak benerkan? Gue emang nakal. Tapi lo 'kan sayang gue. Lo gak akan ninggalin gue.


Aku tertawa sarkas. Aku memang menyayanginya, tapi apa itu tidak terbalik? Dalam hubungan ini, satu-satunya orang akan meninggalkan adalah Rael dan yang ditinggalkan adalah aku.


Hubungan ini tidak akan bertahan lama. Lama aku memikirkan tentang ini. Kadang aku ingin semuanya berakhir lebih cepat. Aku lelah. Walaupun rasanya mungkin menyakitkan, tapi akan lebih baik jika memang harus begitu.


Perasaanku campur aduk, Rael memperlakukanku layaknya seorang pacar yang sangat ia cintai. Namun di lain sisi dia tidak dapat menjaga perasaannya untukku. Sementara aku sendiri ingin terlepas, tapi aku menyayanginya.


Apa yang harus aku lakukan?


◻◻◻


Rael menjemputku pagi ini. Selama ini, dia jarang menjemput atas permintaanku sendiri. Aku tidak ingin menyusahkannya. Cukup dengan mengantarku pulang, dia bukan supirku. Tapi karena permasalahan kemarin, cowok yang berstatus pacarku itu, ngotot ingin menjemput. Kalau aku larang pun percuma, dia akan tetap datang.


"Jangan pacaran di depan gue!"


Aku buru-buru menarik tangan Rael saat kak Alma keluar dari pintu dengan keranjang cucian dan berteriak. Bukannya apa, kakakku ini memang jomblo, jadi setiap melihat aku dan Rael dia selalu bersikap seperti itu. Jika sudah seperti ini, Rael akan mencibir, seperti yang sedang ia lakukan.


"Lo meriang Kak? Merindukan kasih sayang," godanya berakhir dengan umpatan kak Alma. Ditambah dengan seruan Papa dari dalam mendengarkan putri sulungnya mengumpat. Rael malah semakin menertawainya.


Aku mencubit pinggangnya pelan. "Buruan," kataku. Rael tersenyum sekilas. Kak Alma masih menggerutu saat menjemur pakaiannya, sambil melirik sinis.


"Pegangan," katanya.


Aku memutar bola mataku. Rael menstater motornya dan melaju perlahan. Aku menghela napas dan berpegangan padanya.


"Kalau lo gak bawa helm, jangan pernah bawa gue lagi," kataku sedikit menggertak karena dia lagi-lagi tak bawa helm. Dari balik bahunya, aku lihat pipinya tertarik ke samping membentuk senyum tipis, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.


Aku menghela napas. Aku menundukkan kepala dan bersembunyi di balik bahunya dari terpaan angin pagi yang masih dingin. Aku rasakan laju motornya perlahan melambat, dan sebuah tangan hangat yang lebih lebar menangkup tanganku.


◻◻◻

__ADS_1


__ADS_2