Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Ingin Dimengerti


__ADS_3

Sudah pukul tiga sore. Aku mengenakan sweaterku sebagai outfit dan mengambil ranselku. Menuruni tangga dan mencari Mama.


Mama sedang mengurusi hobinya. Yaitu berkebun bunga. Tampaknya hari ini Mama memasok jenis bunga baru, terlihat dari beberapa pot yang terletak di depan teras. Sedangkan wanita kesayanganku itu terlihat bolak-balik mengangkatinya satu-satu.


"Ma, Alu ke rumah Andin ya?" aku berpamitan sambil menghampiri Mama.


Mama mengernyit. "Bukannya kerja kelompoknya di sini?"


"Gak jadi. Di rumah Andin."


Mama menyipitkan matanya. Menatapku ragu untuk memberikan izin. Aku memelas. "Mama."


Mama menghela napas. "Ya udah."


Aku menarik senyum lebar. Tangan Mama aku gamit dan aku salami.


"Kalau pulang malam, telpon. Ngerti?"


"Siap."


Aku meninggalkan pekarangan penuh bunga itu sampai ke depan komplek. Lalu mencari kendaraan, angkot atau bis yang bisa aku jumpai di sana.


Aku menggelengkan kepalaku. Entah kenapa aku tidak bisa menghilangkan Rael dari kepalaku. Aku belum melihat wajahnya. Mungkin saja ada bonyok di sana, siapa tahu. Dia juga tidak menghubungiku. Tak ada chat, tak ada panggilan.


Kenapa aku banyak berharap?


Aku menghela napas. Aku menyalakan air plane mode dan menyimpan ponselku ke dalam ranselku.


Aku sangat kesal hingga rasanya sesak.


Sepanjang perjalanan aku hanya diam. Orang yang sampai pertama kali di rumah Andin adalah aku. Andin membawaku masuk ke kamarnya di lantai dua. Di sana sudah tersedia laptop dan perlengkapan lainnya.


Aku duduk di lantai dan menatap Andin yang sibuk menyibak tirai jendelanya. "Andrian sama Juna datang?"


Andin berbalik menghampiriku. "Gue jamin datang. Udah gue ancem coret nama mereka dalam daftar kelompok."


Aku tertawa kecil. Mengingat dua cowok paling nakal itu membuatku membayangkan wajah malas-malasan mereka datang kemari. Aku yakin mereka datang bukan untuk bekerja, tapi hanya untuk tidur-tiduran atau memainkan ponsel sementara yang perempuan sibuk menyelesaikan tugas kelompok itu.


Selama yang aku tahu, Adrian yang sudah dua tahun ini sekelas denganku, adalah cowok yang paling pemalas yang aku kenal. Tujuannya datang ke sekolah hanya tidur, main game, keluyuran saat PBM atau kegiatan tak bermutu lainnya. Dan Juna adalah antek-anteknya.

__ADS_1


◻◻◻


Saat aku kembali, gerimis tipis menyertai langkahku. Sambil memegangi tudung hoodie yang kupasang di kepala, kubawa kakiku berlari kecil dari depan komplek menuju rumah.


Aduh, hujan datang tanpa aba-aba. Aku mempercepat langkahku saat memasuki halaman rumah dan bernapas lega saat berhasil mencapai teras. Aku sangat benci jika harus basah dengan pakaian lengkap seperti ini.


Sepatuku yang basah aku tanggalkan dan kuletakkan begitu saja di sudut teras. Lalu aku angkat ujung sweaterku untuk menanggalkannya dari tubuhku. Seketika tubuhku diterpa angin dingin karena kaos berlengan pendek yang aku gunakan tidak mampu melindungi tubuhku.


"Darimana?"


Aku terperanjat kaget saat suara berat yang familiar bertanya dari arah belakang. Aku mengerjap begitu tahu bahwa seorang cowok tampan sedang bersedekap dada bersandar di bingkai pintu. Tatapan penuh pertanyaan dilayangkan padaku.


Aku memungut ransel dan sepatu yang tadi kuletakkan di lantai. "Kerja kelompok di rumah Andin," jawabku melewatinya masuk ke dalam rumah.


Aku menaiki tangga dan aku dapat mendengar langkah kaki yang mengikutiku hingga ke lantai atas. Aku berhenti setelah membuka pintu kamarku dan menatapnya.


Rael berdiri di depanku. Aku memberi senyum culas dan dengan telunjuk aku menekan dadanya. "Batas suci," kataku dan menutup pintu.


Tapi tidak kesampaian. Dengan tangan kanan, Rael menahan pintu hingga terbuka sedikit. Aku mengedip saat Rael menatapku dengan alis berkerut. "Kenapa hape lo gak aktif? Chat gue?"


Haruskah aku jawab kalau aku sengaja?


Entah apa reaksi yang Rael berikan. Aku sendiri bingung dengan sikapku sendiri. Kenapa aku terkesan marah hingga dia terlihat kebingungan? Aku duduk di depan cermin dan memandang diriku sendiri.


Rael terlihat baik-baik saja. Tidak ada lebam atau luka. Kerutan di dahinya atau di alisnya menjadi pertanda bahwa Rael masih sama. Cowok keras kepala dan tukang atur. Aku pikir perkelahian tadi setidaknya mampu membuat Rael berhenti mengerutkan dahi atau menyatukan alisnya, karena itu sungguh menyebalkan dan membuatku gemas ingin mencakarnya.


Kenapa hubungan ini terasa dingin?


Aku menghela napas. Mulai memikirkan saat-saat dua tahun silam dan membandingkannya dengan saat-saat tahun ini. Kami sama-sama memiliki hubungan saat itu. Jenis hubungan yang sama, tapi kenapa rasanya menjadi berbeda.


Rael yang perlahan menjauh dan aku yang perlahan belajar untuk melepaskannya.


"Lama banget sih!!"


Aku memutar bola mataku saat gedoran-gedoran dengan seruan itu mengusik lamunanku. Seperti biasa, Rael yang tak pernah bisa bersabar lebih dari lima menit. Aku jadi membayangkan wajah seperti apa yang dia buat sekarang ini.


Aku merapikan rambutku yang sedikit kusut lalu segera keluar kamar. Saat membuka pintu, hal yang pertama aku lihat adalah wajah kesal Rael yang lagi-lagi dengan alis berkerut.


"Kenapa gue cariin tadi di sekolah lo gak ada? Kenapa chat gue yang dibales? Kenapa hape lo gak aktif?"

__ADS_1


Aku mengerjap dan membuka mulut hendak menjawab.


"Kenapa pulang gak ngabarin gue?" potongnya.


Aku terdiam. Kenapa Rael bertingkah seolah-olah dia adalah pacar yang protektif?


Rael terlihat kesal sekali. Aku mengulurkan tanganku dan mengusap kerutan di dahinya. "Hari ini hari sibuk gue. Sorry," kataku memilih untuk mengalah.


Tidak mungkin aku berkata karena aku marah melihatnya bersama Malika 'kan?


Entahlah. Aku hanya merasa tak pantas untuk berkata demikian.


"Kalau lo suka ngerut-ngerut kayak gini, lo bisa penuaan dini," kataku dan Rael memegang pergelangan tanganku yang mengusap dahinya.


"Jangan ngalihin pembicaraan," katanya.


Aku menarik tanganku lepas. "Gue gak mau pacaran sama orang tua ya," jawabku acuh lalu meninggalkannya menuruni tangga ke lantai bawah.


Suara langkah dengan hentakan kaki terdengar jelas di belakangku. Aku mengabaikannya. Aku tahu pacarku itu sedang sangat kesal. Aku lihat Mama sedang mengerjakan sesuatu di pantry, jadi aku duduk di salah satu kursi di depan meja makan. Rael berdiri di sampingku. Kerutan di dahinya bertambah membuatku menghela napas.


Kenapa pacarku sangat kekanakan?


"Gak ada luka 'kan?" tanyaku akhirnya.


Rael tidak langsung menjawab pertanyaanku. Aku menatapnya, menunggu reaksinya. Dia malah balik menatapku dengan mulut terkatup.


Lalu, seperti yang sudah kuduga, Rael membuang napas dan kerutan di dahinya luntur.


Aku hapal betul kebiasaannya yang satu ini. Rael ingin aku menunjukan kepedulianku. Aku tahu dia berkelahi, namun terlihat tidak peduli. Mungkin itu yang ia pikirkan.


Tapi aku rasa dia tidak membutuhkan itu. Kepedulianku.


Ada begitu banyak orang yang mempedulikannya. Aku hanyalah salah satu dari sekian banyak orang itu.


Dadaku sesak lagi. Aku merasa kesal lagi.


Rael menuntut banyak hal dariku. Tapi aku tidak dapat menuntut apapun darinya. Dia ingin aku peduli, tapi dia tidak terlihat peduli padaku.


Aku ingin, setidaknya sekali saja, Rael merasakan bagaimana rasanya jadi aku.

__ADS_1


◻◻◻


__ADS_2