
"Kok lo udah balik?" tanyaku pada Liona yang tiba-tiba masuk kelas lima belas menit setelah aku masuk. "Andin gimana?"
Liona tersenyum aneh rada misterius. "Udah ada yang jagain," bisiknya.
"Siapa?"
Liona mendekat wajahnya. "Mantan."
Aku menahan diriku untuk tidak terkejut berlebihan. "Yang dari IPS itu?"
Liona mengangguk. Aku menahan senyum. Membayangkan bagaimana reaksi Andin ditemani mantan yang terakhir kali ia putuskan beberapa bulan yang lalu.
Memang jodoh gak bakal kemana.
Aku tahu Andin tak serius. Aku tahu anak IPS itu cinta mati sama Andin. Dan aku juga tahu
karma itu ada hingga Andin ujung-ujungnya juga berharap pada cowok itu.
Karma is a *****. Isn't?
Saat bel berbunyi, aku dan Liona buru-buru menuju UKS. Mengendap di depannya dan mengintip apa yang terjadi di dalam.
Andin terlihat berbaring miring dengan selimut putih tipis menutupi kaki hingga setengah badannya. Wajahnya tidak terlihat karena ada tubuh seseorang yang menghalangi pandanganku.
Aku tutup lagi pintu UKS pelan-pelan dan bertos pelan dengan Liona. Bukannya apa, aku mendukung semua yang Andin lakukan begitu juga dengan Liona. Mantan Andin ini, yang bernama Yogi ini, menurutku adalah yang terbaik dari sekian banyak cowok yang pernah Andin pacari.
Aku sangat setuju jika ada CLBK di sini.
"Gue tau si Andin emang goblok. Cowok seunyu Yogi diputusin. Kan sayang."
Aku tersenyum saja. Kami sama-sama memesan batagor dan duduk berdua saja di meja paling pojok. Baru saja duduk di sana, seorang gadis yang baru aku kenal akhir-akhir ini duduk di sampingku.
"Kalian ya, suka banget mojok." Seka terkekeh.
"Lah lo sendiri napa ikutan mojok?" sahut Liona cuek.
Seka mengabaikannya. "Gue kira nih ya, kalian sama si mayoret sohiban. Eh, tiba-tiba berantem. Bikin kaget aja deh."
Aku dan Liona sama-sama menyudahi suapan kami. "Atas dasar apa lo ngira kita se geng sama dia?" tanya Liona.
Seka mengedip. "Secara nih ya, lo bedua, betiga sama temen lo yang satu lagi secara penampilan mirip banget sama dia. Muka-muka polos. Tampang anak baik-baik."
Liona memutar bola matanya. "Kayak gak tau aja lo gimana gak sukanya kita sama dia. Alu nih yang paling benci."
__ADS_1
Aku mendelik pada Liona. Namun dia malah menyeringai, begitu juga dengan Seka.
"Gue tau kok. Duh, kalau diinget-inget, kesel juga yah."
Aku menatap datar keduanya sambil menahan kekesalan. Aku tiba-tiba menyalahkan Rael. Semenjak kami putus, aku selalu jadi bahan olok-olokan. Walau aku yang memutuskan, namun semuanya karena dia sendiri.
Selang beberapa detik, Andin tiba-tiba muncul dan menyelip di tengahku dan Seka.
"Eh, Andin lo gak papa?" tanyaku karena melihat ekspresinya yang agak misterius.
"Udah gue putusin," katanya memancing tanda tanya bagiku, Liona bahkan Seka.
"Gue bakal bales apa yang udah mereka perbuat sama gue."
Thats it. Ini Andin yang aku kenal. Daripada Andin yang pendiam dan seperti orang ling-lung tadi itu, aku lebih suka dia yang menggebu seperti ini.
Tapi keputusannya tidak baik juga.
Aku memegang bahunya. "Lo gak salah kalau mau bales. Tapi mungkin akibat yang lo dapet jauh lebih besar dan beresiko nantinya. Pikirin lagi Din."
Andin menoleh menatapku. "Ini bukan tentang gue," katanya. "Ini tentang lo sama Liona."
"Huh?" aku dan Liona menatapnya bingung.
Andin menghela napas. "Tadi anak-anak yang kemarin ngeroyok gue nyamperin gue ke UKS. Mereka kemakan omongan lo dan minta maaf sama gue buat gak dilaporin ke polisi."
karena ada Ian."
"Gue dukung," sahut Liona. "Kalau perlu gue ikutan."
Kepalaku mendadak pusing. "Gue gak bisa ikutan. Gak." aku menggeleng-gelengkan kepalaku. "Tapi bukan berarti gue ngebolehin kalian kayak gitu."
"Lo gak perlu ikut. Biar gue sama Liona yang urus."
"Gak bisa."
Andin, Liona dan Seka menatapku. Aku menghela napas. "Jangan gitu. Gak baik. Kalau pihak sekolah tau, masalahnya tambah runyam. Biar mereka diadili sama yang berhak aja," bujukku.
Andin menggeleng. "Princess duduk aja."
Seka berdehem. "Kalau butuh, gue punya cadangan kok." dia menyeringai. "Calling-calling aja."
◻◻◻
__ADS_1
Aku menyelesaikan tugas piketku dengan cepat. Cuaca sedikit terasa panas membuat kulitku sedikit berembun. Aku bergegas keluar kelas setelah menyandang ranselku.
Andin dan Liona sudah duluan.
Hah, kami berteman cukup lama, namun aku masih tidak mengerti kenapa mereka begitu keras kepala. Keduanya mirip. Meski sering melontarkan kata-kata kasar, namun keduanya sangat cocok.
Kalau dibilang soal harga diri, siapa juga yang tidak merasa kesal saat dibully bahkan melibatkan kekerasan beramai-ramai. Sederhananya pengeroyokan. Aku juga kesal. Walau Andin itu kuat, tetap saja melawan geng yang tidak sedikit itu ia tetap kalah.
Tapi memikirkan Andin ingin membuat pembalasan dengan cara serupa, membuatku gusar sendiri. Bukannya apa, bisa saja mereka lebih licik dari yang orang-orang pikirkan. Jika Andin yang dikeroyok tidak melapor ke sekolah, mereka malah melapor jikalau dibalas. Atau yang lebih parah membawa-bawa nama polisi.
Aku juga ingin mereka mendapat balasan. Tapi bukan dengan cara seperti itu. Tidak juga dengan polisi. Soal yang tadi itu, aku hanya terlalu kesal. Lihatkan, mereka langsung meminta maaf walau dibarengi dengan menjelekkan aku dan Liona.
Menurutku, setidaknya mereka mendapatkan hukuman di sekolah. Diskors mungkin?
Ada beberapa perempuan di lorong depan kelas sebelas menghalangi jalan. Aku menghentikan langkahku dan bergeser sedikit ke kanan agar bisa lewat.
Hanya satu langkah, lain lagi gadis yang menghalangi langkahku. Aku menatapnya mengernyit. Dia juga menatapku sebelum memberikan senyuman.
"Hai," sapanya.
Dia bukan kelas dua belas. Aku mungkin tidak mengenal semua anak yang seangkatan denganku, tapi aku tahu siapa saja mereka. Dan orang-orang yang berada di depanku ini bukan salah satu dari anak kelas dua belas. Intinya, mereka adalah adik kelas.
"Ya?" aku balik tersenyum seramah mungkin.
Gadis di depanku ini terlihat berpikir sebentar dengan gaya feminimnya. Kedua tangannya berada di samping, sedikit ke belakang pahanya sambil menatapku. "Bisa kakak gak ikut campur?"
Aku mengernyit. "Maaf?"
"Aku minta maaf sebelumnya. Tapi ini urusan Kak Andin sama kita. Gak ada hubungan sama kakak."
Aku mengerti. Mereka ini bawahannya Malika. "Kalau boleh tahu, 'kita' itu siapa?" tanyaku dengan senyum.
Tangannya berpindah ke depan dan saling bertautan. "Aku tau ini udah gak sopan. Sekali lagi kami minta maaf. Tapi kak, keikut campuran kakak ngebuat kami terganggu."
Aku menarik sudut bibirku. "Anak-anak Marching Band?"
Dia melirikku sebentar sebelum mengalihkan lagi pandangannya. Aku mendengus. "Jadi benar ini kemauannya Malika?"
Dia tidak menjawab lagi. Aku menahan diriku untuk tidak tertawa. Karena lucu saja bagaimana Malika mengelak mati-matian sementara bawahannya sendiri membeberkan kebenarannya.
"Kakak gak bakal ikut campur lagi. Sampai ketua kamu, biang pengeroyokan itu mengakui kesalahannya dan minta maaf sama Andin di depan semua orang."
Dia terlihat kaget begitu juga dengan yang lainnya.
__ADS_1
"Maaf-maaf saja ya, tapi kalau berbuat salah itu dan menyalahi orang yang hendak membantu, itu sedikit keterlaluan. Minta maaf 'kan tidak susah. Harga diri memang perlu dijaga, namun menurunkannya sedikit untuk mengakui kesalahan tidak akan membuat kalian terhina. Kalau kalian memang mau minta maaf dengan tulus, mungkin kakak akan mencoba membujuk Andin untuk berdamai."
◻◻◻