
Aku tidak bodoh untuk mengartikan apa yang dia maksud. Maksudnya adalah Rael. Iya, cowok yang berstatus pacarku saat ini. Yang baru beberapa waktu lalu aku memutuskan untuk berbaikan dengannya. Cowok yang memintaku berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun.
Sial—
"Alu."
Aku menoleh seratus delapan puluh derajat saat mendengar panggilan bernada pelan itu padaku. Sosoknya tak jelas tertangkap mataku karena mataku mendadak kabur oleh sesuatu yang bening dan hangat.
Yang pasti dia terlihat terkejut. Aku menatap lagi ke depan. Tidak menoleh lagi baik pada Rael di samping kananku, atau pun pada Sheva si samping kiriku.
Dadaku terasa sesak hingga aku menarik napas dalam-dalam untuk mengurangi sesaknya.
Aku terlalu terkejut.
Sheva menarik tanganku dan meletakkan jaket Rael yang tadi ia ambil di sana. Aku tidak menoleh saat ia pergi dari sana. Aku juga tidak tahu reaksi apa yang Rael tunjukan saat gadis itu beranjak begitu saja.
Emosi berkumpul di dada dan ubun-ubunku hingga rasanya aku hendak meledak. Tanganku terkepal dan aku menoleh cepat ke arahnya. "Gak lo kejar?" tanyaku sarkas.
Sosoknya masih buram karena genangan dimataku tidak mau hilang, tapi tidak mau jatuh juga.
"Dia bilang apa?"
Aduh, rasanya aku hendak sekali tertawa karena pertanyaannya.
"Dia bilang seseorang suka sama dia tapi gak pernah nembak dan malah jadian sama cewek lain," sindirku dengan senyum ngilu.
Rael tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik. Mungkin dia bingung hendak mengatakan pembelaan macam apa.
__ADS_1
Hah, dasar brengsek. Rael brengsek.
"Kalau gue bilang itu gak bener, siapa yang harus lo percaya?" tanyanya.
Aku sedikit geli dengan pertanyaannya. "Gue gak tau. Orang yang gue percaya aja sering bohong."
Pandanganku semakin memburam. Wajahnya tidak terlihat jelas. Sementara aku tidak mengedip sama sekali, aku tidak ingin genangan itu turun dan Rael akan menertawakanku.
"Tapi gue gak pernah bohong soal perasaan gue—"
"Gue percaya sama lo," potongku. "Kalau lo memang gak pernah merasa bebas, gak pernah merasa nyaman, gak pernah dapat apa-apa yang berarti dari gue, gue minta maaf. Tapi harusnya lo bilang—"
"Bisa kita berhenti sekarang?"
"Bisa kita akhiri sekarang?"
Aku mengatur napasku saat nada suaranya berubah tegas. Otot-ototku terasa tegang dan sedikit pegal karena ketegangan itu. Tapi rasa sesak itu tidak bisa hilang.
"Sekarang lo bebas. Gak perlu lagi sembunyi-sembunyi dari gue."
"Aloona dengerin gue."
"Lo bisa nembak Sheva."
Aku meringis dalam hati merasakan suatu goresan tak kasat mata.
"Aloona liat gue..."
__ADS_1
Aku mendongak untuk melihatnya seperti yang ia minta. "Burem..." lirihku. Sontak mengedip hingga genangan itu mengalir juga.
Perlahan wajahnya mulai terlihat dengan jelas. Aku semakin mengedip untuk memperjelas penglihatanku. "Ok. Udah keliatan," kataku.
Aku tidak tahu ekspresi macam apa yang aku buat. Mungkin saja aku terlihat sangat menyedihkan. Tapi Rael tidak mengatakan apa-apa. Mulutnya terbuka beberapa kali, namun dia terlihat kebingungan hendak mengatakan apa.
"Bisa gue jelasin. Tapi gak di sini."
Aku menarik sudut bibirku tipis lalu menyeka air mataku dengan lenganku. "Tapi ini pertemuan terakhir kita." Aku menjeda. "Sebagai pacar."
Rael terlihat tidak terima. Dahinya berkerut dan bibirnya mengatup. "Alu, kita udah janji buat bicarain semuanya."
"Tapi gue gak pernah janji buat jadi pacar lo selamanya. Jadi kalau gue pengen putus, lo gak bisa larang," sergahku.
"Tunggu—"
Aku menarik napas dalam-dalam dan menatapnya dengan tatapan terdingin yang aku punya. Aku mendorong jaket itu ke dadanya.
"Kalau lo gak bisa jaga perasaan lo buat gue, jangan pernah minta gue buat jaga perasaan gue juga."
"Aloona—"
Aku menarik napas dalam-dalam karena sesak. "Ayo akhiri sampai di sini," lanjutku. Tanpa menunggu jawabannya aku berbalik menuruni anak tangga menuju halaman. Meninggalkannya sambil menerobos gerimis tipis sisa hujan.
Aku tidak dapat menahan air mata yang mendesak keluar. Udara tiba-tiba terasa lebih dingin, sedingin perasaanku yang hancur.
◻ ◻ ◻
__ADS_1