Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Niat Tersembunyi Seorang Teman


__ADS_3

Aku bertepuk tangan sekeras yang aku bisa hingga rasanya sedikit perih. Namun aku menarik senyum lebar dan merasa ikut gembira.


Andin menyenggolku. "Berhubung cowok lo menang. Kita balik dulu, mau nonton Voli," katanya.


Aku menoleh. "Voli?"


"Basket actually," jawab Andin berbisik di telingaku sambil melirik Liona.


Aku mengangguk paham. Nonton basket dengan modus voli. Hmm, Liona bilang saja kamu belum bisa move on dari Ian.


"Ok. Nanti gue nyusul," kataku.


"Halah, gak percaya," sahut Liona. "Udah ayo." Liona menarik tangan Andin.


"Udah gak sabaran dia," goda Andin nakal lalu tertawa saat Liona mendelik padanya. "Dah Alu. Have fun ya."


Aku mencibir. "Have fun apanya?"


Mereka menghilang di balik lalu lalang orang-orang. Aku berbalik lagi untuk melihat kondisi di lapangan futsal. Alih-alih melihat Rael di lapangan melakukan selebrasi dengan teman-temannya, aku melihat cowok itu sudah dengan kaos hitam dan celana training yang sebelumnya ia pakai, berjalan menghampiriku.


What ever.


Aku menarik senyum begitu pun dengan dirinya. Dia berhenti di depanku. Aku mengangkat tangan kananku dan dengan dua tepukan pelan di bahunya, aku menyelamati dirinya.


"Congrats," kataku. "Lo berhasil kasih kenangan indah buat sekolah."


"Reward buat gue mana?" tanyanya.


Aku mengedip sambil berpikir sebentar. Aku mengangkat tanganku lagi dan berjinjit untuk mengacak-acak rambutnya. "Pinter," kataku menepuk kecil kepalanya seperti anak kecil. Setelah aku menarik diri dan berbalik meninggalkannya.


Aku tak tahu. Aku hanya merasa begitu senang hingga aku tidak berhenti tersenyum.


Setelah beberapa langkah, aku merasakan tarikan pada lengan kananku hingga memaksaku untuk berhenti dan berbalik. Aku menatap bingung pada Rael, sebelum cowok itu menarik jaketnya yang masih aku pegang di tanganku.


Apa dia marah?


Tidak. Rael tidak marah. Cowok itu justru mengembangkan jaketnya ke belakang punggungku, menyuruhku untuk memakainya. Aku menurut saja.


"Gue tunggu reward gue," katanya sambil melipat ujung lengan jaket yang berlebih di lenganku.


"Gak ada reward," jawabku. Dia berhenti dan melirikku. Aku juga meliriknya. "Reward yang itu," lanjutku.


"Tapi gue maunya reward yang itu. Kan gue menang."


Aku mengacungkan telunjukku ke depan hidungnya. "Gak ada kesepakatan. Dan gak segampang itu."

__ADS_1


Alisnya berkerut lagi. Alih-alih membantah, cowok itu malah menggenggam telunjukku itu dan menarikku untuk mengikutinya. Aku bingung sejujurnya. Namun, lama-kelamaan genggaman di telunjuk itu berubah menjadi genggaman di telapak tanganku seiring jauhnya kami melangkah bahkan sampai menuruni tangga ke lantai satu.


"Kita mau kemana?" tanyaku tanpa sadar membiarkan tangan kami bertautan.


Rael tidak menjawab. Cowok itu terus melangkah hingga ke halaman gor. Tak lama aku melihat sebuah truk makanan terparkir dari arah depan di antara lalu lalang orang-orang.


Aku tersenyum lebar. Gantian menarik tangan Rael untuk buru-buru ke truk makanan itu. "Ayo. Ayo," kataku seperti anak kecil.


◻◻◻


"Ada lagi gak yang mau lo tonton?"


Aku melirik Rael setelah menyesap milkshake vanilaku. "Lo kali ada yang mau ditonton," kataku cuek.


"Jangan mulai deh."


Aku menggedikkan bahuku. Rael menghela napas sementara aku hanya diam meliriknya.


Aku tidak tahu lagi bagaimana kondisi sebenarnya hubungan kami. Aku sendiri ragu sementara Rael malah mempersulit segalanya.


Aku menghela napas. Tanpa sadar aku berhenti melangkah saat tanpa sengaja melihat satu stand di halaman keluar gor yang ramai dikunjungi pengunjung. Aku menoleh pada Rael yang beberapa langkah di depanku. Lalu aku menyusul dan menahan lengannya.


Sebelum dia bertanya, aku sudah menarik lengannya menuju stand itu.


Aku menatap matanya dan melunak. Kalau boleh aku katakan, walaupun dia keras kepala, namun Rael suka memendam sendiri emosinya. Rasa senang, sedih atau apapun itu. Namun karena itulah aku mudah membaca dirinya. Lewat matanya.


Aku menghela napas lalu menarik tangan kirinya. "Jangan sampai kena razia osis," kataku pelan sambil memasangkan bracelet kulit yang aku pilihkan.


Dia tidak menjawab selama beberapa detik sebelum balas berkata dengan suara pelan. "Nanti gue tonjok yang berani sita."


Aku menatapnya dan dia tersenyum tipis hingga aku mau tak mau tersenyum juga.


Aku melepaskan tangannya. "Soal reward yang lo minta—" aku menarik napas panjang dengan arah pandang ke jajaran bracelet yang di pajang. Namun pikiranku bukan ke sana.


"Kita udah kayak gini. Seharusnya lo gak perlu nanya lagi."


Aku malu sekali sebenarnya. Rael sempat sedikit kebingungan, namun detik berikutnya dia justru tersenyum lebar dan mengenggam tanganku.


Aku menoleh. Rael tersenyum hangat.


"...Thanks."


◻◻◻


Hari itu tiba-tiba saja turun hujan yang cukup lebat. Aku dan Rael berteduh sebentar di stand bracelet itu. Namun karena tempatnya penuh dan sesak. Aku memilih untuk mengajak Rael kembali ke gedung gor yang tempatnya lebih luas. Kami berlari menempuh hujan hingga kami sedikit basah.

__ADS_1


Rael yang hanya memakai kaos, sudah basah kuyup hingga kaos itu menempel di punggungnya. Aku sendiri, karena jaket yang ia berikan, air tidak sampai membasahi tubuhku. Namun jaket itu menyerap banyak air.


"Gue ke toilet dulu. Lo gimana?" tanyanya. Aku menggeleng dan mengatakan akan menunggunya di sini. Mungkin dia hendak mengganti baju dengan kaos cadangan yang ia bawa, atau apalah.


Aku membuka jaket Rael yang sudah basah itu dan menyampirkannya di lengan. Sambil menunggu Rael datang, hujan perlahan berhenti menyisakan gerimis tipis yang dihembuskan angin. Hujannya ternyata hanya numpang lewat.


"Aloona."


Aku menoleh dan menemukan seorang atlit sekolah yang akhir-akhir ini cukup dekat denganku.


"Sheva. Lo udah tanding?" tanyaku karena melihat dia berbalut jaket tim voli dan tas ranselnya.


"Belum. Nanti sorean dikit. Satu jam-an lagi 'lah."


Aku mengangguk. "Kenapa gak ke dalam?"


Sheva tersenyum. "Sesek. Gue juga lagi nunggu seseorang."


Aku tersenyum geli. "Pacar?"


Gadis itu justru tertawa. "Bisa aja lo. Gue belum punya pacar. Calon sih, tapi gak nembak-nembak juga."


Aku membulatkan mulutku. Apa dia sedang curhat? Aku berdehem dan memeluk jaket Rael ke perut.


"Lo dong yang nembak," kataku setengah bercanda.


Dia menoleh dengan mengernyit sebelum menyenggol bahuku. "Lo kira gue cewek apaan?" nada suaranya gemas. "Dimana harga diri gue kalau gue yang nembak duluan? Yah, walaupun dia gak pernah peka."


Aku diam saja. Dari sudut mataku, aku lihat Sheva menatap jaket yang aku peluk. "Udah hampir setahun," katanya. Aku terkejut ketika dia mengambil jaket Rael yang aku pegang dengan pelan. Aku bingung tapi dia tidak mengatakan apa-apa, jaket itu lepas perlahan dari tanganku.


" Hampir setahun tapi dia yang katanya suka gue, gak pernah minta gue buat jadi pacarnya." Sheva menatap jaket di tangannya dengan tatapan yang aneh menurutku.


Dadaku tiba-tiba saja berdebar tak karuan.


"Selama itu gue nunggu. Tapi habis dia putus sama Malika," jedanya.


Sheva menoleh menatapku. "Yang ditembak malah lo."


Seketika aku merasakan sesuatu yang perih di ulu hatiku.


Thats it—


Itu yang kamu bilang bukan pelarian, Rael?


◻◻◻

__ADS_1


__ADS_2