
Boleh tidak aku tersenyum-senyum tidak jelas seperti ini?
Untung saja Rael tidak melihat. Bisa besar kepala dia nanti.
Hari ini dia membawa helm. Itu mengejutkan. Bagiku.
Tentu saja. Selama ini dia tidak pernah bawa helm, kemana pun itu. Yang lebih mengejutkan lagi, ada helm berwarna merah yang lebih kecil untukku. Katanya demi keamanan.
Tapi, apa mungkin dia punya helm perempuan seperti ini?
Tentu saja aku merasa geli, mengingat bagaimana keras kepalanya dia dan selalu mengelak jika aku mulai mengomel tentang helm. Dulu.
Aku meneguk ludah dan berusaha berhenti tersenyum-senyum sendiri. Rael menghentikan motornya di depan sebuah gedung yang aku tidak tahu apa. Ada beberapa spanduk dipasang di depannya dan beberapa orang berlalu lalang.
"Lo yakin? Kita masih pakai baju sekolah," kataku tidak yakin sambil menatapi gedung itu.
"Pamerannya kan terbuka untuk umum. Jangankan anak SMA, anak TK aja boleh masuk."
Aku menatapnya sangsi. "Jangan ngaco."
Tanpa menjawabku, Rael meletakkan tangannya di atas ranselku dan mengajakku masuk ke dalam. Mengabaikan protesanku yang merasa beban berat di punggungku bertambah dan dia tidak melepaskannya sampai kami masuk.
Dia memberikan dua tiket kepada petugas yang berjaga. Itu sedikit mencurigakan. Bagaimana caranya mendapatkan tiket itu? Sekaligus dua. Aku curiga dia sudah mempersiapkan ini.
"Kenapa?" tanyanya saat kami mulai masuk ke dalam ruang pameran itu.
"Jadi ini sudah direncanakan?" tanyaku balik.
Sudut bibir kirinya terangkat. "Udah dong."
"Termasuk tiket?" tanyaku lagi. Dia mengangguk. "Kalau gue gak mau gimana?"
"Lo mau 'kan," jawabnya.
Aku berhenti. "Kalau gak?" aku keras kepala.
Rael ikut berhenti dan menghadapku. Dia diam selama beberapa detik sebelum memberikan jawaban. "Tiketnya gue buang."
Aku berdengung sebentar. "Bukannya lo ke sini karena mau lihat bagian motornya?"
"Itu salah satu alasannya."
"Alasan lainnya?"
Rael berdecak. "Bawel banget sih. Ayo ah."
Rael meletakkan lagi tangannya di atas ranselku dan memaksaku berjalan. Aku merengut karena dia tidak memberikan jawaban apapun.
Kegiatan itu terasa sedikit menyenangkan. Ada banyak barang yang bisaaku lihat dan unik. Ini pertama kalinya aku mendatangi pameran. Suasanayang sengaja dibuat temaram untuk bagian benda antiknya di balik kotak kaca.
Mengagumkan.
Aku mendengar seseorang berdecak sebelum tanganku ditarik. "Pake ngilang segala," gerutu Rael.
__ADS_1
Aku meringis. "Sorry. Lo sih buru-buru banget."
Dia tidak menjawab. Kami berpindah lagi ke lain tempat. Sebenarnya untuk menemukan bagian motornya, namun aku malah berhenti di salah satu aksesoris antik di sana.
"Lo sering datang ke pameran?" tanyaku.
"Sesekali. Tergantung sama barangnya," jawab Rael.
Aku mengangguk lalu berjongkok di depan sebuah kotak kaca setinggi pinggang. Isinya seperti sebuah patung kayu berwarna cokelat keemasan. Aku berdecak kagum dan membaca katalog yang tertera di sudut kotak itu.
Patungnya bagus.
Aku berdiri. "Barangnya bisa dibeli gak?" tanyaku. Tapi tidak ada jawaban. Sontak saja aku menoleh, tapi tidak ada sosok cowok yang aku kenal.
Aku berputar di tempat.
Rael dimana?
Aku mengedip ling-lung. Jari-jari tanganku tiba-tiba sudah terposisikan di depan bibir.
Ok. Aloona, tidak perlu panik. Kamu bukan anak kecil lagi.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari balik tikungan sebelah kiri. Aku sontak menoleh dan menemukan satu-satunya laki-laki yang aku kenal di tempat ini.
Rael nampak tidak senang. Alisnya bertaut, dahinya berkerut. Aku pun demikian. Aku merengut namum tidak berani memandangnya.
Aku dengar dia menghela napas. Kemudian sebuah telapak tangan di sodorkan padaku. Aku mengangkat pandanganku dan menatap tangan itu.
Sedang bingung saat akan menerima atau menolak, Rael mengambilnya sendiri dan menggenggamnya. Iya, tanganku.
"Biar gak ilang lagi."
Is that really the reason?
But, what the hell with that smirk?
◻◻◻
Sejak bagian motornya ditemukan, Rael hanya terfokus untuk memperhatikannya satu-persatu. Kadang mengambil beberapa gambar dan tak bosan selama bebepa menit untuk satu motor.
Dasar maniak.
Sementara aku sendiri hanya berdiri di belakangnya. Menunggu. Jika bosan aku akan menghela napas. Jika lelah menghela napas, aku akan menatapnya lagi. Begitu seterusnya.
Kurang kerjaan sekali diriku sampai menghela napas menjadi penghilang kebosananku.
"Lo gak niat beli yang begituan 'kan?" tanyaku. Sebenarnya tidak niat bertanya, aku hanya melimpahkan kejenuhanku.
Rael berdiri dari jongkoknya. "Pengen coba," jawabnya tanpa menoleh.
Aku memutar bola mataku. Daripada menjawab lagi, aku memilih untuk melihat-melihat barang-barang yang ukurannya lebih kecil yang dipajang berbaris di dinding.
"Nunggu lulus dulu."
__ADS_1
Aku mencibir pelan tanpa menoleh saat mendengar dia berkata demikian."Kenapa harus nunggu lulus dulu? Kalau mau dan kalau punya uangkan bisa sekarang." aku berkata tidak serius sambil bermain-main.
"Kan lo yang bilang gitu," jawab Rael tak kalah santai.
Aku menoleh menatapnya. Rael memberikan lirikan dengan senyum miring di bibirnya lalu kembali menatap barisan motor itu.
Sial.
Aku berdehem. Tanpa mempedulikannya, aku memfokuskan diri lagi pada barang di dinding itu.
That jerk. Kenapa dia bisa selalu dengan mudah menjungkir balikkan perasaanku?
Aku mengatupkan bibirku sambil berpura-pura memperhatikan barang-barang di depanku, tapi kenyataannya adalah, pikiranku buyar.
Sudah kubilang 'kan? Hubungan ini tidak akan bertahan sampai kita lulus. Jadi tidak ada gunanya kamu mengungkit masa lalu. Dan jangan pernah terhalangi karena itu.
Do what ever you want.
And i'll do what ever i want.
Aku berdehem membersihkan tenggorokanku dan berbalik. "Lo masih lama?"
Pertanyaanku bagaikan angin lalu. Nyatanya, cowok yang kutanya seperti hantu yang dalam sekejap sudah berdiri di belakang punggungku tanpa aku sadari.
Sebuah kalung tali berwarna hitam dan leher kokoh memenuhi pandanganku membuatku menegang.
Bernapas Aloona!!
Sial.
Aku mendorongnya mundur dengan canggung. "Apaan sih?" gerutuku pelan. Tenggorokanku makin terasa serak hingga aku berdehem lagi.
Dia hanya bergerak satu langkah. Tidak. Hanya setengah langkah ke belakang.
"Lo bakal kuliah dimana?" tanyanya ambigu.
"Kok tiba-tiba nanya kuliah?"
"Jawab aja."
Dia terlihat aneh membuatku merinding. Sumpah, ada apa dengan orang ini. Auranya tiba-tiba menjadi asing dalam sekejap.
"Kalau gue lulus dengan nilai bagus, lo bolehin gue beli motor lagi," katanya.
Dia menunduk dan tatapannya tiba-tiba menjadi teduh.
Dengan suara lembut dia berkata. "Kalau gue berhasil ngejar universitas yang sama—sama lo, lo jadi pacar gue lagi ya Lu."
◻◻◻
__ADS_1