
Sepulang sekolah aku memilih untuk pergi ke perpustakaan untuk memperpanjang masa peminjaman buku dan meminjam beberapa lagi. Aku berjalan tanpa suara dan berusaha tidak ketahuan saat menyalip antara orang-orang di koridor yang bising karena semuanya saling mengobrol dan bercanda.
Aku tidak menyukainya. Aku bukan tipe pembicara ulung yang banyak bicara. Aku tidak menyukai kebisingan walaupun aku selalu terhibur saat mendengar Andin dan Liona saling bertengkar. Aku menyukai suasana yang tenang, namun terkadang aku suka memakai earphone dan menyetel volume maksimal hingga tidak ada lagi suara yang terdengar kecuali suara musik.
Apa aku terdengar aneh?
Perpustakaan saat itu terlihat sepi. Aku meletakkan tasku di salah satu meja dan mencari buku-buku yang aku butuhkan di rak-raknya. Tiba-tiba aku teringat bahwa aku harus mengembalikan jaket Rael yang kubawa di dalam tasku.
Aku tidak tahu apakah ia sudah pulang apa belum. Tapi kutebak ia masih berada di ruang olahraga untuk mengurus urusan futsal kegemarannya itu.
Me: Rael, udah pulang?
Aku mengiriminya pesan untuk memastikan.
Rael: Belum
Rael: Kenapa?
Balasnya cukup lama membuatku tersenyum tipis karena dia masih di sini.
**Me: Jaket lo
Me: Mau gue anter?
Rael: Gak usah
Rael: Gue jemput
Rael: Lokasi?
Me :Perpus**
Aku menyimpan kembali ponselku dan melanjutkan kegiatanku sembari menunggu Rael datang. Sebuah novel karya Nicholas Spark berada di tanganku. Aku tidak tahu kenapa aku tertarik untuk menarik novel ini dan membuka lembarannya. Dari yang aku dengar, penulis yang satu ini selalu menuliskan kisah-kisah dengan alur yang sedih.
"Kak Loona."
Aku menoleh dan tersenyum kecil. "Talita."
Talita ini adalah adik kelas yang cukup aku kenal. Anak jurnalistik yang pernah aku bantu saat ia menjadi peserta didik baru di sekolah ini. Dia melirik novel yang aku pegang.
"Kakak lagi patah hati?" tanyanya setengah bercanda.
Aku mengernyit bingung dan menatap novel yang berada di tanganku. "Patah hati?"
"Novel itukan tentang orang-orang yang tidak bisa hidup bersama orang yang ia cintai. Jadi aku pikir kakak lagi patah hati."
Begitu. Aku tersenyum culas sambil menatap novel itu. Aku mungkin belum saatnya untuk patah hati. Belum. Menunggu waktu saja yang aku prediksi tidak akan lama lagi. Tapi novelnya boleh juga. Siapa tahu aku bisa mengutip beberapa tips jika nanti hatiku kembali dipatahkan.
"Gak. Becanda."
Aku mendengar Talita tertawa kecil membuatku mengalihkan tatapanku. Aku tidak bisa untuk tersenyum lagi. Jadi aku bertanya padanya tentang hal lain.
__ADS_1
"Jurnalistik tahun ini menarik ya," kataku. Sengaja tidak ingin membahas topik patah hati.
Seperti yang kuduga, Talita menanggapinya dengan bersemangat. "Kami mau adain lomba jurnal tiap kelas. Masih perencanaan sih."
"Oh ya? Ada bocoran gak?" tanyaku bercanda.
Talita menggeleng. "Gak," jawabnya kekanakan membuatku tertawa.
Tiba-tiba suara deheman menginterupsi. Aku menegakkan tubuhku saat melihat Rael sudah berdiri di samping meja.
"Lita balik dulu ya kak."
Talita buru-buru pamit dan aku hanya mengiyakannya saja. Rael duduk di depanku dan melipat tangannya di atas meja. Aku memberinya senyum dan kedua lenganku diam-diam menutupi sampul novel Nicholas Spark itu agar Rael tidak melihatnya. Lalu saat berdalih hendak mengambil jaket, aku meletakkan novel itu di kursi sampingku.
"Gue gak bawa jaket lo," katanya setelah menerima jaketnya.
"Gak papa. Kapan-kapan juga boleh."
Rael tidak menjawab lagi. Cowok itu malah menghela napas dan menelungkupkan kepalanya di atas meja.
Aku menatapnya prihatin. Aku pikir kegiatan futsalnya membuatnya begitu kelelahan. Jadi aku mengulurkan tanganku dan mengusap kepala dengan rambut lebat itu lembut.
"Jadi gimana?"
"Rapatnya dilanjutin Jum'at. Terakhir," jawabnya tanpa mengangkat kepalanya.
Aku tak berkata lagi. Entah kenapa aku memperhatikan jari-jariku sendiri yang menyelip di antara helaian rambut Rael. Aku mulai berpikir untuk menghilangkan kebiasaanku yang satu ini agar suatu saat nanti aku tidak merasa terlalu kehilangan.
"Gue ngurus ini dulu," kataku. Aku lihat dia mengangguk pelan jadi aku melanjutkan langkahku ke depan untuk mengurus peminjaman buku-buku ini.
◻◻◻
Aku menyelesaikan novel itu dalam waktu semalaman dengan kebut-kebutan. Iya. Aku meminjamnya. Hasilnya ada beberapa remukan tisu sisa mengelap wajahku yang kuyup karena novel ini begitu menguras emosi. Esoknya, mataku malah membengkak dan terasa perih.
"Mata kamu kenapa?"
Tanya Papa saat aku turun ke bawah. Aku menggeleng sambil duduk di kursi meja makan.
"Nonton drama Pa."
Aku mendelik pada seorang wanita di sampingku. Kakak perempuan yang lebih tua 3 tahun dariku. Alma, yang sekarang kuliah semester enam.
Aku memilih tidak menjawab mengabaikan Papa yang menggeleng-gelengkan kepalanya, dan memilih untuk membuka pintu kulkas. Mengambil beberapa balok es untuk mengompres mataku. Memang tidak akan menghilangkan bengkaknya, tapi cukup untuk membuatnya berkurang.
"Alu," panggil Mama.
Mama mengambil es itu di tanganku. "Kamu makan dulu. Biar Mama siapin. Cepet. Nanti gak ada waktu buat ngompresnya."
Aku tersenyum lebar. "Iya Mama. Makasih." Aku memeluk Mama sekilas dan kembali ke meja makan untuk sarapan.
◻◻◻
__ADS_1
Rael mengajakku makan bersama di kantin saat istirahat pertama. Cowok itu bahkan dengan senang hati memesankan makananku sementara aku disuruh menunggunya.
Manis bukan?
Aku mengernyit saat melihat dua buah susu kotak di samping mangkokku. "Kok susunya dua?" tanyaku heran. Setauku Rael tidak menyukai susu ini, jadi agak aneh kalau ia tiba-tiba minum 'kan.
"Karena lo makan pedas."
Jawabannya singkat namun aku dengan anehnya tersenyum sambil menatap batagor yang memang sengaja aku pesan agak pedas dari biasanya.
Kenapa dia tidak melarangku sekalian untuk makan pedas?
Aku menggedikkan bahunya dan saat Rael menatapku aku sengaja untuk sibuk dengan batagorku. Aku tidak mau dia bertanya tentang bengkaknya mataku hari ini. Aku rasa dia tidak perlu tahu tentang itu. Melihat kecuekanku, Rael akhirnya memilih melanjutkan makannya hingga aku bernapas lega.
◻◻◻
Aku menjadi tidak fokus belajar hari ini. Kisah-kisah yang novel itu ceritakan membuatku terus-terusan terbayang alurnya. Apalagi tadi aku tidak sengaja menggosok mataku membuatnya terasa perih.
Rasanya aku hendak menangis lagi.
Jadi aku meminjam catatan Andin untuk aku salin di rumah. Aku yakin catatan aku tadi absurb karena aku mencatat apa yang aku dengar saja.
Rael memberitahu dia tidak bisa mengantarku pulang. Aku hanya menghela napas. Aku tidak mau dia berpikir aku hanya mementingkannya sebagai alat transportasi semata. Aku tidak pernah memintanya untuk mengantarku. Aku hanya butuh kesungguhannya, walaupun aku hanya bisa berharap.
"Lo pake jaket gue."
"Gak usah. Kan kemarin baru gue balikin."
"Mendung Lulu. Nanti lo kehujanan."
Aku memutar bola mataku dan berhenti tepat saat akan menuruni tiga buah anak tangga untuk keluar dari gedung sekolah. "Gue naik bus. Hujan sekali pun gue gak bakal kebasahan. Lo naik motor."
Rael menurunkan bahunya namun tatapannya berubah tajam. "Nurut kenapa sih?"
Kalau sudah begini, aku tidak bisa lagi untuk mengatakan tidak. Aku kenal Rael dengan sangat. Artinya ia sudah sangat kesal. Sewaktu-waktu bisa menjadi sangat pemaksa. Aduh, anak siapa sih ini?
Aku memakai jaket itu dengan wajah berkerut. Rael membantuku dengan menarik rambutku yang terjepit dan merapikannya. "Batu banget. Kenapa gue mau pacaran sama lo sih?"
Aku tahu ia hanya sedang kesal dan kepalanya sudah panas menghadapiku. Mama juga sering mengatakan 'Kenapa kamu bisa jadi anak Mama sih?' kalau aku sudah keras kepala. Tapi entah kenapa aku malah tertegun saat mendengar kata-kata itu dari mulut Rael.
Kenapa aku bisa jadi pacarnya?
Aku mengerjap dan menatapnya yang masih merapikan rambutku. "Karena lo diputusin pacar lo."
Dia tertegun. Saat melihat pupil matanya membesar, aku ikut-ikutan tertegun. Terkejut dengan ucapanku sendiri.
Ya Tuhan, apa yang sudah aku katakan?
Mulutku terbuka sementara Rael menatapku dengan mata terbuka lebar. Sebelum Rael mengatakan sesuatu, aku buru-buru berbalik pergi dan berlari kecil meninggalkannya.
◻◻◻
__ADS_1