Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Lagi-lagi Berkelahi


__ADS_3

Kacau.


Aku tetap mirip zombie walau dikompres semalaman.


Aku menghela napas. Sosok yang terpantul di cermin terlihat mengerikan sekaligus memprihatinkan. Aku segera keluar kamar dan melangkah ke kamar sebelah.


"Kak," panggilku pada Kak Alma setelah masuk kamarnya tanpa mengetuk.


Kak Alma terlihat hendak marah. Namun alih-alih menyemprotku karena masuk kamarnya tanpa izin, dia justru meneriaki penampakanku.


"Kenapa dengan wajah lo?!"


Aku menghela napas lesu. Aku tahu tampangku mengerikan.


"Boleh gue minta tolong?" tanyaku. Dia tidak menjawab dan hanya menatapiku dengan raut yang mengatakan 'jauh-jauh dari gue. Lo nyeremin".


"Bantu gue make up."


◻ ◻ ◻


"Wait."


Aku menatap Liona malas. Sedangkan gadis itu menyipitkan matanya menatapku. "Lo dandan?"


Aku mengerjap. "Keliatan banget?"


Liona menarik dirinya. "Gak juga. Tapi kalau diperhatiin ada yang beda aja gitu loh."


Aku menatapnya datar. "Lo mau semua orang tau kalau gue nangis bombay semalaman?"


Liona menepuk bahuku dengan kepala menggeleng-geleng prihatin yang dibuat-buat. "Lo tau kan kita sama?"


Aku mendelik. Dengan kesal aku menyandarkan tubuhku tanpa mengatakan apa-apa.


"Jadi gue satu-satunya yang harus kasih semangat?" celetuk Andin.


"Gak usah," jawabku cuek. Andin pun bersikap tak kalah cuek.


Aku menarik napas dalam-dalam. Hatiku sudah lumayan tenang pagi ini. Tidak sekacau kemarin. Walau masih terasa, aku akan mencoba mengatasinya sendiri. Itu sakit, but its fine.


Memang sudah seharusnya kami tidak pernah balikan. Seharusnya aku tidak mengiyakan dan kembali bersama. Sekarang, sakit itu sepenuhnya menyerangku karena kesalahanku sendiri.


◻◻◻


Aku, Andin dan Liona.


Bertiga berdiri di depan stand siomay. Keduanya mengapitku yang berdiri di tengah. Tidak ada yang salah karena kami terbiasa bertiga. Yang merasa ada yang aneh itu adalah diriku sendiri.


"Jadi hari ini kita berdua jadi bodyguard lo," kata Liona dengan senyum geli.

__ADS_1


"Kita bakal lindungin lo. Baik dari musuh maupun sekutu yang berkhianat," sahut Andin tak kalah geli. Lalu keduanya salih berhigh five ria di depanku dengan cekikikan.


Aku mamasang raut wajah datar. Dengan loyang berisi mangkok siomay, aku berbalik menuju freezer  di samping kiri. Andin dan Liona mengikutiku, mengapitku lagi seperti sebelumnya.


Aku meletakkan loyangku di meja samping freezer. Mengacuhkan dua sahabatku yang sedari tadi asik mengolokku untuk mengambil sebuah teh botol dingin.


"Eh Aloona, kemarin lo gak sampe berantem 'kan sama sekutu yang berkhianat?" tanya Liona.


"Gak pernah ada sekutu. Musuh semua," jawabku.


Sial. Apa yang aku katakan?


Andin dan Liona sontak berseru untukku. "Wooooooow." dan mereka cekikikan lagi menyebabkan perempatan siku-siku muncul di dahiku.


Aku menutup freezer dengan keras. "Berhenti ngolok-ngolok gue," kataku kesal.


Mereka pura-pura terkejut dan menyesal. "Kenapa lo marah?" tanya Andin. "Tenang adik, kakak ada di sini." Andin menepuk dadanya lalu menepuk bahuku kemudian mengambil loyang siomayku.


"Ikuti kakak dek. Nanti kamu tersesat."


Ya ampun, aku kesal sekali. Andin sudah mendului kami menuju meja. Sementara Liona sibuk berbisik 'fighting kakak' padaku dengan tangan mengepal.


Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat dan menghela napas. Apa kesalahanku mendapatkan teman macam mereka. Bukannya menghibur, mereka malah mengolok-olokku.


Aku menghela napas dan berniat membayar pesanan kami di temani Liona. Sebelum satu gebrakan tangan mendarat di meja stand tempat aku akan membayar, membuatku terlonjak dan menahan napas kaget.


Tidak terlalu keras, tapi itu cukup mengejutkan. Aku menoleh ke samping dan menemukan sosok laki-laki berandalan berdiri di sampingku dengan wajah menatap ke depan.


Aku berdehem pelan dan mengeluarkan uang untuk membayar pesananku.


"Abis nyiram gue, sekarang pura-pura gak kenal," katanya.


Aku tidak menatapnya. Hanya menatap ke depan menunggu kembalian. "Gue gak nyiram lo. Gue nyiram cowok gue."


Aku mendengar dia terkekeh karena ucapanku. "Cowok lo? Bukannya udah jadi mantan?"


Sial. Beritanya menyebar dengan sangat cepat.


Aku mengatupkan bibirku sesaat dan menoleh padanya. "Iya bener. Tapi lo bilang pas gue nyiram, secara teknis waktu itu dia masih cowok gue."


Sudut bibirnya berkedut untuk tersenyum. Jenis senyum mengejek yang terlihat sangat menyebalkan. "Dianya...nganggep lo pacar gak?"


Aku terdiam dengan alis bertaut tanda tidak suka dengan ucapannya. Tapi dalam hati aku juga bertanya-tanya, apa benar yang dia katakan?


"Gue aja ragu, yang pacarnya itu lo, atau cewek yang waktu itu gue gangguin."


Dadaku terasa sesak jadi aku tarik napas banyak-banyak dan menatapnya. "Sama. Gue juga ragu, makanya gue putusin," jawabku. "Sekarang apa? Lo mau balik nyiram gue?"


Dia mengangkat alisnya. "Gimana ya? Kalau disiram, sayang. Lo cantik soalnya."

__ADS_1


Aku tidak ge-er sedikit pun. Lihat ekspresi khas ******** di wajahnya itu.


Sementara dia menyeringai, aku membuang pandanganku dan menarik tangan Liona untuk segera pergi dari sana.


"Eh tunggu dulu." cowok berandalan itu menahan tanganku yang lain. "Belum ada keputusan 'kan?"


Aku mengernyit kesal. "Jadi keputusan lo gimana? Jangan banyak gaya," kataku berusaha menarik tanganku.


"Lo gak sabaran ya."


Aku mengatupkan bibirku dan menarik kuat tanganku yang masih ia pegang. Tapi itu justru menyakitkan karena dia tetap menahannya.


"Apaan sih pegang-pegang!" Liona datang membantu hingga cengkraman cowok itu terlepas. "Gak kenal juga. Gak usah SKSD."


Cowok itu mengangkat tangannya mengalah. Aku menarik napas dan menarik tangan Liona lagi untuk mengambil arah lain.


Tapi cowok itu keras kepala dan tidak membiarkan kami pergi.


Sial. Itu sakit tahu.


Aku ingin berteriak di depan wajahnya. Sebelum seseorang dengan kuat mencengkram bahunya dan mendorongnya hingga cowok berandal itu mundur.


"Lo jangan cari gara-gara sama gue."


Aku menarik tubuhku mundur. Kemudian aku sadar seluruh atensi beralih ke sini. Lebih tepatnya kepada dua orang cowok yang saling melempar tatapan tajam dan benci itu.


Satu orang yang tidak aku kenal, yang tak terima aku siram waktu itu.


Satu lagi mantan pacar yang baru aku putuskan kemarin.


Aku diam-diam menarik tangan Liona dan menyelip di antara meja. Aku tidak ingin peduli lagi.


Tapi, tunggu. Bukankah semuanya karena aku?


Aku berhenti dan berbalik menatap dua orang cowok itu.


Tidak. Tidak.


Ini tentang Malika, bukan aku. Sadarlah Aloona. Kamu bukan siapa-siapa.


Dadaku sesak lagi. Sakitnya muncul lagi.


Aku mengedip beberapa kali dan memilih untuk melanjutkan langkahku, berusaha mengabaikan perasaan mengganjal di hatiku.


Tapi saat mendengar suara keributan di belakang, aku malah berbalik dan jantungku berdegub kencang.


Mereka berkelahi lagi.


Selanjutnya yang aku tahu, aku melangkahkan kakiku ke arah sana.

__ADS_1


◻◻◻


__ADS_2