
Masih terhitung sangat pagi saat aku sampai di sekolah. Hanya ada beberapa murid di dalam kelas, salah satunya adalah aku. Aku menggosok telapak tanganku berusaha mengusir rasa dingin.
Kemudian aku lihat sesorang yang kukenal menghampiriku. Aku mengernyit namun tetap tersenyum kecil saat Sheva menyapa dan duduk di sampingku.
"Cari siapa?" tanyaku karena dia dari kelas sebelah.
"Cari lo," jawabnya. "Gue lagi cari member voli. Lo ikut ya?"
Aku tertawa kecil. "Lo ngajak gue?"
"Iya. Kenapa?"
Aku menggeleng. "Jangankan main voli, lari keliling lapangan aja kadang gue suka gak tahan. Lo cari yang lain aja."
Aku lihat Sheva menghela napas. "Ya udah deh," jawabnya. "Eh, istirahat nanti ngantin bareng gue yuk."
"Gabung aja bareng gue sama Liona dan Andin. Gue biasanya sama mereka."
Sheva mengangguk puas. Lalu gadis tinggi itu pamit untuk ke kelas lain mencari member untuk tim volinya.
Aku mengangkat bahuku. Yah lumayanlah walaupun kami tidak begitu dekat. Teman-temanku terbilang sedikit. Sedangkan Sheva, aku mengenalnya karena dia sempat ikut ekskul fotografi walau hanya satu semester sebelum dia pindah ke ekskul voli.
Kelas dimulai lima belas menit kemudian. Setelah sibuk memfokuskan diri selama empat kali empat puluh lima menit, aku merasa lapar luar biasa. Aku menarik Andin dan Liona untuk segera ke kantin.
"Liat Sheva gak? Katanya dia mau gabung," kataku pada kedua sahabatku sambil menuang saus.
"Gak tuh," jawab Liona.
"Kok tumben mau gabung bareng kita?"
Aku mengangkat bahuku untuk menjawab pertanyaan Andin. "Gak papa kali. Dia temen kita juga."
Aku lihat Andin mencibir lewat sungutan bibirnya. Selanjutnya gadis itu melanjutkan makannya tanpa berkata apa-apa. Aku menggeleng-geleng pelan.
Aku melirik ke samping kanan saat mendengar sedikit kerusuhan di meja sebelah. Bintang sekolah yang diidolakan semua orang berada di sana. Malika, atau haruskah aku memanggilnya, my boyfriend's crush.
Tidak mengherankan jika dia dikelilingi banyak orang. Dari teman sebaya hingga ke adik kelas. Tidak mengherankan juga jika pacarku menyukainya. Yang mengherankan itu, kenapa mantanku ingin balikkan denganku. Atau kenapa dia mau jadi pacarku.
Aduh, kenapa aku menjadi sangat tidak percaya diri begini?
Aku menghela napas. Kemudian segerombolan anak laki-laki mendekat ke arahku. Bukan, tepatnya pacarku dan beberapa temannya. Selebihnya memencar ke meja lain.
"Lo gak makan?" tanyaku saat dia hanya menumpang duduk sedangkan dua temannya sibuk dengan makanannya.
"Udah," jawabnya sambil mencomot kerupuk pangsit dari mangkok Gama, temannya yang dihadiahi tamparan di tangannya dari pemilik makanan.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepalaku. Mereka datang justru membuat keramaian di sini.
"Pacar lo bukan gue. Jangan minta ke gue!" seru Gama kesal karena Rael terus mencomoti kerupuk pangsitnya.
Rael mendaratkan tangannya di atas meja. "Gimana caranya? Pacar gue gak peka."
Aku menatapnya yang melirikku. "Yang bilang dia udah makan gak usah nyindir," kataku. Rael mencibir lewat kerutan di bibirnya.
"Kelamaan gak peka nanti nyesel."
Aku meletakkan sendokku saat mendengar Andre bergumam. "Terserah kalau mau nambah dosa. Su'udzon in aja gue," kataku. "Perasaan siapa deh yang gak peka dari dulu?" gumamku dengan suara lebih kecil.
"Gue? Kapan?" tanya Rael.
Aku menggeleng cepat dan melanjutkan makanku.
"Nah loh ngambek. Rasain," celetuk Gama.
"Gak papa. Ntar gue cium lagi."
Ada dorongan keras dari dalam kerongkonganku. Aku tiba-tiba terbatuk dengan payahnya hingga wajahku terasa panas dan memerah.
Aku sempat mendengar mejaku sedikit buat keributan sebelum Rael berlari dan kembali dengan sekotak susu untukku.
Dia memegang kepalaku sambil cekikikan dengan kedua temannya karena melihat reaksi yang kuberikan.
Sebelum Rael sempat menjawab, aku sudah berdiri dan memberikan pukulan di kepala belakangnya. Rael mengaduh dan melangkah menjauh sambil masih tertawa.
Masih dengan tenggorokan serak aku menatapnya tajam.
"Udah main cium-cium. Udah kelewatan ini—"
Aku melirik ke samping kanan. Tepatnya ke arah dua beberapa orang cewek yang sepertinya adik kelas sedang membicarakanku. Mereka berbisik, tapi aku tidak tuli untuk percakapan dengan volume seperti itu.
Dan apa yang aku lihat ini? Malika menghentikan mereka. Kedua adik kelas itu menurut dengan patuh dengan kata-kata gadis itu.
"Jangan ngurusin orang lain. Yang penting, kalau kalian punya pacar, jangan ditiru. Pacaran yang sehat-sehat aja."
Kepalaku tiba-tiba terasa panas saat menangkap dengan jelas kata-kata Malika kepada adik kelas itu. Kedua rahang aku katupkan rapat-rapat. Rasanya aku hendak sekali berbicara di depan wajahnya dan menyangkal semuanya.
Semakin lama aku mendengar percakapan mereka, kepalaku rasanya hendak meledak karena emosi. Sambil menahan diri, aku beranjak dari meja itu tanpa mengatakan apapun. Keluar dari kantin dan berjalan dengan arah asal. Kemanapun yang penting kepalaku dingin terlebih dahulu.
Tidak. Aku tidak marah karena dia terkesan menghinaku. Aku hanya merasa tidak suka dari caranya seolah-olah dia tidak mempunyai dosa apa-apa. Terlebih dia adalah mantannya kekasihku, rasa tidak suka itu semakin menjadi hanya karena dia bersikap layaknya Rael tidak pernah melakukan hal itu padanya.
Aku tidak salah'kan? Apa yang dilakukan Rael padanya, pasti melebihi apa yang Rael lakukan padaku.
__ADS_1
Aku terus berjalan tanpa arah pasti. Ikut saja kemana kakiku melangkah. Hingga tanpa sadar aku tersandung sesuatu dan hampir tersungkur jika tidak merasakan tarikan di kedua tanganku.
"Lo gak papa?"
Aku membulatkan mataku begitu tersadar dengan apa yang terjadi. Di samping kiri dan kananku ada dua orang cowok yang tidak aku kenal, yang tadi memegangiku yang hendak jatuh. Dan seorang cowok lagi di arah depan menatapku.
Aku berusaha menarik kedua tanganku. "G-gak papa."
Tiba-tiba tarikan lain menarikku dari arah belakang. "Gak usah pegang-pegang juga."
"Santai kali. Kita cuma mau nolongin."
"Oh gitu. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan lo," jawab Rael dengan wajah datar.
Aku merasa tak enak. "Makasi ya," kataku tulus.
Kedua cowok itu mengangguk. "Lain kali hati-hati ya, kak?"
Aku tersenyum saja. Rael sempat berkata dengan nada usiran pertanda cowok itu jengkel. Tiga orang adik kelas itupun menatapnya tak kalah jengkel walaupun tidak berani melawan.
"Lo juga. Ada masalah apa lo sama cewek gue?" Rael dengan ketus berkata ke arah samping kanan. Tepatnya kepada dua orang cewek yang tidak aku kenal yang duduk di kursi koridor.
"G-gue gak sengaja."
"Lo pikir gue buta. Lo sengaja 'kan?"
"Beneran. Gak sengaja. Kakaknya aja yang jalan sambil ngelamun."
Aku menarik tangan Rael menjauh sebelum cowok itu menjawab lagi. Mendengar Rael berdebat itu menyakitkan telinga walau kata-kata kasarnya tidak pernah ditujukan padaku, tapi bukan jarang aku melihatnya dengan mudah berkata kasar pada orang lain.
"Dia bilang gak sengaja. Salah gue juga, gue ngelamun," kataku sambil terus menariknya.
Rael berhenti hingga aku ikut-ikutan berhenti. "Lo marah soal tadi?"
Aku menatapnya sebentar sebelum menggeleng. "Gak. Gue gak marah." lalu kembali menariknya.
Aku tidak melihat ke arahnya lagi tapi aku yakin dahinya pasti sedang berkerut menatapku. Kebiasaannya.
Tanpa sadar, kami sudah sampai di depan kelasnya. "Kok lo yang nganter gue sih?" tanyanya.
"Karna kita lewat depan kelas lo," jawabku cuek menatap ke arah lain.
Rael diam saja. Cowok itu menarik pipi kiriku untuk kembali menoleh ke arahnya. "Mood lo jelek lagi. Mau gue cium?"
Aku membulatkan mataku. Wajahku sempat terasa panas hingga aku mendengar dia mengaduh saat aku menyentil dagunya keras.
__ADS_1
◻◻◻