
Kelasku hari ini mengadakan praktek Kimia di laboratorium. Kami sudah dibagi menjadi beberapa kelompok. Aku sendiri sekelompok dengan Liona sementara Andin di kelompok sebelah.
"Kalau meledak gimana?" tanyaku dengan wajah tanpa dosa sambil memegang sebuah gelas ukur yang berisi cairan berwarna. Siap untuk menuangkannya ke gelas ukur lain yang beda lagi warnanya.
"Kalau meledak yang kena lo. Gue sih ogah," jawab Liona cuek dari balik punggungku.
Aku jengkel. Dari empat orang anggota kelompok, tidak ada satu orang pun berani dan semuanya menyerahkannya padaku. Aku tidak begitu paham tentang praktek kali ini. Jika salah langkah, mungkin saja bahan itu eksplosif dan membahayakan.
Hei, apa aku terdengar berlebihan?
Lagipula tidak mungkin sekolah memberikan praktek berbahaya seperti itu.
Aku melonjak kaget begitupun tiga orang anggota kelompokku saat melihat reaksi kimia itu. Kami sama-sama menghela napas lega saat hanya terbentuk gelembung-gelembung kecil dengan desisan keras. Bukan ledakan.
Setelah melakukan serangkaian kegiatan lain dan mencatat kesimpulan, aku bersama Liona membereskan peralatan sementara dua orang lainnya menyiapkan laporan.
"Gue putus," celetuk Liona membuatku berhenti seketika.
Memang aura sahabatku ini sedikit berbeda sejak tadi pagi. Tapi aku tidak menyangka karena dia putus dengan pacarnya.
"Ian bilang gue terlalu neko-neko dan childish. Gue sebenarnya juga mau bilang kalau dia itu suka marah-marah kayak bapak-bapak dan kolot. Tapi karena gue syok dia tiba-tiba minta putus, gue malah nangis dan gak sempat bilang."
Aku diam saja lalu menepuk bahunya pelan. Liona ini sangat pecicilan, biasanya. Tapi melihatnya berubah drastis seperti ini, aku jadi kasihan. Dia juga memiliki sisi sensitif sebagai seorang perempuan.
"Lo pecicilan. Ian ilfeel. Makanya lo diputusin."
Liona memutar bola matanya, rada jengkel dengan ucapan Andin yang tiba tiba nyeletuk dari arah samping. "Untung gue lagi mellow gini, kalau gak udah gue jambak."
Aku menggelengkan kepalaku pelan. Sedikit miris dengan hubungan Liona dengan Ian. Karakter mereka memang sedikit berlawanan, tapi itulah yang membuat mereka cocok, menurutku.
"Kapan sih kita akur? Capek gue lama-lama sama kalian," kataku setengah bercanda dan melanjutkan kegiatanku.
"Nah, lo pikir kenapa kita bisa tahan?" tanya Andin cuek.
"Karena lo bedua **** sayangnya pinter jadi bisa gue manfaatin," celetuk Liona.
Aku mengangkat wadah yang sudah berisi alat-alat praktek. "Sorry to say, cewek ****** gak bakal bisa manfaatin gue," balasku tak kalah santai setengah sarkas dan berbalik meninggalkan keduanya.
Andin terbahak dalam tawa mendengar ucapanku. Aku sendiri menyimpan senyum geli di bibirku tanpa menoleh lagi. Tapi aku sudah bisa menebak wajah seperti apa yang Liona buat, terlebih dengan tawaan Andin yang mengoloknya berlebihan.
Aku menyusun lagi alat-alat praktek di rak penyimpanan. Selanjutnya dalam seperkian detik tanganku ditarik dari belakang tepat setelah aku tidak sengaja menyenggol sebuah gelas ukur yang berisi sebuah cairan entah apa.
Sebuah ringisan membuatku mengedip dan sadar atas apa yang terjadi. Asam Sulfat. Menyebabkan rasa terbakar yang menyakitkan jika terjadi kontak langsung dengan kulit. Melihat ruam kemerahan di sekitar jari orang ini, dadaku berdetak kencang dan refleks menariknya menuju wastafel dan mencucinya panik.
Aku menggigit bibirku. "Ma-maaf—"
__ADS_1
◻◻◻
Benar-benar buruk. Pun dengan perasaanku. Jari-jari itu berbalut kain kasa dan beberapa ruam samar yang tidak terbungkus. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya melihat bagaimana cowok itu hanya berbaring sambil meletakkan sebelah lengannya di dahi—tanpa mengatakan apa-apa.
Dan itu adalah salahku.
Aku menarik ujung lengan seragamnya secuil untuk menarik atensinya. Atau bahkan mungkin dia tidak sadar aku sedari tadi di sini.
"G-gue beliin lo sesuatu ya? Lo mau makan apa?"
Hening. Sesaat aku berpikir cowok ini tertidur karena dia bergeming sama sekali. Aku menarik napas panjang. Dadaku masih di selimuti rasa bersalah hingga rasanya sesak.
Baik. Tidak ada jawaban. Jadi aku menyimpulkan sendiri apa yang sebaiknya aku beli untuknya. Kalau dia tidak mau dia bisa membuangnya. Mau bagaimana lagi, aku tidak mengetahui apapun tentang Adrian. Dua tahun berada di kelas yang sama, namun kami tidak pernah berinteraksi secara khusus. Dia terlihat tidak peduli, begitu pun dengan diriku sendiri.
Jadi aku kembali dengan semangkuk mie ayam lengkap dengan piring kecil untuk menutupnya dan sebotol air mineral. Aku meletakkannya di nakas samping Adrian yang masih dalam posisinya semula.
Aku ingin membangunkannya, tapi urung. Sebenarnya aku merasa tak enak dan sangat menyesal. Kami tidak pernah dekat dan aku sudah menyebabkan masalah untuknya.
Apa yang harus aku katakan? Lebih dari itu, apakah aku masih punya muka?
Tanpa sadar aku hanya berdiri di sampingnya tanpa berbuat apa-apa. Terlalu sibuk memikirkan kata apa yang sebaiknya aku katakan saat membangunnya nanti.
Aku hendak memanggilnya namun urung. Haah. Aku menghela napas.
Cowok itu menyingkirkan lengan yang menutupi matanya dan menatapku dengan datar. Aku tidak membalas selama beberapa detik namun itu tidak merubah rautnya sama sekali.
Aku menatap luka di tangannya. "Tangan lo, sorry," kataku tulus meminta maaf.
Adrian membuang wajahnya malas. Aku melipat bibirku. "Gue bawain mie ayam. Kalau lo gak suka biarin aja," kataku. "Gue ke kelas dulu."
Aku tidak mendengar apapun lagi jadi aku tetap berjalan lurus hingga keluar dari UKS. Aku berdiri di depan pintu setelah menutupnya rapat. Sambil menghela napas, aku tatap kedua tanganku. Ada rasa sedikit panas di sana tapi tidak ada ruam. Mungkin terkena cairan itu saat aku mencuci tangan Adrian tadi. Aku menggosoknya pelan.
◻◻◻
"Jadi gimana?"
"Gimana apanya?" tanyaku balik pada Andin setelah sesampainya di kelas.
"Adrian."
Aku menghela napas. "Kayaknya dia marah deh. Mukanya dingin gitu."
"Perasaan emang mukanya kayak gitu deh," sahut Liona.
"Tapi kalau emang dia mau nolongin lo, kenapa dia harus marah. Itukan kemauannya sendiri."
__ADS_1
Benar juga. Kenapa dia harus marah? Aku bahkan tidak tahu bahwa cairan itu akan jatuh dan dia yang mendorong dirinya sendiri untuk menolongku.
"Tau ah," ujarku lelah dan bersandar di kursiku.
"Btw, Rael nyariin lo tadi," kata Andin.
Aku mengangguk. "Gue duluan yah."
Aku menyandang tasku dan segera keluar dari kelas. Aku tidak tahu dimana harus mencari Rael. Kelasnya sudah kosong menyisakan beberapa anggota piket yang sedang melaksanakan tugasnya.
"Aloona, lo cari Rael?" panggil seseorang saat aku hendak pergi. Aku menoleh menemukan seorang cowok yang kukenal sebagai teman sekelas Rael.
"Iya. Lihat dia gak?" tanyaku.
"Latihan di lapangan. Anak futsalkan mau ikut turnamen."
Aku mengucapkan terimakasih dan segera memutar arah ke lapangan futsal. Aku baru tau anak-anak futsal akan ikut turnamen. Rael tidak pernah mengatakan apapun soal ini.
Aku berhenti di koridor samping lapangan. Lapangan ramai berisi anak-anak cowok yang hanya memakai seragam sekolah tanpa pakaian futsalnya. Salah satunya adalah Rael. Cowok itu duduk di atas bola sambil mendengarkan intruksi pelatihnya.
Aku bersandar di pilar koridor sambil memperhatikannya. Seharian ini aku tidak bertemu dengannya. Bukan. Tepatnya, akhir-akhir ini kami sangat jarang bertemu. Mungkin ke depannya lebih jarang lagi mengingat kegiatannya yang aku prediksi menyita semua waktunya.
Rael sangat menyukai futsal. Bahkan mungkin lebih penting dariku. Jika dia diberi pilihan antara futsal dan aku, aku ragu dia akan memilihku.
Aku terkekeh sendiri dengan pikiranku. Apa yang aku pikirkan? Konyol sekali.
Sesuatu yang lain menarik perhatianku. Kemudian aku sadar yang ikut turnamen bukan hanya anak futsal. Tapi anak basket, voli bahkan tenis terlihat dari banyaknya orang berada di sana.
Tapi apakah Marching Band juga ikut turnamen? Kenapa mereka ada di sana.
Aku terfokus pada Malika. Cewek itu sedang mengobrol dengan Sheva membicarakan entah apa. Kedatangan dua primadona itu nampaknya menjadi angin segar bagi kaum cowok yang berjemur di lapangan.
Aku tidak memberikan ekspresi apa-apa. Aku juga tidak tahu berapa lama aku berada di sana. Yang pasti kumpulan regu olahraga itu membubarkan diri setelah pelatih meninggalkan lapangan. Berbaur satu sama lain. Sebagian segera pulang, namun sebagian lagi memilih tinggal di lapangan untuk sekedar mengobrol atau bermain.
Sudut bibirku berkedut dan tanpa sadar gigi-gigiku saling beradu kuat. Aku membuang pandanganku dan memilih untuk beranjak dari sana.
Rael pasti mengira aku sudah pulang. Lucu saja rasanya jika aku tiba-tiba muncul di sana dan mengganggu kesenangannya.
Biarlah seperti ini saja, dia lakukan apapun yang dia inginkan dan aku akan mencoba untuk tidak peduli.
Sekalipun dia mendekati Malika atau siapapun itu. Menerima uluran tangan cewek lain atau bahkan berbagi keluh kesah. Mereka memang cocok.
Aku akui walaupun hatiku terasa sakit.
◻◻◻
__ADS_1