Takdir Terindah

Takdir Terindah
Allah Permudahkan


__ADS_3

Sesuatu yang baik


Akan dapat terwujud


Dan hal ibadah


Akan Allah permudah


~Takdir Terindah~


Ukhfira


~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~


Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu ya


Selamat membaca


Semoga suka


🌻🌻🌻


Setelah pulang dari Singapura Afnan langsung pergi ke rumah keluarga Alesya untuk memberikan kabar baik bahwa dia berhasil membuat Ibu kandung calon istrinya itu merestui mereka untuk menikah.


"Alhamdulillah, akhirnya Farha mau merestui Lesya untuk menikah, terima kasih ya Afnan karena kamu Ibu kandung Lesya luluh dan mau merestui kalian untuk menikah."


Karena kesungguhannya untuk menikahi Alesya, Farha pun luluh hingga akhirnya merestui mereka untuk menikah, tetapi Afnan tidak serta merta bangga kepada dirinya sendiri karena ia sadar ini semua atas kehendak dan bantuan dari Allah.


"Alhamdulillah, tapi ini bukan karena saya Lak, tapi karena Allah yang sudah meluluhkan hati Ibu Farha untuk merestui kami menikah."


Ahyar pun mengiyakan ucapan Afnan yang benar adanya, memang ini adalah karena Allah yang mampu membolak-balikkan hati manusia.


"Dan Allah pasti akan mempermudah hambaNya yang ingin beribadah kepadaNya, maa syaa Allah."


Ahyar beserta Afnan pun menyetujui ucapan Aiza yang mengatakan bahwa Allah akan mempermudah hambaNya yang ingin menikah atau beribadah kepadaNya.


Tanpa disadari Alesya yang sedang berdiri dibalkon atas mendengarkan pembicaraan Afnan bersama kedua orang tuanya yang berada diruang tamu. Senyuman manis kini terlukis diwajah cantiknya, sang Kakak yang ikut mendengar pembicaraan mereka.


"Alhamdulillah Dik, Mama sudah merestui kalian untuk menikah, semoga ini yang terbaik ya."


"Aamiin."


Dengan rasa bahagia Alesya segera menghambur kepelukan sang Kakak yang ikut serta merasakan bahagia.


^^^^^


Hari demi hari telah berlalu dengan dua keluarga yang sama-sama disibukkan oleh acara pernikahan anak-anak mereka, dari hal yang kecil seperti undangan sampai hal yang besar seperti gedung pernikahan.


Kedua belah pihak keluarga sepakat untuk melangsungkan acara akad nikah di rumah mempelai wanita yaitu di rumah Alesya sedangkan acara resepsinya di ballroom hotel yang telah dipilih oleh pihak mempelai laki-laki.


Pandangan Alesya tertuju ke sekeliling kamarnya yang baru saja di sulap menjadi kamar pengantin yang bertemakan warna silver dan ini hasil karya sang kakak yang dengan senang hati mendesain kamar adiknya menjadi kamar pengantin.


"Bagaimana calon pengantin, bagus kan kamarnya, siapa dulu dong yang dekor, Alula."


Dengan penuh kebanggaan diri Alula mengaku bahwa dirinya yang mendesain kamar Alesya menjadi bagus dan indah. Alesya pun hanya tersenyum melihat tingkah sang kakak yang sombong sekali padahal hanya mendesain kamar saja, siapa pun bisa melakukannya termasuk Alesya, tetapi sebagai adik yang baik dia pastinya akan menghargak karya sang Kakak dan memujinya.


"Maa syaa Allah bagus sekali Kak kamar aku, jadi betah deh aku disini, Kakakku memang hebat ya."


Bukannya senang karena dipuji tetapi Alula justru menampakkan wajah sebal, bagaimana tidak Alesya seperti tidak berniat yang serius memuji dirinya dan melebay-lebaykan ucapannya.


"Nghak niat banget sih muji, sudah ah mending aku berangkat kuliah saja, assalaamu 'alaikum."


"Yeyyy, malah ngambek."


Alula pun segera mengangkat kakinya dari kamar adiknya untuk bergegas berangkat kuliah sedangkan Alesya pun juga segera bersiap-siap untuk berangkat kuliah karena pagi ini dia adalah kuliah pagi.


Dertttt dretttt dretttt


Handpone yang sedang tergeletak di meja kecil samping ranjang kamar Alesya berdering. Diraihnya benda pipih yang berwarna peach itu, terlihat nama Silmi sedang memanggil.


"Hallo assalamualaikum Sil."


"Wa 'alaikumus salaam Al, Al hari ini aku nggak bisa masuk kuliah, tolong izinkan aku ya, soalnya aku harus pulang ke Lontianak, Ayah aku Al, Ayah aku masuk rumah sakit, penyakit jantungnya kambuh."


Alesya tersentak ketika mendengar suara serak Silmi diseberang sana, ia bisa merasakan rasa sedih yang sedang melanda sahabat karibnya itu.


"Astaghfirullahal adzim, iya Sil in syaa Allah nanti aku akan izinkan kamu ke Dosen, fii amanillah ya Sil, semoga Ayah kamu baik-baik saja dan cepat sembuh ya."


"Aamiin Allahumma aamiin, kalau begitu audah dulu ya Al, pesawatku sudah mau take off nih."


Setelah ucapan salam terdengar diseberang sana Alesya pun segera menjawab salam tersebut dan mengakhiri sambungam telpon mereka.

__ADS_1


"Padahal niatnya aku ingin memberitahu kamu kalau besok aku akan menikah dengan Afnan Sil, tapi suasana hati kamu sedang tidak baik, apa aku harus menyembunyikan pernikahanku dari kamu Sil, karena kamu pasti juga kecewa dan marah kalau sampai kamu tau kalau aku menikah dengan Afnan, pangeran kampus yang kita benci."


Alesya pun memantapkan hati untuk tidak memberitahu pernikahannya dengan Afnan, walaupun nantinya Silmi akan kembali lagi ke jakarta tetapi rasanya Alesya tidak ingin memberitahu status barunya karena pasti nanti Silmi kecewa karena sahabatnya itu akan menikah dengan laki-laki yang dibencinya.


^^^^^


"Assalaamu 'alaikum Bro."


Seorang laki-laki yang sedang menyeruput es teh di kantin kampus langsung tersendak setelah mendapat tepukan dipundaknya oleh seseorang.


"Astaghfirullahal adzim, Afnan, niat banget ya lo kagetin gue." Oceh Shuwan yang masih terbatuk-batuk dengan dilebay-lebaykan.


Yang sedang diomeli malah cengingiran dan mendudukkan dirinya di kursi yang kosong yaitu tepat dihadapan Shuwan yang kembali menyeruput es teh manis.


Afnan pun mengeluarkan sesuatu dari balik tas hitamnya dan menyodorkan sebuah undangan berwarna silver di meja tepat dihadapan Shuwan.


"Apa ini Bro?." Tanya Shuwan dengan alis terangkat satu.


"Dibuka saja."


Dengan santainya Afnan menyuruh Shuwan untuk membuka undangan tersebut, dan Shuwan pun nurut untuk membuka undangan tersebut karena sudah dilanda penasaran sampai-sampai es teh yang tinggal separuh ia singkirkan.


"Apa?, lo mau menikah Bro?, serius?"


Suara Shuwan yang bernada keras itu mengangetkan Afnan dan langsung menginjak kaki Shuwan otomatis Shuwan teriak karena merasa kesakitan.


"Awww, lo apa-apaan sih Bro, kok kaki gue diinjek, sakit tahu."


"Loe yang apa-apaan, bisa nggak jangan keras-keras ngomongnya."


Shuwan pun langsung menutup mulutnya dengan seperti ala perempuan sedangkan Afnan masih terus memandang kearah sekitar takutnya ada yang mendengar obrolan mereka.


"Ini serius lo mau menikah Bro?, memang sudah ada calonnya?"


Kali ini Shuwan sudah dapat mengontrol nada bicaranya sehingga tidak akan terdengar oleh siapapun yang sedang berada di kantin.


"Ya serius lah Bro, kalau nggak ada calonnya mana mungkin gue mau menikah, dan alhamdulillah kemarin gue sempat ta'aruf dan melamar perempuan sholihah teman kajian adik gue si Ziva."


"Alhamdulillah, kalau begitu gue ikut seneng dengarnya, in syaa AllahΒ  besok gue akan datang."


"Harus datang lo Bro, tapi jangan bilang siapa-siapa ya kalau besok gue mau menikah soalnya calon istri gue nggak mau teman-teman kampus tahu."


Awalnya Shuwan dibuat bingung karena sahabatnya itu meminta dirinya untuk tidak memberitahu teman-teman kampusnya tetapi Shuwan tidak mempermasalahkan karena yang terpenting besok dia akan makan gratis diacara pernikahan sahabatnya.


Afnan pun dapat bernapas lega karena Shuwan tidak akan membocorkan tentang acara pernikahannya yang akan diselenggarakan besok pagi.


"Assalaamu 'alaikum."


Tiba-tiba seorang perempuan yang tidak asing bagi Afnan maupum Shuwan sedang berdiri dihadapan mereka.


Dengan sigap Shuwan pun memasukkan undangan yang tadinya dipegang ke dalam tasnya. Dan Afnan dapat bernapas lega.


"Kalista."


Seketika tatapan mata Shuwan berbeda seperti ada binar-binar cinta saat memandang Kalista yang sedang tersipu malu ketika mengalihkan pandangannya kearah Afnan yang terlihat biasa saja.


"Afnan, Shuwan, aku ganggu kalian berdua nggak?"


Afnan hanya menggelengkan kepalaΒ  sedangkan Shuwan terlihat sangat girang sekali akan kedatangan Kalista.


"Nggak kok Kalista, justru gue maksudnya aku senang sekali kamu di sini, oh ya ada apa ya Kalista?, ada yang bisa aku bantu?"


"Jadi begini, aku kesini mau memberi titipan dari Abi aku, yaitu sejumlah uang untuk disedekahkan."


Kalista pun mengeluarkan sebuah amplop kuning yang berisi sejumlah uang dari dalam tasnya untuk diberikan kepada Afnan, tetapi bukannya menerima amplop itu Afnan malah bangkit dari tempat duduknya.


"Afnan kamu mau ke mana?"


"Maaf Kalista saya harus segera pergi, Bro tolong handle semuanya ya."


Shuwan pun mengangguk kecil sehingga membuat Afnan melangkah menjauh dari mereka, sedangkan Kalista sepertinya tidak rela Afnan pergi meninggalkannya, karena sebenarnya tujuan utamanya adalah untuk bertemu dan berlama-lama dengan Afnan tetapi Afnan malah pergi ntah kemana.


"Itu Afnan mau ke mana?, kok buru-buru begitu."


"Aku nggak tahu Afnan mau ke mana, sudahlah nggak usah memikirkan yang nggak ada, mending pikirkan yang ada di sini."


Shuwan pun mempersilahkan Kalista duduk untuk membicarakan sedekah yang akan diberikan kepadanya lebih tepatnya kepada tim relawan KBII (komunitas berbagi itu indah).


"Aduh maaf Shuwan, aku lupa kalau hari ini aku ada janji sama teman-teman aku, ini uangnya, maaf aku nggak bisa lama-lama, assalamu 'alaikum."


Belum sempat Shuwan berucap untuk dapat menahan kepergian Kalista tapi sayang Kalista sudah menjauh dan Shuwan hanya dapat meringis karena kesempatan emas untuk lebih dekat dengan Kalista pupus sudah.

__ADS_1


"Allahu akbar."


Dari terburu-burunya berjalan, Kalista sampai tidak sadar telah menabrak seseorang.


"Kamu."


Wajah Kalista langsung tidak bersahabat setelah melihat siapa yang dia tabrak, seorang perempuan cantik dengan hijab scarfnya yang syar'i, dia adalah Ziva.


"Maaf saya nggak sengaja." Ucap Ziva dengan sinis.


"Kamu perempuan yang waktu itu pernah dikabarkan dekat sama Afnan kan?"


Ziva pun memandang kesal Kalista yang sedang menginterogasinya sekaligus mengingatkan kejadian kemaren dimana Ziva dikecam oleh Kalista untuk tidak mendekati Afnan, padahal Ziva adalah adik kandung Afnan yang tidak diketahui oleh teman-teman kampus termasuk Kalista.


"Kalau iya kenapa?, ada masalah?"


Kalista pun mengeluarkan sifat aslinya dihadapan Ziva yang sudah kenal betul dengan perempuan yang terobsesi dengan abangnya, Afnan.


"Dengar baik-baik ya, awas saja kalau kamu berani dekat-dekat sama Afnan, karena aku nhgak akan segan-segan berbuat jahat sama kamu."


Dengan beraninya Kalista mengancam Ziva yang sama sekali tidak takut akan ancamannya itu, dan hal ini sangat membuat Ziva semakin membenci perempuan dihadapannya yang sudah memakai pakaian serba syar'i.


"Oh ya?, memang kamu siapanya Afnan?"


"Perkenalkan saya Kalista, calon istrinya Afnan."


Ziva pun dibuat semakin muak dengan ucapan Kalista yang dengan pedenya mengatakan bahwa dirinya adalah calon istri dari Afnan yang sebenarnya adalah abangnya Ziva.


"Oh ya?, calon istrinya Afnan?, ini masih siang lho, kok sudah ada yang ngigau saja."


Sindiran pedas dari Ziva sukses membuat Kalista marah bukan main, ia sudah siap-siap melayangkan tangannya ke wajah Ziva namun ia menurunkannya lagi.


"Kenapa?, kok nggak jadi?, ternyata cuma merubah penampilan saja ya, sifat nggak berubah dari dulu."


Sindiran kali ini Kalista hanya diam saja dan ia pun memilih berlalu begitu saja meninggalkan Ziva yang semakin membencinya apalagi dengan sikapnya yang semena-mena.


"Pede banget sih tuh perempuan, ngaku-ngaku calon istrinya Abang Af lagi, dia nhgak tahu apa kalau yang dia musuhin adalah Adik kandung dari laki-laki yang dia sukai, untung saja bang Af nggak menikah sama tuh perempuan jadi-jadian, dan gue juga nggak sudi kali punya Kakak ipar seperti dia, naudzubillah."


Ziva pun kembali melangkahkan kakinya dimana tadi sempat terhenti karena harus berhadapan dengan perempuan yang pedenya selangit.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Jangan lupa Vote dan komentarnya


Yah Readers


πŸ™πŸ™πŸ™


See you in next chapter


❀❀❀


Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuhhh


Hay para readers


Ukhfira cuma mau ngasih tau


Kalau kalian ingin cerita ini cepet selesai


Gampang kok


Kalian cuma tinggal klik vote dan ketik komentar


Gampang banget kan


Iyalah gampang


Jika kalian menginginkan cerita ini lanjut terus


Kalian harus dukung Ukhfira


Dengan cara klik vote ketik komentar


Itu aja kok keinginan author


Gak aneh-aneh


Dengan vote dan komen kalian


Itu menandakan bahwa kalian menghargai karya Ukhfira

__ADS_1


Wassalamulaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


__ADS_2