
Ketika ikatan telah halal
Dan cinta juga telah disatukan
Bukan berarti halal untuk bermesraan di khalayak ramai
Sebab kemesraan bukan untuk dipertontokan
Tanamkan rasa malu di hati
Sebab itu salah satu sunnah nabi
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah
Selamat membaca
Semoga suka
🌻🌻🌻
Sebuah mobil taxi berhenti di depan rumah yang bertuliskan "kost putri muslimah", seorang perempuan cantik nan imut yang tak lain adalah Ziva baru saja keluar dari mobil taxi tersebut lalu mobilnya taxinya berlalu meninggalkannya.
"Apa benar ini kostnya?." Tanya Ziva kepada dirinya sendiri sembari memandangi rumah kost tersebut.
Baru saja Ziva akan melangkah kakinya namun terlihat pintu gerbang rumah kost tersebut terbuka dan nampak seorang perempuan dengan membawa plastik sampah yang dibuangkan ke tempat sampah depan rumah kostnya.
"itu Kak Sil."
Dengan langkah seribu Ziva menghampiri Silmi yang baru saja membuang plastik sampahnya, dia melihat Ziva mau menghampirinya lalu dengan cepat Silmi masuk kedalam lalu menutup pintu gerbangnya dengan rapat, sampai Ziva tidak bisa masuk ke dalam dan hanya bis mengedor-ngedor pintu gerbang tersebut.
"Kak Sil buka pintunya, Ziva mohon."
"Kamu pergi dari sini Ziva, aku tahu kamu pasti mau membahas tentang Kakak ipar kamu itu kan?, aku sudah nggak mau dengar apa-apa lagi tentang dia."
Silmi masih berdiri dibalik pintu gerbang untuk memperingati Ziva agar tidak menemuinya lagi apalagi jika hanya akan membahas tentang Alesya, sudah pasti dia akan mengusirnya.
"Kak Sil tolong dengerkan dulu, Kak Al dan Bang Af nggak akan bisa menikah kalau mereka nggak berjodoh, tapi buktinya mereka berjodoh kan?, Kak Sil nhgak boleh membenci takdir Allah."
Penjelasan Ziva dengan nada sedikit tinggi itu mengenai hati Silmi, hatinya membenarkan ucapan Ziva tetapi raganya berbanding terbalil, ntah apa yang harus dia lakukan sekarang.
Kreg
Pintu gerbangnya terbuka, menampilkan Silmi yang terdiam menatap Ziva yang senang sekali karena Silmi mau mendengarkan penjelasannya dan membukakan pintu untuknya.
"Kak Sil."
"Ayo masuk, jelaskan semuanya di dalam." Ajak Silmi dengan wajah datar, tetapi Ziva tidak mempermasalahkannya bahkan dia langsung masuk ke dalam untuk menjelaskan semuanya agar Silmi mau memaafkan Alesya dan mereka baikan lagi.
"Alhamdulillah." Ucap syukur Ziva.
∆∆∆∆∆
"Dik, ada yang mau bertemu sama kamu."
Alula yang baru saja dari ruang tamu menghentikan sarapan pagi adiknya, bahka Aiza dan Ahyar pun ikut menghentikan aktivitas sarapannya.
"Memangnya siapa yang ingin bertemu sama adik kamu Lula?." Tanya Ahyar seakan mewakilkan Alesya untuk bertanya.
"Itu orangnya sudah di depan menunggu Adik Yah, ayo Dik kita ke depan."
Tanpa menunggu persetujuan Alesya, Alula main menggandeng adiknya itu menuju ruang tamu, kemudian disusul oleh ayah dan bundanya yang ikut penasaran juga akan tamu yang sudah berada di ruang tamu.
Kini Alesya yang berada digandengan Alula sudah menapaki lantai ruang tamu, pandangannya pun tertuju kearah depan dimana sedang berdiri dua perempuan muslimah yang sudah menunggunya.
"Silmi?"
Alesya tidak percaya bahwa di hadapannya kini sudah ada Silmi yang berdiri menunggunya bahkan dia menyunggingkan senyuman kepada Alesya.
"Silmi." Panggil Alesya lagi dengan langsung memeluk Silmi yang dengan senang hati membalasnya.
Baik Ziva, Alula bahkan Ahyar dan Aiza saling bersyukur dan tersenyum melihat kedua sahabat yang kemarin sedang bermasalah kini saling berpelukan dengan isak tangis bahagia.
"Sil, aku minta maaf ya, aku salah, harusnya aku memberitahu kamu duluan kalau aku sudah menikah dengan Afnan, bukannya menutupi dari kamu, aku minta maaf Sil."
Dengan rasa bersalah yang sangat besar Alesya meminta maaf kepada Silmi karena tidak memberitahunya tentang status barunya yaitu istri dari Afnan, seharusnya dia berterus terang kepada Silmi walaupun akan menyakitkan tetapi setidaknya Silmi tidak akan kecewa dengannya, tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur, Silmi sudah terlanjur kecewa.
"Nggak Al, harusnya aku yang minta maaf, harusnya aku dengerkan penjelasan kamu dulu bukannya main pergi begitu saja."
Silmi mengakui bahwa dirinyalah yang salah bukan Alesya, sebab karena egonya dia main pergi begitu saja tanpa mendengarkan penjelasan sahabatnya terlebih dahulu, tetapi yang terpenting sekarang mereka sudah saling meminta maaf dan saling menerima maaf juga.
"Oh ya Al, sekarang aku sudah merestui hubungan kamu sama Afnan, Ziva yang telah membuka mata hatiku, Afnan adalah laki-laki yang sholeh, dia pantas bersanding dengan kamu sahabat sholihahku, kalian cocok yang satu sholih yang satu sholihah."
"Aamiin."
Sekarang Alesya dapat bernapas lega karena ikatan persahabatannya dengan Silmi kini tersambung lagi, dan tak lupa dia berterima kasih sekali kepada adik iparnya yang baik sekali mau membantu dirinya menjelaskan kepada Silmi, patut diacungin jempol kerja keras Ziva membujuk Silmi yang terlanjur kecewa sama Alesya.
"Oh ya Zi, apa kamu tahu, sekarang Afnan ada di mana?"
Dengan ragu Alesya menanyakan keberadaan Afnan kepada Ziva. Setelah kejadian kemarin Alesya merasa bersalah karena meninggalkan Afnan tanpa penjelasan dan dia bahkan mengusir nya dari rumah orang tuanya.
__ADS_1
Ziva tersenyum. "Bang Af ada di rumahnya, Kak Al, Bang Af menunggu Kak Al pulang."
Wajah Alesya langsung berbinar-binar ketika mendengar nama Afnan, laki-laki yang telah berhasil membuat dirinya berbunga-bunga.
"Ayah, Bunda, Alesya pamit pulang ya, Alesya harus bertemu dengan Afnan."
Alesya langsung pergi meninggalkan keluarganya setelah ayah dan bundanya mempersilahkan dirinya pulang untuk menemui suaminya yang sudah dua hari menunggu kepulangannya.
∆∆∆∆∆
Motor matic yang berada dibawah kendali Alesya memasuki garasi, pintu gerbang terbuka lebar dan terdapat mobil yang terparkir rapi di garasi tersebut. Ternyata Afnan memang sedang ada di rumah buktinya mobilnya juga ada di garasi, Alesya pun segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang pintunya juga terbuka lebar, apakah Afnan sudah mengetahui bahwa Alesya akan pulang ke rumah, makanya dia membuka lebar pintu gerbang serta pintu rumahnya.
"Assalaamu 'alaikum."
Alesya mengucapkan salam bertepatan dengan kedua kakinya yang sudah menyentuh lantai ruang tamu, tatapannya tertuju kearah sofa di mana terlihat seorang laki-laki yang sedang duduk dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, tetapi setelah melihat seorang perempuan berdiri dihadapannya, wajah laki-laki tersebut yang tak lain adalah Afnan berubah seketika, senyuman langsung terlukis di wajah tampannya bahkan kini dia sudah beranjak dari duduknya.
"Wa'alaaikumus salaam, A-Alesya?"
Kini mereka saling berdiri berhadapan dengan tatapan yang sama, tatapan cinta yang penuh akan kerinduan, rasa bersalah masih menyelimuti hati Alesya, dia pun menghambur kepelukan Afnan namun Afnan berhasil menahannya, Alesya mencoba lagi untuk memeluk tubuh suaminya namun lagi-lagi Afnan menahannya, Alesya berhasil dibuatnya kebingungan dan sedikit kesal karena suaminya tidak ingin menerima pelukannya.
"Kenapa aku nggak boleh peluk kamu?" Oceh Alesya kesal.
"Karena harusnya aku yang peluk kamu Sayangku."
Afnan pun langsung memeluk tubuh Alesya dengan sangat erat, kali ini Alesya tidak memberontak melainkan dia membalas pelukan itu dengan sangat erat juga. Pelukan mereka pun terlepas.
"Afnan, aku-aku minta maaf sama kamu atas kejadian-"
Alesya menghentikan ucapannya karena jari telujuk Afnan sudah berdiri tegak didepan mulutnya.
"Aku yang harusnya minta maaf sama kamu Sya, karena ini kesalahanku, tolong maafkan aku ya, aku janji aku akan menyelesaikan semuanya."
Dengan penuh harap Afnan mencium punggung tangan Alesya agar istrinya itu mau menerima permintaan maafnya bahkan dia berjanji akan menyelesaikan semuanya, dan Alesya juga sudah memaafkannya dengan senang hati.
"Semuanya sudah selesai, Silmi sudah mau memaafkan aku, dan kamu juga sudah memaafkan aku."
"Ada yang belum selesai Sya, mereka yang sudah menghinamu harus aku selesaikan juga, dan kamu nggak usah khawatir aku akan membalas mereka, aku nggak terima istriku dihina oleh mereka."
Afnan mengingatkan Alesya tentang kejadian memilukan itu, dia memang tersakiti atas penghinaan dari teman-teman kampusnya tetapi Alesya sudah berusaha melupakan itu semua dan juga mencoba memaafkan mereka walau tidak semudah itu bagi dirinya. Tetapi balas dendam kepada mereka itu hal yang tidak benar, dan apakah Afnan akan membalas dendam kepada mereka?, Alesya tidak menginginkan itu terjadi.
"Jangan Afnan, jangan balas dendam sama mereka, itu perbuatan tercela, sudahlah lupakan saja, anggap saja ini ujian dari Allah dan Allah juga nggak ingin aku menyembunyikan pernikahan kita, aku mohon jangan lakukan apa-apa sama mereka, aku mohon Afnan. "
Balas dendam memang bukan perbuatan terpuji itu sangat tercela, bagaimana mungkin Alesya akan membiarkan suaminya berbuat hal tercela seperti itu, semoga Afnan mau mendengarkan keinginan Alesya untuk tidak berniat balas dendam.
"Iya aku janji aku nggak akan balas dendam, tapi besok kita akan berangkat kuliah bareng, supaya mereka nggak berani lagi untuk menghina kamu, kamu mau kan Sya berangkat kuliah bareng sama aku?"
Dengan senang hati Alesya menyetujui keinginan Afnan untuk berangkat kuliah bersama besok, walau sebenarnya dia masih takut untuk bertemu dengan perempuan-perempuan itu bahkan semua para fans Afnan pasti sudah mengetahui bahwa dirinya adalah istri dari Afnan sang pangeran kampus, tetapi jika Alesya tidak memberanikan diri maka kuliahnya akan berantakan karena dia tidak hadir ke kampus untuk mengikuti mata kuliahnya.
∆∆∆∆∆
"Sya ayo keluar." Pinta Afnan dengan lembut.
"Tapi-"
"Jangan takut Sya, ada aku, kamu sudah janji kan kita akan berangkat kuliah bersama, ayo turun."
Afnan berharap bujukannya dapat membuat Alesya tidak merasakan takut lagi dan akan menerima uluran tangannya. Harapan Afnan menjadi nyata, dengan hembusan napas panjang akhirnya Alesya menerima uluran tangan Afnan kemudian keluar dari persembunyiannya. Usai menutup pintu mobilnya dengan rapat Afnan mengarahkan tangan Alesya yang tadinya ia genggam kini sudah mengapit lengannya.
"Ayo kita masuk." Ajak Afnan seraya mengelus punggung tangan Alesya untuk menenangkannya.
Kini mereka mulai melangkah dengan pelan-pelan tentu karena langkah Alesya yang masih ragu dan ketakutan, tetapi Afnan terus menenangkannya hingga akhirnya mereka berhasil masuk ke dalam kampus dan mulai melewati beberapa mahasiswi yang tercengang akan kedatangan Afnan bersama seorang perempuan yang sedang mengapit lengan Afnan, perempuan itu adalah Alesya, istri dari sang pangeran kampus yang telah mereka hina dengan perkataannya.
"Kenapa kalian memandang istriku seperti itu?, kalian nggak suka dengan istriku?"
Afnan mendapati beberapa mahasiswi tengah menatap istrinya dengan ketidaksukaan bahkan ada yang menatapnya dengan jijik.
"Iya kita memang nggak suka sama dia, dia nggak pantas jadi istri kamu Afnan."
Akhirnya mahasiswi-mahasiswi tersebut mengeluarkan pendapatnya atas ketidaksukaan mereka kepada Alesya yang dinilainya tidak pantas mendapat gelar istri pangeran kampus.
"Memangnya kalian pikir kalian siapa?, seenaknya menilai istriku, mau kalian suka atau nhgak, Alesya tetap istriku baik di mata hukum dan agama, oh ya saya peringatkan sama kalian jangan pernah menghina Alesya lagi karena kalau kalian berani menghina Alesya itu artinya kalian juga berani menghina aku."
"Tapi Afnan, kami sebagai fans kamu, kami berhak dong berpendapat, dan dia memang nggak pantas jadi istri kamu."
Mereka memang tidak bisa menerima nasihat Afnan dengan baik justru mereka malah semakin menjadi-jadi menghina Alesya bahkan berani menghina didepan Afnan.
"Kalau kalian memang mengaku sebagai fans dari seorang Muhammad Afnan Rafisqy seharusnya kalian mendukung keputusan fans kalian untuk menikah dengan perempuan pilihannya bukan seperti ini, kalian ini kan seorang perempuan juga sama seperti istriku, apa pantas seorang perempuan menghina perempuan lainnya?, memalukan, untung istriku tidak melaporkan kalian ke kantor polisi karena istriku masih punya hati dan mau memaafkan kalian, kalau kalian masih berani menghina istriku lagi berarti kalian bukan manusia"
"Ayo Sya kita pergi dari sini."
Dengan tatapan yang mengisyaratkan kemarahannya Afnan berlalu bersama Alesya meninggalkan mahasiswi-mahasiswi yang terlihat dari wajah mereka merasa sangat bersalah dan menyesali perbuatannya tempo lalu. Afnan berhasil menyadarkan mereka atas perlakuannya kepada Alesya, dan mereka sepakat untuk tidak akan menghina Alesya lagi bahkan mereka tidak akan berani menatap Alesya karena merasa bersalah ditambah lagi Alesya sangat baik terhadap mereka karena tidak melaporkan ke kantor polisi atas pembulyan yang mereka lakukan.
∆∆∆∆∆
"Silahkan duduk Tuan putri."
Dengan berlagak seperti pelayan Afnan merenggangkan satu tangannya untuk mempersilahkan Alesya menempati kursi yang sudah diperuntukan untuknya.
Walau awalnya ragu Alesya pun menempati tempat duduknya setelah memastikan tuan putrinya duduk dengan nyaman giliran Afnan yang menempati kursi duduknya dihadapan Alesya.
"Tuan putri mau pesan apa?"
"Kamu apaan sih, aku bukan Tuan putri, aku Alesya." Oceh Alesya dengan sebal tetapi tidak sungguhan sebal.
"Kamu Tuan putri Sya, Tuan putri di hatiku."
__ADS_1
Kata-kata manis yang keluar dari mulut Afnan berhasil menghadikan seulas senyum di wajah cantik Alesya.
"Mulai deh kata-kata manisnya." Seru Alesya sambil geleng-geleng kepala.
"Ya Sudah kamu mau pesan apa Sya?"
Alesya nampak berpikir dia mau makan apa untuk sarapan paginya kali ini di kantin kampus tentunya bersama kekasih halalnya.
"Aku pesan mie goreng topping sayur sama air mineral."
"Oke, aku juga akan pesan yang sama seperti Tuan putriku, kalau begitu tunggu sebentar ya tuan putriku, Raja di hatimu akan memesan makannya dulu, oh ya jangan rindu ya, cuma sebentar kok."
Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Afnan langsung membuat Alesya geleng-geleng kepala saja, laki-laki macam apa yang dia jadikan suami, laki-laki yang romantis sekaligus humoris, lengkap sekali sifat yang dimiliki oleh suaminya.
Sembari menunggu Afnan memesan makanan Alesya mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kantin bahkan tanpa sengaja dia pandangannya tertuju kearah tiga orang perempuan yang baru memasuki kantin.
"Kalista?"
Kalista pun ikut menoleh kearah Alesya yang kaget melihat dirinya, rasa amarah memenuhi rongga dadanya tetapi Kalista tidak bisa melampiaskan amarah itu kepada Alesya karena dia sudah tidak ingin lagi bermasalah dengannya, dan Afnan sudah bukan lagi laki-laki yang dicintainya, dalam kata lain Kalista mundur dari peperangan yang dia mulai sendiri.
"Ayo kita ke sana."
Kalista pun pergi meninggalkan Alesya bersama teman-temannya sementara Alesya dia bingung dengan sikap Kalista yang seolah-olah menghindar darinya padahal kemarin dia ingat sekali bahwa Kalista tidak akan menyerah untuk merebut Afnan darinya. Namun Alesya tidak boleh berpikir yang negatif dia harus bersyukur karena sudah aman dari perempuan itu beserta ancamanannya.
"Makanan datang."
Afnan datang dengan membawa pesanan mereka, Alesya pun mengalihkan pandangannya kearah Afnan yang sudah duduk kembali lalu mempersilahkannya menyantap makanan pesanannya.
Setelah membaca basmalah Alesya pun menyantap makanannya sembari memperhatikan Afnan yang kelihatannya sangat kelaparan bahkan dalam sekejab satu piring mie goreng habis dilahapnya.
"Kamu kurang nhgak?." Tawar Alesya dengan bergurau.
Siapa sangka gurauan Alesya dianggukkan kepala oleh Afnan, Alesya tidak habis pikir Afnan masih lapar padahal mie goreng yang mereka pesan porsinya cukup banyak bahkan Alesya tidak sanggup menghabiskannya.
"Ya Allah ternyata kamu kurang beneran?, ya sudah nih mie punyaku kamu makan saja, aku sudah kenyang."
"Suapi dong." Linta Afnan layaknya anak kecil.
"Isshh apa sih Afnan, makan sendiri dong." Tolak Alesya dengan tegas.
"Kamu kok begitu sih Sya,masa kamu nggak mau suapi aku."
Alesya mengedarkan pandangannya keseluruh isi kantin yang mana terlihat rame sekali para mahasiswa dan mahasiswi yang sarapan disana.
"Bukannya aku nggak mau, tapi ini di tempat umum lho."
"Lho emang kenapa kalau di tempat umum Sya?" ucap Afnan mempertanyakan alasan Alesya yang aneh.
"Ya aku malu lah, kamu juga sudah besar kok minta disuapi, masa kecil kamu sudah lewat, sudah makan sendiri saja, kalau nggak aku tinggal nih."
Bukannya menuruti keinginan Afnan, Alesya justru memberikan ancaman bahwa dirinya akan meninggalkan Afnan yang masih ingin menghabiskan mie goreng tersebut.
Kini Alesya sudah berdiri dari tempat duduknya tetapi Afnan juga malah ikut berdiri, padahal katanya dia masih lapar.
"Lho kok ikut berdiri juga, katanya masih lapar?"
"Mendadak aku sudah kenyang Sya, ya sudah ayo kita ke kelas kamu."
"Nghak usah kamu makan saja disini, aku bisa ke kelas aku sendiri kok." Tolak Alesya yang tidak ingin Afnan menemaninya ke kelasnya.
"Oh ya sudah kalau begitu, aku makan lagi saja."
Alesya tidak habis pikir, watak suaminya itu sulit ditebak tumben sekali dia tidak memaksanya untuk menemaninya padahal biasanya tanpa persetujuan darinya Afnan pasti langsung menariknya, mungkin Afnan memang masih lapar makanya dia membiarkan dirinya pergi begitu saja.
"Silmi mana ya?, kok belum kelihatan, 10 menit lagi kan sudah mau masuk kelas."
Tiba-tiba Alesya dikagetkan dengan seseorang yang memeluknya dari belakang, dia pun menoleh dan terlihat kepala Afnan sudah terpangku disalah satu pundaknya.
"Kamu nggak bisa lari dari aku Sya, mana mungkin sih aku membiarkan Tuan putriku ke kelasnya sendiri."
Semua mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang di tempat Alesya dan Afnan berdiri kompak memperhatikan mereka, dengan cepat Alesya melepaskan kedua tangan Afnan yang melingkar ditubuhnya.
"Kenapa dilepas sih Sya?." Tanya Afnan heran.
"Nggak enak tahu dilihat teman-teman." Oceh Alesya yang kesal karena Afnan tidak tahu tempat.
Afnan malah tertawa kecil mendengar ocehan serta wajah Alesya sudah nampak kesal.
"Kenapa kamu merasa nggak enak Sya sama mereka?, terserah kita dong mau berbuat apa saja, kita kan sudah halal juga."
"Walaupun kita sudah halal mau berbuat apa saja, tapi bukan berarti kita tampakkan hal seperti tadi di depan umum, memalukan Afnan."
Alesya pun sangat marah atas apa yang dilakukan Afnan tadi ditambah lagi Afnan tidak sadar juga akan teguran yang dilontarkannya itu.
"Apanya yang memalukan Sya?, justru biar mereka tahu kalau kita itu pasangan romantis yang sudah halal, biar mereka yang pacaran itu juga sadar kalau mau beromantis ria harus menikah dulu seperti kita ini."
Bukannya sadar akan perbuatannya Afnan malah membela dirinya sendiri yang membuat Alesya semakin tidak habis pikir dengan jalan pikiran imam hidupnya itu, dengan mengontrol amarahnya Alesya mencoba menyadarkan Afnan lagi.
"Afnan kita memang sudah halal, tapi bukan berarti kita halal bermesraan di depan umum, kemesraan kita juga bukan untuk dipertontonkan kepada mereka, cukup kita saja yang tahu tentang hal itu."
Akhirnya kali ini Afnan tersadar bahwa apa yang dilakukannya tadi tidak benar, seketika itu pula dia berucap istighfar berulang kali untuk menebus kesalahannya.
"Astaghfirullahal adzim Sya, aku sadar sekarang, kamu benar kita memang harus menanamkan rasa malu, bukan berarti kalau kita sudah menikah kita bebas mempertonton kan kemesraan kita dihadapan umum, Jazakillah khoiron Zaujati sudah mengingatkan aku."
"Wa Jazakallah khoiron Zauji."
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤