
Senangnya hati jika bersama dengan kekasih
Bersyukurnya diri apabila dicintai oleh orang terkasih
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah
Selamat membaca
Semoga suka
π»π»π»
4 Bulan Kemudian
Seperti hari-hari biasanya Alesya akan bangun di pagi hari untuk menunaikan kewajibannya berkomunikasi kepada sang Robb dengan sholat subuh dilanjutkan bertilawah Quran sampai matahari menampakkan dirinya.
Alesya sudah mengenakan gamis berkain sifon berwarna maroon lengkap dengan khimar syarinya yang berwarna hitam, sederhana namun indah.
Alesya mulai memoleskan pelembab bibir untuk mencegah bibirnya agar tidak kering. Alesya terdiam. Memadangi tubuhnya yang nampak lebih berisi dipantulan cermin yang setinggi tubuhnya. Perutnya mulai terlihat besar meskipun tertutup kain khimarnya. Tangannya ikut menggemuk serta jangan lupakan kedua pipi Alesya yang terlihat chubby.
"Maa syaa Allah, badanku gemuk banget ya, pipi juga sudah seperti bakpao." Alesya mengelus kedua pipinya yang chubby seakan tidak mempercayainya.
Kini beralih mengelus perutnya yang mulai membesar karena dirahimnya sudah terbentuk janin yang tepat hari ini memasuki bulan ke empat trimester dua.
"Assalaamu 'alaikum Nak, alhamdulillah sekarang umur kamu sudah memasuki empat bulan, yang betah di sana ya Nak, aku mencintaimu."
Dengan penuh kasih sayang Alesya mengelus perutnya berkali-kali sembari terus bersyukur karena buah hatinya terus berkembang dari hari ke hari.
Alesya terkejut. Ada sepasang tangan yang mengelus punggung tangannya yang masih menempel di perutnya. Siapa lagi jika bukan Afnan yang kini sudah memeluk istrinya dari belakang. Pandangan mereka pun bertemu dipantulan cermin dihadapannya.
"Sehat-sehat di sana ya Nak, kami sudah merindukanmu." Ucap Afnan sambil meletakkan dagunya di pundak Alesya. Dan menatap perut Sang istri seakan sedang menatap buah hatinya penuh cinta.
Afnan menatap wajah Alesya yang terlihat manyun di pantulan cermin. Dia terkekeh geli dengan wajah istrinya yang nampak Chubby gemas rasanya ingin mencubitnya.
Alesya makin manyun ketika mendapati Afnan terlihat tertawa dipantulan cermin tentunya karena raut wajah dirinya. "Kamu kenapa kok tertawa?." Tanya Alesya dengan polos.
"Habisnya kamu kenapa Sya, kok manyun begitu, makin gemas deh." Tanpa disangka Afnan mencubit pipi sang istri dengan gemas sangat gemas. Lalu mendaratkan ciuman di pipi bekas cubitannya.
"Sekarang badan aku sudah banyak perubahan, mengembang sana sini." Oceh Alesya yang tak kuasa menahan kekesalannya lantaran tubuhnya sudah tidak semungil dulu.
Afnan membalikkan tubuh Alesya. Agar mereka saling berhadapan. Dengan tersenyum Afnan menggenggam kedua tangan Alesya penuh cinta. Mencium tangan Alesya secara bergantian. Memunculkan rasa bahagia diwajah Alesya.
"Alby, Apa kamu masih cinta sama aku, dengan fisikku yang sudah melebar ini dan nanti akan semakin melebar?!." Tatapan mata Alesya mengisyaratkan rasa kekhawatiran jikalau suaminya tidak akan mencintainya lagi karena fisiknya yang sudah tidak seperti sedia kala.
Disaat Alesya dilanda kekhawatiran justru Afnan sedang asyiknya tertawa kecil namun hanya sekejab lantaran Alesya menegurnya dengan menyenggol lengan Afnan.
"Einy, aku tahu badan kamu sudah nggak semungil dulu, malah sekarang jadi seksi." Ucap Afnan sambil mengerlingkan matanya membuat Alesya terkekeh geli. Lalu Afnan kembali nampak wajah yang serius untuk meneruskan ucapannya. "Aku tetap cinta kok sama kamu, malahan makin cinta, lagi pula kamu membengkak begini kan karena lagi hamil anak aku, anak kita, jadi wajarlah kalau kamu sekarang gemukan kan isinya bayi bukan lemak."
Alesya dapat bernapas lega karena Afnan sama sekali tidak mempermasalahkan tubuh Alesya yang sudah melebar sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Syukurlah jika Afnan mencintainya bukan karena fisik namun karena memang tulus mencintainya yang tak pandang fisik yang sudah terlihat kurang menarik.
"Lagi pula kalau badan kamu berisi seperti ini, aku jadi ingin memeluk terus, soalnya empuk." Afnan kembali memeluk tubuh Alesya sambil terkekeh geli dan Alesya menampakkan wajah kesal namun tak serius.
"Oh ya tadi Einy panggil aku apa?, Alby?" Afnan baru menyadari bahwa sang istri mempunyai panggilan baru untuknya.
Alesya dengan riangnya menganggukkan kepala. "Iya, Alby, artinya jantungku. Panggilan sayangku ke kamu. Dan Alby tadi manggil aku dengan sebutan apa?, Einy ya?." Alesya pun balik bertanya kepada suaminya.
Afnan pun mengangguk dengan mantap. "Iya Einy, panggilan sayangku untuk kamu, yang artinya mataku."
"Maa syaa Allah Alby, meleleh akutuh." Ucap Alesya dengan kedua mata yang berbinar-binar.
__ADS_1
Afnan mengelus pipi sang istri dengan rasa cinta yang terkumpul di hati. "Maa syaa Allah aku juga meleleh nih Einy." Balasnya dengan ikut memandang penuh cinta.
"Ya sudah Einy siap-siap lagi ya, aku mau ke kamar mandi dulu." Afnan bergegas meninggalkan Alesya untuk menuju kamar mandi di kamar mereka. Alesya pun merapikan kembali khimarnya yang kurang rapi akibat suaminya mengelus-elus puncak kepalanya tadi saat mereka berpelukan.
Dikehamilannya ini Alesya merasa cukup kesulitan untuk bergerak bebas apalagi saat ini dia akan memasang kaos kaki. Diposisinya yang sedang duduk ditepian ranjang ternyata sulit sekali untuk memasangkan kaos kaki dikedua kakinya. Jangankan untuk memasang menunduka saja Alesya sudah kesulitan. Afnan yang baru saja keluar dari kamar mandi dibuat terkekeh geli seraya geleng-geleng kepala melihat Alesya yang nampak lucu sedang mendengus kesal karena tidak bisa memasang kaos kaki.
"Einy, sudah jangan dipaksa, sini biar aku yang pasang, kamu duduk yang rileks saja, kakinya tolong dikebawahi ya." Dengan sigap Afnan duduk berjongkok di depan Alesya lalu memasangkan kaos kaki berwarna cream untuk menutupi aurat istrinya.
Melihat Afnan yang begitu perhatian terhadapnya bahkan sampai rela memasangkan kaos kaki untuknya. Hati Alesya luluh. Ia mendaratkan iuman penuh cinta di kening Afnan sebagai bentuk terima kasihnya. Afnan tersenyum mendapat ciuman dipagi hari oleh istrinya membangkitkan semangatnya menjemput nafkah untuk istri dan calon anaknya.
"Sudah selesai siap-siapnya kan Einy?"
Alesya mengangguk kecil. Afnan bangkit dari jongkoknya dan tanpa disangka Afnan menggendong Alesya ala bridal style. Alesya terperanjat. Menyuruh Afnan untuk segera menurunkannya. Namun Afnan malah mengabaikannya kemudian berjalan keluar dari kamar. Menuruni anak tangga satu persatu dengan penuh kehati-hatian karena saat ini dia sedang menggendong dua kesayangannya sekaligus.
"Alby, aku berat lho, aku takut kamu nhgak kuat, turunkan aku saja, aku bisa-" Alesya memotong ucapannya karena Afnan menyuruhnya untuk tidak banyak bicara dan tenang saja. Alesya pasrah lalu mengalungkan kedua tangannya dileher Afnan sambil membenamkan wajahnya didada bidang Afnan.
Afnan berhasil melewati beberapa anak tangga sambil menggendong Alesya yang sedang hamil. Dengan pelan Afnan menurunkan Alesya dikursi ruang makan yang mejanya sudah terisi roti bakar plus segelas susu.
"Sebelum kuliah kamu harus sarapan dulu ya Einy, jangan lupa susu Ibu hamilnya di minum juga." Afnan memerintahkan sang istri untuk sarapan plus minum susu ibu hamil yang sudah disediakan untuk Alesya seorang. Afnan memang suami yang perhatian tanpa disuruh atau bahkan diberi kode-kodean dia sudah sigap menyiapkan segala yang diperlukan untuk istri dan calon anaknya tentunya.
Disaat-saat seperti ini Alesya memang membutuhkan suami yang pengertian. Apalagi saat ini dirinya sudah mulai kesulitan beraktivitas. Bersyukurlah dirinya mempunyai suami sepengertian Afnan. Alesya yakin pasti diluaran sana banyak yang iri sama dia termasuk yang lagi baca.
βββββ
"Maa syaa Allah bumilnya aku, semakin menggemaskan deh."
Alesya yang baru saja masuk ke dalam kampusnya sudah disambut antusias oleh sang sahabat yang lumayan lama menunggu dirinya. Namun setelah kedatangan Alesya rasa kekesalan akibat lama menunggu pudar seketika tergantikan oleh rasa gemas melihat Alesya yang berjalan kearahnya dengan postur tubuh yang semakin melebar. Tentunya karena saat ini perempuan cantik tersebut sedang menyandang status bumil alias ibu hamil.
"Assalaamu 'alaikum, aduh maaf ya Sil kamu sudah nunggu lama ya?"
"Wa 'alaikumus salaam, nhgak apa-apa Al, aku maklumin kok, namanya juga bumil harus ekstra hati-hati."
"Benar banget."
"Assalaamu 'alaikum Baby."
"Wa 'alaikumussalam."
"Hai baby kenalin ini Aunty Silmi."
"Hai juga Aunty Silmi."
"Aunty Silmi sahabatnya ibu kamu Baby, semoga kamu sehat-sehat saja ya sampai lahiran nanti, sampai ketemu 5 bulan lagi ya Baby."
"Aamiin, jazakillah khoiron Aunty Silmi."
"Wa jaza-kumullah khoiron Baby."
Silmi sempat ragu membalas ucapan terima kasih dalam bentuk bahasa Arab itu, karena dia belum tau jenis kelamin Baby yang ada didalam kandungan Alesya. Jadi dia membalas nya dengan ucapan yang umum, bisa untuk ucapan ke anak laki-laki atau anak perempuan.
"Oh ya, kamu sudah tau jenis kelaminnya belum Al?, ini sudah bulan empat kan?, biasanya sudah bisa dilihat, jenis kelaminnya apa."
Silmi akhirnya menanyakan jenis kelamin anak dari sahabatnya. Namun Alesya menggeleng pelan karena dia dan Afnan belum mengetahuinya dan juga tidak ingin mengetahui jenis kelamin sang baby.
"Aku sama Afnan nggak ingin tahu jenis kelaminnya Sil."
Silmi kebingungan. "Lho kenapa Al?"
"Ya kita nggak mau saja mendahului takdir Allah, karena kan belum tentu tebakan Dokter itu benar. Apapun jenis kelaminnya kami akan syukuri kok." Papar Alesya yang memang tidak ingin berminat untuk mengetahui jenis kelamin buah hatinya. Meskipun sebenarnya saat diperiksa pasti akan ketahuan apa jenis kelaminnya hanya saja Alesya dan Afnan sepakat untuk menyerahkan semuanya kepada Allah. Mereka juga tidak terburu-buru ingin mengetahuinya karena jenis kelamin itu tidak terlalu penting yang terpenting bayinya sehat saat dilahirkan nanti.
Silmi mengangguk paham. Dia sependapat dengan pemikiran Alesya. Mau laki-laki atau perempuan itu sama saja, sama-sama pemberian Allah yang harus disyukuri.
"Ya sudah kalau begitu, sekarang kita ke perpus saja ya, biar cepat selesai mengerjakan skripsinya."
Silmi menepuk jidatnya karena dia melupakan niat awalnya ke kampus yaitu akan ke perpustakaan untuk meminjam buku sekaligus mengerjakan skrispinya. Akibat asyiknya mengobrol hampir saja dia melupakan tugas terakhirnya yang meraung-raung minta diselesaikan.
__ADS_1
Memasuki semester terakhir tentu mereka sudah disapa dengan tugas terakhirnya yang dari dulu diberi nama "skripsi", ini adalah tentang riwayat kehidupan Alesya dan Silmi di kampusnya, setelah penantian yang cukup panjang, akhirnya 3 tahun lebih telah terlewati dan kini mereka sudah akan menginjakkan kaki ditahun menjelang keempat. Meskipun keadaannya sedang hamil tidak menyusutkan semangat Alesya untuk menyelesaikan tugas skripsinya ditambah lagi dia selalu ingat akan janji yang dia pegang untuk lulus tepat waktu. Untuk membuktikan kepada mama kandungnya bahwa dia bisa lulus kuliah walau sedang kondisi bunting. Syukurlah sahabatnya, si Silmi nasibnya di kampus hampir sama dengannya, semua mata kuliah mereka sudah selesai diikuti jadi mereka sudah dapat berkonsentrasi untuk mengerjakan skripsi.
βββββ
Seorang dokter perempuan dengan seriusnya memeriksa kondisi Alesya yang kini sudah terbaring di branker ruangan yang serba putih. Afnan setia mendapingi sang istri dengan terus menggenggam tangan Alesya. Debaran jantung Alesya semakin berdegub kencang ketika dokter mulai meletakkan alat deteksi diperut Alesya sambil tersenyum menatap layar monitor yang menampilkan makhluk kecil sedang bergerak-gerak dengan pelan.
Ini kali ketiga Alesya memeriksa kandungannya di rumah sakit yang sama serta dokter yang sama. Wajah sang dokter juga menampilkan wajah yang sama dari sejak kali pertama mereka mengecek kondisi janinnya. Seakan dokter mengisyaratkan bahwa janin yang ada di kandungan Alesya baik-baik saja.
"Alhamdulillah, bayinya sehat, ini sudah bulan ke empat kan, artinya Allah sudah meniupkan roh di dalam tubuh bayi kalian."
Alesya dan Afnan saling memadang satu sama lain dengan binaran mata yang bahagia. Lalu kembali menatap layar monitor seolah sedang menatap bayi mereka. Air mata mengalir diwajah Afnan ketika pertama kalinya dia mendengar degub jantungΒ anaknyas secara langsung tentunya melalui alat khusus. Alesya ikut menangis terharu juga. Bersyukur karena jantung bayinya sudah berkerja dengan normal.
Dokter terkejut setelah membesarkan gambar yang terlihat samar-samar itu. Alesya pun dilanda kecemasan.Β Afnan mencoba menenangkan sang istri walau sebenarnya dia juga sangat cemas karena raut wajah dokter berubah seketika.
"Lho Bu Alesya, ini bayinya kok-"
"Kenapa Dokter?, bayi saya kenapa Dok?." Tanya Alesya dengan sangat panik.
Afnan cemas. "Dokter bayi kami baik-baik saja kan Dok?." Tanya Afnan tidak kalah paniknya.
"Alhamdulillah bayi kalian baik-baik saja, tapi kok-"
Lagi-lagi dokter menghentikan ucapannya seraya terus memperhatikan dengan seksama layar monitornya. Akhirnya dokter kembali ersenyum. Guratan kepanikan diwajahnya menghilang begitu saja. Membuat Alesya dan Afnan dilanda kebingungan.
"Selamat ya, bayi kalian ternyata kembar." Ucap Dokter dengan wajah bahagianya.
Alesya terkejut. Dia mencerna ucapan sang Dokter kandungan seakan tidak percaya bahwa ternyata dia bukan mengandung satu bayi saja melainkan dua bayi alias bayi kembar.
"A-apa Dok?, bayi kami kem-bar?"
Dokter menganggukkan kepala untuk meyakinkan Alesya bahwa dia sedang mengandung anak kembar. Tadinya dokter juga tidak menyangka karena selama ini saat memeriksa kandungan Alesya tidak terlalu kelihatan bahwa bayinya ada dua, dan di kali keempat pemeriksaan ini ternyata bayinya nongol dua-duanya. Seperti sengaja memberi kejutan kepada calon ibu dan ayahnya saja.
"Sekali lagi selamat ya Bu Alesya Pak Afnan."
Kini Alesya menatap wajah Afnan yang sudah berderai air mata. Terharu karena mengetahui bahwa Allah memberikannya 2 rezeki sekaligus. Anak kembar yang saat ini sedang bertahan hidup di rahim Alesya. Diciumnya puncak kepala Alesya dengan penuh keharuan. Alesya membenamkan wajahnya didada bidang Afnan yang basah karena air mata yang menetes dari kedua mata Alesya.Β
Allah baik sekali kepada mereka. Tak pernah terpikir akan mendapatkan dua anak sekaligus. Satu anak saja baik Alesya maupun Afnan sudah sangat bersyukur apalagi ternyata Allah menitipkan mereka bayi kembar dua yang nantinya akan melengkapi kehidupan rumah tangga mereka.
"Alhamdulillah."
"Alhamdulillah terima kasih ya Allah."
Tak henti-hentinya Alesya dan Afnan mengucapkan syukur kepada sang pemberi rezeki, sang pemilik kehidupan. Dia mempercayai Alesya serta Afnan untuk merawat dua anak sekaligus dalam waktu yang bersamaan. keluarga besarnya pasti sangat senang dan terharu mendengar kabar bahagia lanjutan ini sama halnya seperti Alesya dan Afnan yang saat ini sangat senang dan terharu.Β
βββββ
Izma tak kuasa menahan air matanya yang tumpah berkali-kali. Dilihatnya foto hasil USG yang kini sudah berada ditangannya. Sebuah foto terlihat 2 kepala mungil. Itu pasti kedua cucunya yang kembar. Terharu sekali dirinya ketika mengetahui bahwa cucunya ternyata kembar.
Alesya dan Afnan saling melempar senyuman dan beralih mempehatikan mami yang sudah terisak dalam tangisan harunya begitu juga dengan papi yang mengusap kedua matanya.
"Alhamdulillah, Papi kita akan punya cucu kembar, kita akan menimang cucu sama-sama, Mami senang sekali."
"Iya Mami, Alhamdulillah generasi kita ada yang kembar, meneruskan kakek Papi yang terlahir kembar."
Kini Alesya dan Afnan mengerti. Mereka bisa memiliki anak kembar selain karena takdir dari Allah juga karena dikeluarga mereka ada yang kembar yaitu kakek dari papi Zawir, yaitu pihak dari keluarga Afnan.
"Alesya, terima kasih Nak, terima kasih sudah membuat Mami terharu dengan kehamilan kamu yang ternyata hamil anak kembar, tolong jaga cucu-cucu Mami ya, Mami sayang sama kamu karena Allah."
Alesya tak kuasa menahan linangan air matanya yang sejak tadi sudah mengambang dikedua matanya. Dipeluknya sang Mami mertua dengan rasa sayang yang tak terhingga. Izma mengelus-elus pundak sang menantu kesayangan dengan isakan tangis yang tiada hentinya.
Zawir menepuk-nepuk bahu Afnan dengan bangga karena telah berhasil membuatnya menangis tersedu-sedu tanpa bisa dihentikan. "Papi bangga sama kamu putra Papi yang paling ganteng, keturunan kamu ada yang kembar, ini suatu kebahagian yang patut kita syukuri."
Afnan tersenyum dan tanpa terasa ikut menitikkan air mata. Ikut merasakan apa yang papinya rasakan. Allah sangat baik terhadap dirinya beserta keluarganya. Afnan berjanji akan semakin mendekatkan dirinya dengan sang ilahi Robbi. Dan Afnan juga berjanji akan menjadi imam dan ayah yang baik untuk anak-anaknya, generasi Islam dimasa depan penerus dirinya beserta keluarga besarnya.
β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€
__ADS_1