
Jika cinta dapatkanlah dengan
cara yang baik
Agar cinta itu tetap suci
dan menjadi halal
Serta kejarlah restu orang tua
Agar mendapat ridho Allah
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu ya
Selamat membaca
Semoga suka
🌻🌻🌻
Allah telah mengabulkan doa-doa yang selama ini Afnan panjatkan disetiap sepertiga malamnya. Kini ia dapat tersenyum lega karena sebentar lagi keinginannya akan terwujud yaitu menikah diusia muda dengan salah satu tujuannya agar dirinya terhindar dari fitnah wanita yang selalu mengelilingi dirinya, lebih tepatnya karena paras tampannya yang menjadi magnet kaum hawa mendekatinya.
Setelah acara lamaran kemarin malam, seluruh anggota keluarga Afnan langsung disibukkan oleh acara pernikahan putra sulungnya itu, bahkan Ziva, sang Adik sangat antusias membantu merencanakan acara pernikahan sang Abang tercinta terlebih calon istrinya adalah pilihannya jadi sudah dipastikan Ziva ikut andil dalam menyiapkan perlengkapan acara pernikahan sang abang.
"Bang Af nih undangannya sudah jadi, Bang Af mau mengundang teman kampus berapa orang?"
Sebuah undangan berwarna silver baru saja Ziva serahkan kepada Afnan yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil memperhatikan Izma yang tengah sibuk mengobrol dengan salah satu perwakilan wedding organizer.
Afnan mengalihkan pandangan kearah Ziva. "Cuma satu orang Zi, Shuwan doang."
"Lho?, kok cuma satu orang?, yang lain nggak Bang?, teman kelas?, atau teman relawan Bang Af?"
Afnan hanya menggeleng kecil sembari tersenyum melihat ekspresi sang Adik yang keheranan akibat jawabannya itu yang hanya mengundang teman kampusnya satu orang saja, yaitu sahabat dekatnya, Shuwan.
"Zizi, kamu lupa ya sama persyaratan Alesya kemarin."
Lagi, Ziva dibuat terheran-heran dan langsung menduduki dirinya di sofa tepat disamping sang abang untuk menagih penjelasan dari ucapannya barusan.
"Persyaratan?, maksudnya?"
"Astaghfirullahal adzim, Abang lupa kalau kemarin kamu nggak ikut acara lamaran Abang ya, tapi tunggu dulu sebelum Abang jelaskan tentang persyaratan pernikahan itu, kamu harus jelasin dulu, apa alasan kamu nggak ikut acara lamaran kemarin?, bukannya kamu yang menjodohkan Abang sama Alesya kan, tapi kok malah kemarin nggak ikut acara lamaran Abang?"
Bukannya menjawab pertanyaan Ziva yang sudah dibuat penasaran, Afnan malah melontarkan pertanyaan lain kepada Ziva yang mau tidak mau harus menjawabnya.
"Ya sudah Zizi mau jelaskan alasan Zizi kemarin nggak ikut, Zizi nggak ikut soalnya Zizi ingin memberi kejutan ke Kak Alesya, nanti Zizi akan menampakkan diri setelah akad nikah kalian, sekarang giliran Bang Af jelaskan persyaratan apa maksudnya?"
Afnan yang baru saja mendengarkan alasan Ziva yang tidak ikut serta dalam acara lamarannya kemarin itu hanya merespon dengan anggukan kepala saja, lalu kini giliran dirinya yang harus menjelaskan tentang persyaratan yang ditanyakan oleh Ziva.
"Jadi seperti ini Zi, kemarin saat lamaran, Alesya mengajukan persyaratan, persyaratannya itu dia nggak mau mengundang teman-teman kampus, karena dia nggak mau semua teman kampus tahu kalau dia adalah istri Abang."
"Kenapa begitu bang?, kalau teman-teman kampus nggak tahu kalo abang Al sudah menikah, bagaimana bang Af mau terlepas dari fans-fans Bang Af yang semuanya kaum hawa itu?"
Ziva sudah tidak habis pikir dengan jalan pikiran abangnya itu yang menyetujui persyaratan yang diajukan oleh calon istrinya, dan lebih tidak habis pikir lagi Ziva kepada calon kakak iparnya, yang tidak menginginkan pernikahan mereka diketahui oleh teman-teman kampus mereka.
"Adikku Sayang, kamu nggak usah khawatir ya, teman-teman kampus akan tahu kalau Abang sudah menikah, tapi mereka nggak akan pernah tahu kalau Alesya adalah istrinya Abang, sekarang kamu mengerti kan Adikku Sayang?"
Kini rasa penasaran Ziva sudah terselesaikan, dan ia pun dapat menerima persyaratan yang diajukan oleh Alesya, calon kakak iparnya, Ziva juga dapat mengerti perasaan Alesya saat ini, dan persyaratan itu ada benarnya juga, Alesya memang benar-benar mengambil keputusan yang tepat karena Ziva juga tidak ingin Alesya menjadi sasaran kemarahan para fans abangnya itu yang pastinya akan marah jika idolanya itu menikah.
^^^^^
"APA???"
Semua mata pun tertuju kearah perempuan yang sudah berumur 40 tahunan dengan pakaian modisnya dan rambut yang terurai bak anak muda yang fashionable.
Perempuan yang sedang berdiri dihadapan keluarga Alesya adalah Farha, Ibu kandung dari Alula dan Alesya yang baru saja datang jauh-jauh dari singapura karena mantan suaminya, ayah dari anak-anaknya itu menyuruhnya untuk datang ke Indonesia karena ada hal penting yang ingin disampaikan kepadanya.
"Jadi Alesya akan menikah minggu depan?, di mana pikiran kamu Mas Ahyar? di mana?"
Nada keras yang keluar dari mulut Farha membuat suasana semakin tegang, ditambah lagi tatapan penuh amarah Farha kepada Ayah Ahyar yang sedang duduk dihadapannya.
Ahyar pun berdiri dibelakang Farha yang sudah memendam amarah kepadanya untuk meluruskan masalah ini.
Sedangkan Alesya dan juga Alula dibuat kebingungan dengan respon Mama kandung mereka yang tidak setuju jika Alesya menikah.
"Apa yang salah?, anak kita akan menikah dengan laki-laki yang sholeh."
Farha langsung membalikkan badan dan mulai melangkah menghampiri Ahyar yang lebih tenang dibanding Farha yang sudah diselimuti amarah.
"Apa yang salah kamu bilang?, hey kamu nggak ingat masa kelam kita dulu?, atau kamu pura-pura lupa?, pokoknya aku nggak setuju kalau Alesya menikah muda."
Tatapan tajam Farha langsung tertuju kearah Alesya yang tersentak karena mendapat tatapan tajam dari perempuan yang telah melahirkannya 20 tahun yang lalu.
"Apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa Mama gak setuju kalo aku menikah?, kenapa Ma?"
Alesya pun tidak dapat tinggal diam saja melihat kedua orang tuanya yang sudah lama berpisah itu sedang bertengkar dihadapannya. Dan ia langsung menghampiri sang mama yang berdiri disamping tak jauh dari sofa yang ia duduki bersama Alula dan Aiza.
"Mungkin ini memang sudah saatnya kalian tahu, kenapa Mama dan Papa berpisah, karena kalian juga sudah dewasa. Mama akan memberitahu kalian, kalau Mama dan Papa berpisah itu karena, karena kami memutuskan untuk menikah muda."
Akhirnya rasa penasaran yang selama ini Alesya maupun Alula pendam kini terjawabkan dengan ucapan Farha yang memaparkan dengan jelas alasannya bercerai dengan Ahyar.
"Memangnya kenapa dengan menikah muda Ma?"
Kali ini giliran Alula yang ikut andil dalam masalah keluarga mereka, sekaligus ia ikut berdiri disamping Alesya yang menoleh kearahnya dengan tatapan penuh tanya juga seperti dirinya, lalu sama-sama mengalihkan pandangan kearah sang mama yang sedang memperhatikan mereka berdua lalu beralih ke sang Ayah yang hanya diam saja tidak mengeluarkan satu kata pun.
"Karena menikah muda, Mama dan Papa berpisah, Mama menyesal dulu Mama setuju untuk menikah dengan Papa kalian diusia yang masih muda, sampai akhirnya kalian yang jadi korban karena keegoisan kami, sampai sekarang Mama masih trauma dengan semuanya, dan Mama nggak ingin anak-anak Mama merasakan sakit yang Mama alami selama ini."
"Cukup Farha."
Air mata yang baru saja mengalir diwajah Farha langsung ia hapus secepat mungkin, dan ia segera menoleh kearah sumber suara dengan bernada sedikit tinggi.
Ahyar pun berdiri dengan tatapan yang tak kalah tajam dari sosok perempuan yang dulu pernah mendampinginya dan sekarang pun masih berstatus sebagai Ibu dari anak-anaknya.
"Dari dulu kamu memang nggak pernah berubah ya, kamu selalu menyalahkan keadaan, seharusnya kamu intropeksi diri, kita berpisah karena keegoisan kamu, bukan karena kita menikah di usia yang masih muda."
Farha jelas tidak terima mantan suaminya menyalahkan dirinya atas kegagalan rumah tangga yang mereka alami.
"Apa kamu bilang?, karena keegoisan aku?, kamu dengar baik-baik ya, aku bercerai sama kamu karena aku sudah nggak sanggup hidup serba kekurangan, hidup aku tersiksa dan menderita saat menikah sama kamu."
"Itu salah kamu sendiri, seharusnya kamu lebih sabar menghadapi ujian yang Allah berikan, bukan malah meninggalkan anak-anak kamu yang masih kecil, kamu lebih mementingkan kebahagiaan kamu, dibanding anak-anak kamu, pokoknya Alesya akan tetap menikah."
"Dan aku tetap tidak akan menyetujui pernikahan itu"
Masa lalu menyakitkan yang selama ini berusaha untuk dikubur dalam-dalam akhirnya harus digali lagi dengan pertengkaran hebat antara kedua orang tua dua gadis yang saat ini sudah sama-sama meneteskan air mata melihat kejadian yang tidak enak dihadapan mereka.
Alula pun tidak sanggup untuk berdiri lagi, ia pun segera mendudukkan dirinya di kursi sofa dengan wajah bergurat sedih dengan mengajak Alesya ikut duduk bersamanya.
"Jadi ini alasan Mama bercerai dengan Ayah, karena Mama nggak mau hidup miskin, bahkan Mama tega meninggalkan aku dan Kakak yang saat itu masih anak kecil yang membutuhkan sosok Ibu."
__ADS_1
Aiza yang tadinya hanya diam saja langsung berdiri dan menghampiri sang suami yang sudah dilanda rasa amarah dan emosi yang membuncah dalam dirinya.
"Mas, kamu duduk dulu ya, kamu tenangkan diri kamu dulu."
Perlahan Ahyar luluh dengan ajakan sang istri yang menyuruhnya untuk duduk di sofa yang tadi didudukinya. Kini Aiza beralih menghampiri Farha yang masih berdiri dihadapan mereka.
"Mbak Farha, saya mohon sama Mbak Farha, tolong restui pernikahan Alesya, in syaa Allah ini yang terbaik buat kita semua."
Farha langsung menepis tangan Aiza yang tadinya sempat menyentuh lengannya untuk memohon kepada dirinya agar merestui putri bungsunya itu menikah.
"Apa kamu bilang?, yang terbaik untuk kita semua?, hei Aiza dengar ya, kamu itu nggak tahu apa-apa tentang yang terbaik untuk anak-anak saya, kamu itu hanya orang luar, jadi nggak usah ikut campur, dan perlu saya tegaskan lagi status kamu itu hanya Ibu sambung dan saya Ibu kandung anak-anak saya, jadi saya yang tahu mana yang terbaik untuk anak-anak saya. Pantas saja kamu belum punya anak, karena kamu nggak tahu bagaimana caranya jadi Ibu yang baik."
Perkataan terakhir yang dilontarkan oleh Farha sangat menyakitkan bagi Aiza yang langsung meneteskan air mata, karena tidak sanggup diejek seperti itu.
"JAGA UCAPAN KAMU FARHA!!!"
Suara bernada tinggi yang berasal dari mulut Ahyar berhasil membuat suasana semakin tegang, ditambah lagi Ahyar langsung menghampiri istrinya dan memeluk tubuh Aiza dengan lembut tepat dihadapan mantan istrinya yang memalingkan wajah karena tidak sudi untuk melihatnya.
"Kamu sudah keterlaluan, Aiza memang hanya berstatus sebagai Ibu sambung, tapi dia tahu mana yang terbaik untuk anak-anakku, bukan seperti kamu yang terus bersikap egois, mementingkan diri sendiri."
"Apa kamu bilang?, mementingkan diri sendiri, kalau aku mementingkan diri sendiri aku nggak akan menentang Alesya untuk menikah, aku nggak mau anakku mengalami hal yang sama seperti yang aku alami, menikah muda itu nggak baik, sama sekali nggak baik apalagi Alesya masih kuliah, atau jangan-jangan kamu sudah nggak mau membiayai hidup Alesya, sehingga kamu menikahkan Alesya secepat ini, apa benar seperti itu?"
Bukannya masalah diselesaikan, tetapi justru semakin melebar dan tidak habis-habisnya mama Farha menyalahkan ayah Ahyar atas semua yang terjadi.
Alula yang sedari tadi hanya diam saja tidak dapat berbuat apa-apa dengan terus sambil mempererat pegangan tangannya kepada Alesya yang sama seperti dirinya, sama-sama kalut.
"Aku bukan kamu Farha, semiskin apapun aku, aku tidak akan pernah melepas tanggung jawab aku untuk membiayai hidup anak-anakku."
"Tapi kamu-"
"Cukup!, cukup Ma."
Kini Alesya sudah tidak bisa berdiam diri lagi, pertengkaran kedua orang tuanya adalah karena dirinya, jadi dia harus menghentikan semuanya dan medamaikan kedua orang tuanya yang mulai tersulut emosi.
Ditatapnya wajah perempuan yang selama ini Alesya hormati karena telah melahirkannya ke dunia, walaupun sempat menggoreskan luka dihatinya karena telah meninggalkan dirinya diwaktu kecil bersama Kakak dan Ayahnya.
"Menikah muda itu nggak salah, karena menikah adalah salah satu ibadah kepada Allah, dan aku akan tetap menikah."
Kedua bola mata Farha membulat dengan sempurna ketika Alesya mengucapkan bahwa dirinya akan tetap menikah. Hal ini sangat tidak diinginkan oleh Farha yang menentang keras anak-anak menikah muda karena masa lalu dirinya yang teramat kelam dan menyakitkan.
"Alesya, Mama Nggak mau kamu nantinya seperti Mama, menyesal dikemudian hari karena terburu-buru menikah diusia yang masih muda."
"Cukup Ma, in syaa Allah itu nggak akan pernah terjadi sama aku, aku akan buktikan sama Mama bahwa menikah muda itu nggak salah, dan aku kan bahagia, bukan menderita."
Farha hanya dapat menganggukkan kepala dengan wajah kecewa karena anaknya yang seharusnya mengikuti perkatannya malah menentang dirinya mentah-mentah.
"Baik kalau memang itu keputusan kamu, tapi jangan harap Mama akan datang ke pernikahan kamu, dan jangan harap Mama akan menginjakkan kaki lagi dirumah ini, permisi."
Dengan air mata yang dihapusnya dengan cepat, Farha langsung pergi meninggalkan Alesya yang mematung dengan air mata mengalir diwajahnya setelah mendengar ucapan terakhir sang mamanya sebelum keluar dari rumahnya.
"Mama."
Alula mencoba menyusul sang Mama yang sudah keluar dari rumahnya bahkan sudah dibawa pergi oleh taxi yang dihentikannya. Dengan langkah lemas Alula masuk kedalam rumahnya lagi kemudian menyusul Alesya yang menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya yang diatas sedangkan Ayah dan Bunda masih pada posisi duduknya dengan sama-sama saling merenungi atas ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Farha.
"Mas, apakah pernikahan Alesya akan tetap dilaksanakan?"
"Iya Sayang, Alesya akan tetap menikah, walau tanpa persetujuan Farha."
"Tapi Mas, Mbak Farha adalah Ibu kandung Alesya, kita harus menghargai keputusan dia."
Ahyar pun menghela napas pelan kemudian memegang kedua pundak istrinya dan menatapnya dengan penuh cinta.
"Maa syaa Allah, terbuat dari apa sih hati istriku ini, aku beruntung sekali bisa memiliki kamu Sayang, perempuan yang berhati baik dan mulia."
"Mas, mulai deh gombalnya." Ucap Aiza dengan malu-malu.
"Lagian kamu masih saja memikirkan perasaan Farha yang jelas-jelas sudah menghina kamu Sayang, aku saja nggak terima kamu diseperti-itukan."
"Sudah Mas, aku nggak apa-apa kok, sekarang bukan saatnya membahas tentang itu, sekarang kita harus pikirkan bagaimana caranya agar Mbak Farha merestui Alesya untuk menikah."
Wajah Ahyar pun berubah serius seketika, sebenarnya ia malas untuk membahas yang berkaitan dengan mantan istrinya itu tetapi apa yang dikatakan istrinya ada benarnya, walau bagaimana pun mantan istrinya adalah ibu dari anak-anaknya jadi ia harus tetap menghargai keputusannya.
"Apa sebaiknya kita beritahu Afnan saja ya?, siapa tahu dia punya solusinya?"
Entah mengapa, tiba-tiba saja Ahyar kepikiran dengan Afnan, calon menantunya yang memang seharusnya tau tentang masalah ini, Aiza yang baru saja kepikiran juga langsung menyetujui pendapat suaminya untuk memberitahu sang calon menantu dengan niatan dapat memberikan solusi atas masalah tersebut.
∆∆∆∆∆
Alesya baru saja masuk kedalam kamarnya dan duduk ditepi ranjang sembari mengusap air matanya karena masih terngiang-ngiang ucapan mamanya tadi yang tidak menyetujui dirinya menikah bahkan tidak akan hadir dalam pernikahannya serta tidak akan menginjakkan kaki di rumah mereka lagi.
"Ya Allah aku nggak nyangka, sampai semarah itu Mama karena aku akan menikah dengan usia yang masih muda."
"Dik"
Alesya mengalihkan pandangan kearah ambang pintu kamarnya dimana terlihat Alula sedang melanglah menghampiri dirinya bahkan kini sudah duduk disampingnya.
"Dik, apa nggak sebaiknya kamu tunda dulu pernikahan kamu. "
Pandangan Alesya langsung tertuju kearah sang Kakak yang baru saja menyatakan pendapatnya untuk menunda pernikahannya.
Alesya menggeleng. "Nggak Kak, aku akan tetap menikah."
"Tapi Dik, Mama nggak merestui pernikahan kamu, atau setidaknya kamu menikah setelah lulus kuliah saja dulu, mungkin kalau seperti itu Mama akan merestui pernikahan kamu."
Alesya menggeleng lagi seakan tidak setuju dengan pendapat kakaknya yang menyuruhnya untuk menunda pernikahannya sampai ia lulus kuliah dengan alasan agar mama merestuinya.
"Nggak Kak, aku akan tetap menikah minggu depan, nggak ada hubungannya menikah dengan lulus kuliah, menikah itu nggak boleh ditunda-tunda apalagi kalau sudah ada calonnya."
"Tapi Dik, Mama melarang kamu untuk menikah karena ada alasannya, mama cuma nggak mau kamu menyesal nanti seperti Mama karena memutuskan untuk menikah muda."
Nyatanya Alula sependapat dengan mamanya yang menyalahkan menikah diusia muda, jelas ini membuat Alesya tak menyangka dan tidak habis pikir.
"Aku akan buktikan sama Mama ataupun sama Kakak, menikah muda itu nggak ada salahnya, yang salah itu orangnya."
Alula pun hanya dapat menghela napas jerah untuk menasehati sang adik yang masih dengan pendiriannya untuk tetap melangsungkan pernikahannya yang sudah satu minggu lagi.
∆∆∆∆∆
Kini dihadapan Ahyar dan Aiza sudah ada Afnan yang terheran-heran karena mereka menyuruhnya untuk datang ke rumah mereka, tetapi dengan rasa hormat yang akan selalu melekat didirinya, Afnan mencoba menepis rasa penasarannya dan menunggu kedua calon mertunya untuk membuka suara.
"Jadi begini Nak Afnan, kami menyuruh kamu datang ke rumah kami, karena ada yang ingin kami bicarakan."
Ahyar mulai membuka suara dengan dukungan Aiza yang tersenyum ke arahnya agar segera menceritakan apa yang terjadi kepada calon menantunya yang kini sudah duduk di hadapan mereka.
"Ini tentang Mama kandung Alesya."
Afnan pun semakin penasaran dibuatnya. Namun tak menjadikannya untuk membuka suaranya karena ia masih meninggikan rasa hormatnya kepada Ahyar untuk tidak memtong pembicarannya.
"Kemarin Mama kandung Alesya datang kesini dan dia nggak setuju Alesya menikah dengan alasan Alesya yang masih muda dan masih kuliah juga, Mama kandung Alesya takut nanti anaknya akan mengalami hal yang sama seperti dirinya di masa lalu, yaitu menyesal karena sudah menikah diusia muda, dan kami berharap kamu punya solusi dalam menghadapi permasalahan ini Nak Afnan."
"Iya Nak Afnan, kami berharap Mama kandung Alesya dapat merestui kalian untuk menikah, kami yakin kamu pasti bisa membahagiakan Alesya."
Kini Ahyar dan Aiza memasrakan semuanya kepada Afnan dan berharap Afnan mempunyai solusi dalam memecahkan masalah ini dan juga berharap Farha dapat menyetujui serta merestui Alesya untuk menikah.
__ADS_1
"In syaa Allah semua akan baik-baik saja, Bapak dan Ibu tidak usah khawatir, saya akan menyelesaikan semuanya."
Akhirnya Ahyar dan Aiza dapat bernapas lega ketika Afnan bersedia untuk membantu mereka mencari solusi dalam menghadapi masalah ini, mereka pun semakin yakin bahwa Afnan adalah laki-laki yang dapat dipercaya, anak mereka pasti akan bahagia dengan pernikahannya nanti.
^^^^^
Tok... tok... tok...
Seorang laki-laki tampan nan masih muda sedang mengetok pintu rumah yang tertutup dengan rapat.
Selang beberapa menit terdengar suara kunci yang diputar dan pintu pun terbuka menampilkan seorang perempuan cantik dengan pakaian fasionablenya, dialah Farha.
"Kamu siapa?"
"Perkenalkan saya Afnan, saya calon suaminya Alesya."
Mendengar jawaban terakhir laki-laki tampan yang tak lain adalah Afnan membuat Farha naik pitam dan menutup pintunya kembali tetapi gagal karena Afnan sudah lebih dulu menahannya sekuat tenaga.
"Mau apa kamu datang ke rumah saya?, kalau kamu hanya ingin membahas tentang pernikahan Alesya, maaf saya nggak ada waktu."
"Tunggu dulu Bu, saya datang ke sini untuk berbicara sama Ibu."
"Saya nggak ada waktu."
Dengan cepat Farha langsung menutup pintunya dan berhasil karena Afnan yang tidak sempat menahannya lagi.
"Siapa?"
Kedua bola mata Farha melotot dengan sempurna setelah membalikkan badan dan mendapati sosok laki-laki yang lebih tua darinya dengan wajahnya yang bule sudah berdiri dihadapannya dan menanyakan tamu yang berkunjung ke rumah mereka.
"Bukan siapa-siapa." Jawab mama Farha dan berlalu meninggalkan suaminya yang sepertinya penasaran dengan orang yang sedang bertamu.
Kreggg
Pintu yang tadinya tertutup kini terbuka kembali, Afnan langsung membalikkan badannya dan melihat sosok laki-laki dengan paras bulenya tengah tersenyum kearahnya.
Afnan pun melangkah menghampirinya dengan membalas senyumannya.
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam, maaf ingin bertemu siapa?"
"Saya ingin bertemu dengan Ibu Farha."
Laki-laki berwajah orang luar Indonesia itu yang tak lain adalah suami Farha sekaligus Papa tiri Alesya tersenyum begitu tulus dan langsung merentangkan satu tangannya di depan pintu rumah yang terbuka lebar untuk mempersilahkan Afnan masuk kedalam rumahnya.
"AyO masuk."
Farha yang baru saja akan menaiki tangga langsung berbalik badan dan melihat kearah ruang tamu dimana sang suami sudah bersama Afnan, laki-laki yang tadis sempat ia usir.
"Papa, what are you doing?"
Kini Farha sudah berada disamping suaminya dengan tatapan tajam kearah Afnan yang sudah menduduki dirinya di sofa.
"Mama tolong ambilkan minuman untuk tamu kita ya."
Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Papa tiri Alesya justru menyuruh Farha mengambil minuman untuk Afnan, akhirnya dengan berat hati mama Farha menuju dapur.
"Mohon maaf sebelumnya kamu siapanya istri saya?, kenapa ingin bertemu dengan istri saya?"
Suami Farha itu penasaran dengan kehadiran Afnan yang ingin bertemu sekaligus berbicara dengan istrinya sendiri.
"Perkenalkan nama saya Afnan, saya calon suaminya Alesya."
"Oh, jadi kamu calon suaminya anak tiri saya Alesya, lho memangnya Alesya akan menikah?, kenapa saya tidak tahu."
Belum sempat Afnan menjawab pertanyaan dari calon Papa iparnya itu, Farha datang dengan membawa secangkir minuman untuknya lalu duduk di samping suaminya yang sepertinya sangat ramah dengan Afnan.
"Mama tadi kok bilang bukan siapa-siapa, ini calon menantu kita, jauh-jauh dari Indonesia ke sini mau ketemu Mama katanya, dan kenapa Mama nggak memberitahu Papa kalau Aleysa mau menikah?"
Kepala Farha mau pecah rasanya mendengar pertanyaan suaminya yang sangat menunggu jawaban dari dirinya, jika saja yang di hadapannya itu bukan suaminya mungkin Farha sudah menumpahkan emosinya.
"Mau apa kamu ke sini?"
Lagi-lagi Farha enggan untuk menjawab pertanyaan dari suaminya dan malah mempertanyakan kehadiran Afnan ke Singapura lebih tepatnya ke rumahnya.
"Saya datang ke sini ingin meminta restu sama Ibu untuk menikahi Alesya, putri Ibu."
Farha langsung menampakkan wajah dengan tatapan sinis kearah Afnan yang tidak sanggup menatap tatapan tajamnya.
"Saya nggak merestui anak saya menikah muda, titik."
Papa tiri Alesya yang terkejut dengan pernyataan istrinya itu langsung mengalihkan pandangan kepada istrinya yang sedang mengatur napas untuk menahan emosinya yang sebenarnya sudah siap meledak.
"Kenapa Mama nggak merestui Alesya untuk menikah?"
"Papa masih tanya kenapa?, Papa lupa dulu Mama sudah cerita kan masa lalu Mama yang menyakitkan itu, Mama nggak mau anak-anak Mama merasakan sakit yang mama rasakan, Mama nggak mau itu."
Akhirnya Lapa tiri Alesya pun mengerti akan alasan istrinya yang tidak merestui Alesya untuk menikah diusianya yang masih muda.
"Ibu saya benar-benar serius ingin menikah dengan Alesya, in syaa Allah saya akan berusaha untuk membahagiakan Alesya dan saya juga akan berusaha untuk tidak akan pernah membuatnya sedih."
"Tapi saya nggak ingin anak saya buru-buru menikah, dia masih kuliah, lagian kamu juga masih kuliah kan?, mau diberi makan apa anak saya kalau menikah sama kamu yang belum punya penghasilan."
Afnan hanya tersenyum simpul setelah mendengar ucapan terakhir ibu kandung calon istrinya itu yang mempertanyakan mau diberi makan apa Alesya jika menikah dengan dirinya yang katanya belum berpenghasilan.
"Mohon maaf Ibu, kalau masalah rezeki saya tidak bisa menjanjikan Alesya akan makan setiap hari, karena hanya Allah yang mengatur rezeki hambaNya, tapi saya akan berusaha untuk mencari rezeki yang halal untuk Alesya agar bisa makan."
Kali ini jawaban Afnan yang begitu tulus itu mampu membuat Papa tiri Alesya terketuk hatinya tetapi tidak dengan Farha yang masih pada pendiriannya, walau sebenarnya ia mengakui kebenaran ucapan Afnan.
"Apa yang kamu punya sekarang untuk membahagiakan anak saya?, karena modal cinta saja nggak akan membuat kenyang."
Farha masih belum sepenuhnya puas atas jawaban yang baru saja Afnan ucapkan sehingga ia menanyakan kembali apa yang Afnan punya sekarang untuk membahagiakan putri bungsunya itu.
"Saya tidak punya apa-apa Bu, semua yang di dunia ini hanya titipan Allah saja, tapi Alhamdulillah Allah menitipkan cafe dan butik untuk saya kelola, dari sanalah saya diberikan rezeki oleh Allah, dan semoga nantinya saya dapat menafkahi calon istri saya, Alesya."
Farha tertegun sejenak ketika mendengar jawaban Afnan selanjutnya, rasanya sudah cukup pertanyaan untuk Afnan yang dengan mudahnya meyakinkan dirinya atas jawabannya itu. Papa tiri Alesya pun tersenyum kearah istrinya seakan mengisyaratkan untuk merestui Alesya menikah dengan laki-laki yang berada dihadapan mereka.
"Sekali lagi saya meminta restu sama Ibu dan Bapak, tolong restui saya untuk menikah dengan Alesya."
Farha masih belum bisa berkata apa-apa tetapi sang suami terus mendesaknya untuk merestui anaknya menikah.
"Saya, saya restui kalian menikah."
Rasa bahagia langsung menyelimuti hati Afnan setelah mendengar bahwa calon mertuanya sudah merestui dirinya untuk menikah dengan Alesya. Rasa syukur juga tak luput Afnan panjatkan karena ini semua berkata campur tangan Allah sehingga calon mertua itu luluh dan akhirnya memberikan restu.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Jangan lupa Vote dan komentarnya
Yah Readers!🙏
See you in next chapter
__ADS_1
❤❤❤