Takdir Terindah

Takdir Terindah
Terpaksa Mengalah


__ADS_3

Jika tulus mencintai


Tidak akan saling menyakiti


Dan saling mengalah


Agar tetap bahagia


~Takdir Terindah~


Ukhfira


~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~


Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah


Selamat membaca


Semoga suka


🌻🌻🌻


Alesya pikir dengan dramanya kemarin yang merajuk kepada Afnan akan membuat Afnan luluh lantah dan menuruti keinginannya untuk tidak menerima tawaran kerja sama itu. Tapi ternyata Afnan malah mencari dukungan kepada Mami dan Papinya yang kini sedang di rumah mereka. Bahkan Izma sudah di depan mata Alesya. Berbicara empat mata dengannya.


"Alesya, Mami mengerti perasaan kamu, Mami juga kalau ada di posisi kamu, pasti akan bersikap seperti kamu sekarang ini."


Alesya bingung. Mami mertuanya ini sebenarnya berpihak kepada siapa. Tadi Alesya tidak sengaja mendengar bahwa Izma dan Zawir mendukung penuh keputusan yang diambil Afnan. Tetapi kini mami Izma malah berpihak pada Alesya.


"Tapi, ini kan demi masa depan kalian, Afnan pergi ke Australia bukan untuk berlibur tapi untuk mengejar rezeki Arsya dan Arsy."


Alesya menghela napas kesal. Seharusnya tadi dia jangan senang dulu. Izma tidak berada dipihaknya. Ucapan tadi hanya kata pengantar saja. Dan sebenarnya Izma memang berpihak kepada Afnan. Wajar saja Afnan kan anaknya sementara Alesya hanya menantunya saja. Mana mungkin Izma akan berpihak kepada Alesya. Tetapi itu menurut Alesya saja. Padahal Izma berpihak kepada Afnan karena alasan yang kuat. Justru seharusnya Alesya juga berpihak kepada Afnan bukan malah membuat pihak baru. Karena ini tentang masa depan mereka. Tentang masa depan anak-anak mereka.


Izma menggenggam punggung tangan Alesya. "Alesya, tolong kamu izinkan Afnan untuk pergi ke Australia ya, Mami mohon, ini demi masa depan kalian, setidaknya kamu pikirkan Arsya dan Arsy, anak kalian."


Alesya beranjak dari duduknya. Berdiri menatap pemandangan diluar melalui kaca jendela kamarnya. "Maaf Mami, aku nggak bisa mengizinkan Afnan ke Australia, justru bukan karena aku egois, tapi karena aku memikirkan Arsya dan Arsy, kalau Afnan pergi Arsya dan Arsy akan kehilangan sosok Ayah mereka. Seharusnya disaat-saat seperti ini aku dan Afnan ada disamping mereka, disamping Arsya dan Arsy."


Izma kembali menghampiri Alesya. Tentunya dengan wajah yang masih berhiaskan senyuman. Sementara wajah Alesya sudah telihat sebal dan kesal. Bukan maksud Alesya ingin menampakkan kekesalannya di depan Mami mertuanya. Tetapi Alesya sudah tidak bisa menutupi rasa kesalnya itu.


"Alesya, suami kamu berkewajiban mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya. Biarkan dia pergi untuk mencari nafkah. Sudah seharusnya laki-laki ke luar rumahnya untuk mencari nafkah, kamu tidak boleh melarangnya, karena dia ingin bertanggung jawab atas kewajibannya."


Alesya terdiam sejenak. Meresapi ucapan Izma satu persatu. Hingga akhirnya Alesya kembali membuka suara. " Maaf Mami, tapi kan nggak harus ke Australia, apa lagi bisnis Afnan di Indonesia kan sudah alhamdulillah sukses, jadi sebaiknya Afnan fokus saja sama bisnisnya di Indonesia, nggak usah ke luar negeri."


Akhirnya Izma mengetahui karakter sesungguhnya dari menantunya yang satu ini. Jika sudah bilang A, pasti A tidak mungkin bisa B. Meskipun sudah dibujuk berulang kali. Namun bukan berarti Izma menyerah begitu saja. Juga bukan berarti Izma ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Tetapi sebagai seorang Ibu yang sudah lebih dulu menginjakkan kakinya di dunia sudah pasti Izma tahu mana yang terbaik diantara yang baik. Termasuk dalam urusan yang satu ini.


"Alesya, bukan Afnan yang ingin ke luar negeri, tapi Allah yang menyuruh Afnan mencari rezeki sampai ke luar negeri. Percaya sama Mami ini semua demi yang terbaik untuk masa depan kalian. Afnan hanya pergi 3 bulan saja kok, bukan untuk selamanya. Jadi anak-anak kalian akan tetap mendapatkan kasih sayang sosok seorang Ayah, karena Afnan akan kembali lagi, bersama kamu dan anak-anak kalian."


Izma mencukupkan ucapannya. Dia sudah berusaha mengingatkan Alesya. Semua keputusan tetap ditangan Alesya. Yang terpenting Izma sudah menjalankan kewajiban sebagai seorang Ibu yang selalu memberikan arahan serta nasihat untuk anak dan menantunya.


Dilema, saat ini Alesya sungguh dilema. Izma sudah membuatnya merombak kembali pikiran di otaknya. Keputusan mana yang akan Alesya ambil. Alesya benar-benar dilanda kebingungan. Dia membutuhkan satu pencerahan lagi untuk memantapkan keputusannya. Dia membutuhkan percerahan dari kedua orang tuanya. Untuk masalah ini Alesya harus melibatkan Ayah dan Bundanya. Jika Afnan saja bisa melibatkan kedua orang tuanya maka Alesya juga harus melibatkan kedua orang tuanya. Agar adil!.


βˆ†βˆ†βˆ†βˆ†βˆ†


Alesya benar-benar melibatkan kedua orang tuanya. Melibatkan Ayah dan Bundanya yang kini sudah duduk dihadapannya. Lebih tepatnya Alesya yang datang ke rumah mereka. Masalah izin. Sebagai seorang istri Alesya wajib meminta izin kepada Afnan untuk keluar rumah. Afnan pun mengizinkannya namun Alesya tidak memberitahu alasannya secara gamblang. Dia hanya beralasan rindu kepada Bunda dan Ayahnya. Afnan juga mengizinkannya agar Alesya bisa berpikir dengan jernih hingga akhirnya mengizinkan Afnan pergi ke Australia demi kehidupan mereka dimasa depan.


"Tenang Lesya kamu tidak sendiri, Ayah juga tidak setuju jika Afnan pergi ke Australia."


Alesya terkejut. Rasa bahagia memenuhi rongga hatinya. Akhirnya ada juga yang berada dipihaknya. Dan ternyata Ayahnya sendiri yang mendukung keputusannya. Syukurlah.


"Jazakallah khoiron Ayah."


"Wa jazakillah khoiron Nak."


"Mas kamu serius?, tapi kan-"


Ahyar beralih menatap Aiza yang duduk di sebelahnya. "Bun, Lesya benar, tidak seharusnya Afnan pergi meninggalkan istri dan anak-anaknya. Apa lagi hanya untuk urusan pekerjaan."


Aiza terdiam meski hatinya sempat tidak setuju akan keputusan yang diambil suaminya. Entah mengapa Aiza merasa keputusan yang diambil Afnan itu benar. Lagi pula Afnna bukannya pergi untuk waktu yang lama. Hanya 3 bulan saja setelah itu dia akan kembali. Aiza tidak bisa berdiam diri saja dia harus bicara dengan suaminya. Namun tidak sekarang. Karena Aiza menghargai perasaan Alesya.


"Lesya, sekarang kamu pulang saja dulu, kamu bersikap saja seolah-olah kamu mengizinkan Afnan untuk pergi ke Australia, nanti Ayah sama Bunda akan ke rumah kalian, dan Ayah pastikan Afnan tidak akan bisa pergi ke Australia, kamu tenang saja in syaa Allah Ayah akan membantu kamu untuk mencegah Afnan pergi."


Alesya senang sekali Ayahnya begitu mengerti akan perasaannya saat ini. Tidak seperti suaminya yang menurutnya egosi sekali. Tetapi Afnan tetap suaminya. Alesya harus bersikap baik terhadapnya. Yang jelas perasaan Alesya sudah lebih tenang dari sebelumnya. Meskipun terbesit tanya di hatinya, apa yang akan Ayahnya lakukan untuk mencegah Afnan pergi?, dan apakah nantinya Afnan benar-benar tidak jadi pergi?. Entahlah yang terpenting saat ini Alesya harus berpikir positif dan mempercayai laki-laki terhebat sekaligu cinta pertamanya, siapa lagi jika bukan sang Ayah.


"Mas, maksud kamu tadi apa?, kenapa kamu membela Alesya?, Mas, Afnan itu pergi hanya 3 bulan saja nanti juga akan kembali lagi. dan itu untuk masa depan Alesya juga."

__ADS_1


Setelah Alesya benar-benar kembali ke rumahnya. Aiza mengeluarkan isi hatinya yang sama sekali tidak setuju dengan jalan pikiran suaminya kali ini. Bukan bermaksud tidak sopan hanya saja sebagai seorang istri Aiza wajib menegur jika suaminya berbuat salah.


Dengan tenangnya Ahyar tersenyum kearah Aiza seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Bunda tenang saja, Ayah nggak membela Alesya kok, tapi Ayah membela mereka berdua. Ayah tahu apa yang harus Ayah lakukan. Mereka berdua adalah anak dan menantu Ayah, jadi biar adil Ayah akan membela keduanya."


Aiza masih tidak mengerti sebenarnya apa yang ada dipikiran suaminya itu. Apa iya, dia membela Alesya dan Afnan?, tetapi tadi dia bilang setuju dengan keputusan Alesya. Bukankah berarti dia tidak setuju dengan keputusan Afnan. Ya sudahlah Aiza tidak perlu khawatir lagi. Toh suaminya juga sudah menyuruhnya untuk menenangkan dirinya. Itu berarti suaminya dapat mengatasi masalahnya yang terjadi ditengah-tengah anak dan menantu mereka.


βˆ†βˆ†βˆ†βˆ†βˆ†


Usai pulang dari masjid. Afnan bukannya berganti baju melainkan dia menghampiri Alesya yang sedang duduk di ruang keluarga sambil mengawasi si kembar yang anteng di box bayinya.


"Einy, kamu mengizinkan aku pergi ke Australia kan?"


"Ini demi masa depan kita, masa depan anak-anak kita"


"Aku cuma sebentar kok, aku janji setelah semuanya beres aku akan langsung pulang"


"Einy, kamu mengizikan kan?"


Alesya menghela napas. Afnan mencecar Alesya habis-habisan. Sampai Alesya tidak tahu harus menjawab apa. Ditambah lagi tadi ayah Ahyar bilang jika Alesya bersikap saja seolah-olah mengizinkan Afnan untuk pergi ke Australia.


Alesya tersenyum tipis. Afnan langsung memeluknya dengan erat sambil mengucapkan terima kasih karena Alesya sudah mengizinkannya pergi ke Australia untuk mewujudkan impiannya.


"Alhamdulillah aku senang kalau kamu setuju, berarti besok aku akan memberikan surat kontrak itu kepada Pak Alex dan Pak Mifzal. Oh ya Einy tadi aku ditelpon sama Pak Mifzal katanya kalau aku setuju, aku akan berangkat satu minggu lagi."


Alesya terkejut. "Satu minggu lagi?." Tanya Alesya memastikan kembali apa yang dia dengar.


"Iya Einy satu minggu lagi." Jawab Afnan sangat antusias.


"Kamu tidak akan pergi kemana-mana Afnan."


Suara lantang seorang pria yang tidak asing hadir ditengah-tengah mereka. Afnan menoleh kearah datangnya suara tersebut.


Ahyar dan Aiza sedang berdiri di belakang Afnan dan Alesya. Mereka tiba-tiba saja datang tanpa memberitahu bahkan tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Afnan terkejut bukan main. Dia juga terkejut karena Ahyar mengatakan sesuatu kepadanya.


"Ayah."


"Mohon maaf Ayah dan Bunda datang secara tiba-tiba." Ucap Ahyar dengan wajah serius.


"Oh ya Afnan, Ayah sudah tahu tentang kerja sama itu."


"Dan Ayah nggak setuju kalau kamu pergi meninggalkan anak dan cucu-cucu Ayah." Ujar Ahyar dengan tenang namun ucapannya tegas.


"Ta-tapi Ayah-"


"Demi masa depan anak-anak kamu?, kamu mau bilang begitu?, iya?, seharusnya kamu jangan egois seperti ini, Alesya melarang kamu karena alasan yang kuat."


"Maaf Ayah, aku juga punya alasan yang kuat."


Ahyar menatap tajam ke arah Afnan "Alasan untuk mewujudkan impian kamu?, itu egois namanya."


Afnan mengusap wajahnya dengan kasar. Seolah-olah dia melampiaskan kekesalannya agar tidak berkata kasar ataupun marah-marah. Karena kemarahan hanyalah bisikan syeitan yang harus dihindari.


Ketegangan mulai terjadi diantara menantu dan Ayah mertua. Alesya terdiam. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Alesya hanya berharap semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Afnan cukup mahir mengolah emosinya agar tidak tumpah ruah. Dia hanya menarik napas kemudian menghembuskannya untuk meredam amarahnya. Afnan sadar diri bahwa saat ini dia sedang berhadapan dengan siapa. Pria paruh baya yang harus dihormati dalam keadaan apapun.


"Begini saja, kalau kamu tetap mengotot untuk pergi ke Australia, Ayah akan membawa pulang Alesya dan cucu-cucu Ayah. Buat apa mereka tinggal di rumah sebesar ini tanpa seorang suami dan seorang Ayah di sampingnya."


Afnan terkejut. Begitu juga dengan Alesya. Mereka berdua tidak menyangka Ahyar akan berbicara seperti itu. Aiza mengelus pundak suaminya agar tetap tenang dan tidak terbawa emosi.


"Ayah tidak marah Bun, Ayah hanya kecewa sama menantu Ayah yang satu ini."


Entah apa yang harus Afnan perbuat. Ayah mertuanya itu sudah melampau batas. Tidak seharusnya dia terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Alesya juga bukannya menasehati Ayahnya dia malah diam saja seolah-olah berpihak pada Ayahnya.


Dengan berat hati Afnan berucap. "Baik, jika memang itu keputusan Ayah, aku terima, dan aku akan tetap pergi ke Australia demi masa depan anak-anakku."


"Terserah."


Afnan mencoba menenangkan hatinya. Kemudian melenggang pergi untuk menghindar dari bisikan syeitan yang mulai mengusik ketenangannya.


"Alesya, kamu dengar sendiri kan apa yang suami kamu bilang tadi, mulai dari sekarang kamu bereskan barang-barang kamu, satu minggu lagi Ayah akan datang ke sini untuk menjemput kamu dan cucu-cucu Ayah."


"TA-tapi Ayah-"

__ADS_1


"Assalaamu 'alaikum."


Ahyar beserta Aiza pergi meninggalkan Alesya seorang diri yang tidak tahu harus berbuat apa. Menyusul Ayah dan Bundanya atau menyusul Afnan yang berada di kamarnya.


"Wa 'alaikumus salaam."


Akhirnya Alesya memilih untuk menyusul Afnan. Mencegahnya agar tidak pergi. Meskipun sebenarnya Alesya masih tidak mengerti atas keputusan Ayahnya. Tetapi saat ini Alesya harus mendatangi Afnan. Alesya tidak ingin ditinggal pergi oleh Afnan.


Sesampainya di kamar. Alesya menutup mulutnya rapat-rapat. Alesya tidak percaya bahwa saat ini Afnan sedang mengeluarkan semua baju-bajunya dari lemari kemudian dipindahkan ke koper yang tergeletak di atas ranjang.


Alesya memeluk tubuh Afnan dari belakang. Memeluknya dengan sangat erat seakan tidak ingin Afnan pergi meninggalkannya. Air mata terus menetes di wajahnya.


Afnan terdiam sejenak. Kemudian melepas sepasang tangan Alesya yang memeluk tubuhnya dari belakang. Afnan meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Alesya. Ditatapnya Alesya dengan lekat.


"Ja-jangan pergi Alby, aku mohon." Ucap Alesya disela-sela isakan tangisannya.


Afnan menggeleng pelan. "Aku harus pergi Einy, biarkan aku pergi ya."


Alesya semakin terisak dalam tangisannya bahkan dia sampai kesulitan untuk berbicara. Afnan langsung memeluknya memberikan ketenangan pada Alesya. Saat ini Alesya membutuhkan pelukannya. Pelukan yang menenangkan.


Alesya melepas pelukannya kemudian beralih menggenggam erat kedua tangan Afnan. "Aku mohon Alby, kalau kamu pergi itu artinya Ayah akan membawa aku dan anak-anak pulang ke rumahnya, kamu mau itu terjadi?"


"Aku nggak mau itu terjadi, tapi mau bagaimana lagi, keputusan Ayah sudah seperti itu. Einy kamu dengerkan aku ya, Ayah hanya membawa kamu dan anak-anak pulang ke rumahnya, bukan menyuruh aku untuk melepaskan kamu."


"Kamu tenang saja ya, setelah aku pulang dari Australia, aku janji in syaa Allah aku akan menyelesaikan ini semua, aku akan menjemput kamu dan anak-anak di rumah Ayah, dan aku akan memperbaiki hubungan aku sama Ayah."


Sebisa mungkin Afnan berusaha untuk meyakinkan Alesya. Meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Berat rasanya bagi Alesya menerima ini semua. Dia tidak sanggup harus berjauhan dengan Afnan. Ditambah lagi masalah baru menimpanya. Alesya telah berbuat salah. Dia yang membuat hubungan antara ayahnya dengan suaminya menjadi renggang. Tetapi mau bagaimana lagi. Dengan terpaksa Alesya harus mengalah. Mengalah demi cinta dan masa depannya.


βˆ†βˆ†βˆ†βˆ†βˆ†


1 Minggu Kemudian


Hari ini Afnan benar-benar akan pergi ke Australia. Alesya terus menangis dipelukan Afnan. Dari rumah sampai di bandara Alesya terus memeluk tubuh Afnan tak pernah terlepas sedetik pun bahkan Alesya mengabaikan bayi kembarnya yang sedang berada dalam dekapan Izma dan Ziva sementara Zawir hanya berdiri di sebelah istrinya dengan sesekali mengajak ngobrol Arsya yang sedang digendong Izma.


"Einy, sudah ya jangan menangis lagi, aku cuma pergi bentar kok, nggak lama."


Bukannya berhenti menangis, Alesya malah semakin jadi menangisnya. Afnan dengan sabarnya membelai lembut puncak kepala Alesya sembari berkali-kali mendaratkan ciuman di kepala Alesya yang terbalut khimar syarinya.


"Aku nggak mau kamu pergi Alby, nanti aku kesepian, nanti aku tidur sama siapa?, siapa yang mau mengelus-elus kepalaku nanti saat aku tidur."


Alesya terlihat sangat manja. Bahkan dia tidak memperdulikan reaksi Izma Zawir dan Ziva yang saling tersenyum memperhatikannya. Maklum saja namanya juga pasangan romantis sejagat raya.


"Untuk 3 bulan kedepan kamu harus bisa tanpa aku ya, kamu harus bersabar, in syaa Allah orang sabar disayang sama Allah."


"Alesya, kan masih ada kami, ada Mami, ada Papi ada Ziva, in syaa Allah nanti kami akan bergantian menginap di rumah kalian, kalau perlu setiap hari Mami akan selalu di samping kamu, biar kamu nggak merasa kesepian, ya."


Alesya hanya terdiam. Tidak merespon apapun atas ucapan Izma. Dia justru semakin mempererat pelukannya. Izma mengerti akan perasaan Alesya saat ini. Istri mana yang tidak menangis jika harus ditinggal suaminya meskipun hanya sebentar. Tetapi mau bagaimana lagi ini demi masa depan mereka.


Kini tiba waktunya Afnan pergi. Pesawat yang akan ditumpanginya akan segera terbang 15 menit lagi. Dengan sangat berat hati Afnan melepaskan pelukan Alesya yang akhirnya terlepas juga.


"Aku pergi dulu ya EinyΒ  jangan lupa sholat dan selalu doakan aku ya."


Alesya mengangguk pelan. Air matanya semakin deras mengalir.


Alesya memegang erat tangan Afnan mengisyaratkan agar Afnan tidak pergi. Ini sudah kesekian kalinya Alesya seperti itu Afnan hanya bisa tersenyum memperhatikan Alesya yang kedua matanya sudah sembab akibat terus menangis.Β 


"Mami, Papi, Zizi aku pergi dulu ya, titip Alesya dan si kembar."


Izma, Zawir dan Ziva saling menganggukkan kepala mengizinkan Afnan untuk pergi dari kehidupan mereka untuk sementara waktu.


Afnan melepaskan tangan Alesya dari lengannya. Berulang kali Alesya menggeleng. Berulang kali juga Afnan tersenyum kepadanya.


"Yang sabar menunggu aku pulang ya, aku mencintaimu."


Alesya terdiam. Meratapi kepergian Afnan yang saat ini sudah melangkah kedepan meninggalkan Alesya yang seketika tangisnya pecah.


"Alby. "


"Alby, jangan pergi, hiks hiks hiks."


Izma langsung menghampiri Alesya setelah memberikan Arsya kepada Zawir. Alesya menangis dipelukan Izma sembari menatap ke depan melihat sebuah pesawat berhasil take off dan mengudara di atas langit. Pesawat itu yang membawa Afnan pergi ke Australia.


Mulai detik ini Alesya harus kuat menjalani hidup tanpa Afnan di sisinya. Berat sekali tetapi Alesya harus menjalaninya. Alesya berharap waktu segera cepat berlalu agar dirinya bisa berkumpul lagi bersama Afnan, pria yang dicintainya karena Allah.

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2