
Jatuh cinta itu fitrah manusia
Ketika dirimu jatuh cinta
Dapatkanlah cinta itu
dengan cara yang halal
dekatilah dia dengan jalan taaruf
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu ya
Selamat membaca
Semoga sukaa
🌻🌻🌻
Sebuah mobil sedan dengan merk toyota camry berwarna silver sedang memasuki area perumahan elit yang berada di tengah-tengah ibukota jakarta, sekaligus berhenti didepan rumah mewah nan glamor yang berlantai dua, seorang satpam yang sepertinya sudah mengenali pemilik mobil tersebut membukakan pintu pagarnya dan mobil sedan tersebut memasuki halaman rumah tersebut.
Keluarlah pemilik mobil tersebut yang tak lain adalah Afnan sang pangeran kampus yang memiliki paras wajah tampan bak pangeran Arab.
Ia mulai memasuki rumah mewah tersebut yang pintunya sedang terbuka lebar, rumah dengan design interior dan aksen ala arab tersebut adalah milik keluarga Afnan dimana kedua orang tuanya khususnya Papinya adalah orang arab, jadi sudah dipastikan bahwa rumahnya bernuansa arab.
"Assalaamu 'alaikum, Papi, Mami."
Kini Afnan sudah berdiri di hadapan seorang laki-laki yang sudah berumur paru baya tetapi masih bertubuh gagah dengan wajah tampannya yang khas yaitu wajah ala orang arab sedang duduk santai didepan TV bersama sang istri yang terlihat cantik nan anggun dengan hijab syarinya yang panjangnya menutupi dada.
Melihat keromantisan kedua orang tuanya yang tak pernah pudar itu cukup membuat Afnan geleng-geleng kepala sembari tersenyum.
"Wa 'alaikumus salaam."
Sang Mami yang tadinya sedang mengelus-elus kepala sang suami yang tengah berbantal dipahanya itu langsung tersenyum melihat sang putra sulung kini sudah berdiri dihadapan mereka, sedangkan sang Papi malah tambah menampakkan keromantisannya dengan mencium punggung tangan istrinya yang tadi sedang mengelus lembut pucuk kepalanya itu.
"Ini ni yang buat Afnan nggak betah di rumah, bikin iri saja Papi sama Mami nih, kok Zizi betah sih tinggal disini."
"Papi Sayang ayo bangun dulu, itu Putra sulung kita sudah disini, masa dicuekin."
Dengan malas Sang Papi yang bernama lengkap Zawir Wadihan, langsung bangun dari tidurnya kemudian memberikan punggung tangannya untuk dicium oleh sang putra yang kini sudah hidup mandiri.
"Afnan, kamu ganggu Papi sama Mami saja, hari libur kan enaknya berduaan sama Mami Sayang."
Sang Mami yang bernama lengkap Izma Hazimah sukses dibuat malu oleh suaminya, bagaimana tidak walaupun sudah tidak muda lagi tapi cinta suaminya itu seakaan tidak pernah lekang oleh waktu, buktinya mereka berdua bagaikan pengantin baru saja padahal sudah 24 tahun lebih menikah, dan kini anak mereka sudah satu pasang yaitu laki-laki dan perempuan yang sudah duduk dibangku kuliah.
"Ya sudah kalau begitu Afnan keatas saja deh ketemu sama Zizi, daripada disini malah jadi obat nyamuk."
Papi Zawir pun terkekeh ketika melihat sang putra sudah nyelonong menaiki anak tangga, sedangkan Mami Izma sukses mencubit kecil lengannya akibat ulahnya yang selalu saja membercandai sang putra.
"Assalamu 'alaikum Adikku yang cantik."
Ziva yang tadinya sedang sibuk melihat-lihat koleksi scraf dagangannya di handponenya dibuat kaget dan hampir saja meloncat dari ranjangnya karena kehadiran sang Abang yang tiba-tiba itu.
"Astaghfirullahal adzim, Bang Af, kebiasaan deh suka nyelonong masuk kamar orang, untung Zizi nggak jadi loncat."
Omelan Ziva diabaikan mentah-mentah oleh Afnan yang kini sudah duduk ditepi jarang tepat dihadapan sang adik yang sudah terbangun dari posisi tidurnya.
"Zi."
"Hm."
"Abang minta alamat rumahnya Alesya dong."
"Seirus Bang?." Tanya Ziva dengan girangnya bahkan kini sudah berpindah duduk lebih dekat dengan Abang satu-satunya itu.
"Iya serius, niatnya hari ini Abang mau bertamu ke rumahnya."
"Lho memang Bang Af sudah memberitahu Papi sama Mami kalau mau melamar Kak Alesya?"
"Kok sudah mau melamar sih?, ta'aruf dulu lah Zi, bisa kaget Alesya kalau Abang langsung datang melamar, secara kita kan belum ta'arufan."
Ziva pun terkekeh ketika Sang Abang tersentak mendengar ucapan ngasalnya itu yang mengira bahwa dirinya langsung datang melamar padahal belum ke tahap itu.
"Ya Zizi kira Bang Af mau langsung melamar Kak Alesya, secara kan Zizi sudah nggak sabar ingin Kak Alesya cepat-cepat jadi Kakak ipar Zizi."
"Kamu saja sudah ngebet Zi, apalagi Abang tambah ngebet nih, mana Papi sama Mami tambah mesra lagi, aduh harus ekstra sabar ini."
Ziva yang mendengar curhatan sang abang tentang keromantisan yang diciptakan oleh Papi dan Maminya itu dibuat tertawa cekikikan, pasalnya memang dari dulu Papi dan Mami selalu beromantis ria baik dihadapan sang anak maupun tidak, dan mungkin ini salah satu alasan Afnan untuk hidup mandiri supaya tidak tersiksa melihat pasangan halal selalu beromantis ria walaupun pasangan halal tersebut adalah kedua orang tuanya sendiri.
"Bang Af, Bang Af, seperti nggak tahu Papi sama Mami saja, mereka kan selalu mesra dimana pun dan kapan pun, tapi kita harus bersyukur lho Bang punya Papi dan Mami yang masih saja tetap mesra walaupun sudah nggak muda lagi, hehehe"
"Iya Zi, benar apa kata kamu, semoga saja nanti Abang bisa seperti Papi dan Mami, selalu romantis dengan istri Abang"
"Aamiin, buruan nikah sana."
^^^^^
Tok... tok... tok...
Suara ketokan pintu dari luar sukses membuat keluarga kecil yang sedang menghabiskan waktu liburnya dengan menonton TV bareng di ruang keluarga itu saling berpandangan dan saling berekspresi penuh tanya.
"Sana Dik tolong bukakan pintu, ada tamu tuh."
"Iya-iya."
Daripada bertengkar tidak ada ujungnya, apalagi hanya masalah sepele, akhirnya mau tidak mau Alesya mengalah dan segera beranjak untuk membukakan pintu yang sedang diketok-ketok.
Kreggg
Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok Alesya yang kaget bukan main ketika melihat seorang laki-laki tengah berdiri dibalik pintu yang baru saja ia buka.
__ADS_1
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa-wa 'alaikumus salaam." Pekik Alesya dengan wajah kebingungan.
Kedua bola mata Alesya membulat dengan sempurna ketika melihat laki-laki yang selama ini selalu merusak moodnya dan selalu buat masalah kini sedang berdiri dihadapannya lebih tepatnya sedang bertamu ke rumahnya.
Yah, Afnan kini sudah berdiri dihadapan Alesya dengan senyuman manis yang sudah mengembang diwajah tampannya.
"Maaf kamu pasti salah alamat kan, kalo begitu saya tutup lagi pintunya."
"Tunggu sebentar Alesya."
Pintu yang tadinya mau Alesya tutup akhirnya dibuka lagi, bahkan Alesya sempat kaget ketika Afnan menyebut namanya, darimana dia tahu?, padahal setahu Alesya mereka tidak saling kenal sebelumnya.
"Maaf, kamu tahu nama saya dari mana?, saya nggak kenal sama kamu."
Wajah Alesya sudah mulai menampakkan ketidaksukaannya atas kehadiran Afnan ditambah lagi Afnan ternyata mengetahui nama dirinya.
"Boleh saya bertemu dengan kedua orang tua kamu?"
Bukannya menjawab pertanyaan yang Alesya lontarkan, justru Afnan meminta izin untuk bertemu dengan kedua orang tua Alesya.
Aneh, mungkin kata itu yang kini sedang bersarang dibenak Alesya. Bagaimana tidak laki-laki yang selalu membuat Alesya kesal kini berada dihadapannya, ingin sekali ia membanting pintu dengan sekeras-kerasnya agar laki-laki menyebalkan itu enyah dari pandangannya, tetapi ia masih dapat mengontrol emosinya agar tidak berdampak ke hal-hal negatif yang sudah dibisikkan oleh syeitan tepat dikedua telinganya.
"Untuk apa bertemu dengan kedua orang tua saya?, atau kamu rekan kerja Ayah saya?"
Hanya sebuah senyuman yang Alesya dapatkan, benar-benar menguras kesabaran bagi dirinya menghadapi laki-laki tebar pesona seperti Afnan.
"Lesya."
Mendengar namanya dipanggil, Alesya menoleh kearah belakang dan kini sang Ayah sudah berada disampingnya sembari menatap kearah Afnan yang hanya dapat tersenyum ramah kepada laki-laki terhebat bagi putrinya.
"Lho Lesya, ada tamu kok nggak diajak masuk sih, mari silahkan masuk."
Dengan sangat ramah Ahyar mempersilahkan Afnan untuk masuk kedalam rumah mereka, sedangkan Alesya main nyelonong masuk ke dalam rumahnya duluan dengan menggerutu nggak jelas.
"Siapa yang bertamu Dik?" Tanya Alula yang ingin tahu sekali siapa yang sedang bertamu ke rumahnya itu.
"Temannya Ayah mungkin." Jawab Alesya ngasal.
"Oh ya?, siapa Sayang?"
Bunda Aiza pun dibuat penasaran ketika Alesya menjawab bahwa yang bertamu teman dari ayahnya, padahal bukan.
"Nggak tahu Bun, Alesya nggak kenal."
Aiza pun beranjak dari tempat duduknya dan bergegas ke dapur untuk membuatkan secangkir teh. Lalu bergegas menuju ruang tamu untuk dihidangkan.
"Mari silahkan diminum dulu." Ucap Aiza yang tak kalah ramahnya kepada Afnan yang hanya dapat tersenyum ramah.
"Bun, tolong panggilkan Lesya ya, suruh kesini."
"Iya Ayah, tunggu sebentar ya."
Bunda Aiza pun kembali masuk kedalam lebih tepatnya ke ruang keluarga dimana Alesya kini sudah fokus kembali menonton tv bersama Alula.
"Lho, untuk apa Bun?"
Aiza hanya dapat mengedikkan kedua bahunya, sedangkan Alula langsung mengalihkan pandangannya kepada Ibu dan anak yang kini sedang ngobrol singkat.
"Memang tamunya siapa Bun?, kok Alesya disuruh kesana?, atau sebenarnya tamunya itu pacar kamu ya Dik?, kamu ketahuan pacaran ya sama Ayah, ayo ngaku."
"Kaka bicara apa sih?, siapa yang pacaran sih, pacaran itu kan dosa."
"Ya siapa tahu kamu khilaf."
"Sudah-sudah, Alesya ayo ikut Bunda kita ke ruang tamu, sudah ditunggu sama Ayah."
Dengan langkah malas, Alesya akhirnya mau tidak mau ikut Bundanya menuju ruang tamu sedangkan Alula si tukang kepo mulai panik dan pesasaran karena ia tidak diajak ke ruang tamu, tetapi mau gimana lagi menguping bukan hobi Alula jadi dia melanjutkan menonton televisi dengan cemilan sudah berada didekapannya.
Kini Alesya sudah duduk ditengah-tengah Ayah dan Bundanya yaitu tepat dihadapan Afnan yang masih saja tersenyum dengan sesekali melirik kearah Alesya yang sepertinya tidak mau menoleh kearah Afnan.
"Perkenalkan nama saya Afnan, kedatangan saya kesini, saya ingin meminta izin kepada Bapak dan Ibu bahwa saya ingin..."
"Saya ingin berta'aruf dengan Alesya Faihanah, putri Bapak dan Ibu."
"Apa?" pekik Aleysa dengan kedua bola mata yang sudah membulat dengan lebar.
Bagaikan petir disiang bolong ketika mendengar penuturan Afnan yang terang-terangan meminta izin kepada kedua orang tua Alesya, bahkan Alesya tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya, jangankan keinginan Afnan untuk bertaaruf dengannya, laki-laki itu menginjakkan kaki di rumahnya saja masih seperti mimpi buruk baginya.
"Tapi kita nggak saling kenal."
Semua mata pun tertuju kepada Alesya yang sempat kebingungan karena baik Ayah Bunda dan laki-laki yang berada dihadapannya tersenyum geli setelah mendengar ucapannya barusan.
"Alesya Sayang,,, kalian kan memang belum saling kenal, makanya Nak Afnan kesini ingin berta'aruf sama kamu, kamu ini ada-ada saja."
Aiza pun mencoba menjelaskan kembali maksud dan tujuan Afnan datang ke rumah mereka, tetapi tetap saja Alesya merasa kebingungan dengan kedatangan Afnan yang secara tiba-tiba bahkan tanpa memberikan kode apapun.
"Tapi Bunda, dia mau ta'aruf sama Alesya pasti karena maksud tersembunyi."
Lagi-lagi ucapan Alesya terdengar lucu ditelinga Ayah dan Bundanya termasuk Afnan yang mencoba menahan tawanya ketika mendapat tatapan tajam dari Alesya.
"Lesya, kamu kok polos sekali sih, Nak Afnan datang kesini untuk berta'aruf sama kamu ya pasti ada maksudnya."
Kali ini Ahyar mencoba menjelaskam kembali kepada Alesya yang malah tambah dibuat tidak mengerti oleh kedua orang tuanya yang sepertinya sangat antusias sekali akan kedatangan Afnan.
"Baik, setahu saya taaruf itu adalah tahapan awal dalam sebuah rencana pernikahan, jadi apakah kamu datang kesini untuk tujuan mau..., mau menikahi saya?"
Sejujurnya Alesya tidak ingin mempertanyakan hal yang sama sekali tidak ingin ia tanyakan, tetapi jika tidak ditanyakan sekarang takutnya nanti ia malah menyesal dikemudian hari dan laki-laki itu benar-benar akan menikahinya dan itu sangat tidak diinginkan oleh Alesya.
"In syaa Allah saya memang berniat ingin menikahimu Alesya."
Alesya terkejut bukan main. Nyatanya laki-laki yang suka tebar pesona dengan ketampanannya itu berniat berta'aruf dengannya dengan maksud ingin menikahinya.
"Jadi bagaimana Lesya, kamu mau menerima ajakan taaruf dari Nak Afnan?"
__ADS_1
Pertanyaan Ayahnya itu lantas membuat Alesya seakan tersudutkan dan tidak tahu harus menjawab apa, ditambah lagi sepertinya kedua orang tuanya sangat menyukai Afnan, apalagi Afnan adalah laki-laki pertama yang berani datang ke rumahnya untuk bertaaruf dengannya ditambah lagi meminta izin kepada kedua orang tuanya, tidak diragukan lagi jika saat ini kedua orang tuanya sangat menunggu jawaban anggukan kepala darinya.
"Ya Allah bagaimana ini, kalau aku langsung menolak ta'aruf ini pasti Ayah sama Bunda nggak akan setuju karena mereka merasa laki-laki yang ingin berta'aruf dengan putrinya adalah laki-laki yang baik karena dia mengajak putrinya berta'aruf bukan berpacaran. Padahal sebenarnya dia bukan laki-laki yang baik yang hobinya suka tebar pesona kepada lawan jenis." Alesya pun dilema, antara menerima atau menolak.
Namun akhirnya Alesya kembali membuka suara "In syaa Allah, saya mau menerima ta'aruf ini." Ucap Alesya dengan satu helaan napasnya yang terasa berat.
"Alhamdulillah."
Dengan senyuman yang mengembang Afnan dapat bersyukur karena ajakannya untuk bertaaruf dengan Alesya diterima itu artinya tahapan awal untuk menikahi perempuan yang sholehah dimatanya berhasil ia raih.
Kegembiraan yang tiada tara bagi Afnan, tetapi tidak bagi Alesya yang sebenarnya tidak ingin menerima taaruf itu tetapi ntah mengapa mulutnya begitu mudah mengucapkan kata "iya".
"Tenang Alesya, ini hanya ta'aruf semata, kamu boleh menolaknya sesuka hatimu, lihat saja Pangeran Arab yang suka tebar pesona, kamu jangan senyum puas dulu karena aku, aku tidak akan melanjutkan ta'aruf ini, ketahap selanjutnya." Ucapnya dalam hati.
Alesya menampakkan wajah bahagianya seakan tidak terjadi apa-apa padahal ia sedang merencanakan sesuatu yang akan membuat Ayahnya tidak akan melanjutkan ta'aruf ini ketahap yang lebih serius.
"Dengan mengucapkan bismillahirrohmaanirrohiim acara ta'aruf kita mulai sekarang, silahkan Nak Afnan untuk memperkenalkan diri."
Ahyar selaku wali dari Alesya kini merangkap menjadi saksi ta'aruf antara Putrinya dengan laki-laki tampan yang masih muda yang kini sedang duduk dihadapannya.
"Baik saya akan memperkenalkan diri saya secara rinci, kepada Bapak dan Ibu, khususnya Alesya."
Afnan mengambil napas lebih dalam lagi, rasa nervous mulai menyeruak dalam benaknya, bagaimana tidak ia akan memperkenalkan diri kepada keluarga yang In Syaa Allah akan menjadi keluarganya juga nantinya, jika Allah meridhoi.
"Bismillahirrohmaanirrohiim."
"Nama lengkap saya Muhammad Afnan Rafisqy, umur saya 21 tahun, saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Jakarta dan saya kuliah di jurusan ekonomi syariah, mungkin itu sekilas tentang biodata saya."
"Sekarang giliran kamu Lesya." Ahyar mempersilahkan Alesya untuk memperkenalkan dirinya sebagaimana baru Afnan lakukan.
"Nama lengkap saya Alesya Faihanah, umur saya 20 tahun, saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Jakarta dan saya kuliah di jurusan pendidikan agama Islam."
Usailah Alesya memperkenalkan dirinya, masih dengan wajah datar Alesya mencoba menenangkan dirinya yang sebenarnya muak harus bersandiwara seperti ini, apalagi dihadapan laki-laki yang tidak pantas mendapat perlakuan baik darinya.
"Silahkan Nak Afnan, apakah ada yang ingin ditanyakan kepada Alesya?"
Ahyar memberikan kesempatan kepada Afnan untuk bertanya sesuatu hal kepada Alesya dimana pertanyaan tersebut menjadi salah satu kepentingan dalam berjalannya sebuah ta'aruf dadakan yang sedang mereka laksanakan.
"Saya ingin bertanya suatu hal, kalau boleh saya tahu apa alasan Alesya memilih pendidikan agama islam sebagai program studinya?"
Afnan memang sengaja mempertanyakan hal itu yang sebenarnya hal sepele dan tidak terlalu penting bagi Ahyar yang sudah keheranan dengan pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.
Sebelum datang ke rumah keluarga Alesya, tadi Ziva sang Adik dari Afnan sempat memberikan informasi suatu hal tentang Alesya yang berkaitan dengan proses taaruf mereka, yah Ziva menyuruhnya untuk menanyakan apa yang baru saja ia tanyakan kepada Alesya, karena Ziva mengatakan kepadanya bahwa jawaban Alesya tentang pertanyaan itu sempat membuat Ziva terkagum-kagum dan semoga saja Afnan juga akan merasakan hal yang sama dan semakin yakin untuk menjadikan Alesya sebagai istrinya.
"Alesya Sayang, ayo dijawab." Kali ini Aiza yang menyuruh Alesya untuk menjawabnya.
"Hm, alasan saya mengambil jurusan pendidikan agama Islam karena..., ya saya kan beragama Islam jadi ya saya ambil jurusan agama Islam masa agama lain, ada-ada saja yang ditanya."
Jawaban Alesya yang diakhiri dengan senyuman sinis itu refleks membuat Afnan menyambungkan alisnya seraya kebingungan, apakah ini jawaban yang membuat Ziva terkagum-kagum?
"Lesya, itu bukan alasan yang pernah kamu ucapkan sama Ayah dan Bunda, ayo ucapkan alasan yang sama seperti yang Ayah dan Bunda dengar dulu dari kamu."
Alesya hanya dapat menggigit bibir bawahnya setelah tertangkap basah telah memberikan jawaban yang ngasal, dan bodohnya lagi Alesya tidak bermain dengan cantik sehingga lupa bahwa dulu saat pertama kali ia mendaftar untuk kuliah ia sempat memberikan alasan kepada Ayah dan Bundanya mengapa dirinya mengambil jurusan pendidikan agama Islam.
"Lesya lupa Yah." Elaknya dengan wajah cengengesan dan amat polos.
Aiza membisikkan sesuatu tepat ditelinga Alesya sehingga membuat Alesya meneguk ludahnya dengan paksa setelah mendengar perkataan Bundanya yang lirih.
"Alesya, tolong kamu jangan berbohong sama Bunda, mungkin kamu bisa membohongi Ayah dan Afnan, tapi ingat Sayang kamu nggak bisa membohongi Bunda kamu."
Rasanya Alesya memang sangat jelek dalam mengatur siasat, sampai ia melupakan suatu hal lagi, dimana sang Bunda merupakan mahasiswi lulusan psikologi, jadi dengan mudahnya dapat membaca gelagat Alesya yang nyatanya memang sedang bersilat lidah.
"Ayah, alhamdulillah Lesya sudah ingat. Alasan saya mengambil prodi pendidikan agama Islam, karena saya ingin memperdalami agama yang saya anut yaitu agama Islam dan tentunya untuk masa depan saya, dimana nantinya saya akan menjadi seorang Ibu untuk anak-anak saya, jika saya tidak belajar ilmu agama, lantas bagaimana dengan nasib anak-anak saya nanti, saya ingin anak-anak saya menjadi anak-anak generasi Islam terbaik, makanya saya harus belajar dan memperdalami ilmu agama Islam, karena Ibu yang cerdas akan melahirkan anak yang cerdas, in syaa Allah."
Pernyataan yang tulus dalam hati Alesya rupanya tersambung ke hati Afnan yang sangat tersentuh sekali, apa yang dikatakan Ziva memang benar adanya, jawaban Alesya tersebut sukses membuat dirinya kagum sekaligus takjub, dan tentunya meyakinkan dirinya bahwa Alesya adalah perempuan yang tepat untuk mendampingi hidupnya. Dan Afnan sadar ia tidak hanya mencari seorang istri tetapi juga seorang ibu yang sholehah untuk anak-anaknya dimasa depan.
"Bagaimana Nak Afnan, apa ada yang ingin ditanyakan lagi kepada Alesya?"
Afnan pun menggelengkan kepala seraya tersenyum merespon pertanyaan dari Ayah Ahyar, ternyata satu pertanyaan sudah cukup membuat hati Afnan mantap untuk meneruskan taaruf ini kejenjang yang lebih serius tentunya.
"Kalau begitu, sekarang giliran Alesya yang menyampaikan pertanyaan kepada Afnan, silahkan Lesya."
Awalnya Alesya sempat bingung, karena otaknya benar-benar tidak bekerja dengan baik, disebabkan karena ia terlalu menyibukkan diri untuk berpikir bagaimana caranya agar Afnan tidak melanjutkan taaruf ini kejenjang selanjutnya, tetapi harapannya pupus sudah dan otaknya sudah tidak memikirkan apa-apa lagi.
"Hm, tidak ada yang ingin saya tanyakan."
"Lesya kamu serius Sayang?" Tanya Aiza yang masih mempertanyakan keseriusan Alesya yang tidak ingin bertanya apa-apa kepada Afnan.
"Begini saja, saya selaku Ayah sekaligus wali dari Alesya, saya ingin bertanya kepada Nak Afnan. Kira-kira apa alasan Nak Afnan melakukan ta'aruf ini mengapa tidak pacaran saja, seperti kebanyakan anak muda saat ini, mereka memilih berpacaran ketimbang bertaaruf?"
Sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh calon mertuanya itu, Afnan mencoba mengatur napasnya lalu mencoba mengukir senyuman yang membuat Alesya semakin kesal dibuatnya.
"Saya memilih jalan ta'aruf karena saya sadar, menikah adalah bentuk ibadah kepada Allah, jadi seharusnya diawali dengan jalan yang halal juga yang Allah ridhoi, dan pacaran adalah sebuah perbuatan zina yang Allah murkai, dan zina adalah dosa besar yang seharusnya dihindari, jadi mengapa harus mengambil jalan yang haram jika ada jalan yang halal."
"Maa syaa Allah."
Ahyar dan Aiza sama-sama mengucapkan kalimat tayyibah maa syaa Allah, yang mana jawaban Afnan sungguh membuat mereka kagum dan takjub sama halnya dengan Alesya yang ikut kagum dan takjub tetapi rasa kesalnya lebih besar ketimbang rasa kagumnya itu sehingga wajahnya hanya datar saja berbeda dengan Ayah Ahyar dan Bunda Aiza yang berbinar-binar mata mereka menatap Afnan yang masih saja dengan senyuman manisnya.
"Nak Afnan kami rasa sudah cukup kegiatan ta'arufnya, seminggu lagi datanglah ke rumah kami bersama kedua orang tuamu ya."
Pernyataan Ahyar barusan bukan hanya mengejutkan Afnan tetapi juga Alesya yang tak kalah kagetnya mendengar ucapan sang Ayah yang menyuruh laki-laki yang tidak diinginkan olehnya itu datang ke rumahnya seminggu lagi bersama kedua orang tuanya pula, apa iya dengan secepat itu Ahyar menyuruh Afnan untuk melamar putri bungsunya yang jelas masih berumur 20 tahun sekaligus masih berstatus sebagai seorang pelajar.
"In syaa Allah saya akan datang ke rumah ini lagi, bersama kedua orang tua saya untuk melamar Alesya Faihanah putri Bapak dan Ibu."
Afnan pun merasa bahagia sekali ternyata semesta mendukungnya dan sang calon mertua sudah memberikan lampu hijau kepada dirinya, berbeda hal dengan Alesya yang sudah berwajah merah menahan emosi karena ia benar-benar tidak menyangka dengan mudahnya sang ayah menyuruh laki-laki yang tidak baik dimatanya untuk melamar dirinya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Jangan lupa Vote dan komentarnya
Yah Readers
🙏🙏🙏
See you in next chapter
__ADS_1
❤❤❤
"Teruntuk kalian yang sedang membaca cerita ini, jadilah pembaca yang aktif ya, aktif beri bintang dan beri komentar, Percayalah jempol kalian adalah suntikan semangat bagi saya sebagai penulis pemula yang masih belajar merangkai kata untuk menjadi sebuah cerita"