
Jika ada suatu keinginan
Mintalah hanya kepada Allah
Yakinlah akan keajaiban sebuah doa
Sebab Allah pasti mengabulkan doa Hamba-Nya
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah
Selamat membaca
Semoga suka
๐ป๐ป๐ป
Afnan dan Shuwan yang sedang memakai baju toganya baru saja mengikuti acara wisuda mereka di gedung yang sudah disediakan, mereka pun keluar dari gedung tersebut dengan wajah yang berbinar-binar sama halnya dengan keluarga yang ikut serta menghadiri hari bahagia mereka.
"Alhamdulillah akhirnya putra Papi yang paling ganteng diwisuda juga."
"Iya Papi, Mami bangga sama putra kita ini."
"Ziva juga bangga banget sama Bang Af."
Itulah ucapan syukur serta bangganya anggota keluarga Afnan kepada Afnan atas keberhasilannya yaitu menyelesaikan kuliah S1 dengan lancar.
"Terima kasih Papi, Mami dan kamu Zi, ini nggak lepas dari doa kalian, aku sayang kalian."
Afnan pun membawa kedua orang tua serta adiknya kedalam pelukannya yang hangat.
"Al besok kita wisuda bareng ya seperti Kak Afnan sama Kak Shuwan."
Silmi yang ikut hadir dalam acara wisuda itu mengajak Alesya untuk wisuda bersama seperti yang dilihat mereka saat ini, sepasang sahabat yang lulus dan wisuda bareng. Alesya pun mengamini harapan sahabatnya yang juga menjadi harapannya, yaitu sukses bersama-sama.
Usai menyalimi Ayah dan Bunda mertuanya kini Afnan menghampiri Alesya yang sudah menunggunya dengan senyuman termanisnya. Dipeluknya sang istri tercinta dengan penuh cinta, Alesya membalas pelukan itu dengan penuh cinta juga.
Pelukan mereka harus terlepas lantaran anggota keluarganya saling berdehem menyadarkan mereka bahwa saat ini sedang menjadi pusat perhatian keluarganya.
"Hm, dunia berasa milik berdua ya, yang lain mah mengontrak."
Candaan yang keluar dari mulut Shuwan itu berhasil menghadirkan gelak tawa semua orang terkecuali Afnan dan Alesya yang sama-sama salting, walaupun sudah halal dan hanya sebuah pelukan saja mereka merasa tidak enak lantaran menjadi pusat perhatian keluarga mereka.
โโโโโ
"Assalaamu 'aikum."
Suara salam yang cukup nyaring terdengar mendatangkan seorang perempuan yang baru saja keluar dari rumahnya untuk menengok siapa yang sedang bertamu ke rumahnya di hari weekend.
"Wa 'alaikumus salaam, Kak Al, Bang Af"
Ziva yang baru saja melihat siapa yang datang ke rumahnya langsung sumringah bahkan menarik Alesya untuk masuk ke dalam sementara sang Abang malah dicuekin hingga akhirnya menyusul istrinya yang dibawa duluan oleh sang Adik.
"Mami, Papi lihat siapa yang datang."
Usai masuk ke dalam istananya, Ziva langsung memanggil Mami dan Papinya agar mereka segera keluar untuk menemui tamu istimewa yang datang.
"Maa syaa Allah, putra dan menantuku."
Datanglah Mami dan Papinya kehadapan mereka, kehadiran Afnan dan Alesya sangat disambut antuasias oleh Mami dan Papinya, bahkan Izma memeluk singkat sang putra dan menantunya.
"Mami, Papi, weekend kali ini kita akan menginap di sini." Ucap Afnan memberitahu serta meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk mengisi weekend mereka di rumah keluarganya.
"Horeee, Ziva ada temannya, nanti ajarkan Ziva masak ya Kak Al."
Nyatanya bukan hanya kedua orang tuanya saja yang antuasias akan kehadiran mereka namun Ziva sang adik juga sangat antusias bahkan sudah tak sabar ingin diajarkan memasak oleh Alesya, padahal Izma selalu mengajarkannya mungkin dia ingin juga belajar memasak dari sang Kakak ipar, supaya ilmu memasaknya kian bertambah.
"Oh ya Zi ayo kita ke kamar kamu."
Dengan senang hati Ziva menyetujui ajakan Alesya yang mengajak ke kamarnya, tanpa basa basi lagi Ziva segera menarik lengan Aleysa untuk menuju kamarnya sementara Afnan ingin menahannya namun Izma beserta Zawir menggagalkannya.
"Afnan, mau ke mana?, biarkan Alesya ikut Ziva ke kamarnya, dan kamu di sini saja sama Mami dan Papi."
"Iya Putra Papi yang paling ganteng, di sini Saja, kita sudah lama kan nhgak kumpul bareng seperti ini."
Masih dengan tatapan ke arah kamar Ziva yang tidak dapat dijangkau oleh penglihatannya, akhirnya Afnan pasrah saja untuk duduk berkumpul bersama Izma dan Zawir di ruang keluarga yang sudah jarang dia singgahi.
"Bagaimana bisnis kamu, lancar?"
Zawir membuka obrolannya dengan menayakan tentang bisnis Putra sulungnya yaitu jus cafe dan Rafisqy batiknya. Rupanya Afnan mengabaikan pertanyaan itu dia justru malah fokus memandang ke lantai atas tepatnya ke kamar Ziva yang mana istrinya sedang bersembunyi disana.
Izma yang melihat kelakuan Afnan hanya dapat geleng-geleng kepala sedangkan Zawir malah menghela napas dan sudah menyiapkan serangkaian omelan halus untuk sang Putra yang tidak mendengarkan dirinya berbicara namun istrinya berisyarat agar dirinya mengurungkan niatnya.
"Afnan, sudah sana samperi istri kamu, kelihatannya kamu nggak tenang banget kalau Alesya nggak berada disamping kamu."
"Mami tahu saja apa yang dirasakan anaknya, kalau begitu aku ke Alesya ya Mi, Pi."
Mendengar ucapan sang Mami yang mempersilahkan dirinya untuk menyusul istrinya yang sedang berada di kamar adiknya, tak ingin membuang waktu lagi, Afnan langsung beranjak dari duduknya lalu melangkah dengan cepat melewati beberapa anak tangga untuk sampai ke kamar adiknya di lantai atas.
Sementara di kamar Ziva, Alesya sedang sibuk membantu adik iparnya itu membungkus pesana-pesanan scraf yang akan dikirim hari ini jug. Biasanya Ziva sering melakukannya seorang diri tapi kini ada bidadari cantik yang dengan senang hati membantu pekerjaannya itu.
"Ini benar kan Zi membungkusnya seperti ini."
__ADS_1
Untuk memastikan bahwa Alesya membungkusnya dengan benar dia pun bertanya kepada pemiliknya. Ziva pun menganggukkan kepala untuk meyakinkan Alesya bahwa dia membungkusnya dengan benar.
"Sya."
Tiba-tiba saja Afnan masuk ke dalam kamar Ziva yang pintunya terbuka lebar, lalu duduk disamping istrinya, melihat kedatangan suaminya itu bukannya disambut baik malah diabaikan dan dia justru sangat fokus membungkusnya sama halnya dengan Ziva yang ikut fokus, merasa diabaikan dan seakan kehadirannya tidak terlihat sontak Afnan langsung mengambil alih kotak yang sudah terbungkus dari tangan Alesya.
"Kok kamu malah cueki aku sih, kamu kenapa Sya?"
Alesya memutar bola matanya jengah lalu beranjak dari duduknya dengan menarik lengan Afnan menuju ambang pintu. sementara Ziva hanya mengkedikkan kedua bahunya berisyarat tidak ingin ikut campur.
"Afnan, kamu kenapa malah ke sini?, harusnya kamu di bawah ngobrol-ngobrol sama Mami dan Lapi, bukan malah samperi aku."
"Tapi aku maunya sama kamu terus Sya, ya sudah ayo masuk aku mau bantu membungkus juga."
Baru saja Afnan ingin melangkah masuk ke dalam kamar adiknya lagi namun Alesya menahannya, sehingga membuat dirinya kebingungan lantaran tidak diperbolehkan masuk.
"Kamu nhgak boleh masuk, sekarang kamu mending ke bawah lagi, ngobrol-ngobrol sama Mami dan Papi."
Alesya bersikukuh sekali agar suaminya itu turun ke bawah lagi dan bercengkrama dengan kedua orang tuanya bukan malah ikut membantu dirinya membungkus paket milik Ziva.
"Kamu kenapa sih Sya suruh aku ngobrol-ngobrol sama Mami dan Papi padahal aku maunya di dekat kamu terus." Oceh Afnan yang mulai bete karena sang istri yang terus menyuruh dirinya turun ke bawah lagi bersama Mami dan Papinya.
Sebelum menanggapi ocehan suaminya, Alesya mengambil napas terlebih dahulu untuk mengendalikan emosinya agar tetap sabar menghadapi suaminya yang terus menguji kesabarannya.
"Afnan, aku ini istri kamu, seorang istri taatnya sama suami kan tapi seorang suami taatnya sama ibunya sama orang tuanya, maka dari itu aku sebagai istri sudah seharusnya membantu suamiku untuk taat sama orang tuanya, dan sekarang waktunya kamu taat sama Mami dan Papi, jadi untuk sementara ini anggap saja kita nggak saling kenal ya."
Kini Afnan pun paham mengapa istrinya sengaja menjauh darinya ternyata istrinya menginginkan dirinya lebih dekat dengan mami dan papi karena setelah menikah memang jarak antara dirinya dengan kedua orang tuanya cukup jauh jadi ini saatnya dia menepis jarak yang jauh itu menjadi lebih dekat.
"Maa syaa Allah, istriku sholihah banget sih, membantu suaminya untuk taat sama Mami dan Papi, ya sudah kalau begitu sementara ini anggap saja kita ini orang asing ya."
Alhamdulillah, sang suami akhirnya mengerti maksud dan tujuan Aleysa menciptakan jarak kepadanya, usai puas mengelus kedua pipi sang istri karena gemas akhirnya Afnan mulai menjauhi Alesya dan menuruni anak tangga untuk menghampiri mami dan papinya lagi.
โโโโโ
Pintu rumah terbuka lebar dengan menampilkan sepasang suami istri yang tetap mesra tak lekang oleh waktu, siapa lagi jika bukan Izma dan Zawir yang baru saja masuk ke dalam istananya yang megah nan mewah. Rasa lelah terlihat diraut wajah Zawir bagaimana tidak menemani istrinya ke rumah temannya sangat menguras tenaganya ditambah lagi jarak rumah nya yang lumayan jauh mengakibatkan tubuhnya terasa pegal sehabis menyetir seharian.
"Mami Sayang, Papi duluan ke kamar ya, badan sudah pegal semua, mau istirahat."
Izma menganggukkan kepala seraya memperbolehkan sang suami memasuki kamar mereka lebih dulu lantaran dirinya masih ingin menemui putranya yang masih berada di ruang keluarga sedang menonton tv.
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam, Mami sudah pulang."
Mendapati sang Mami sudah pulang tapi hanya seorang diri, mengakibatkan Afnan dibuat heran lantaran tadi Maminya pergi bersama Papinya tetapi kini pulang seorang diri saja. Seolah mengetahui tingkah sang putra yang sedang mencari keberadaan Papinya, Izma segera memberitahu bahwa Papinya sudah ke kamar duluan.
"Afnan kamu tahu Mami dan Papi habis dari mana?"
Seolah ingin mengajak putranya mengobrol dia mulai mengajukan pertanyaan sehingga membuat Afnan tertarik untuk menebaknya dan kini dia sudah ikut duduk disamping sang mami.
"Dari mana lagi kalau Mami dan Papi pergi dari pagi sampai malam gini pasti habis jalan-jalan, benar kan?"
Jawaban Afnan kurang tepat lebih tepatnya salah, kedua orang tuanya memang pergi jalan-jalan tetapi bukan jalan-jalan biasa melainkan kesatu tujuan yaitu ke rumah salah satu teman Maminya.
"Salah, Mami dan Papi bukan jalan-jalan melainkan pergi ke rumah teman Mami."
Mendengar jawaban maminya apalagi yang harus Afnan katakan jika bukan hanya ber-o ria tetapi Izma justru antuasias sekali bahkan dia tidak segan-segan menceritakan perjanalan hari ini kepada Putranya yang sebenarnya tidak berminat untuk mendengarkan tetapi karena dirinya yang begitu antuasias Afnan pun berusaha mendengarkannya dengan baik.
Sementara dari arah dapur terlihat Alesya yang berjalan dengan membawa secangkir teh namun setelah melihat ada seorang perempuan yang sedang mengobrol dengan suaminya, dia menghentikan langkahnya agar tidak menganggu kedekatan antara ibu dan anaknya.
"Oh ya Afnan, Mami itu ke rumah teman Mami soalnya anak teman Mami baru saja melahirkan, bayinya lucu sekali, Mami jadi ingat kamu waktu masih bayi, lucu sekali."
Afnan mengangkat sebelah alisnya seolah memikirkan apa maksud Maminya itu menceritakan tentang bayi dan mengingat tentang dirinya waktu masih bayi.
"Afnan, Mami ingin sekali menimang cucu, anak kamu dengan Alesya."
Pernyataan Izma yang terang-terangan sukses mengejutkan Afnan bukan hanya Afnan tetapi juga Alesya yang sangat terkejut atas pernyataan tersebut. Entah apa yang harus Afnan katakan, akhirnya sang Mami mengatakan hal itu kepadanya dan itu hal yang wajar, seorang Ibu mana yang tidak ingin menimang cucu dari anaknya tetapi Afnan sadar diri bahwa ini bukan saat yang tepat Maminya meminta seorang cucu kepadanya, dikarenakan antara dirinya dengan Alesya belum memikirkan ke hal itu, bahkan mereka belum melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri.
"Afnan, izinkan Mami menjadi seorang Nenek dari anak-anak kamu dan Alesya ya, Mami nggak akan memaksa kalian, Mami hanya perlu berdoa dan meminta kepada Allah. Sudah malam Mami ke kamar dulu ya."
Afnan masih terdiam terbelenggu akan ucapan Maminya barusan, bahkan dia sudah menyadari bahwa Maminya sudah berganti wajah Alesya. Setelah Izma pergi ke kamarnya Alesya segera menemui dan duduk tepat tempat duduk Izma tadi.
"Kenapa?, kok kamu kaget melihat aku?." Tanya Alesya seolah-olah tidak tahu apa-apa padahal jantungnya sedang berpacu kencang.
Sama halnya dengan Afnan, dia segera menetralkan raut wajahnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa padahal ucapan Maminya masih terngiang-ngiang ditelinganya.
Untuk mencairkan suasana tegang diantara keduanya Alesya langsung menyuguhnya secangkir teh yang ia bawa kepada Afnan. Dengan senang hati Afnan mengambil alih secangkir teh tersebut lalu diteguknya perlahan-lahan.
"Mami menginginkan seorang cucu, bagaimana ini, apa aku harus mengatakan kepada Alesya?." Ucapnya membatin.
Tatapan Afnan beralih ke wajah Alesya yang tampan tersenyum kearahnya, dia pun hanya membalas senyuman itu.
"Apa Afnan masih kepikiran dengan perkataan Mami tadi ya?, aduh kenapa aku jadi gugup begini."
Rasanya Alesya tidak dapat menyembunyikan rasa gugupnya bahkan Afnan juga terlihat sangat gugup ketika kini duduk berdampingan dengan istrinya bukan karena apa tetapi karena ucapan Maminya tadi yang membuat suasana hatinya berubah seketika. Kini keduanya saling terbelenggu dalam kegugupan yang diciptakan oleh diri mereka sendiri.
โโโโโ
Malam sudah semakin larut, jam dinding kamar menunjukkan pukul 11.00 malam namun Alesya tidak terlelap dalam tidurnya melainkan mondar-mandir di dalam kamarnya seorang diri, sepertinya dia sedang memikirkan suatu hal, apa lagi jika bukan tentang ucapan mami Izma tadi, tidak tenang rasanya bagi Alesya setelah mengetahui keinginan mami mertuanya itu.
Kreg
Pintu kamarnya terbuka dengan perlahan menampilkan sosok Afnan yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, mendapati sang istri yang belum menempati tempat tidurnya menyebabkan rasa heran di benak Afnan, sementara hati Alesya semakin tidak tenang ditambah lagi suaminya kini sudah berada dihadapannya.
"Lho Sya, kamu kok belum tidur?." Tanya Afnan yang mulai mengunci pintu kamarnya, ini bukan kali pertamanya dia mengunci pintu kamar disaat akan tidur tapi ntah mengapa jantung Alesya dibuatnya berdetak sangat kencang.
"Ka-kamu dari mana?"
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan yang ditujukan untuknya Alesya justru mengalihkan pembicaraan dengan balik bertanya kepada suaminya.
"Aku habis dari luar." Jawab Afnan yang segera mungkin menepis rasa canggung ketika beradu pandang dengan sang istri. "Oh ya ini sudah malam Sya, ayo tidur." Afnan segera meraih tangan sang istri untuk membawanya ke tempat tidur namun Alesya menahannya dan justru balik memegang tangannya.
Kedua mata mereka saling menatap tangan mereka yang bersentuhan, suasana semakin dibuat canggung tatkala mata mereka saling beradu. Untungnya Alesya tersadar lebih dulu jadi dia segera melepas tangannya kemudian diikuti oleh Afnan yang melepas tangannya yang memegang tangan Alesya.
"Afnan, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."
Afnan menganggukkan kepala lalu ikut duduk di tepi ranjang tepat disamping Alesya yang sedang mengatur napasnya sebelum mulai berbicara suatu hal kepada suaminya.
"Aku minta maaf sebelumnya,ย qodarullah tadi aku dengar obrolan kamu sama Mami." Alesya sengaja menjeda ucapannya lantaran dia merasa tidak enak melihat Afnan yang langsung menoleh kearahnya dengan ekspresi kaget.
"Ka-kamu dengAr obrolan aku sama Mami?, kamu dengar obrolan yang mana?." Pertanyaan canggung yang sangat Afnan sesali karena tidak seharusnya dia bertanya seperti itu.
Apa yang harus Alesya katakan untuk menjawab pertanyaan itu, apa dia harus berterus terang tetapi apa reaksi Afnan nantinya, walau bagaimanapun jujur itu lebih baik dan bukannya dia sendiri yang memancing Afnan untuk membahas tentang ucapan mami mertuanya itu.
"Aku dengar saat Mami bilang, kalau dia ingin menimang cucu, anak dari aku dan kamu."
Betapa terkejutnya Afnan saat mengetahui bahwa istrinya sudah tahu hal itu bahkan mendengarnya lamgsung dari mulut maminya, tetapi mengapa Alesya membahas hal itu.
"Oh itu, iya memang Mami ngomong begitu, tapi kamu nggak usah khawatir, aku tahu kok kalau kamu belum siap."
Seakan sudah mengetahui tentang isi hati Alesya, Afnan berasumsi bahwa istrinya itu sedang memikirkan hal itu karena dirinya belum siap menjadi seorang ibu dan itu samaย sekali tidak masalah baginya, karena memiliki anak juga adalah tanggung jawab yang besar jadi harus dipersiapkan sematang mungkin.
"In syaa Allah aku siap." Ucap Alesya dengan yakin membuat Afnan langsung menoleh kearahnya dengan tatapan seakan tidak percaya.
"Ka-kamu yakin Sya, ka-kamu siap?." Tanya Afnan dengan terbata-bata.
Senyuman manis terlukis diwajah cantik Alesya yang sudah merona untuk meyakinkan sang suami bahwa dirinya memang sudah siap lahir batin. Diraihnya kedua tangan suaminya yang masih terdiam seakan tidak mempercayai atas ucapannya barusan.
"Suamiku Sayang, setelah aku menerima lamaran kamu, itu artinya aku sudah mempersiapkan diri untuk menjadi seorang istri yang baik dan seorang ibu yang baik juga."
"Disaat aku menikah maka aku bukan hanya menjadi seorang istri tapi juga akan menjadi seorang ibu, in syaa Allah aku siap menjadi seorang Ibu lahir dan batin."
Rasa bahagia tidak bisa dibendung lagi oleh Afnan, ternyata istrinya sudah menyiapkan diri bukan hanya menjadi seorang istri baginya melainkan juga seorang Ibu untuk anak-anaknya nanti. Kini giliran dirinya yang menggenggam kedua tangan istrinya seraya mencium punggung tangan Alesya secara bergantian.
"Alhamdulillah ternyata istriku Sayang sudah siap menjadi seorang Ibu, in syaa Allah aku juga siap menjadi seorang ayah, jadi...."
Dengan sengaja Afnan menghentikan ucapannya yang membuat Alesya penasaran dan menunggu ucapannya selanjutnya. Afnan mengkedipkan sebelah matanya dengan genit dan Alesya mengetahui apa yang saat ini suaminya pikirkan.
"Ishh mulai deh." Omel Alesya dengan memalingkan wajahnya yang masih dipenuhi senyuman.
"Sya." Panggil Afnan dengan lembut.
"Iya." Jawab Alesya tak kalah lembutnya.
"Lihat aku dong." Afnan meraih dagu Alesya agar dapat menikmati wajah cantik istrinya yang sedang merona.
Kini Alesya dan Afnan saling bertemu pandang, tatapan mata keduanya menyiratkan cinta yang menggebu, indahnya rasa cinta yang Allah titipkan kepada mereka. Menatap wajah sang istri yang cantiknya bak bidadari membuat Afnan ingin berlama-lama memadangnya sama halnya dengan Alesya yang tak jemu menatap wajah tampan yang Allah titipkan kepada suaminya.
"Sya kamu sudah punya wudhu?." Tanya Afnan yang segera dianggukkan kepala oleh Alesya.
"Alhamdulillah aku juga masih punya wudhu, kalau begitu..." Afnan mulai mengelus wajah istrinya dengan jari telunjuknya menyusurinya dari atas hingga bawah, lalu dia mendekatkan wajahnya namun mendadak Alesya menjauhkan wajahnya.
"Baca doa dulu." Ucapnya mengingatkan bahwa sebelum melakukan sesuatu harus diawali dengan doa agar Allah meridhoi dan melindunginya dari kejahatan syeitan yang terkutuk.
Afnan pun tersenyum lantaran terlalu terburu-buru sehingga melupakan kewajiban utamanya sebelum melakukan sesuatu yaitu berdoa kepada Allah, beruntungnya sang istri mengingatkan dirinya.
ุจูุณูู ู ุงูููู ุงููููููู ูู ุฌููููุจูููุง ุงูุดููููุทูุงูู ููุฌููููุจู ุงูุดููููุทูุงูู ู ูุง ุฑูุฒูููุชูููุง
"Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami"
Usai mengucapkan doa diantara keduanya perlahan Afnan mulai mendekatkan wajahnya lagi kewajah sang istri menyingkirkan jarak diantara mereka, lalu Afnan bersiap memiringkan wajahnya namun lagi-lagi Alesya menghentikannya.
"Kenapa lagi Sya?." Ujar Afnan dengan hembusan napas kecewa sementara Alesya hanya tersenyum saja melihat tingkah suaminya yang kesal lantaran dirinya menahannya lagi.
"Matikan lampunya dulu dong, sunnah." Tutur Alesya dengan lirih dan malu-malu mengungkapkannya.
"Habis matikan lampu, apa lagi?." Tanya Afnan memastikan apa lagi yang harus dilakukan sebelum nantinya istrinya menghentikannya lagi.
Alesya pun mengeleng pelan seolah berisyarat bahwa dirinya tidak akan menyuruh suaminya berbuat apa-apa lagi, wajah Afnan langsung sumringah kemudian beranjak untuk mematikan lampu kamarnya.
Kini cinta mereka menyatu dengan hubungan yang halal serta diridhoi oleh Allah bahkan dilindungi dari kejahatan syeitan yang mencoba ikut campur dalam penyatuan cinta halal mereka, bintang-bintang yang bertaburan diatas langit seolah ikut mengisyaratkan rasa bahagia diantara keduanya. Semoga dengan penyatuan cinta ini mereka mendapatkan kepercayaan dari sang Robb untuk mengamanahi buah cinta yang sholih dan sholihah kepada mereka.
โโโโโ
Wajah damai Alesya yang sedang terlelap tidur menjadi pusat perhatian tersendiri bagi Afnan, kecantikan istrinya kian bertambah disaat dia terlelap tidur, Afnan pun menyingkirkan beberapa anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya itu, tanpa tersadar hal itu justru membuat pemilik wajah yang sedang ditatapnya dengan penuh cinta itu menggerak-gerakkan kedua kelopak matanya yang terpenjam perlahan Alesya membuka kedua matanya dengan sempurna. Dia kaget melihat sang suami sedang tersenyum melihatnya.
"Kamu sudah bangun?." Tanya Alesya dengan suara yang serak akibat baru bangun dari tidurnya.
"Iya aku sudah bangun bahkan sudah mandi Sya." Jawab Afnan sambil mencolek hidung Alesya yang dibuatnya tersipu malu.
"Sudah jam berapa?" Tanya Alesya mengalihkan pembicaraan agar Afnan tidak menggodanya lagi.
"Sudah jam tiga dini hari istriku Sayang."
Baik Alesya maupun Afnan sama-sama tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya, bahkan cinta mereka kian bertambah banyak dan hubungan mereka semakin erat.
Usai mengumpulkan tenaganya yang masih tersisa, Alesya pun bangkit dari tempat tidurnya untuk menuju kamar mandi. Namun sang suami memanggilnya sehingga membuatnya menghentikan langkahnya dan beralih menatap kearah sang suami yang sedang duduk diranjangnya.
"Jangan lupa keramas ya Sya."
Ucapan Afnan sukses membuat Alesya tersipu malu dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandinya sementara Afnan malah tertawa kecil melihat tingkah lucu sang istri yang malu-malu itu.
Alhamdulillah, akhirnya Afnan telahย melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami yang menafkahi istrinya lahir dan batin, dia berharap ini adalah awal yang baik antara dirinya dengan istrinya tercinta dalam membina hubungan rumah tangga mereka.
โคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโค
__ADS_1