Takdir Terindah

Takdir Terindah
Niat Ibadah


__ADS_3

Menikah bukan sekedar menyatukan cinta


Apalagi hanya mengedepankan nafsu semata


Sebab menikah menyempurnakan separuh agama


Maka niatkanlah menikah untuk beribadah kepada Allah


~Takdir Terindah~


Ukhfira


~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~


Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu ya


Selamat membaca


Semoga suka


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


Kring kring kring


Jam beker yang berada diatas meja berbunyi, mengganggu kegiatan Alesya yang tadinya sedang tertidur pulas. Dengan malas ia pun mendudukkan dirinya yang masih dalam keadaan memejamkan mata, lalu diraihnya jam beker tersebut dan ia pun mulai membuka matanya dengan perlahan.


Dilihatnya jam beker tersebut yang menunjukkan pukul 04.43 pagi. Lalu Alesya pun bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan segera melaksanakan sholat subuh. Sebenarnya tadi jam 03.13 WIB ia sudah terbangun dan mendirikan sholat malam yang disebut dengan sholat tahajjud tetapi setelah usai sholat tahajjud kedua matanya tidak dapat diajak kompromi sehingga ia memilih tidur kembali dan akhirnya terbangun lagi di waktu subuh.


Usai sholat subuh, Alesya tidak memilih untuk tidur lagi karena itu bukan kebiasannya dan ia tahu betul jika agamanya melarang tidur pagi juga tidak baik untuk kesehatan. Dan seperti biasa ia menghabiskan waktu paginya dengan bertilawah Qur'an yaitu membaca surah Al-kahfi karena hari ini adalah hari jumat dimana ada hadis yang memerintahkan untuk membaca surah Al-kahfi.


ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุฑูŽุฃูŽ ุณููˆุฑูŽุฉูŽ ุงู„ู’ูƒูŽู‡ู’ูู ููู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ุฌูู…ูุนูŽุฉู ุฃูŽุถูŽุงุกูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูู‘ูˆุฑู ู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูู…ูุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู


โ€œBarang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.โ€ (HR. Hakim 6169, Baihaqi 635, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jamiโ€™, no. 6470)


Kini jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB, Alesya pun selesai bertilawah Qur'annya, kemudian ia membuka mukenah yang dikenakannya seraya melipatnya lalu menaruhnya diatas tepi ranjangnya.


Hari ini tidak seperti hari biasa, dimana biasanya selesai mandi Alesya pun bersiap-siap diri untuk pergi kuliah tetapi pagi ini ia tidak masuk kuliah dan ia sudah meminta tolong teman sekelasnya untuk mengizinkan dirinya beserta Silmi yang tidak bisa hadir di kuliah paginya juga, jika Silmi tidak hadir kuliah karena pulang ke pontianak, sedangkan jika Alesya tidak dapat hadir kuliah karena hari ini ia akan melangsungkan akad nikah di rumahnya.


Pintu kamarnya pun di ketok dan memunculkan sosok perempuan berkerudung yang berumur 30an dengan membawa tas besar yang isinya peralatan make up. Tanpa bertanya lagi Alesya langsung mempersilahkannya masuk, karena ia sudah mengetahui bahwa perempuan berkerudung tersebut adalah tukang rias yang akan merias wajahnya menjadi seorang pengantin.


"Mbak sebelum merias wajah saya, saya mau bertanya dulu, ini riasnya tanpa cukur alis dan pasang bulu mata palsu kan?, karena saya nggak mau di hari yang sakral ini saya malah berdosa karena mengerjakan yang dilarang agama."


Perias tersebut yang sedang mengeluarkan alat-alat rias dari tas besarnya itu hanya tersenyum kemudian beralih menatap Alesya yang sedang serius bertanya karena ia tidak main-main jika masalah yang menyangkut agamanya itu.


"Mbak Alesya tenang saja, saya meriasnya tanpa mencukur alis dan pasang bulu mata palsu kok, jadi aman nggak melanggar syariat agama."


Alesya pun dapat bernapas dengan lega karena mbak yang akan meriasnya tidak akan melakukan hal yang dilarang agama. Dan kegiatan rias merias pun segera dimulai tentunya memulainya dengan mengucapkan basmalah terlebih dahulu agar apa yang dikerjakan diridhoi oleh Allah.


Enam puluh menit berlalu, Perias telah selesai melakukan pekerjaannya dengan baik, yaitu memoles wajah cantik Alesya dengan alat-alat rias yang ia bawa. Dan kini Alesya tengah berganti baju.


Karena telah selesai merias calon pengantinnya, Perias segera memasukkan kembali alat-alat riasnya kedalam tas besarnya, dan tiba-tiba saja pandangannya beralih kearah pintu kamar mandi yang terbuka dan menampilkan seorang perempuan cantik dengan polesan diwajahnya serta mengenakan balutan gaun+khimar menutup dada berwarna silver sedang keluar dan menghampiri mbak perias yang terkagum-kagum melihat perempuan cantik bak cinderella tersebut.


"Maa syaa Allah, Mbak Alesya cantik sekali, ternyata benar ya kalau bidadari dunia itu nggak bersayap tapi berhijab."


Bibir yang dipoles lipstik berwarna merah muda itu menyunggingkan senyuman manis yang memabukkan.


"Mbak bisa saja, ini juga karena kelihaian Mbak dalam merias, makanya wajah saya jadi cantik seperti ini."


"Tapi Mbak Alesya aslinya memang sudah cantik kok, dan dipoles sedikit jadi tambah cantik, pasti nanti calon suaminya Mbak Alesya akan panglingย  melihat kecantikan Mbak Alesya."


Mendengar pernyataan terakhir dari Perias, memudarkan senyuman diwajah cantik Alesya, ntah mengapa sampai saat ini hatinya belum sepenuhnya dapat menerima laki-laki yang sebentar lagi akan menjabat tangan ayahnya, tapi apa boleh buat Allah sudah menggariskan takdir untuknya yang sudah tidak dapat dirubah lagi.


"Ya sudah kalau begitu saya keluar dulu ya Mbak Alesya, saya mau memberitahu keluarga Mbak Alesya, kalau Mbak Alesya sudah selesai dirias."


Alesya pun mempersilahkan Perias pengantinnya untuk meninggalkan dirinya di kamarnya sendirian, lalu Alesya pun memilih duduk dikursi dimana dihadapannya terdapat cermin yang sedang memantulkan wajah cantiknya dengan balutan riasan yang membuat wajahnya berubah seketika menjadi lebih cantik sekali.


"Maa syaa Allah kamu cantik banget Dik."


Alesya sedikit tersentak melihat kedatangan seorang perempuan yang sudah cantik natural dengan gamis+khimarnya yang berwarna senada dengan gaun Alesya, dia adalah Alula kakak Alesya yang hari ini tidak menggunakan aksesoris kacamata diwajahnya karena ia sudah menggunakan softlens minus sebagai pengganti kacamatanya.


Alesya pun menghadirkan senyuman diwajah cantiknya setelah melihat sang kakak tersenyum pula kearahnya. Ia pun berdiri dan menatap sang kakak yang juga sudah tampil cantik hari ini.


"Kakak, hari ini aku akan menikah, kakak nggak marah kan aku menikah duluan?, aku akan melangkahi Kakak."


Kedua kelopak mata Alesya sudah berkaca-kaca dan hampir mau mengeluarkan air mata tetapi enggan karena Alula yang melihat adiknya akan menangis langsung menahannya dengan tersenyum.


"Dek, Kakak nggak apa-apa kok, justru Kakak bahagia karena kamu sudah bertemu dengan jodoh kamu, lagi pula Kakak nggak berhak untuk melarang kamu menikah, dan bisa jadi Kakak berdosa kalau melarang kamu menikah duluan, tersenyumlah Adikku hari ini adalah hari bahagiamu."


Hati Alesya langsung tersentuh akan kata-kata yang bernada lembut yang keluar dari mulut sang kakak, hingga akhirnya ia langsung memeluk sang kakak yang segera membalas pelukannya juga. Walau sempat menahan untuk tidak menangis tetapi apa boleh buat keduanya sudah terbawa suasana sehingga menjatuhkan air matanya, karena ini adalag moment langka, dimana biasanya mereka berdua bagaikan tikus dan kucing yang selalu bertengkar tetapi saat ini mereka telah berdamai dan berpelukan seperti teletubis.


"Aku sayang Kakak."


"Kakak juga sayang kamu Adikku."


Tanpa mereka sadari, seorang perempuan cantik dengan balutan gamis+khimarnya yang berwarna silver sedang berdiri diambang pintu dan tersenyum melihat mereka sedang berpelukan.


Alesya pun menyadari akan kehadiran perempuan yang sudah memberikan kasih sayang kepadanya dari kecil sedang berada dihadapannya.


"Bunda."


Pelukan mereka pun terlepas lalu Alesya segera menghampiri bunda Aiza yang mulai melangkah menghampirinya juga.


"Maa syaa Allah, putri bungsu Bunda cantik sekali, sampai pangling Bunda lihatnya."


Pujian tulus sang Bunda berhasil membuat Alesya tersipu malu hingga akhirnya membalas senyuman bundanya.


"Alesya sayang Bunda."


Dengan mata yang sudah berkaca-kaca Alesya langsung berhambur dipelukan sang bunda yang akhirnya juga ikut menjatuhkan air mata karena terharu. Begitu juga dengan Alula yang ikut larut dalam keharuan yang tercipta di kamar pengantin tersebut.


Alesya pun melepas pelukan dari putri bungsunya itu, kemudian menghapus air mata yang menghiasi wajah cantik putri bungsunya.


"Bunda juga sayang sama kamu."


Aiza pun membawa Alesya untuk duduk di tepian ranjang dengan diikuti oleh Alula yang memilih duduk dikursi yang tadi Alesya duduki.


"Bagi Alesya Bunda bukan hanya Ibu sambung tapi Bunda juga Ibu kandung Alesya, karena Bunda yang sudah merawat Alesya dari kecil."


"Iya Sayang, kalian juga bukan hanya anak sambung bunda tapi juga anak kandung Bunda, Bunda sayang sekali sama kalian, kalian adalah kebahagiaan Bunda."


Akhirnya Alesya pun memeluk bundanya lagi kali ini dengan deraian air mata begitu juga dengan Alula yang ikut serta memeluk sang bunda yang akhirnya ikut menangis juga.

__ADS_1


"Sudah ya acara peluk-pelukannya."


Tawa kecil pun terdengar dari mulut bunda Aiza yang menghentikan pelukan mereka dan segera menghapus air mata begitu juga dengan Alesya dan Alula.


Dertttt dretttt drettttย 


Suara deringan handpone mengalihkan perhatian mereka, Alesya pun menoleh kearah meja lalu beranjak untuk mengambil handpone miliknya yang sedang berdering.


Terlihat nama panggilan yang menelpon adalah "Papa David" tetapi bukan panggilan telepon biasa melainkan video call.ย 


"Papa David video call Kak."


Mendengar ucapan sang adik, Alula pun menyuruh Alesya segera mengangkatnya tetapi sebelum itu Alesya disuruh untuk duduk ditengah-tengah Alula dan bunda Aiza.


"Hallo Assalaamu 'alaikum Papa."


Sapa Alesya setelah menekan tombol hijau lalu muncullah wajah laki-laki berparas bule tengah tersenyum kepada Alesya dan Alula pun ikut memunculkan wajahnya dilayar handpone agar terlihat oleh ayah sambungnya itu.


"Wa 'alaikumus salaam, Alesya Alula, kalian apa kabar?"


"Alhamdulillah kami baik Pa, Papa apa kabar?"


"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja, alhamdulillah papa juga baik, oh ya Papa baru sadar ternyata putri-putri Papa cantik-cantik sekali, mirip seperti Mama kalian."


Alesya dan Alula pun sama-sama tersipu malu ketika sang papa sambung yang masih kaku berbahasa Indonesia itu memuji kecantikan mereka karena polesan make up di wajah mereka.


"Oh ya Alesya, Papa minta maaf ya Papa nggak bisa hadir diacara pernikahan kamu, tapi Lapa akan selalu doakan yang terbaik untuk kamu,ย my daughter."


Alesya pun mengangguk kecil untuk merespon ucapan sang papa yang meminta maaf karena tidak bisa hadir dihari terpentingnya.


"Ohya ini Mama mau ngomong."


Tiba-tiba papa David memiringkan serta menggeser handponenya kesamping dan muncullah wajah cantik Farha yang tadinya berwajah datar tetapi segera menampilkan senyuman kecil setelah melihat kedua putrinya sedang tersenyum menatapnya.


"Assalaamu 'alaikum Mama."


Dengan kompaknya Kakak beradik tersebut mengucapkan salam kepada mamanya yang segera menjawab salam mereka dengan hangat.


"Alesya, maaf ya Mama nggak bisa hadir ke acara pernikahan kamu, tapi Mama sudah restui kamu menikah, dan semoga keputusan ini ada yang terbaik untuk kita semua."


Alesya pun menganggukkan kepala seraya tetap tersenyum padahal ia tahu bahwa mamanya saat ini sedang tersenyum dengan penuh paksaan, dan Alesya juga tahu dari tatapan mata sang mama mengisyaratkan bahwa Farha belum sepenuhnya merestui dia untuk menikah, tetapi apa boleh buat sebentar lagi dia akan sah menjadi seorang istri dari laki-laki yang bernama Afnan.


"Mama, Ali mau bicara sama Kak Alu dan Kak Ale."


Tiba-tiba saja muncul seorang anak kecil berumur 8 tahun ditengah-tengah papa David dan Mama Farha yang sempat kaget dan langsung geleng-geleng kepala, sedangkan Alesya beserta Alula malah dengan kompaknya kegirangan melihat anak kecil yang berparas kebule-bulean tetapi fasih dalam berbahasa Indonesia.


"Ali, Kak Alu kangen banget sama Ali."


"Kak Ale juga kangennnnnn banget sama Ali."


Ali adalah bocah berumur 8 tahun yang tak lain adalah putra tunggal papa David dan mama Farha sekaligus adik tiri dari Alula dan Alesya.


"kKak Alu sama Kak Ale cantik-cantik banget, memang mau kemana sih?"


Bocah 8 tahun itu dengan polosnya menampakkan wajah mikir ketika melihat kedua kakak tirinya sedang cantik dengan polesan make up.


"Kak Ale mau menikah Ali, Ali kok nggak ke Indonesia sih, Kak Ale sedih tahu."


"Ali juga sedih nggak bisa ke Indonesia ketemu sama Kak Ale dan Kak Alu, tapi Kak Ale sama Kak Alu jangan sedih lagi, nanti kalau Ali libur sekolah, Ali sama Mama dan Papa akan ke Indonesia untuk ketemu sama Kak Ale dan Kak Alu, ya kan Mama, Papa?"


Secara bergantian Ali menoleh kearah mama Farha dan Papa David yang langsung tersenyum setelah melihat putra kesayangan mereka.


"Alula, Alesya, sudah dulu ya, Ali harus berangkat sekolah dan Papa juga harus berangkat kerja."


Usia Farha ingin mengakhiri sambungan video callnya saat itu pula wajah tampan bule kecil langsung manyun, membuat Alula tertawa sedangkan Alesya hanya tersenyum simpul.


"Ali kok manyun, nanti gantengnya hilang lho, nanti kita video call-an lagi kok, tapi sekarang Ali harus sekolah dulu ya?"


Ucapan Alula sukses mengembalikan wajah sumringah sang Adik yang langsung percaya akan ucapannya dan akhirnya sambungan video callnya pun diakhiri dengan saling melambai-lambaikan tangan.


"Permisi."


Setelah menaruh handponenya diatas meja, Alula pun segera menoleh kearah ambang pintu dengan diikuti oleh Alesya dan Aiza dimana terlihat seorang perempuan tetangga rumah mereka sedang berdiri.


Aiza pun menghampirinya "Iya ada apa Ibu dewi?"


"Pengantin prianya sudah datang Bu Aiza bersama rombongannya."


Mendengar perkataan Ibu dewi tersebut, Alesya tersentak dan membulatkan bola matanya setelah mengetahui bahwa calon suaminya kini sudah berada di rumahnya lebih tepatnya di lantai bawah yaitu di tempat akan berlangsungnya ijab qobul.


"Alesya, ayo kita keluar Sayang, kita duduk di luar."


"Ayo Dik, Kakak tuntun ya." Ajak Alula yang dengan sigap membantu Alesya bangun untuk keluar dari kamarnya.


Dan kini Alesya sudah duduk di sofa panjang ditengah-tengah bunda Aiza dan Alula sedangkan para tamu perempuan duduk disebelah mereka.


"Assalaamu 'alaikum."


Salam seseorang terdengar nyaring dari ambang pintu rumah keluarga Alesya mengalihkan perhatian semua tamu laki-laki yang sedang duduk melingkari pak penghulu yang sudah duduk ditempatnya bersama ayah Ahyar yang sudah menyiapkan diri sebagai wali dari putri bungsunya.


Kini dihadapan mereka terdapat Zawir dengan istrinya Izma yang sedang berdiri dengan menggunakan baju couple bernuasa cream, dan dibelakang mereka terlihat sosok laki-laki tampan dengan menggunakan setelan baju pengantin pria lengkap dengan kopyah yang bernuasa silver, dia adalah pengantin pria yang tak lain adalah Afnan. Dibelakang Afnan terdapat Ziva yang tampil cantik dengan dress+scraf syari berwarna silver dan Shuwan yang ikut hadir dengan baju yang berwarna silver. Keduanya pun sama-sama memegang kamera ditangannya, baik Ziva maupun Shuwan memang suka dengan dunia fotografer jadi di moment penting abang dan sahabatnya mereka bersedia menjadi tukang foto untuk membidik setiap moment berharga tersebut.ย 


Dengan mengucapkan basmalah, Afnan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah calon istrinya sekaligus menuju dan duduk di tempat yang sudah disediakan untuknya.


Sedangkan Shuwan tidak melupakan tugas barunya itu, yaitu dengan cekatan ia langsung memvideo Afnan beserta para tamu laki-laki yang hadir, begitu juga dengan Ziva yang sudah mengerjakan tugasnya yaitu memotret setiap wajah para tamu laki-laki termasuk Afnan yang sepertinya sedang gugup dan beberapa kali mengambil napas untuk mengatur detak jantungnya.


Sementara Izma kini sudah sampai di lantai atas, ia pun tersenyum ketika melihat Alesya tengah duduk ditengah-tengah bunda Izma dan Alula dengan menggunakan gaun pengantinnya.


"Assalaamu 'alaikum."


"Wa 'alaikumus salaam."


Izma pun melangkah menghampiri Alesya yang sudah berdiri untuk menyambut calon Ibu mertuanya, diciumnya punggung tangan Izma oleh Alesya kemudian giliran Izma yang mencium kening Alesya dengan penuh kasih sayang.


"Mari duduk Ibu Izma."


setelah selesai memeluk Alesya, mami Izma pun menuruti ajakan Aiza pun duduk di sofa yang sudah disediakan untuknya.


Sementara di lantai dasar, Lenghulu sudah bersiap-siap untuk memulai acara ijab qobulnya dengan disetujui oleh Ahyar, Zawir,ย  dan para tamu laki-laki termasuk Afnan yang terlihat menenangkan dirinya.


"Silahkan Bapak Ahyar menjabat tangan mempelai laki-lakinya."

__ADS_1


Ahyar pun mengikuti arahan Penghulu untuk mengulurkan tangan diatas meja tepat dihadapan Afnan yang mulai mengangkat tangannya juga untuk menjabat tangan ayah Ahyar yang dalam hitungan menit akan menjadi ayah mertuanya.


"Bismillahirrohmaanirrohiim, Ananda Muhammad Afnan Rafisqy, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Alesya Faihanah binti Ahyar Lazuardy dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar, tu...nai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Alesya Faihanah binti Ahyar Lazuardy dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai."


Dengan lantangnya Afnan mengucapkan ijab qobul tersebut dan detik itulah ia telah sah menjadi suami dari Alesya Faihanah.


"Sah"


Setelah Afnan selesai mengucapkan ijab qobul, ia pun segera memeluk Zawir dengan penuh keharuan lalu setelah itu beralih memeluk Ahyar sang Ayah mertua.


"Afnan menantuku, berjanjilah kepada Ayah untuk menjaga dan memberikan kasih sayang kepada putri Ayah, Alesya, sekarang dia sudah sah menjadi istrimu, bimbing dia untuk menjadi seorang istri yang sholehah."


Afnan pun memantapkan anggukan kepalanya untuk meyakinkan Ahyar bahwa ia bersedia berjanji akan melaksanakan perintah dari sang Ayah mertua.


"Ayah tidak usah khawatir, in syaa Allah saya berjanji kepada Ayah untuk menjaga serta membahagiakan Alesya, karena itu sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai seorang suami."


Ahyar dapat bernapas lega karena putri bungsunya menikah dengan laki-laki yang bertanggung jawab dan tahu akan kewajibannya sebagai seorang suami, sehingga tidak ada rasa cemas lagi dibenaknya karena ia benar memilih seorang suami yang sholeh untuk putri bungsunya.


Kemudian Ahyar beranjak dari tempat duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju anak tangga untuk menemui sang putri bungsu yang kini sudah menyandang gelar seorang istri.


"Putraku yang paling ganteng, Papi percaya kamu adalah laki-laki yang bertanggung jawab, sekarang kamu adalah pemimpin untuk istrimu, laksanakan tugasmu dengan ikhlas karena Allah, in syaa Allah kalian bahagia."


"Aamiin, terima kasih Papi, Papi adalah suri tauladan bagiku, Papi adalah suami sekaligus Ayah yang baik, semoga putramu ini bisa menjadi seperti dirimu."


"Aamiin."


"Bro barokallahu lakuma wabaroka alaikuma wajama'a bainakuma fii khoir."


Afnan pun mengaminkan ucapan doa yang baru saja dilontarkan oleh sahabat karibnya itu lalu memeluknya dengan penuh kehangatan.


Kini giliran Ziva yang menghampiri sang Abang yang sudah menunggunya dengan senyuman. Mereka pun berpelukan sejenak dengan Ziva yang sudah banjir air mata bahagia sekaligus haru.


"Alhamdulillah akhirnya Nang Af menikah juga, dan Zizi sudah punya Kakak ipar."


"Alhamdulillah, Abang juga mau mengucapkan jazakillah khoiron Adikku Sayang karena kamu sudah menjodohkan Abangmu dengan perempuan yang sholihah."


"Wa jazakallah khoiron ABang."


Sementara di lantai atas, Ahyar baru saja sampai di lantai atas dan terlihat Alesya sudah meneteskan air mata di pelukan Aiza setelah mendengar kata sah dari lantai bawah.


Pandangan Alesya pun beralih kearah sang Ayah yang sedang tersenyum menatapnya.


"Ayah."


Semua mata pun tertuju kearah Ahyar yang mulai melangkah begitu juga dengan Alesya yang kini sudah berdiri dihadapan sang Ayah. Tak terasa air mata jatuh dari pelupuk mata laki-laki terhebat yang selama ini ia cintai.


"Alesya sayang Ayah."


Tak sanggup lagi rasanya bagi Alesya untuk tidak berhambur kepelukan sang ayah yang membalas pelukan putri bungsunya dengan penuh kasih sayang. Setelah cukup lama pelukan mereka pun terlepas tetapi tidak dengan air mata Alesya yang masih mengalir hingga akhirnya Ahyar menghapusnya dengan lembut.


"Nak, sekarang tugas Ayah untuk menjaga dan membahagiakan kamu sudah berpindah kepada laki-laki yang saat ini telah menjadi suamimu, baktimu kepada Ayah kini juga sudah berpindah kepada suamimu, niatkan menikah ini untuk ibadah kepada Allah ya, taatilah suamimu sebagaimana kamu mentaati Ayah, gapailah syurgamu dengan mentaati suamimu, berjanjilah kepada ayah untuk menjadi istri yang sholihah, berjanjilah Nak."


Alesya pun hanya dapat menganggukkan kepala untuk menjawab ucapan ayahnya yang memerintahkan dirinya untuk menjadi istri yang sholihah.


Pandangan Ahyar pun teralihkan kepada Afnan yang kini sudah menginjakkan kakinya di lantai atas bersama Shuwan yang fokus memvideo, papi Zawir yang mendampingi putranya beserta Ziva yang berdiri dibelakang punggung sang Abang.


"Nak temui suamimu." Perintah Ahyar kepada Alesya.


Kini Alesya mulai melangkahkan kakinya untuk menghampiri Afnan yang juga ikut melangkah dan keduanya kini sudah saling berhadapan dengan jarak yang dekat.


Diraihnya lengan kanan Afnan oleh Alesya lalu dengan perlahan ia mendaratkan hidungnya dipunggung tangan Afnan, kemudian Afnan meletakkan telapak tangan kirinya menyentuh ubun-ubun kepala Alesya yang tertutup kain panjang seraya melafadzkan doa


ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ูู‰ ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ู…ูŽุง ุฌูŽุจูŽู„ู’ุชูŽู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ูู‡ูŽุง ูˆูŽู…ูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ู ู…ูŽุง ุฌูŽุจูŽู„ู’ุชูŽู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู


Allaahumma innii as-aluka khayraha wa khayra maa jabaltahaa โ€˜alaihi wa aโ€™uudzu bika min syarrihaa wa min syarri maa jabaltahaa โ€˜alaihi


"Ya Allah sesungguhnya aku memohon kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan pada dirinya. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan apa yang Engkau ciptakan pada dirinya."


Masih dalam posisi seperti itu Ziva pun langsung membidik kameranya untuk menangkap gambar tersebut yang terlihat sangat menyentuh hatinya yang terbawa perasaan itu.


Alesya pun telah selesai mencium punggung tangan suaminya kemudian mengangkat kepalanya ia dapat melihat laki-laki yang kini telah resmi menjadi suami dimata agama dan negara sedang tersenyum manis menatapnya, refleks kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman yang tak kalah manisnya jua.


Suara deheman langsung menyadarkan Alesya yang segera mengedarkan pandangannya kearah sekitar dengan kebingungan sedangkan Afnan ia malah tampak malu-malu sembari menutup senyumannya dibalik telapak tangannya.


"Kak Al."


Panggilan itu sukses mencuri perhatian Alesya yang refleks menoleh kearah dimana seorang wanita cantik yang sedang memegang kamera tersenyumnya kearahnya. Alesya kaget bukan main bahkan tanpa ia sadari kedua bola matanya membulat dengan sempurna.


"Ziva?"


Dipeluknya pengatin perempuan yang masih dalam keadaan kaget akan kehadirannya dan pelukan pun terlepas.


"Barokallahu lakuma wabaroka alaikuma wajama'a bainakuma fii khoir."


"Kamu kok bisa ada disini?"


Alesya masih bertanya-tanya mengapa Ziva bisa berada di rumahnya sekaligus menghadiri acara akad nikahnya tersebut padahal ia tidak mengundangnya, kini sorot mata Aleysa tertuju kearah Afnan dengan isyarat Afnan memberikan penjelasan kepadanya.


"Alesya, Ziva ini Adik kandung aku."


"Sekaligus Adik ipar Kak Al."


Mendengar pernyataan Afnan ditambah lagi Ziva yang ikut menimbrung membuat Alesya kaget bukan main, jadi ternyata selama ini ia berteman dengan adik dari laki-laki yang selalu membuat moodnya buruk. antara percaya dan tidak percaya bagi Alesya mengetahui fakta tersebut.


"Kak Al tahu nggak, Ziva bersyukur banget karena Kak Al menjadi Kakak ipar Ziva, selamat datang di keluarga besar kami Kak Alesyaku." Ujar Ziva dengan girang.


"Alesya, kamu taHu, Ziva yang memperkenalkan kamu ke aku, dan dia juga yang meyakinkan aku untuk menikahimu."


Kali ini Alesya bukan terkejut lagi, tetapi lebih tepatnya ia tak menyangka bahwa Ziva-lah dalang dibalik semua ini. Antara marah dan kecewa kini bercampur aduk, bahkan Ziva memeluknya pun badannya kaku dan tidak merespon, ntahlah Aleysa masih membutuhkan waktu untuk menerima semuanya.


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


Jangan lupa Vote dan komentarnya


Yah Readers


๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


See you in next chapter

__ADS_1


โคโคโค


__ADS_2