Takdir Terindah

Takdir Terindah
Tercipta Jarak


__ADS_3

Walau raga tak lagi bersama


Dan tawa tak lagi tercipta


Percayalah selagi doa menyapa


Cinta tak akan pernah sirna


~Takdir Terindah~


Ukhfira


~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~


Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah


Selamat membaca


Semoga suka


🌻🌻🌻


Ahyar menepati janjinya. Malam ini dia bersama Aiza datang ke rumah Afnan untuk menjemput Alesya serta cucu-cucunya. Meskipun mereka tidak mengucapkannya secara langsung namun Alesya ingat akan ucapan Ayahnya satu minggu yang lalu.


"Ayah, A-Afnan beneran pergi."


Alesya menitikkan air mata. Meratapi nasibnya yang berjauhan dengan Afnan.


"Sudah Ayah duga." Ucap Ahyar dengan wajah datar.


Aiza segera menghampiri Alesya lalu memeluknya. Menenangkan hati Alesya agar tidak bersedih lagi. Sementara Ahyar memilih duduk di sofa yang tiada siapapun. Izma dan Zawir serta Ziva sedang berada di lantai atas menemani si kembar atas dasar permintaan Alesya agar mereka tidak tahu tentang permasalahan Afnan dengan kedua orang tuanya.


"Ayah, aku nggak mau pulang ke rumah, aku mau di sini sampai Afnan pulang, tolong Ayah jangan paksa aku."

__ADS_1


Alesya memohon kepada Ahyar agar mengurungkan niatnya untuk tidak membawanya serta Arsya dan Arsy pulang ke rumah mereka. Alesya berharap saat ini Ayahnya berubah pikiran dan mau memaafkan Afnan. Sama seperti dirinya yang sudah menerima keputusan Afnan.


"Lesya, bisa kamu telpon Afnan sekarang juga."


Permintaan Ahyar membuat Alesya terkejut bukan main. Pikirannya sudah kemana-mana. Apa yang ingin Ayahnya bicarakan dengan Afnan, apakah Ayahnya akan memarahi Afnan?, Alesya semakin bingung. Dia tidak ingin membuat masalah baru. Tetapi Alesya tidak boleh berpikiran yang negatif karena belum tentu Ayahnya akan bersikap seperti itu. Ayahnya tidak pernah memarahi Alesya selama ini jadi tidak menutup kemungkinan Ayahnya juga tidak akan memarahi Afnan.


Panggilan video call tersambung. Afnan sudah sampai di Australia beberapa jam yang lalu. Bahkan tadi sempat mengabari Alesya bahwa dirinya sudah sampai di apartement yang akan dia tempati selama 3 bulan kedepan.


"Assalaamu 'alaikum Einy."


"Wa 'alaikumus salaam."


Diseberang sana Afnan terkejut melihat wajah Ahyar di layar ponselnya menggantikan wajah Alesya seketika.


Alesya sendiri memejamkan mata. Tidak sanggup melihat Ahyar yang kini sudah bertatap muka dengan Afnan meskipun tidak secara langsung.


"Ayah bangga sama kamu Afnan."


Alesya langsung membuka kedua matanya. Menoleh kearah sang Ayah yang tersenyum lebar menatap wajah Afnan di layar ponsel yang Ahyar pegang sendiri.


"A-Ayah nggak marah sama aku?." Tanya Afnan kebingungan.


"Untuk apa Ayah marah sama kamu Afnan, Ayah justru bangga sama kamu, kamu sudah melakukan yang terbaik. Kamu fokus saja dengan bisnis kamu ya. Biar Alesya dan anak-anak kamu Ayah yang jaga. Oh ya Ayah minta maaf ya kemarin Ayah sempat membuat kamu kesal."


Afnan sangat lega mendengarnya. Ayah mertuanya bahkan meminta maaf atas kejadian satu minggu yang lalu. Tetapi Afnan penasaran. Mengapa Ayah mertuanya bersikap seperti itu kemarin.


"Oh ya Afnan, sebenarnya kemarin Ayah hanya ingin menguji kamu,Β  seberapa besar kamu bertanggung jawab untuk keluarga kecilmu, ternyata menantu Ayah yang satu ini maa syaa Allah sekali, rela berkorban dan berjuang di negeri orang demi keluarga kecil kamu, demi anak dan cucu-cucu Ayah, Ayah bangga sekali sama kamu Afnan. Sangat bangga."


Jadi itu alasan Ahyar atas sikapnya kemarin kepada Afnan. Jujur saja awalnya Afnan langsung kecewa kepada Ayahnya yang ikut campur terlalu dalam ke masalah rumah tangganya. Tetapi hari ini Afnan justru berterima kasih kepada Ayah mertuanya karena sudah mengujinya yang mana dapat menguatkannya untuk tetap semangat mencari rezeki di negeri orang demi dirinya bersama keluarga kecilnya di masa depan.


"Subhanallah ternyata kemarin Ayah menguji aku, alhamdulillah berarti aku lulus ujian dari Ayah dong."


"Sangat lulus."

__ADS_1


Disela-sela gelak tawa antara Ahyar dan Afnan, Alesya malah menangis tersedu-sedu di pelukan Ayahnya. Afnan yang melihatnya dibuat tersenyum dan ingin sekali mencubit pipi Alesya lantaran istrinya itu terlihat sangat menggemaskan. Sayangnya saat ini mereka sedang berjauhan jika berdekatan tamatlah riwayat pipi Alesya yang menjadi sasaran empuk Afnan.


"Einy kok menagis sih?"


"Ayah jahat Alby, aku kesal sama Ayah, masa Ayah nggak ngomong sama aku kalau mau menguji kamu."


"Habisnya kamu sih Lesya, masa suami mau cari rezeki nggak diizinkan, keterluan itu namanya Nak."


"Mau bagaimana lagi, aku kan nggak bisa berjauhan sama Afnan, Ayah, Bunda juga tega melihat aku menangis seperti ini gara-gara Ayah, Bunda marahi Ayah dong."


Aiza yang tadinya hanya tersenyum malah kena imbasnya. Bahkan Alesya menyuruhnya agar memarahi Ahyar. Mana bisa Aiza melakukan hal itu. Alesya juga ada-ada saja, sudah tahu bagaimana karakter Bundanya yang lemah lembut malah disuruh marah-marah. Itu tidak mungkin terjadi.


"Alesya Sayang, Bunda kan nggak bisa marah, apalagi sama Ayah kamu, mana mungkin Bunda marah, yang ada Bunda malah sayang sama Ayah."


Aiza berhasil membuat Alesya menghela napas lantaran melihat kedua orangnya saling menatap penuh cinta membuatnya langsung meringis meratapi nasibnya yang tidak bisa seperti kedua orang tuanya. Ayolah waktu cepatlah berlalu, Alesya sudah tidak sabar ingin berada di samping suaminya lagi. Dia juga ingin saling menatap penuh cinta seperti kemarin.


"Bunda jangan seperti itu di depan Alesya dong, kasihan tuh istri aku jadi manyun begitu."


Aiza terkejut. Kemudian beralih menatap Alesya yang saat ini sedang memanyunkan wajahnya lebih tepatnya memanyunkan bibirnya.


"Astaghfirullahal adzim, Alesya Bunda minta maaf ya, Bunda nggak bermaksud buat kamu kesal, Bunda-"


Alesya menggeleng lemas. "Nggak apa-apa kok Bunda."


Afnan kembali berucap di seberang sana "Einy yang sabar ya, jarak memang memisahkan raga kita tapi jarak nggak bisa memisahkan hati kita, aku mencintaimu Bidadari hatiku."


Ahyar dan Aiza saling bersorak girang. Mengejutkan Alesya yang sedang tersenyum bahagia mendengar kata-kata manis dari suaminya.


"Hm, romantisnya menantu kita yang satu ini ya Bunda, meleleh Ayah dengarnya."


"Iya Ayah, Bunda juga ingin tuh dapat kata-kata manis dari Ayah." Ucap Aiza bergurau.


"Ih Ayah sama Bunda ganggu saja deh."

__ADS_1


Alesya segera bergeser tempat duduk,Β sedikit menjauh dari kedua orang tuanya agar dapat leluasa mengobrol dengan Afnan. Melihat suaminya yang sedang menatapnya dengan penuh cinta ingin rasanya Alesya terbang langsung ke Australia agar bisa memeluk tubuh suaminya yang selalu ia rindukan. Tetapi itu tidak mungkin. Baiklah jika memang Alesya tidak bisa memeluk Afnan secara langsung. Setidaknya Alesya berharap dapat memeluk suami tercintanya itu di dalam mimpi indahnya nanti malam.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2