
Ketika jodoh telah datang
Sambutlah dengan rasa syukur
Walau terbesit rasa ragu
Tetapi Allah telah menganggapmu
siap dimata-Nya
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu ya
Selamat membaca
Semoga suka
🌻🌻🌻
"Ayah jahat, kenapa dengan mudahnya Ayah menyuruh laki-laki asing itu untuk datang kesini lagi bahkan untuk melamar Lesya, kenapa Ayah lakukan ini semua?"
Air mata kini sudah mengalir diwajah cantik Alesya yang sudah berselimut dengan kesedihan.
Sedangkan Ahyar yang baru saja berdiri dari tempat duduknya setelah kepergian Afnan langsung menoleh kearah sang Putri yang sudah berlinang air mata.
Kini di ruang tamu hanya ada Ayah dan anak yang sepertinya sedang membicarakan hal yang serius. Bahkan sang anak sampai berlinang air mata.
"Lesya?, kenapa kamu menangis seperti ini?, apa kamu tidak suka dengan Nak Afnan?"
"Lesya sangat tidak suka dengan laki-laki itu, dia bukan laki-laki yang baik Ayah, kenapa Ayah menyuruhnya untuk melamar Lesya."
Ahyar kembali ketempat duduknya dan segera membawa sang Lutri kedalam pelukannya untuk menenangkannya yang sedang berslimutkan rasa sedih dan emosi.
Pelukan itu akhirnya berakhir, begitu juga dengan Alesya yang mulai lebih tenang dari sebelumnya.
"Lesya, Afnan itu laki-laki yang baik, buktinya dia datang menemui Ayah untuk meminta izin berta'aruf dengan anak Ayah yang cantik ini."
"Didepan Ayah mungkin dia terlihat baik tapi Ayah belum tahu kan, bagaimana dia diluar sana, Lesya tahu Ayah, dia itu laki-laki seperti apa, Lesya tahu."
"Lesya kamu ini bicara apa, kenapa kamu jadi seperti ini, sekarang kamu bilang sama Ayah, apa yang kamu inginkan, apa Sayang?"
"Lesya tidak mau dilamar oleh laki-laki itu Ayah, titik."
Alesya langsung beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan sang Ayah yang dibuat tidak mengerti dan tidak habis pikir dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah.
^^^^^
"Assalamu 'alaikum Papi, Mami, Zizi."
Bagai kebakaran jenggot disiang hari, Afnan memasuki rumah orang tuanya dengan berteriak-teriak penuh kegirangan. Selang beberapa menit yang ia panggil keluar semuanya tak terkecualipun.
"Wa 'alaikumus salaam." Dengan kompaknya Papi Mami serta Ziva menjawab salam Afnan.
"Ada apa si Bang Af, datang-datang kok teriak-teriak seperti ini, seperti kebakaran jenggot saja."
"Iya Afnan, ada apa?." Tanya Izma terheran-heran.
"Sepertinya Putra kita sedang bahagia deh Mami sayang, lihat tuh wajah gantengnya lagi berseri-seri."
Afnan pun semakin mengembangkan senyuman termanisnya ketika rasa bahagianya dapat ditebak oleh sang Papi.
"Papi sama Mami duduk dulu ya, kamu juga duduk dulu Zi."
Mereka pun akhirnya mengisi sofa yang tadinya kosong untuk mereka tempat sekaligus mereka langsung memasang telinga untuk mendengarkan sesuatu hal yang ingin Afnan sampaikan.
"Alhamdulillah, doa Papi dan Mami terkabul, putra paling gantengnya Papi dan Mami sudah menemukan jodohnya, in syaa Allah minggu depan Afnan akan melamar perempuan yang cantik wajah dan agamanya, sebentar lagi Papi dan Mami akan punya menantu."
Wajah yang tadinya tercipta tanya kini dengan kompaknya berubah menjadi senang dan penuh syukur. Sejujurnya memang dari awal kedua orang tua Afnan menyuruhnya untuk segera menikah, apalagi ia sudah tinggal sendiri dan merintis usaha sendiri, istilahnya dalam urusan dunia Afnan sudah sukses tinggal urusan akhiratnya yang belum tersukseskan dan dengan menikah berarti melengkapi separuh agamanya sekaligus ada yang menemani hidupnya jadinya kedua orang tuanya terkhusus Izma sudah tidak akan kepikiran lagi dengan putra sulungnya itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Mami ikut senang dengarnya, Mami lega karena putra paling gantengnya Mami nggak akan kesepian lagi."
"Nah gitu dong, kalau kamu menikah, nggak akan ada yang iri lagi deh sama keromantisan Papi dan Mami Sayang."
Dalam suasana yang bahagia ini Zawir masih saja dapat bercanda sehingga membuat suasana menjadi riuh akibat ulah sang kepala keluarga.
"Alhamdulillah berarti nanti, Zizi akan punya teman baru alias Kakak ipar, horeeee."
Begitupun dengan Ziva yang tak kalah senangnya mendengar kabar bahagia dari sang Abang yang sudah lama ia tunggu, apalagi dengan calon kakak ipar pilihannya, kebahagiaan Ziva semakin bertambah saja.
^^^^^
Semenjak kejadian ta'aruf kemarin, Alesya memilih bungkam dan menutup rapat mulutnya untuk tidak berbicara kepada siapa saja termasuk Ayah, Bunda sekaligus sang Kakak yang sudah mengetahui tentang taaruf tersebut.
"Alesya."
Mendengar namanya dipanggil tidak serta merta membuat dirinya menoleh kearah datangnya suara tersebut.
Aiza yang melihat sang putri bungsu sambungnya itu sedang termenung di kasurnya hanya dapat tersenyum lalu duduk disampingnya.
"Alesya, in syaa Allah Bunda siap mendengar curhatan kamu Sayang, sini cerita apa yang sedang kamu rasakan sama Bunda."
Dengan mudahnya Alesya langsung luluh dan berhambur dipelukan seorang perempuan yang sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, bagi Alesya Bunda Aiza bukan hanya sekedar Ibu sambung baginya melainkan juga sebagai sahabat yang selalu ada untuknya.
"Lho anak Bunda kenapa menangis?, nanti cantiknya hilang lho."
Aiza melepaskan pelukan singkat Putrinya tersebut karena ia melihat sang Putri sudah sesegukan dengan linangan air mata di wajah cantiknya.
"Bunda, laki-laki itu bukan laki-laki yang baik, jangan biarkan dia melamar Alesya."
Ternyata sang Putri sedang memikirkan tentang laki-laki yang kemarin mengajaknya taaruf singkat tetapi bukan Aiza namanya jika tidak selalu menerbitkan senyuman sehingga membuat Alesya menjadi lebih tenang.
"Alesya dengarkan Bunda, hanya Allah yang boleh menilai hambaNya, dan kita sesama manusia tidak boleh bersu'udzhon, kamu harus percaya apa yang terjadi ada campur tangan Allah bukan hanya kebetulan saja, Bunda, Ayah bahkan kamu tidak tahu siapa sebenarnya Nak Afnan yang sesungguhnya, maka dari itu berdoalah Sayang, memintalah kepada Allah untuk diberikan petunjuk ya, sudah tidak menangis usah lagi ya."
Nasihat dengan nada lembut itu benar-benar sampai ke hati Alesya yang dengan mudahnya luluh dan menuruti perintah sang Bunda. Dan ucapan Aiza memang benar sehingga membuat Alesya menganggukkan kepala lalu berhambur lagi kepelukan sang Bunda.
^^^^^
Alesya baru saja turun dari anak tangga kemudian pandangannya tertuju kearah ruang keluarga dimana kedua orang tuanya sedang menghabiskan waktu bersama dengan menonton TV, sedangkan Alula tidak terlihat mungkin sedang menyembunyikan diri diruangan privasinya alias kamarnya.
Alesya pun mengikuti arahan saja, dimana kini ia sudah duduk ditengah-tengah Ayah dan Bundanya yang saling melempar senyum kearahnya.
"Ayah, Lesya mau minta maaf kemarin malam Lesya udah bernada tinggi sama Ayah, karena-"
Belum sempat menjelaskan semuanya, Ahyar langsung memotong pembicaraan sang putrinya itu yang tidak sanggup menatap kearahnya.
"Seorang Ayah pasti akan selalu memaafkan Putri cantiknya, Bunda coba lihat Putri bungsu kita sudah terlihat dewasa ya, buktinya sudah ada yang ingin meminangnya."
Wajah Alesya sempat memerah karena malu ketika sang Ayah mengucapkan bahwa dirinya sudah terlihat dewasa, tetapi kalimat terakhir yang diucapkan sang ayah membuat dirinya langsung menarik kembali senyuman itu, lalu menoleh kearah wajah sang Ayah yang masih menampakkan senyumnya.
"Ayah, kenapa Ayah menyuruh laki-laki itu, maksudnya Afnan untuk melamar Lesya?, Ayah tidak mengenal dia sebelumnya kan, apa hanya dengan proses taaruf itu Ayah langsung mempercayainya bahwa dia adalah laki-laki yang baik?"
Ahyar menghela napasnya sebelum menjawab pertanyaan dari sang Putri bungsunya yang kelihatannya sedang serius dan menunggu sekali jawaban darinya.
"Nak, dengarkan Ayah, laki-laki yang baik akan terlihat dari lisan dan perbuatannya, Ayah rasa proses ta'aruf kemarin sudah cukup membuktikan bahwa Afnan adalah laki-laki yang baik untuk putri Ayah yang cantik ini, setelah Ayah mendengar alasan dia memilih jalan ta'aruf ketimbang pacaran itu sudah terlihat jelas bahwa dia sangat patuh terhadap perintah Allah. In syaa Allah dia akan menjadi imam yang sholeh untuk putri ayah yang sholehah ini."
Jawaban sang Ayah yang panjang lebar itu semakin membuat Alesya terpojokkan dan ia tidak bisa mencari alasan untuk mengagalkan rencana Afnan untuk datang melamarnya.
"Tapi Ayah harus tahu, ada satu hal yang Ayah belum ketahui tentang dia, dia adalah seorang Pangeran kampus idaman semua wanita dan Lesya nggak suka itu Ayah, dia sering tebar pesona dengan kegantengannya itu."
Ahyar dan Aiza yang mendengarkan curhatan sang Lutrinya itu langsung terkekeh dibuatnya, jadi ini alasannya tidak menyukai Afnan laki-laki baik yang ingin datang untum melamar putrinya.
"Jadi ini alasan putri Ayah yang cantik tidak menyukai Afnan, Lesya dengarkan Ayah menurut Ayah laki-laki yang baik agamanya seperti Afnan apalagi kegantengannya yang haqiqi itu sudah dipastikan banyak yang menyukainya dan Afnan bukannya tebar pesona tapi dia ramah sama siapa saja, Ayah semakin yakin bahwa Afnan adalah laki-laki yang baik agama dan akhlaknya."
Kali ini Alesya hanya dapat menghela napas kasar bahkan ia tidak menyangka sang ayah malah membela Afnan, tetapi saja Alesya tidak siap untuk menikah dalam waktu dekat ini.
"Tapi Ayah, Lesya nggak siap untuk menikah, apalagi Lesya masih muda umur Lesya masih 20 tahun, ditambah lagi Lesya kan masih kuliah ayah, kok Ayah tega sih sama Lesya.d"
Wajah Alesya langsung berubah menjadi cemberut seketika membuat sang ayah dan sang Bunda saling tersenyum melihat tingkah putri bungsu mereka yang masih terlihat seperti anak kecil saja.
"Alesya Sayang, sekarang giliran dengarkan Bunda ya."
Kali ini Aiza bersuara dan Alesya pun mengalihkan pandangan kearah wajah senduh sang Bunda.
__ADS_1
"Dulu, saat Bunda menikah dengan Ayah kamu, Bunda sama seperti kamu Sayang, Bunda masih berumur 20 tahun, dan Bunda masih kuliah juga, bahkan Bunda juga tidak siap menikah muda, apalagi menikah dengan seorang duda beranak dua, kebayangkan bagaimana repotnya Bunda untuk membagi waktu, tetapi Bunda tetap mensyukuri semuanya Sayang, karena Allah tidak mungkin salah menetapkan takdir kepada Bunda, dan Bunda harap kamu juga bisa mensyukuri semuanya dan kamu bisa menerima semuanya ya."
Mendengar penuturan Aiza, sangat membuat Alesya terpukau dan terkagum-kagum karena sebelumnya ia tidak tahu menahu tentang kisah cinta Ayah dan Bundanya, hal ini justru membuat Alesya tidak bisa berkelit lagi untuk menggagalkan lamaran tersebut.
"Tapi, apa Ayah mengizinkan Lesya menikah muda?"
"Tentu dong Sayang, apalagi Ayah dan Bunda dulu juga menikah muda kan, kamu seharusnya bersyukur Allah sudah mempertemukan kamu dengan jodoh kamu saat usia kamu masih muda, karena banyak para jomblo fisabilillah diluaran sana yang belum bertemu jodohnya, termasuk kakak kamu lho, suttt." Ahyar menempelkna jari telunjuknya pada bibirnya diakhir ucapannya.
Dalam hal serius seperti ini Ahyar masih bisa bercanda bahkan menyindir sang Putri sulung yang memang masih belum menemukan jodohnya padahal umurnya sudah menginjak 23 tahun, mungkin karena terlalu sibuk dengan pendidikannya sehingga Alula tidak sampai terpikirkan tentang jodoh.
"Ayah bisa saja, tapi ngomong-ngomong Kakak mana kok nggak kelihatan?, biasanya selalu mantengin tv?"
Rupanya ketidakhadiran Alula baru saja disadari oleh Alesya, ntah mungkin jika sang ayah tidak menyentil Alula, ia tidak akan mencari sang kakak satu-satunya itu.
"Iya juga ya?, Bun Putri sulung kita kemana?, kok Ayah dari tadi nggak melihatnya?"
"Alula lagi belajar di kamarnya, tadi Bunda sempat mengeceknya."
"Oh sekarang Kakak lagi jadi orang rajin nih, kalau begitu Lesya mau ke kamar Kakak dulu deh, mau ganggu."
"Lesya!"
"Bercanda Ayah."
Dengan masih cengengesan karena candaannya Alesya pun meninggalkan Sang Ayah dan Bundanya yang kembali lengket lagi seperti lem untuk menuju ke kamar kakaknya yang berada di atas lebih tepatnya di samping kamarnya.
"Kakak..."
Tanpa ba bi bu lagi Alesya main menyelonong aja ke dalam kamar yang pintunya terbuka sedikit, sedangkan sang pemilik kamar yang tadinya sibuk dengan bukunya langsung menatap tajam kearah Alesya yang sudah duduk disampingnya itu.
"Kebiasaan main nyelonong saja seperti maling."
Yang disindir pun hanya bisa cengengesan saja, sedangkan Alula yang baru sadar sekaligus ingat bahwa baru saja tadi malam ada laki-laki yang bertaaruf dengan sang adik dan minggu depan sang adik resmi dilamar.
"Dik, ngomong-ngomong bagaimana kamu sudah siap untuk menikah muda nggak?, minggu depan sudah resmi dilamar kan?"
"Ayah sama Bunda pasti sudah cerita ya sama Kakak, sebenarnya aku nggak siap Kak untuk menikah muda, dan seharusnya Kakak dong yang menikah duluan, kan kakak yang lebih tua dari aku sekaligus kakak udah pasti siap menikah, ya kan?"
Alula malah menghela napas mendengar ucapan sang adik yang malah menganggap dirinya lebih siap menikah padahal ia sendiri masih sibuk memikirkan kuliahnya yang lebih berat dari sebelumnya, karena sekarang ia sudah S2 bukan S1 lagi.
"Dik, dengarkan Kakak, mungkin kamu memang belum siap untuk menikah, tapi dimata Allah kamu sudah siap untuk menikah, makanya Allah mempertemukan kamu dengan jodoh kamu, banyak-banyak berdoa saja sama Allah, minta yang terbaik ya."
"Tumben bijak"
Pletak! Dahi Alesya berhasil diketok oleh Alula yang membuat Alesya langsung cemberut dan memegangi dahinya, sedangkan Alula malah terkekeh saja.
"Aduh sakit Kakak, memang pintu diketok."
"Kamu sih, hobi kok suka meledek, tapi ngomong-ngomong kamu sudah kenal lama ya sama calon suami kamu itu?"
Alesya menghela napas kasar. Lalu ia menggeleng pelan menandakan bahwa ia memang belum mengenal calon suaminya yang bernama Afnan.
Alula malah dibuat bingung dengan respon gelengan kepala dari Alesya. Jika memang belum saling kenal mengapa sudah mau melamar saja, apa tidak terlalu cepat dan terbilang terburu-buru.
"Lho kalau baru kenal kenapa langsung mau melamar?, memangnya kamu sudah yakin kalau dia laki-laki yang baik?"
Yang ditanya hanya dapat mengkedikkan kedua bahunya membuat yang menanya semakin bingung dan tidak mengerti dengan pikiran adiknya itu, dia akan menikah dengan laki-laki yang dia tidak tau apakah laki-laki itu baik atau tidak.
"Ayah yang yakin Kak kalau laki-laki itu adalah laki-laki yang baik."
"Kalau Ayah yang yakin, kamu juga harus yakin, Kakak percaya sama Ayah, Ayah pasti tahu mana laki-laki yang baik dan mana laki-laki yang tidak baik, sekarang tinggal kamu berdoa dan meminta petunjuk sama Allah."
Lagi-lagi Alesya hanya dapat menganggukkan kepala dengan lemas seraya ia masih ragu dengan semua ini, dalam hatinya masih tersimpan rasa sesal terhadap laki-laki tersebut, tetapi apa mau dikata, hanya Allah yang akan memberikan petunjuk kepada dirinya mengenai laki-laki yang akan melamarnya pekan depan. Untuk saat ini Alesya lebih percaya kepada Allah saja.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Jangan lupa Vote dan komentarnya
Ya Readers
🙏🙏🙏
See you in next chapter
__ADS_1
❤❤❤
"Teruntuk kalian yang sedang membaca cerita ini, jadilah pembaca yang aktif ya, aktif beri bintang dan beri komentar, Percayalah jempol kalian adalah suntikan semangat bagi saya sebagai penulis pemula yang masih belajar merangkai kata untuk menjadi sebuah cerita"