
Hal yang paling Istimewa
Adalah ketika dirimu sukses
Tanpa embel-embel kesuksesan dari orang tua
Melainkan karena usaha kerja kerasmu sendiri
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu ya
Selamat membaca
Semoga suka
π»π»π»
Seperti hari-hari biasanya, jika sedang tidak berhalangan, Alesya begitu istiqomah dalam menjalankan kewajibannya diwaktu pagi yaitu sholat subuh dengan dilanjutkan membaca Al-Quran hingga matahati memunculkan dirinya dilangit yang cerah.
Setelah selesai membaca 1 juz Al-Quran Alesya pun segera bergegas mandi lalu bersiap-siap untuk berangkat kuliah karena hari ini ada kelas pagi dan memamg sepertinya Alesya rata-rata mata kuliahnya mengambil kelas pagi sampai siang dan bahkan ada sampai sore supaya pada malam harinya ia bisa istirahat dengan tenang dan syukurnya juga Silmi mengikuti jadwalnya sehingga mereka bisa masuk kuliah bersama-sama.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi, Alesya pun juga sudah selesai mengenakan gamis syari berwarna navy yang sudah disiapkan lipatan paling atas dilemari bajunya.
"Tumben tuh orang belum pulang, apa iya dia ketiduran di masjid?, Nggak tahu deh, untuk apa mengurusi dia, nanti juga pulang sendiri"
Alesya pun segera meraih tas selempangnya yang berwarna senada dengan pakaiannya itu lalu ia bergegas keluar dari kamarnya untuk turun ke lantai bawah tentunya melewati beberapa anak tangga.
Aroma masakan mulai tercium di hidung Alesya dimana Alesya kini sudah berdiri di lantai dasar rumahnya, pandangannya kini tertuju kearah dapur yang terdengar seperti ada orang, karena penasaran Alesya langsung menuju dapur dan rupanya memang ada orang di dapur lebih tepatnya ada orang yang baru selesai memasak nasi goreng yang kini sudah tersaji di meja makan.
"Alesya, kamu sudah siap berangkat kuliah ya?"
Rupanya yang sedang bertempur pagi-pagi adalah suami dari Alesya siapa lagi kalau bukan Afnan. Alesya tidak percaya laki-laki seperti suaminya mau masuk ke dalam dapur bahkan mau memasak, ini sangat mustahil tetapi fakta berkata lain dimana Alesya melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa suaminya baru saja memasak nasi goreng lengkap dengan telur ceploknya.
"Sya ayo kita sarapan dulu, aku sudah masak nasi goreng spesial untuk kamu."
Alesya masih tidak habis pikir seorang Afnan sang Pangeran kampus yang sukanya tebar pesona begitu perhatiannya membuatkan nasi goreng untuk dirinya lebih tepatnya untuk istrinya.
Karena melihat sang istri yang masih setia berdiri, Afnan langsung menghampirinya dan meraih tangan Alesya lalu dituntun ke tempat duduk yang sudah ia sediakan khusus untuk sang istri tercinta.
"Ayo dimakan Sya, jangan dilihat doang, dari pada cuma dilihat nasi gorengnya mending lihat aku saja yang ganteng ini."
Rupanya Afnan yang sedang memperhatikan Alesya segera menegur untuk segera dihabiskan nasi goreng yang sudah ia taruh di piring yang diletakkan dihadapan Alesya yang sedang duduk.
Dengan ragu Alesya mulai memasukkan sesendok nasi goreng ke mulutnya sementara Afnan begitu antusiasnya menunggu respon dari Alesya atas nasi goreng buatannya itu.
"Bagaimana Sya, nasi gorengnya enak nggak?"
"Maa syaa Allah, nasi gorengnya enak sekali, rasanya pas lagi, nggak keasinan, ini serius Afnan yang masak?, jago juga dia, bisa jadi aku kalah jago masak sama dia."
Alesya lebih memilih bungkam dan hanya merespon dengan satu kali anggukan kecil saja, sedangkan Afnan girang bukan main karena ia berhasil membuat nasi goreng yang enak tentunya untuk sang istri.
Hanya 5 kali suapan Alesya langsung menyudahi sarapan paginya dan ia pun beranjak dari tempat duduknya sebelum itu ia meminun air putih terlebih dahulu.
"Lho Sya, kok sudah selesai?, itu masih ada lho nasi gorengnya?"
"Aku sudah kenyang."
"Ya tapi mubadzir Sya."
Sebenarnya Alesya ingin sekali menghabiskan nasi goreng tersebut hanya saja ia tidak ingin membuat laki-laki dihadapannya besar kepala karena ia menghabiskan nasi goreng buatannya.
"Siapa suruh ambilkan aku nasi goreng sebanyak itu. Sudah ya aku mau berangkat kuliah, takut terlambat."
"Sya tunggu dulu."
Alesya sudah berhasil melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruang makan tetapi Afnan yang memanggilnya sukses menahannya untuk melangkah lagi keluar dari rumahnya.
"Aku antar kamu ya?"
"nggak usah."
Tawaran tukus langsung ditolak keras oleh Alesya, ia sangat tidak ingin diantar oleh Afnan, apa jadinya jika semua teman-teman kampusnya tahu apalagi ia berniat untuk merahasiakan pernikahannya itu.
"Kamu lupa ya, kita kan sepakat untuk menyembunyikan pernikahan kita, apa jadinya kalo kamu mengatarkan aku ke kampus, jangan aneh-aneh deh."
Penolakan Alesya yang berlandaskan alasannya langsung menyadarkan serta mengingatkan Afnan tentang kesepakatan pernikahannya.
"Ya tapi Sya, kamu mau naik apa ke kampus?"
"Naik mobil online, Assalaamu 'alaikum."
"Hati-hati Sya, Wa 'alaikumus salaam"
Akhirnya Afnan yang mengalah. Ia membiarkan istrinya berangkat kuliah dengan menggunakan jasa transportasi online. Ia membiarkannya bukan tanpa sebab, melainkan ia tidak ingin Alesya merasa dikekang olehnya.
βββββ
Mobil online yang membawa Alesya baru saja tiba di depan pintu gerbang kampusnya, dengan sigap Alesya langsung turun dan memberikan ongkosnya.
"Alesya."
Seseorang memanggil namanya dengan suara cukup keras, refleks Alesya menoleh kearah samping dimana seseorang yang memanggilnya sedang berdiri dan berlari menghampirinya.
"Silmi."
Kini kedua wanita muslimah yang cantik dengan khimar syar'i saling berpelukan penuh kegirangan untuk melepas rindu akibat 3 hari tidak bertatap muka satu sama lain.
"Alhamdulillah akhirnya kamu balik ke jakarta juga, aku kangen banget tahu sama kamu Sil, oh ya bagaimana Ayah kamu?, beliau sudah sehat?"
"Iya Al alhamdulillah Allah masih mengizinkan aku untuk bertemu dengan sahabat semata wayang aku ini, aku juga kangen tahu sama kamu, dan alhamdulillah juga Al, Ayah aku sudah membaik dan sudah boleh pulang dari rumah sakit."
Lega rasanya setelah mendengar kabar bahwa Ayah dari sahabatnya yang kemarin sakit kini sudah membaik dan Alesya lebih lega lagi karena Allah masih memanjangkan umur persahabatannya dengan Silmi.
"Ya sudah ayo masuk."
Betapa terkejutnya Alesya ketika melihat tangan yang sedang bergandengan dengan Silmi itu terlihat jelas benda berwarna silver melingkar di jari manisnya, cincin kawin.
"Astaghfirullahal adzim, cincin?, aku lupa nggak melepasnya, aduh bagaimana ini semoga saja Silmi nggak sadar kalau aku pakai cincin."
Jantung Alesya kini memompa lebih cepat bak sedang lari maraton. Ia belum siap jika sahabatnya itu tahu bahwa dirinya sudah menikah apa lagi kalau sampai tahu bahwa ia menikah dengan Afnan Langeran kampus yang hobinya tebar pesona bisa-bisa Silmi marah sampai ke ubun-ubun.
"Perhatian-perhatian semuanya."
Terdengar suara bariton seorang laki-laki mengejutkan Alesya dan Silmi yang saat ini sudah masuk ke dalam halaman kampusnya di mana terlihat sudah banyak kaum hawa berdiri mengelilingi dua orang laki-laki yang berdiri juga dihadapan mereka tetapi Alesya dan Silmi tidak dapat melihatnya karena terhalang oleh para kaum hawa teman kampusnya itu.
"Itu ada apa ya Al, kok ramai-ramai begitu?"
Kini gandengan tangan Alesya terlepas bahkan Silmi langsung menolehkan pandangannya kearah kerumununan tersebut. Dan Alesya langsung melepaskan cincin yang melingkar dijari manisnya lalu ditaruh kedalam tasnya tanpa sepengetahuan Silmi yang masih fokus memperhatikan kerumunan tersebut.
"Ayo kita kesana Al, aku penasaran nih."
Silmi pun mengajak Alesya untuk bergabung bersama teman-teman sesama perempuannya dan mereka pun dapat melihat dengan jelas siapa yang sedang berdiri ditengah-tengah mereka.
"Afnan?"
Afnan yang didampingi Shuwan sedang berdiri dihadapan para kaum hawa yang penasaran karena mereka semua diminta untuk menghampiri Afnan dan Shuwan.
"Ternyata si Pangeran kampus yang pagi-pagi buat onar, mau apa dia?"
Silmi yang sedang mengoceh sembari menatap tajam ke arah Afnan membuat Alesya bergidik ngeri dan hanya bisa menggelengkan kepala saat Silmi menoleh kearahnya.
"Minta perhatiannya semuanya, sahabat saya, Afnan akan memberitahukan kabar bahagia kepada kalian semua, silahkan Bro."
Ucapan Shuwan yang bernada lebih tinggi itu segera mempersilahkan Afnan untuk memberitahukan kabar bahagia kepada para wanita yang sudah dibuatnya penasaran.
"Assalaamu 'alaikum warohmatullah wabarokaatuh, Maaf mengganggu waktunya sebentar, saya hanya ingin menyampaikan kabar bahagia, alhamdulillah sekarang saya sudah menikah, jadi saya harap kalian tidak mengganggu saya lagi, terima kasih atas waktunya, wassalamualaikum warohmatullah wabarokaatuh."
Afnan yang sudah merasa lega dengan didampingi Shuwan segera meninggalkan kerumunan para mahasiswi yang dari raut wajahnya terlihat sangat kecewa dan sedih mendapat kabar bahwa sang pujaan hati mereka pangeran kampus yang selama ini mereka idam-idamkan ternyata sudah menikah.
Silmi yang baru saja mendengarkan kabar tersebut terkejut tak main-main, ia tidak menyangka laki-laki yang sering tebar pesona itu rupanya sudah menikah, rasa penasaran akan perempuan yang menjadi istri dari laki-laki yang dia tidak sukai kini muncul dibenaknya.
"Al, kok aku jadi penasaran ya sama perempuan yang jadi istrinya Afnan, polos banget ya tuh perempuan, kok bisa-bisanya dia mau jadi istri dari seorang laki-laki yang hobinya tebar pesona sana-sini, aku jadi kasihan deh sama tuh perempuan pasti sakit hati terus tuh kalo tahu kelakukan suaminya."
Alesya tersentak mendengar perkataan Silmi yang mengasihani perempuan yang tak lain adalah Alesya sendiri yang mana ia adalah istri dari Afnan, perempuan polos yang dikasihani oleh sahabatnya sendiri karena menikah dengan laki-laki yang hobinya tebar pesona.
"Seandainya kamu tahu Sil, perempuan yang kamu kasihani itu adalah aku, aku adalah istrinya Afnan, laki-laki yang suka tebar pesona itu."
"I-iya Sil, kasihan ya sama perempuan polos itu, tapi ya sudahlah kita nggak usah mengurusi urusan orang lain, doakan saja semoga laki-laki suka tebar pesona itu bisa berubah setelah dia menikah."
Silmi pun menyetujui akan ucapan Alesya barusan yang sepertinya tidak ingin membahas tentang Afnan lagi, bagaimana tidak Afnan bukan orang lain lagi dalam hidupnya melainkan Afnan adalah pasangan hidupnya untuk saat ini.
Setelah Alesya, Silmi dan beberapa mahasiswi lainnya bubar dari kerumunan tadi, rupanya masih terdapat tiga mahasiswi yang sedang berdiri, dimana yang ditengah adalah Kalista, perempuan cantik dengan khimar syar'i nya yang masih diam mematung akibat kabar bahagia yang baru saja Afnan umumkan.
"Nggak ini nggak mungkin, mana mungkin Afnan menikah dengan perempuan lain, hanya aku yang boleh menikah dengan Afnan, hanya aku yang boleh memiliki Afnan, bukan perempuan lain."
Kedua temannya yang melihat Kalista sedang marah besar langsung mencoba menenangkannya tetapi Kalista sudah terlanjur kecewa dan sakit hati menerima kenyataan terpahit dalam hidupnya.
"Kamu yang sabar ya Kal, mungkin Afnan bukan yang terbaik untuk kamu."
Tatapan tajam Kalista seakan ingin menerkam temannya yang barusan menasehati dirinya.
"Apa kamu bilang?, Afnan bukan yang terbaik?, Afnan adalah laki-laki sempurna yang terbaik untuk aku, camkan itu!"
Merasa salah bicara akhirnya teman Kalista hanya bisa menundukkan kepalanya dengan perasaan takut akibat terkena sasaran emosi Kalista.
"Sudah Kal, kamu! &gak usah marah-marah sama Andini, mau bagaimana lagi kalau ternyata Afnan sudah menikah, kamu bisa apa?"
__ADS_1
Salah satu temannya yang tadi hanya dapat mengelus pundak Kalista kini menyuarakan pendapatnya kepada Kalista yang sudah diujung tanduk batas kesabarannya.
"Nggak aku nggak terima, enak saja perempuan itu bisa dengan mudahnya menikah dengan Afnan, sedangkan aku, percuma aku menggunakan pakaian karung seperti ini, tapi aku nggak bisa mendapatkan Afnan."
"Aku nggak bisa diam Saja, aku harus cari tahu siapa perempuan yang sudah merebut Afnan dari aku."
Dengan amarah yang menggebu-gebu, Kalista segera merencanakan sesuatu agar ia bisa mencaritahu siapa perempuan yang berani-berani mencari masalah dengannya, bukan Kalista namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
βββββ
"Alhamdulillah ya Bro, akhirnya loe bisa bebas dari kejaran-kejaran fitnah wanita, gue jadi ikut senang lihatnya." Ujar Shuwan yang baru saja mendudukkan dirinya di kursi kantin dengan disusul Afnan yang ikut duduk bersamanya.
Afnan merasa hari ini adalah hari paling bahagia di mana ia sudah mengumumkan status barunya dihadapan semua para fansnya yang rata-rata kaum hawa, ditambah lagi kini para fansnya yang mahasiswi-mahasiswi tersebut sudah tidak mengejarnya, jangankan mengejar untuk sekedar bertemu pandang dengan Afnan saja mereka sudah tidak berani, juga Afnan sangat bersyukur karena para mahasiswi tersebut mau menghargai dirinya.
"Al kamu mau pesan apa?"
Silmi yang baru saja masuk ke dalam kantin bersama Alesya tidak sengaja menoleh ke arah Afnan dan Shuwan yang lebih dulu memandangi mereka. Afnan sudah tidak bisa lagi menahan senyumannya, bagaimana tidak perempuan yang kini sedang berdiri tidak jauh darinya adalah kini telah sah menjadi miliknya.
"Al kita makannya di luar kampus saja ya."
Tiba-tiba setelah melihat keberadaan Afnan, Silmi mengajak Alesya untuk makan di luar saja karena seperti biasanya jika bertemu makhluk nyebelin itu Alesya akan langsung menghindar.
"Kita makan di sini saja Sil."
"Tapi Al, itu di sana ada si Afnan, bukannya biasanya kamu selalu menghindar setiap ada dia?"
Mendengar penolakan Alesya yang tidak seperti biasanya justru membuat Silmi dibuat terheran-heranΒ dan seperti ada yang aneh dengan Alesya.
"Percuma kalau sekarang aku menghindar dari dia Sil, toh sekarang aku sudah tinggal satu atap sama dia."
"Itu kan kemaren Sil, sekarang nggak usahlah kita menghindar, toh dia juga sudah menikah kan, lagi pula juga dia sudah nggak terlalu tebar pesona, ya sudahlah nggak usah membahas dia, mending membahas perut aku nih sudah lapar."
Alesya pun berhasil mengalihkan topik pembicaraannya sehingga Silmi akhirnya juga tidak membahas tentang Afnan lagi melainkan membahas perut Alesya yang sudah kelaparan, sebagai sahabat yang baik dan penuh perhatian Silmi langsung menuju tempat pemesanan untuk memesankan makanan untuk Alesya dan untuk dirinya.
Sementara Shuwan yang baru saja melihat kedua gadis berkhimar syar'i yang tak lain adalah Alesya dan Silmi langsung teringat kejadian tempo lalu, saat di perpustkaan Alesya dan Silmi menghindar saat ada Afnan.
"Bro, Bro gue baru ingat, ternyata Alesya, istri lo adalah perempuan yang waktu itu gue ceritakan sama lo, iya nggak salah lagi Alesya itu perempuan yang selalu menghindar kalo ada lo, sepertinya dia benci deh sama lo, tapi anehnya kok dia malah menikah sama lo ya?, jadi bingung gue."
Mendengar perkataan Shuwan yang sedikit lirih itu cukup membuat Afnan terkejut dan tidak menyangka bahwa istrinya ternyata membenci dirinya, rupanya ia menikahi perempuan yang tidak menyukainya lebih tepatnya membenci dirinya.
"Oh jadi ini alasan Alesya jutek dan cuek sama aku, ternyata dia membenci aku, kira-kira kenapa ya dia benci sama aku?, apa aku sudah berbuat salah?, aku harus cari tahu nih."
βββββ
Usai pulang kuliah Alesya berniat untuk singgah di rumah orang tuanya, bahkan tanpa sepengetahuan Afnan lebih tepatnya tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Afnan, Alesya tahu ia akan berdosa karena pergi tanpa izin dari suaminya tetapi ia masa bodoh dan tidak memperdulikan itu, Alesya sadar akan kesalahannya, tetapi rasa rindu kepada kedua orang tuanya lebih besar ketimbang rasa bersalahnya.
"Bunda Alesya kangen banget sama Bunda."
Kini tubuh Alesya sudah berhambur dipelukan sang Bunda yang sedikit kaget akan kedatangan putri bungsunya yang secara mendadak.
"Alesya kamu ke sini sama Afnan kan?"
Pelukan hangat antara Ibu dan anak baru saja berakhir setelah bunda Aiza melontarkan pertanyaan yang hanya ditanggapi dengan gelengan kepala kecil dari Alesya.
"Lho kok nggak sama Afnan, Sayang?, tapi kamu sudah izin kan sama suami kamu?"
Lagi, Alesya menjawab pertanyaan sang Bunda dengan gelengan kepala lantas membuat Aiza terkejut dan kecewa sekali karena sang putri telah berbuat dosa yaitu keluar rumah tanpa izin dari suami walaupun ke rumah orang tuanya sekalipun.
"Alesya kenapa kamu nggak izin sama Afnan?, Bunda kecewa sama kamu, Bunda nggak pernah mencontohkan yang nggak benar seperti ini sama kamu, Sayang."
"Alesya mengaku salah Bun, tapi ya sudahlah Bun nggak usah bahas ini, nanti Alesya akan selesain kok, Alesya ke sini mau melepas rindu sama Ayah dan Bunda."
kini pandangan Alesya beralih kearah sang Ayah yang tadinya hanya asyik memperhatikan kedua perempuan yang sangat berarti dalam hidupnya, yaitu anak dan istrinya.
"Ayah."
Alesya beranjak dari duduknya untuk menghampiri sang Ayah yang sudah menyambutnya dengan senyuman, lalu membalas pelukan sang putri yang ternyata sudah terisak tangis.
"Lesya kangen sama Ayah, kangen banget, Lesya ingin diantar jemput kuliah sama Ayah lagi."
Layaknya anak kecil yang sedang merengek kepada ayahnya, begitulah saat ini yang sedang Alesya lakukan, rasanya pelukan sang ayah memberikan rasa kenyamanam menenangkan itulah sebabnya Alesya tidak ingin melepaskan pelukan tersebut tetapi apa daya sang ayah akhirnya berhasil melepas pelukan mereka.
"Anak Ayah masih seperti anak kecil ya, padahal sudah menikah." Ledek Ahyar kepada putrinya.
Alesya memanyunkan bibirnya "Biar."
"Ayah tadi Lesya ke kampus sama ke sini naik mobil online lho."
"Lho kenapa kamu naik mobil online?, kenapa nggak sama Afnan?"
"Iya Alesya, apa Afnan nggak mengantarkan kamu ke kampus Sayang?"
Pertanyaan bertubi-tubi dari kedua orang tuanya yang sangat khawatir itu hanya dijawab dengan gelengan kepala saja, sontak membuat ayah dan bundanya semakin khawatir dan langsung menunggu Alesya membuka suaranya lagi.
"Afnan bukannya nggak bisa antarkan Lesya, tapi kan jam kuliah kita beda, jadi Afnan nggak mungkin bisa antarkan Alesya setiap hari, maka dari itu, Alesya datang ke sini Alesya minta dibelikan motor sama Ayah, Ayah bisa kan belikan Alesya motor?"
Rengekan Alesya yang meminta dibelikan motor tersebut rupanya sampai ketelinga Alula yang baru saja keluar dari kamarnya tetapi enggan untuk bergabung di ruang tamu.
"Ayah bisa kan belikan Lesya motor?, masa cuma Kak Lula saja yang dibelikan motor, Lesya juga mau Ayah."
"Akan Ayah usahan ya."
Jawaban Ahyar yang sebenarnya tidak secara gamlang akan membelikan Alesya motor justru direspon dengan kegirangan oleh Alesya, karena menurutnya kemungkinan besar sang Ayah akan menuruti keinginannya untuk membelikan motor.
"Alhamdulillah jazakallah khoiron Ayah, kalau begitu Lesya ke kamar dulu ya Ayah, Bunda."
Dengan wajah yang masih sumringah Alesya meninggalkan sang Ayah dan Bunda untuk menuju kamarnya,Β disaat Alesya sudah masuk ke dalam kamarnya disaat itulah Alula bergabung bersama Ayah dan Bundanya.
"Ayah itu Adik serius minta dibelikan motor?"
Baru saja Alula mendudukkan dirinya di sofa samping Bundanya rupanya ia sudah tidak sabar lagi ingin menanyakan kebenaran tentang adiknya yang meminta dibelikan motor.
"Jadi tadi kamu menguping pembicaraan Ayah sama Adik kamu, Lula?"
Alula tersentak ketika sang Ayah justru menanyakan dirinya yang sebenarnya tidak sengaja mendengar obrolan Ayahnya bersama adiknya tersebut, dari raut wajah Ahyar terlihat bahwa dia kecewa karena sang putri sulung telah melakukan hal tercela yaitu menguping pembicaraan orang lain.
"Nggak Ayah, bukan begitu, aku nggak menguping, tadi aku nggak sengaja dengar, serius deh Ayah."
Walaupun Ayahnya tidak pernah memarahi dirinya tetapi tetap saja Alula merasa tidak enak hati karena ia sudah berbuat hal yang salah, dimana sang ayah tidak pernah mengajarinya bahkan mendidiknya untuk tidak menguping pembicaraan orang lain karena hal tersebut bukan mencerminkan akhlak yang baik.
"Ayah percaya sama kamu Lula, tadi Ayah melihat sendiri kamu keluar dari kamar saat Ayah mengobrol dengan Adikmu."
Alula langsung bernapas lega karena sang ayah mempercayai dirinya dan ternyata ayahnya melihatnya keluar dari kamarnya saat tadi sedang berbincang dengan adiknya.
"Oh ya Ayah memang benar ya Adik minta dibelikan motor?"
Ahyar menggangguk kepala. "Iya benar, Adik kamu minta dibelikan motor sama Ayah."
"Jangan dibelikan Yah."
Dengan raut wajah yang serius Alula langsung menyuruh sang Ayah agar tidak menuruti permintaan sang Adik untuk membelikannya motor, entah apa alasannya sehingga membuat Ahyar maupun Aiza dibuat penasaran.
"Lho kenapa Sayang, kok kamu nggak membolehkan Ayah untuk membelikan Adik kamu motor?"
"Ya karena Adik kan bukan tanggung jawab Ayah lagi Bun, sekarang dia kan sudah menikah ya suaminya lah yang harusnya bertanggung jawab, bukan Ayah lagi"
"Tapi kan Adik kamu minta Ayah belikan motor buat dia, Lula."
"Seharusnya Adik minta dibelikan motor ke suaminya dong, bukan ke Ayah lagi, begini saja deh, Alula coba telpon Afnan ya."
Alula merogoh kantong gamisnya untuk mengeluarkan handponenya lalu kedua jempolnya dengan kompak menyentuh layar benda pipih tersebut untuk menelpon Afnan sang adik ipar.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Alula menunggu panggilan teleponnya tersambung, karena selang bebepa menit panggilan teleponnya tersambung itu artinya Afnan mengangkat teleponnya.
"Hallo assalamu 'alaikum Adik iparku yang paling ganteng."
Dengan antusiasnya Alula mengucapkan seraya memanggil Afnan dengan sebutan adik ipar yang paling ganteng.
"Wa 'alaikumus salaam iya Kak Alula ada apa Kak?, apa ada yang bisa aku bantu?" Jawab Afnan yang sedang berada di butik batiknya tentunya bersama Shuwan yang sedang asyik mencoba beberapa kaos berkombinasi batik yang indah dan terlihat sangat keren dan kekinian.
"Kakak ganggu kamu nggak?, atau kamu lagi di kampus ya?"
"Nggak kok Kak, nggak ganggu sama sekali, dan aku juga sudah pulang kok dari kampus, memang ada ya Kak?"
Syukurlah jika Afnan tidak merasa terganggu dan bahkan sedang tidak di kampus itu artinya Alula bisa memberitahu kepada Afnan tentang Alesya yang meminta dibelikan motor oleh ayah mereka.
"Alhamdulillah kalau Kakak nggak ganggu kamu Adik iparku yang paling ganteng, oh ya Kakak cuma mau memberitahu kamu kalau istri kamu sedang ada di sini, dia barusan minta dibelikan motor ke Ayah, Kakak minta tolong ya sama kamu, tolong belikan Alesya motor, soalnya kamu kan suaminya jadi kamu saja yang belikan Alesya motor, Adik iparku yang paling ganteng nggak keberatan kan?"
Afnan yang sedang mendengarkam ucapan sang Kakak ipar yang ternyata menceritakan tentang istrinya yang minta dibelikan motor kepada Ayah mertuanya itu dibuat heran karena Alesya tidak pernah menceritakan kepada dirinya bahwa ia ingin memiliki sebuah motor.
"Iya Kak aku nggak keberatan kok, justru aku mau berterimah kasih sama Kakak karena sudah memberitahukan hal ini, in syaa Allah secepatnya aku akan belikan motor untuk Alesya."
"Alhamdulillah, terima kasih kembali ya adik iparku yang paling ganteng, Alesya bener-bener beruntung punya suami sebaik dan sepengertian seperti kamu."
Sesudah ucapan salam Alula dijawab oleh Afnan sambungan teleponnya pun diakhiri dan Alula langsung memberitahukan kepada ayah dan bundanya yang sedari tadi menunggu penjelasan darinya.
"Alhamdulillah Ayah, Bunda, Afnan nggak keberatan untuk membelikan Adik motor."
"Alhamdulillah." Jawab Ahyar dan Aiza yang hampir bersamaan.
"Tapi Ayah sama Bunda jangan beritahu Adik ya, biar Afnan saja yang memberitahu sendiri."
Kali ini Ahyar dan Aiza dengan kompaknya menganggukkan kepala, menyetujui perintah Alula yang menyuruh mereka untuk tutup mulut kepada Alesya.
βββββ
Pintu rumah yang terbuat dari kayu kokoh dengan dibalutkan cat berwarna silver kombinasi putih terbuka secara perlahan, menampilkan sosok perempuan cantik dengan balutan pakaian syar'inya yang berwarna abu tua.
Alesya yang baru saja membuka pintu rumahnya dapat menghirup udara segar dipagi hari, tiba-tiba pandangannya teralihkan ke garasi rumah dimana terlihat mobil sedan yang memang setia terpajang di garasi tersebut namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian Alesya melainkan sebuah benda beroda dua di samping mobil tersebut.
"Itu motor siapa?, atau jangan-jangan ini motor yang Ayah belikan buat aku, maa syaa Allah Ayah baik banget deh."
__ADS_1
Sebuah motor matic baru berwarna silver kombinasi putih yang sedang terparkir di garasi membuat Alesya girang bukan kepalang dan ia berspekulasi bahwa motor tersebut pemberian dari ayahnya. Lalu dengan wajah yang terbalut kebahagiaan Alesya segera mengambil sesuatu didalm tasnya, sebuah benda pipih yang sering dipanggil dengan sebutan handpone kini berada digenggamannya dan ia langsung menelpon seseorang.
"Hallo assalaamu 'alaikum Ayah."
"Wa 'alaikumus salaam iya Lesya ada apa Nak?"
Terdengar dari seberang sana suara laki-laki yang sangat Alesya kenali siapa lagi kalau bukan Ayahnya.
"Ayah jazakallah khoiron sudah belikan Lesya motor, Lesya senang sekali akhirnya hari ini Lesya bisa langsung bawa motornya ke kampus deh."
"Dik itu bukan Ayah yang belikan kamu motor, tapi suami kamu, jadi kamu berterima kasihnya jangan sama Ayah tapi sama suami kamu, Adik iparku yang paling ganteng."
Wajah Alesya yang tadinya sedang bahagia langsung berubah datar ketika mendengar suara sang Kakak yang menggantikan suara ayahnya memberitahukan dirinya bahwa yang membelikan motor tersebut bukan ayahnya melainkan Afnan, suaminya.
"Aapa?"
Tuttt... tutttt... tuttt...
Belum selesai berbicara untuk menanyakan maksud dari omongan kakaknya tiba-tiba sambungan telponnya terputus secara sepihak, dan Alesya masih dibuat kebingungan dan tidak percaya akam ucapan kakaknya barusan.
"Kakak bicara apa sih?, masa iya Afnan yang belikan aku motor, mana mungkin"
"Mungkin saja."
Alesya langsung menoleh kearah sumber suara yang terdengar dari belakang tubuhnya, rupanya Afnan yang dengan lancangnya menyahut perkataan Alesya.Β
"Jadi benar kamu yang belikan aku motor?, kamu seharusnya nggak usah repot-repot karena aku nggak minta kamu untuk membelikan aku motor."
"Tapi kamu meminta Ayah untuk membelikan kamu motor kan Sya?, kenapa kamu nggak minta ke aku Sya?, aku kan suami kamu."
"Aku nggak mau merepotkan orang lain." Jawab Alesya datar.
Afnan mencoba tersenyum mendengar jawaban yang tidak mengenakkan dari sang istri yang menganggap dirinya orang lain bukan menganggap sebagai suaminya.
Alesya yang sedang menatap ke pintu pagar rumahnya dapat melihat dari ekor matanya bahwa Afnan mulai melangkah mendekati dirinya. Betapa kagetnya Alesya ketika kedua bahunya ada yang menyentuhnya bahkan kini tatapannya teralihkan kewajah laki-laki yang tak lain adalah Afnan yang berhasil menggeser tubuhnya sehingga kini mereka saling berhadapan.
"Sya aku bukan orang lain, tapi aku suami kamu, seharusnya kamu bilang sama aku kalau kamu ingin beli motor, bukan bilang sama Ayah, karena kamu adalah istriku kamu adalah tanggung jawab aku Sya bukan tanggung jawab Ayah lagi, mulai sekarang kalau kamu mau sesuatu kamu bilang sama aku saja ya."
Tatapan mata yang meneduhkan itu membuat Alesya terdiam tak berdaya, ia begitu terpikat akan bola mata hitam pekat yang sedang menatapnya begitu lekat, dengan susah payah Alesya langsung menyadarkan dirinya yang tidak boleh terpesona akan bola mata indah yang dimiliki oleh laki-laki yang kini sedang berada dihadapannya bahkan wajah tampan itu kini semakin dekat dengan wajahnya.
Debaran jantung Alesya sudah tidak karuan, ia merasa antara dirinya dengan Afnan sudah tidak ada jarak lagi, tubuh Alesya mulai mengeluarkan keringat dingin, pikirannya bahkan melayang kemana-mana akibat Afnan yang mulai mengusik ketenangan hatinya.
Alesya pun berhasil menjauhkan tubuhnya sekaligus wajahnya dari Afnan, ia langsung bernapas lega dan mengatur debaran jantungnya agar normal kembali setelah insiden barusan yang membuat tubunya nyaris tidak bisa digerakkan.
"Yaudah Sya silahkan bawa motornya ke kampus."
Setelah suasana tegang menjadi mencair, Afnan pun mempersilahkan Alesya untuk berangkat kuliah dengan menggunakan motor baru pemberian darinya.
"Mau naik motor atau mau naik mobil sama aku?"
Kedua bola mata Alesya membulat seketika lebih tepatnya setelah Afnan menawarkan dua pilihan kepadanya. Dengan mantap Alesya memilih opsi yang pertama yaitu menaiki motor untuk menuju kampusnya karena ia tidak mau naik mobil bersama Afnan.
βββββ
Tit... tit... tit...
Suara klakson motor yang sangat nyaring berhasil membuat Silmi keluar dari kostnya dengan menutup kedua telinganya karena berisik.
"Assalamu 'alaikum Sil."
"Wa 'alaikumus salaam, Alesya?"
Pandangan Silmi langsung tertuju kepada Alesya yang sedang duduk diatas motor matic dengan wajah sumringah.
"Ini motor siapa Al?"
"Ya motor aku dong Sil, alhamdulillah sekarang kamu nggak usah capek-capek lagi naik angkot karena in iyaa Allah aku akan membonceng kamu setiap hari, dan pastinya kamu lebih hemat soalnya naik motor aku gratis nggak seperti naik angkot yang berbayar."
Silmi senang bukan main ketika mendengar ucapan dari sahabatnya itu, dia benar-benar beruntung memiliki sahabat seperti Alesya yang tahu sekali akan nasibnya sebagai anak rantau yang tidak memiliki banyak uang dan harus bisa hemat.
"Alhamdulillah aku ikut senang dengarnya, jadi hemat uang deh aku, hehehe."
"Ya sudah ayo berangkat Sil, sudah mau siang nih, ini pakai helmnya."
Alesya segera memberikan helmnya kepada Silmi kemudian setelah memakai helm dan duduk dibelakang Alesya, dengan ucapan bismillah Alesya mengendarai motornya dengan kecepatan yang normal.
Jalanan lumayan ramai dan banyak kendaraan lainnya yang berlalu lalang juga, Alesya mengentikan motornya diantara kendaraan lainnya karena lampu merah sedang menyapa mereka. Ntah mengapa Alesya mendadak mengingat kejadian tadi bersama Afnan, memang ia akui pesona Afnan begitu mengacaukan dabaran jantungnya bahkan hatinya pun ikut bergetar, ntah mengapa itu bisa terjadi yang jelas diluar dugaan Alesya.
"Aduh kenapa aku teringat kejadian tadi ya?, nggak aku nhgak boleh baper sama laki-laki tebar pesona itu, yang ada nanti aku malah makan hati, secara dia kan suka tebar pesona sana-sini, aku harus biasa saja, aku harus bisa menetralkan hatiku agar nggak baper sama dia."
Titttt titttt titttt
Suara klakson yang hampir bersamaan mengejutkan Silmi yang melihat bahwa lampu lalu lintas sudah berubah hijau itu artinya motor yang kendarai harus melaju lagi ditambah kendaraan dibelakangnya berklakson kencang tidak sabaran.
"Al, itu sudah lampu hijau ayo jalan."
Tepukan tangan Silmi disalah satu pundak Alesya akhirnya menyadarkannya dan dengan masih gelagapan Alesya menyalakan mesin motornya lalu melajukan motor tersebut.
"Al kamu kenapa sih?, lagi mikirkan apa?"
"Nggak aku nggak apa-apa kok Sil."
βββββ
Hari ini Alesya memilih pulang ke rumahnya sendiri karena rasa lelah dan letih mendera tubuhnya akibat usai mengikuti mata kuliah yang cukup padat tetapi tidak serta merta membuat Alesya putus asa dan ingin berhenti kuliah karena bagi Alesya menuntut ilmu adalah kewajibannya dan lebih baik ia berletih-letih mencari ilmu dari pada nantinya ia menyesal dikemudian hari.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga di rumah."
Dengan langkah yang pelan Alesya membuka pintu rumahnya setelah sebelumnya ia berhasil memarkirkan motor barunya di garasi. Rupanya hembusan angin yang menyejukkan membuat ia betah duduk di teras rumahnya.
Pandangannya pun mulai menyusuri bangunan-bangunan mewah disekitar rumahnya, kagum dan takjub itulah perasaan Alesya ketika menyadari bahwa dirinya kini sedang menempati salah satu rumah mewah di perumahan yang sangat elit.
"Maa syaa Allah rumahnya bagus-bagus banget, nggak salah lagi ini pasti perumahan elit, yang punya rumah disini bukan orang-orang biasa melainkan orang-orang yang kaya raya, tapi tunggu dulu berarti Afnan juga termasuk orang kaya dong?, buktinya dia punya rumah sebesar ini dan dia juga punya mobil yang harganya fantastis banget, ya iyalah Alesya, namanya juga anak orang kaya, rumah kedua orang tuanya saja bak istana jadi rumah anaknya nggak heran kalau rumah anaknya juga mewah."
Hembusan angin sudah mulai terasa tidak enak menerpa kulit wajahnya, Alesya pun ingin beranjak masuk ke dalam rumahnya tetapi tiba-tiba ia dikagetkan dengan kedatangan seseorang yang kini mulai melangkah menghampirinya.
"Ziva?"
Rupanya yang sedang menghentikan langkah Alesya untuk masuk ke dalam rumahnya adalah Ziva sang adik ipar yang segera mengucapkan salam lalu dengan senang hati Alesya menjawab salamnya tersebut.
"Kak Al apa kabar?, gara-gara Ziva sibuk kuliah jadi sering nggak ketemu deh sama Kak Al."
"Alhamdulillah aku baik Zi, oh ya kamu ke sini naik apa?"
Sebenarnya Alesya masih belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan dirinya yang kini sudah berstatus sebagai istri dari Afnan, tetapi Alesya juga tidak bisa marah kepada Ziva walaupun Ziva lah yang telah memperkenalkan dirinya kepada Afnan sampai mereka menikah tetapi tetap ada campur tangan Allah dan tentunya dirinya dan Afnan memang berjodoh sehingga mereka bisa bersatu seperti sekarang ini.
"Ziva naik mobil online Kak Al, oh ya Kak Al sendiri kok duduk di teras kenapa nggak masuk?, nunggu Bang Af pulang ya?, maa syaa Allah romantis banget sih Kak Al."
Entah mengapa bisa-bisa Ziva berpikiran seperti itu padahal Alesya duduk di teras untuk beristirahat sejenak akibat letihnya ia menuntut ilmu bukan karena sedang menunggu Afnan pulang, bukan sama sekali.
"Ya sudah ayo masuk ke dalam Zi."
Ziva pun mengikuti arahan Alesya untuk masuk ke dalam rumah sang abang, sebenarnya tanpa disuruh Ziva akan masuk ke dalam rumah tersebut tetapi kini rumah tersebut sudah ada penghuni baru yang lebih berhak ketimbang dirinya yaitu sang kakak ipar jadi Ziva harus menjaga sikapnya.
"Oh ya Kak Al, itu di luar motornya Kak Al ya?"
"Oh iya Zi itu motor pemberian Afnan."
Ziva terkejut bukan main ketika mendengar jawaban yang keluar dari mulut kakak iparnya itu.
"Oh ya?, bang Af belikan Kak Al motor?, ih tega banget sih bang Af masa Kak Al cuma dibelikan motor doang."
Justru sekarang Alesya yang dibuat bingung akibat perkataan Ziva barusan yang mana ia malah tidak suka karena abang Afnya itu memberikan Alesya motor.
"Lho memangnya kenapa Zi?, lagi pula aku kok yang minta dibelikan motor."
Kali ini setelah Ziva mendengar ucapan Alesya lagi ia langsung memusatkan perhatiannya kepada Alesya yang merasa sedikit bingung akibat ucapannya tersebut.
"Ishhh Kak Al harusnya minta dibelikan mobil bukan motor, Bang Af pasti akan belikan kok kan Bang Af uangnya banyak banget."
"Apa?, Afnan punya uang banyak banget?, maksud kamu uang orang tua kalian kan yang banyak banget?"
Ziva tersentak terheran-heran ketika sang Kakak ipar membenarkan perkataannya barusan, ia pun berpikir bahwa Kakak iparnya rupanya itu belum tau apa-apa tentang Abang Afnya yang sebenarnya.
"Bukan Kak Al, uang Mami dan Papi beda sama uangnya Bang Af, memang Kak Al nggak taHu ya Bang Af itu kan pengusaha muda yang sukses?"
Kedua bola mata Alesya langsung terbelalak ketika mendengar ucapan terakhir Ziva dimana mengatakan bahwa Afnan adalah pengusaha muda yang sukses, apa benar yang dikatakannya itu, tetapi sulit bagi Alesya mempercayainya. Karena menurutnya laki-laki seperti Afnan yang berstatus anak orang kaya pasti kekayaannya bersumber dari kedua orang tuanya bukan karena dirinya sendiri.
"Pengusaha muda yang sukses?" Tanya Alesya mengulang ucapan Ziva dengan penuh ketidakpercayaan.
"Iya Kak Al, Bang Af itu pengusaha muda yang sukses, memangnya Kak Al nggak tahu ya jus cafe yang depan kampus yang selalu ramai itu milik Bang Af lho Kak Al."
Kedua alis Alesya menyambung menandakan bahwa dirinya tidak percaya bahwa jus kafe yang sukses menjadi tempat tokngrongan teman-teman kampusnya itu adalah milik Afnan, ditambah lagi ia pernah ke jus kafe tersebut tetapi tidak pernah melihat Afnan berada disana jangankan mengaku sebagai pemilik jus kafe tersebut Afnan masuk ke dalam kafe tersebut Alesya tidak pernah melihat.
"Bukan cuma jus cafe lho Kak Al, Bang Af juga punya butik batik baju cowo, itu lho baju yang sering dipakai Bang Af sama Mas Shuwan bahkan rata-rata semua mahasiswa kampus punya baju dari butik Bang Af, soalnya kan bajunya keren banget ada kombinasi batiknya juga jadi tetap ada kesan cinta Indonesianya juga."
"Oh ya?, memangnya nama butiknya apa?"
"Namanya Rafisqy batik."
Rafisqy Batik, sepertinya Alesya tidak asing lagi dengan nama tersebut setelah mencoba otaknya bekerja lebih keras lagi Alesya pun mengingat bahwa nama tersebut adalah nama merk baju yang sering dibeli ayahnya, kali ini Alesya percaya bahwa Afnan memiliki butik baju karena ia baru sadar bahwa Rafisqy adalah nama lengkap Afnan sang suami.
Rupanya kekayaan yang dimiliki Afnan bukan berasal dari kekayaan orang tuanya melainkan dari kerja kerasnya sendiri sebagai seorang pengusaha muda yang sukses, ada rasa kagum menyapa hati Alesya ketika mengetahui sisi istimewa laki-laki tebar pesona tersebut yang tak lain adalah suaminya sendiri.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Jangan lupa Vote dan komentarnya
Yah Readers
πππ
__ADS_1
See you in next chapter
β€β€β€