Takdir Terindah

Takdir Terindah
Mandiri


__ADS_3

Menikah adalah membuka lembaran baru


Saatnya menjalani hidup dengan berdua saja


tanpa harus menyusahkan orang tua


~Takdir Terindah~


Ukhfira


~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~


Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu ya


Selamat membaca


Semoga suka


🌻🌻🌻


Mobil sedan yang dikemudikan oleh Afnan baru saja terparkir di halaman rumah mewah nan megah, Afnan yang baru saja keluar dari kursi mengemudinya segera membukakan pintu disebelahnya, munculah Alesya dari mobil tersebut dengan terpaksa menerima uluran tangan Afnan yang sepertinya mulai membiasakan diri untuk menggandeng sang istri.


Mendengar suara mobil di halaman rumahnya, Ziva segera keluar dan ia sangat senang ketika melihat siapa yang datang dan mulai melangkah menghampiri dirinya diambang pintu.


"Mami, Lapi, pengantin baru sudah sampai."


Dengan setengah berteriak Ziva memanggil kedua orang tuanya yang selang beberapa lama keluar juga dari dalam rumah lalu berdiri disamping Ziva untuk menyambut pengantin baru yang akan bermalam di rumah mereka.


"Assalaamu 'alaikum."


Alesya dan Afnan hampir bersamaan mengucapkan salam lalu secara bergantian mencium tangan Izma beserta Zawir dengan hormat.


"Wa 'alaikumus salaam."


"Kak Al selamat datang di istana keluarga kami, semoga Kak Al betah ya di sini."


Dengan sangat antusias Ziva menyambut Alesya yang hanya bisa tersenyum kecil atas penyambutannya.


"Ayo Kak Al kita masuk."


Tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Afnan, Ziva main nyomot lengan Alesya dan menggandengnya masuk ke dalam rumah, hal itu membuat Afnan langsung ingin menahannya tetapi justru ia ditahan oleh Izma.


"Afnan sudah biarkan saja, kamu nggak lihat Adik kamu sesenang itu menyambut kedatangan Alesya."


"Iya Afnan, masa sama Adik sendiri cemburu."


Afnan hanya bisa mendengus dengan sedikit kesal tetapi untung kedua orang tuanya kompak menasehatinya, ia pun main menggandeng sang mami tercinta yang awalnya terkejut dan akhirnya ikut bersama Afnan masuk. Zawir yang melihatnya pun dibuat kaget juga dan ingin menahannya.


"Papi, masa sama anak sendiri cemburu."


Afnan pun terkekeh dengan ucapannya barusan kepada sang papi yang hanya dapat geleng-geleng kepala saja karena sang putra sulung berhasil mengulang ucapannya tadi.


∆∆∆∆∆


Kreggg


Ziva baru saja membuka pintu kamar lalu mempersilahkan Alesya untuk masuk kedalam. Dengan langkah pelan Alesya pun mengikut arahan Ziva untuk masuk ke dalam kamar tersebut.


"Ini kamar Afnan Zi?"


"Iya Kak Al, ini kamarnya Bang Af, rapi kan?, dia itu orangnya memang suka sama kerapian dan juga kebersihan."


"Karena kebersihan kan sebagian dari iman."


Alesya dan Ziva pun dengan kompaknya menoleh kearah ambang pintu dimana terdapat Afnan yang sedang berdiri memandangi mereka khususnya memandangi sang istri.


"Bang Af, Ziva kaget tahu, ya sudah Kak Al selamat istirahat ya, Ziva juga sudah mau tidur soalnya sudah malam."


Lagi-lagi Alesya hanya meresponnya dengan senyuman tetapi itu tidak membuat Ziva bersedih hati, dan ia pun segera keluar dari kamar tersebut dengan mengucapkan selamat istirahat juga kepada Afnan.


Setelah kepergian Ziva dari kamarnya, Alesya memilih untuk segera membaringkan tubuhnya dan Afnan segera menutup sembari mengunci kamarnya lalu ikut naik keatas ranjang untuk istirahat karena perjalanan dari rumah mertuanya ke rumah orang tuanya cukup jauh yaitu sekitar satu jam lebih.


"Alesya."


"Hm."


"Alesya."


Dengan malas Alesya membalikkan tubuhnya yang sudah terbaring menghadap Afnan yang rupanya sedang memandangi dirinya dari tadi.


"Kenapa?"


Dengan raut datar Alesya mencoba mendamaikan hatinya agar tidak terbawa emosi karena sebenarnya jika ia berhadapan dengan Afnan bawannya ingin mencurahkan emosinya sebab jika melihat wajah tampan Afnan ia teringat Afnan yang suka tebar pesona kepada semua wanita di kampusnya tersebut.


"Kamu tahu nggak?, malam ini malam ahad lho."


"Iya, memang malam ahad kan?, memangnya Nabi siapa yang menikah di malam ahad?"


Saking sebalnya, Alesya malah lebih dulu memotong pembicaraan Afnan yang belum selesai melengkapkan ucapannya tersebut.


"Aku bukan mau bahas itu Alesya, kok kamu lucu banget sih."


Bukannya kesal atau marah karena Alesya main memotong pembicaraannya justru Afnan tertawa kecil sebab ucapan Alesya barusan yang main menebak lanjutan perkataannya.


"Alhamdulillah ya Alesya di malam ahad ini, aku sudah nggak jomblo lagi, karena sekarang aku sudah menikmati malam ahadku bersama kamu, Bidadari syurgaku."


Rupanya Afnan ingin menceritakan bahwa kini ia sudah tidak menjalani malam ahad dengan kejombloannya melainkan dengan status barunya sebagai seorang suami dari seorang wanita muslimah yang sekarang sedang berada disisinya untuk menghabiskan malam ahadnya dengan suka cita.


"Oh."


Lagi-lagi seperti kemarin malam Alesya merespon curhatan sang suami dengan ber-oh saja, padahal Afnan sangat antusias sekali menceritakan perasaan hatinya yang bahagia karena malam ini ia tidak menghabiskan malam ahadnya dengan seorang diri tidak seperti malam ahad yang sudah-sudah.


∆∆∆∆∆


Jam dinding kamar Afnan menunjukkan pukul 06.00 pagi, Alesya baru saja usai sholat subuh berjama'ah bersama mami mertua dan adik iparnya, sementara Afnan bersama sang papi sholat berjama'ah di masjid yang lumayan jauh dari rumah mereka.


Setelah melakukan kegiatan rutin paginya, yaitu membersihkan badan sekaligus tempat tidur dan kamarnya, Alesya berniat untuk keluar dari kamarnya menuju dapur dimana ruangan untuk masak-memasak tersebut masih terlihat sepi, mungkin mami mertua dan adik iparnya masih di kamarnya masing-masing.


"Hari ini masak sarapan apa ya?, aku lihat dulu deh ada apa saja di kulkas."


Setelah melihat isi kulkas yang nyaris lengkap membuat Alesya sangat takjub karena rupanya mami mertuanya itu menyediakan semua perlengkapan masak tanpa terkecuali.


"Maa syaa Allah ini kulkas apa supermarket, lengkap banget, kalau begitu aku buat oatmeal saja deh dan semoga mereka suka."


Tanpa berlama-lama lagi Alesya langsung mengambil beberapa kebutuhan untuk memasaknya lalu ia benar-benar bertempur di dapur untuk membuat makanan sarapan pagi.


Selang beberapa menit dengan gesitnya oatmeal yang sudah susah payah Alesya buat kini sudah siap dihidangkan di meja makan bersama segelas susu di masing-masing meja makan yang terdapat beberapa kursi.


"Alesya?, kamu sedang apa di sini?"

__ADS_1


Alesya yang baru saja meletakkan oatmeal yang sudah disajikan di beberapa mangkok yang berukuran sedang sedikit tersentak dan langsung menoleh kearah sumber suara yang ternyata adalah mami Izma yang kini sudah berdiri disamping Alesya dengan menampilkan senyuman.


"Mami."


Pandangan Izma beralih kearah meja makan yang sudah tersaji makanan serta minuman untuk sarapan pagi keluarga mereka.


"Ini kamu yang buat Alesya?, kamu buatkan sarapan pagi keluarga kita?"


"Iya Mami, Alesya buatkan sarapan pagi untuk kita semua, semoga mami dan yang lainnya suka ya sama oatmeal buatan Alesya."


Melihat oatmeal yang rupanya buatan sang menantu lantas membuat mami Izma tak henti-hentinya memuji Alesya yang rela menghabiskan waktu paginya untuk membuatkan sarapan pagi.


"Wah ada menu baru nih buat sarapan, ini pasti buatan Kak Al, iya kan?"


Tiba-tiba saja Alesya maupun Izma dikejutkan dengan kehadiran Ziva yang memang terlahir sebagai wanita yang penuh keramaian, jadi Izma sudah tidak terkejut lagi melihat tingkah putri bungsunya itu sedangkan Alesya sepertinya masih harus beradaptasi dengan watak Adik iparnya itu.


"Iya Zi, namanya oatmeal, lebih bergizi dibanding nasi goreng, semoga kamu suka ya dengan menu baru ini."


"Pastinya dong Kak Al."


Ziva pun segera duduk ditempat duduk yang sepertinya sudah menjadi tempat duduk permanennya saat makan baik sarapan ataupun makan malam, kecuali makan siang, dimana ia sering menghabiskan waktu makan siang di kantin kampusnya.


"Assalaamu 'alaikum."


"Wa 'alaikumus salaam."


Kini di ruang makan bukan hanya Alesya, Izma dan Ziva melainkan Afnan beserta Zawir yang baru saja datang dari masjid sehabis melaksanakan sholat subuh berjama'ah.


"Mami sayang, sarapan kali ini berbeda ya?"


"Iya Papi sayang, ini namanya oatmeal, buatan menantu kesayangan kita lho Pi."


Kali ini bukan hanya Zawir yang memandang kearah Alesya melainkan Afnan yang ikut memandang wajah Alesya yang tersenyum canggung, bukan hanya memandang rupanya Afnan langsung menghampiri Alesya yang dibuat terkejut dan ingin sekali memundurkan langkahnya tetapi ia memilih diam mematung saja lantaran kini mertuanya beserta Ziva girang sekali mendapati dia bersama Afnan saling berhadapan dengan jarak yang begitu dengan bahkan tanpa tersadar kedua tangan Alesya kini sudah digenggam penuh kelembutan oleh Afnan.


"Hm."


Suara deheman Ziva sempat membuat Alesya tersentak dan ingin sekali melepas tangan Afnan hanya saja pegangan tangan tersebut sangat kuat sehingga ia tidak dapat melepasnya, sedangkan Izma langsung menutup kedu mata Ziva dengan telapak tangannya.


"Husshh, Ziva jangan nakal ya."


Ziva pun terkekeh mendengar ucapan sang Mami yang masih saja menutup kedua matanya itu.


Cup


Ciuman singkat mendarat dikening Alesya, sontak Alesya langsung kaget dan kedua bola matanya terbelalak apalagi ia melihat mami dan papi mertuanya yang sedang senyum-senyum kepadanya.


"Terima kasih ya Bidadari syurgaku, kamu sudah mau membuatkan sarapan untuk suamimu yang paling beruntung seperti aku."


"Ini orang nggak tahu tempat ya?, main menyolong saja, mana ada Mami dan Papi mertua lagi, mau taruh dimana coba muka aku?, malu banget, nih orang emang nggak punya malu ya."


Alesya kesal bukan main lantaran Afnan sesuka hatinya mencium keningnya tanpa permisi dulu apalagi dihadapan mertuanya ya walaupun mertuanya terlihat senang tetapi tidak dengan Alesya yang merasa dipermalukan oleh Afnan.


"Ya sudah kalau begitu ayo kita sarapan, Ziva sudah lapar baper nih."


"Yeayyy, si Mblo main lapar pakai baper segala."


"Ishhh Mami, Papi, bang Af songong tuh mentang-mentang sudah nggak jomblo lagi."


Ziva yang merasa diejek karena kejombloannya oleh sang Abang tak terima dan langsung mengadu kepada Mami dan Papinya yang kompak hanya menggeleng kepala saja sembari mengajak kedua anak serta menantunya untuk sarapan.


"Maa syaa Allah ini enak banget Alesya, aku bener-bener bersyukur punya istri seperti kamu, aku jadi makin sayang deh sama kamu."


"Iya Kak Al memang yang terbaik, oh ya kenapa kalian nggak tinggal di sini saja sih, kan nanti Ziva bisa belajar masak sama Kak Al."


"Ziva, Abang Af kan sudah punya rumah sendiri jadi ya tinggal di rumah sendiri lah sama istri Abang, ya kan Alesya."


Alesya yang sedang ingin mencicipi oatmeal buatannya itu langsung tersentak dan kaget akibat obrolan Kakak Adik yang berada di sampingnya.


"Memangnya Kak Al mau tinggal di sana?, kan di rumah Bang Af nggak ada siapa-siapa, sepi lagi, kalian cuma berdua saja, kalo di sini kan ramai ada Ziva, Mami dan Papi."


"Apa?, jadi Afnan punya rumah sendiri dan di rumah itu hanya ada Afnan dan aku nantinya?, nggak aku nggak mau tinggal cuma berdua sama Afnan, aku nggak mau." Batin Alesya.


"Ziva, Abang kamu kan memang sudah tinggal di rumahnya sendiri sudah lama, jadi sekarang biarkan Abang kamu tinggal berdua sama istrinya."


Kali ini papi Zawir mulai menasehati sang putri bungsu yang awalnya sempat cemberut karena ingin Alesya tinggal bersamanya alasannya agar dapat belajar memasak bersama, tetapi karena papinya yang berbicara jadi Ziva enggan untuk menyanggahnya lagi.


"Oh ya, Afnan kamu jadi memboyong Alesya ke rumah kamu sore ini Nak?"


Pertanyaan mami Izma langsung dianggukkan dengan pasti oleh Afnan sedangkan Alesya terkejut bukan main lantaran ia tidak tahu menahu tentang hal tersebut ditambah lagi ia kesal karena Afnna tidak membicarakan terlebih dahulu kepadanya.


"Iya Mami in syaa Allah nanti sore aku dan Alesya akan pulang ke rumah kami, soalnya besok kan sudah masuk kuliah."


Izma yang mendengar jawaban dari sang putra sulung hanya dapat mengangguk kecil, lalu mereka melanjutkan sarapan dengan keheningan masing-masing sekaligus menikmati cita rasa yang enak dari oatmeal buatan tangan Alesya.


∆∆∆∆∆


"Ada apa sih Alesya, kok buru-buru mengajak ke kamar, ini masih pagi lho."


Ocehan Afnan yang sengaja menggoda Alesya itu cukup membuat Alesya bergidik ngeri sekaligus menghela napas kesal.


Kini Alesya dan Afnan sudah berada di kamar mereka dengan pintu yang tertutup rapat dan memang benar Alesya yang membawa lebih tepatnya menarik Afnan untuk masuk kedalam kamar mereka karena ada yang ingin Alesya bicarakan hanya empat mata saja dengan Afnan.


"Kamu apa-apaan sih?, kamu nggak pernah lho bilang kalau kita akan tinggal di mana, pokoknya aku nggak mau tahu ya, aku akan tetap tinggal di rumah orang tuaku, titik, silahkan kalau kamu mau tinggal di mana saja itu urusan kamu."


Alesya sudah tidak dapat lagi menahan rasa kesalnya dari tadi di meja makan akibat ulah Afnan yang berkata semena-mena dan kini Alesya lega karena ia sudah dapat menyuarakan isi hatinya yang tidak terima dengan keputusan sepihak dari Afnan yang ingin tinggal di rumahnya sendiri bahkan berdua saja dengan Alesya.


Namanya juga Afnan, pasti selalu tersenyum dalam meladeni sifat sang istri yang sering cemberut dan kesal kepadanya.


"Alesya aku minta maaf ya kalai aku belum bilang hal ini sama kamu, tapi aku pikir kamu akan setuju saja dan mengikuti semua keputusan aku sebagai suami kamu."


"Alesya, kamu nggak keberatan kan kalau kita tinggal di rumah sendiri, bukan tinggal di rumah orang tua aku ataupun orang tua kamu, kan kita sudah menikah jadi ya sudah seharusnya kita harus tinggal di rumah sendiri."


Rasanya ingin sekali Alesya menolak mentah-mentah keinginan Afnan tetapi ia urungkan karena baru saja Afnan mengingatkan dirinya bahwa kini mereka sudah menikah jadi memang seharusnya tinggal di rumah sendiri.


"Kenapa sih kalau kita tinggal di rumah orang tuaku saja?, aku Nggak bisa jauh-jauh dari orang tuaku, harusnya kamu mengerti dong."


"Alesya, kita nggak bisa tinggal di rumah orang tua kamu, karena disana ada Kak Alula, Kak Alula dan aku bukan mahrom jadi kita nggak bisa tinggal di rumah orang tua kamu."


Setelah mendengar jawaban dari Afnan yang ada benarnya itu membuat Alesya sempat kesal dan hanya dapat menghela napas pelan karena kesempatan untuk tinggal di rumah orang tuanya kini pupus sudah.


"Ya sudah kalau begitu kita tinggal di sini saja di rumah orang tua kamu, mahrom kamu semua kan, Adik kamu juga perempuan, jadi nggak ada tuh yang namanya bukan mahrom."


Tidak da pilihan lain, dari pada tinggal berdua saja dengan Afnan, lebih baik Alesya tinggal di rumah mertuanya saja, lebih aman dan intinya Alesya tidak akan tinggal berdua saja dengan suaminya.


"Kita nggak bisa tinggal di sini."


"Lho kenapa?, kamu mau alasan apa lagi sih?"


"Alesya sudah cukup aku menyusahkan kedua orang tuaku selama ini, sekarang saatnya aku hidup mandiri, dengan tidak tinggal di rumah orang tuaku, mungkin orang tuaku memang tidak merasa disusahkan tetapi aku akan tetap merasa bersalah karena diumurku yang sudah dewasa ini masih saja tinggal bersama mereka, apalagi sekarang aku sudah menikah alangkah lebih baiknya tinggal di

__ADS_1


rumah sendiri, aku harap kamu mau mengerti ya."


Alesya diam seribu bahasa, ada rasa kagum muncul dibenaknya, ia benar-benar tidak menyangka laki-laki dihadapannya dapat berpikir dewasa seperti itu.


"Kamu mau kan tinggal di rumah kita sendiri?"


"Terserah, mau bagaimana lagi seorang istri kan harus taat sama suami." Jawab Alesya dengan perasaan yang terbagi-bagi.


"Maa syaa Allah, istri aku sholihah banget sih."


Tidak ada pilihan lagi untuk Alesya, jadi ia akan tinggal bersama Afnan lebih tepatnya berdua saja, mau bagaimana lagi mulai detik ini ia harus lebih bersahabat dengan takdirnya, dimana sekarang statusnya adalah sebagai seorang istri yang harus taat kepada suaminya agar syurga dapat ia raih dengan mudah itulah alasan utamanya saat ini.


"Lagi pula kalau kita tinggal di rumah sendiri, kita bebas mau berbuat apa saja, karena nggak akan ada yang ganggu."


Perkataan Afnan yang ambigu itu cukup membuat Alesya kaget dan sempat berpikir kemana-mana, ditambah lagi Afnan mengkedipkan sebelah matanya dengan genit.


"Ma-maksud kamu apa?"


"Alesya dengarkan aku dulu, jangan cemberut dulu dong, maksud aku kita bebas mengerjakan tugas kita sebagai suami istri, aku bisa menjalankan tugas aku sebagai kepala rumah tangga dengan baik begitu juga dengan kamu, kamu bisa menjalankan tugas kamu sebagai Ibu rumah tanggadengan baik."


Alesya yang hanya sibuk mendengarkan langsung melengos keluar dari kamarnya meninggalkan Afnan yang hanya dapat geleng-geleng kepala saja sembari tersenyum.


∆∆∆∆∆


"Kak Al sering-sering main ke sini ya, biar Ziva ada temannya, soalnya Mami sama Papi sibuk berdua-duaan terus."


Ucapan Ziva yang sempat mengadu kelakuan kedua orang tuanya kepada Alesya membuat suasana pecah seketika karena mami dan papi saling mencolek lengannya.


"Alesya sering-sering datang ke sini ya, ajak suami kamu, soalnya suami kamu itu suka lupa pulang ke rumah orang tuanya, mentang-mentang sudah punya rumah sendiri, padahal kami selalu rindu sama putra sulung kami lho."


Kali ini Izma yang menyindir sekaligus mengadu kepada Alesya tentang putra sulungnya yang pulang ke rumah keluarganya dan Izma berharap agar Alesya dapat mengingatkan Afnan untuk sering-sering pulang ke rumah keluarganya sendiri.


"In syaa Allah kami akan sering-sering ke sini, Mami, Papi dan kamu Zi nggak usah khawatir, ya."


Dengan ucapan Alesya yang meyakinkan membuat Izma dan Zawir beserta Ziva percaya akan ucapan dari anggota keluarga barunya itu.


"Sudah sore nih, ayo Alesya kita pulang."


Afnan yang tadinya hanya berdiam diri disamping sang istri mulai mengajak untuk segera pulang ke rumah mereka.


Izma dan Ziva bergantian memeluk Alesya dengan singkat sedangkan Afnan segera mencium punggung tangan papinya dengan hormat begitu juga dengan Alesya yang ikut mencium punggung tangan Mami dan Papi mertuanya.


Pintu mobil pun dibuka oleh Afnan lalu Alesya memasuki mobil tersebut kemudian disusul oleh Afnan yang duduk disampingnya dan mengemudikan mobil sedannya hingga keluar dari area rumah orang tuanya.


Diperjalanan tidak ada perbincangan, Alesya memilih memusatkan pandangannya kesekitar jalanan melalui kaca mobilnya yang tertutup rapat sementara Afnan dengan fokusnya menyetir dengan pandangan kedepan walaupun sesekali ia menoleh kearah Alesya dengan sambil tersenyum.


30 menit berlalu, mobil sedan yang dikemudikan oleh Afnan kini berhenti didepan pintu gerbang bertuliskan "perumahan permata putih" dimana ada 2 orang satpam sedang menyapanya lebih tepatnya menyapa Afnan.


"Assalaamu 'alaikum Pak Afnan."


"Wa 'alaikumus salaam Pak Hamdan Pak Rasyid, oh ya Pak ini seperti biasa, ada rezeki untuk Para Bapak-Bapak keren."


Kedua satpam yang berdiri tepat di samping Afnan yang membuka kaca mobilnya langsung menerima bungkusan nasi dari Afnan. Rupanya hal tersebut sudah menjadi rutinitas Afnan yaitu memberikan makanan kepada kedua penjaga rumahnya lebih tepatnya penjaga perumahan dimana ia tinggal.


"Alhamdulillah, terima kasih Mas Afnan."


"Sama-sama Pak, oh ya perkenalkan ini istri saya namanya Alesya, jadi kalo nanti istri saya keluar masuk sini tidak usah dicegat ya Pak."


Alesya yang tadinya hanya diam saja segera tersenyum untul meyapa kedua satpam yang sempat memandangkan kearahnya sembari membalas senyuman sapaanya.


"Alhamdulillah ya Mas Afnan sudah punya istri, jadi sudah ada yang mengurusi."


"Iya Pak Rashid benar, masa ganteng-ganteng nggak ada yang mengurusi."


Kedua satpam tersebut berhasil mengocok perut Afnan karena ucapan mereka yang ada-ada saja mengejek Afnan.


Setelah merasa cukup untuk mengobrol sejenak kedua satpam tersebut mempersilahkan mobil yang dikendarai oleh Afnan untuk masuk ke dalam perumahan tersebut.


∆∆∆∆∆


Kedua kaki Alesya terhenti di rumah besar nan berlantai dua, tak hentinya kedua bola matanya menyoroti tiap sudut ruangan rumah yang kini sudah Alesya masuki.


"Ini rumah terlalu besar untuk kita tempati, sedangkan kita hanya dua orang saja."


"Kalau sekarang rumah ini memang terlalu besar untuk kita, tapi rumah ini kan nantinya akan kita tempati bersama anak-anak kita."


Lagi-lagi Alesya dibuat kehabisan kata-kata dan menjadi pendiam seketika, Afnan begitu berhasil membuat wanitanya tak berdaya akan ucapannya barusan.


Dengan susah payah Alesya langsung menyadarkan dirinya dari ketidakberdayaannya hal ini membuat Afnan tersenyum geli dan dapat merasakan kegugupan yang sedang menimpa sang istri.


"Oh ya sepertinya aku harus pulang dulu ke rumah, Ayah sama Bunda belum tahu kan kalau kita nggak akan tinggal di rumah mereka, dan juga aku harus mengambil baju-bajuku."


"Kamu nggak usah pulang Sya."


Afnan yang terang-terangan melarang Alesya untuk pulang dengan alasan memberitahu ayah bunda sekaligus mengambil baju-bajunya, sontak mendapat tatapan dengan isyarat tanya dari Alesya.


"Iya kamu nggak usah pulang Sya, karena kemarin aku sudah memberitahu Ayah sama Bunda kalau kita akan tinggal di rumah ini, dan masalah baju kamu nggak usah khawatir karena Ziva sudah menyiapkan beberapa baju baru untuk kamu di lemari kamar kita."


Mendengar ucapan tersebut membuat Alesya langsung menghela napas karena ia tidak bisa pulang ke rumahnya hari ini padahal ingin sekali ia pulang ke rumahnya, karena rasa rindu kepada Ayah dan Bunda yang sudah menggebu.


Rasanya sulit sekali bagi Alesya untuk menerima suasana baru yang tercipta dari rumah yang mulai detik ini akan ia tempati, dan baru kali ini ia tinggal berjauhan dengan ayah dan bundanya, karena sudah dari kecil ia terbiasa tinggal bersama kedua orang tuanya yang sangat ia cintai, Alesya tidak menjamin akan betah di rumah barunya ditambah lagi ia akan tinggal berdua saja dengan suaminya, Afnan.


∆∆∆∆∆


Dengan malas Alesya menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya lebih tepatnya kamar mereka berdua, Afnan yang melangkah dibelakangnya hanya tersenyum saja dan berharap Alesya betah tinggal di rumahnya lebih khususnya betah tinggal berdua saja dengan dirinya.


"Ini kamar kita, silahkan dibuka pintunya Sya."


Mereka sudah berdiri tepat di depan pintu sebuah kamar yang dikatakan oleh Afnan adalah kamar mereka berdua. Dengan ragu Alesya pun membuka pintu kamarnya wangi bunga mawara menerobos masuk kedalam hidung Alesya yang mancungnya standart.


Kini terpampang kamar berdekorasi berwarna putih dengan hiasan bunga mawar disetiap sudut ruangannya, terutama di ranjang yang berukuran lumayan besar bertaburan puluhan kelopak bunga mawar merah.


"Ini pasti kerjaannya Zizi, ya namanya juga kita kan masih pengantin baru, jadi kamarnya harus disulap juga jadi kamar pengantin Sya."


Awalnya Alesya sebal karena melihat kondisi kamar tersebut yang mengingatkan dirinya bahwa ia masih menjadi pengantin baru tetapi mau bagaimana lagi ia juga tidak bisa marah apalagi karena hal sepele jadi Alesya pun memilih masuk ke dalam kamarnya dengan membungkam mulutnya. Afnan dapat bernapas lega lalu menyusul sang istri untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Kamarnya jadi harum bunga mawar ya Sya, jadi seperti malam pertama lagi ya?"


Afnan pun tersenyum kecil karena ucapannya sendiri sedangkan Alesya malah mengerutkan dahinya yang sama sekali tidak ada guratan kerutan.


"Kalau begitu aku keluar dulu ya Sya, kamu yang betah ya disini untuk menemani aku."


Alesya tidak merespon ucapan Afnan bak angin berlalu saja, dan dengan sabarnya Afnan tidak mempermasalahkan hal tersebut ia bahkan memilih keluar dari kamarnya agar Alesya bisa menyesuaikan diri di kamar mereka.


Dengan seksama Alesya mencoba memandangi ruangan pribadinya yang lumayan besar dan rapi tersebut, sebagus apapun rumah yang ditempatinya kini, tetap saja membuat Alesya merasa sangat asing.


"Ya Allah aku nggak betah tinggal disini, jauh dari Ayah, Bunda dan Kakak, kenapa harus secepat ini aku meninggalkan rumahku meninggalkan kamar kesayanganku dan harus tinggal jauh dari orang-orang yang aku cintai, ini nggak adil masa hanya karena satu orang aku harus meninggalkan keluargaku yang aku cintai..."


Tak terasa air mata Alesya menetes begitu saja, dia sangat sedih karena mulai hari ini dia akan tinggal berjauhan dengan Ayah Bunda beserta kakaknya, dia akan sangat merindukan Ayah dan Bundanya, dia akan merindukan suasana rumah keluarga kecilnya dan dia juga akan merindukan momen bertengkar dengan sang Kakak, rasanya terlalu cepat bagi Alesya meninggalkan rumah tersebut dia belum siap hidup mandiri tanpa orang-orang yang dia cintai. Tapi apa mau dikata Alesya sudah menjadi seorang istri yang mana ia harus tinggal bersama suaminya bukan bersama kedua orang tuanya lagi.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2