
Bahagia bukan diukur dengan banyaknya materi
Melainkan diukur dengan seberapa setia dalam menemani
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah
Selamat membaca
Semoga suka
🌻🌻🌻
Alesya terusik disela-sela tidur lelapnya, malam masih menghiasi bumi namun sayup-sayup terdengar ada suara seseorang tepat di telinganya, setelah berusaha mengumpulkan kesadarannya Alesya mencoba membuka kedua matanya dengan perlahan. Tatapannya terfokus kearah seorang laki-laki sedang duduk dikursi sebelah ranjangnya dengan memegang sebuah kitab suci terdengarlah suara merdu ayat-ayat suci Al-Quran menggema diruangan pribadinya.
Alesya nampak tersenyum ketika melihat wajah tampan laki-laki disebelahnya yang tak lain adalah Afnan. Dengan khusu'nya Afnan bertilawah sambil tangan satunya mengelus-elus perut Alesya sampai dia tidak sadar bahwa yang dielus-elus sudah terbangun dari tidurnya.
Rasa tenang dan damai Alesya rasakan disaat suara merdu nan bagusnya Afnan ketika membacakan ayat-ayat kalamullah untuk dirinya dan untuk calon anak-anak mereka.
Alesya teringat akan sebuah artikel yang dia baca bahwa banyak sekali taburan manfaat seorang ibu hamil mendengarkan serta membaca Al-Quran diantaranya akan merasakan ketenangan dan kedamaian, mencerdaskan otak anak sejak dini sekaligus membentuknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah karena diperkenalkan Al-Quran semenjak dikandungan dan banyak lagi manfaat yang lainnya.
Afnan pun tersadar ketika punggung tangannya sedang dielus lembut oleh Alesya. Dia segera menyudahi tilawah Qurannya kemudian membantu Alesya berganti posisi untuk duduk bersender dengan kaki terjulur lurus kedepan.
"Einy sudah bangun?"
"Iya Alby."
Alesya ingin beranjak dari tempat duduknya. Nyaris saja kedua kakinya menyentuh dinginnya lantai namun Afnan berhasil mengangkat tubuhnya. Menggendongnya ala bridal style menuju ke kamar mandi.
Kali ini Alesya tidak memberontak. Dia justru mengalungkan kedua tangannya di leher Afnan sembari menatap wajah bersinar sang suami yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus disekitar jambangnya. Terlihat semakin tampan.
"Jazakallah khoiron Alby." Alesya berucap terima kasih lantaran suaminya begitu perhatian kepadanya bahkan tanpa menunggu suruhan.
"Wa jazakillah khoiron Einy." Balas Afnan dengan senyuman bahagia.
Dengan hati-hati Afnan menurunkan kembali Alesya di tepian ranjangnya. Setelah keluar dari kamar mandi usai mengambil wudhu. Afnan segera menggelar dua sajadah depan belakang untuk dirinya dan untuk makmumnya, Alesya.
Alesya bangun dari duduknya untuk meraih mukenah yang berada diatas meja, sayangnya mukenah tersebut gagal diambil lantaran Afnan sudah mengambilnya terlebih dahulu.
Dengan telaten Afnan duduk berjongkok untuk memasangkan bawahan mukenah Alesya. Perlahan Alesya mengangkat sedikit kakinya secara bergantian hingga akhirnya bawahan mukenahnya berhasil terpasang disetengah tubuhnya. Kini giliran khimar mukenahnya yang belum terpasang. Dengan bantuan Afnan yang sangat perhatian, akhirnya khimar mukenahnya terbalut dengan sempurna dari kepala sampai dibawah perut.
Meleleh hati Alesya. Sampai detik ini Afnan berhasil membuatnya terpesona akan suara merdu nan bagusnya lantuanan Al Qur'an yang dibacakan suaminya. Afnan begitu lancar membacakan surah-surah panjang Al-Quran yang ditersimpan rapi dimemori otaknya.
Usai melaksanakan sholat tahajjud berjamaah. Afnan bergegas menuju masjid yang letaknya tidak jauh dari rumahnya untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Dia sadar betul akan kewajibannya sebagai seorang muslim yang sholat fardhunya harus berjamaah dimasjid. Sementara Alesya menyempatkan untuk bertilawah Qur'an sembari menunggu adzan subuh berkumandang.
∆∆∆∆∆
Dikehamilan pertamanya ini Alesya bersyukur karena Allah memberikan waktu yang tepat walau dirinya masih berstatus sebagai mahasiswi namun sudah memasuki semester akhir yang mana hanya disibukkan dengan mengerjakan skripsi yang mana bisa dikerjakan di rumah dan ke kampus pun sudah jarang tidak seperti tahun-tahun kemarin lantaran Alesya ke kampus bukan untuk mengikuti mata kuliah lagi melainkan untuk berkonsultasi dengan dosen membimbingnya mengenai skripsi nya.
Pagi ini Alesya sudah berkutat di depan laptop. Dengan asyik jari jemarinya menekan-nekan tombol keyboard yang berjejer rapi. Afnan sudah melenggang pergi sejak tadi usai sarapan bersama dengan Alesya. Sebenarnya Afnan tidak ingin meninggalkan Alesya seorang diri di rumahnya namun Alesya mengusir nya dikarenakan dia ingin fokus dengan skripsinya tanpa ada yang ganggu sekaligus supaya Afnan fokus dengan bisnisnya yang saat ini sedang ramai-ramainya pengunjung, baik di Rafisqy Batik maupun di Jus Kafe. Alhamdulillah, ini namanya rezeki anak. Janji Allah tidak akan pernah ingkar bahwa setiap anak yang lahir kedunia sudah membawa rezekinya masing-masing jadi tidak ada yang namanya punya anak menjadi miskin justru banyak anak banyak rezeki,
In Syaa Allah.
Deringan ponsel berkali-kali tidak lantas menyegerakan Alesya untuk mengangkatnya. Lantaran dia terlalu fokus mengerjakan tugas akhirnya kuliahnya. Dia tidak ingin fokusnya melarikan diri begitu saja karena dirinya harus mengangkat telepon namun suara deringan ponsel itu perlahan-lahan akan memudarkan kefokusannya. Alesya dilema dalam memilih untuk mengangkat telepon atau fokus ke layar laptop. Tetapi syukurlah deringan teleponnya tak terdengar lagi mungkin yang menelponnya sudah putus asa lantaran tidak segera dijawab.
Tak terasa hari sudah siang, walau sedang sibuk dengan pekerjaannya tetapi Alesya tidak melupakan kebiasaan wajibnya yaitu sholat sunnah duha dengan dilanjutkan sholat wajib dzuhur tentunya dalam waktu yang berbeda-beda. Jari jemarinya seakan mengkeriting akibat dipaksa terus-terusan untuk melompat-lompat di tombol keyboard laptopnya. Tapi apa mau dikata ini demi terselesaikan skripsinya Alesya harus berjuang sebisa mungkin.
Perut Alesya kram mendadak. Mungkin si calon anak-anaknya menegurnya lantaran masih saja berkutat dengan laptopnya. Dengan lembut dan penuh kasih sayang Alesya mengelus perutnya untuk menenangkan kedua buah hatinya "sabar ya nak, kalian yang kuat ya, kita berjuang sama-sama, okey, aku mencintaimu-" Alesya tersadar bahwa kini dirahimnya bukan hanya satu janin saja melainkan dua janin. "Aku mencintai kalian anak-anakku"
__ADS_1
Syukurlah, kedua janinnya dapat diajak kompromi. Rasa kram berangsur hilang. Justru kini berganti gerakan-gerakan kecil didalam sana. Alesya tersenyum, apakah kedua janinnya sedang merespon ucapannya dengan menciptakan gerakan-gerakan kecil yang membuat perutnya terasa geli dan aneh. Namun Alesya menikmatinya serta bersyukur itu artinya kedua janinnya sedang baik-baik saja.
"Assalaamu 'alaikum."
Suara salam yang terdengar menghampiri sedikit mengejutkan Alesya yang mulai kembali mengetik.
Afnan pulang dengan wajah yang cemas dan langsung duduk disamping Alesya yang masih fokus ke layar laptop.
"Wa 'alaikumus salaam, lho Alby kok sudah pulang, tumben pulang siang biasanya pulang sore kan?"
"Aku khawatir sama kamu Einy, aku takut kamu kenapa-kenapa." Ujar Afnan sambil mengatur napasnya yang tersenggal-senggal akibat dirinya yang berlari memasuki rumahnya.
Afnan memperhatikan istrinya dengan seksama. Untuk memastikan apakah istrinya dalam keadaan yang baik-baik saja. Syukurlah Alesya terlihat sedang baik-baik saja. Sehingga Afnan dapat bernapas dengan lega.
"Aku-, alhamdulillah aku baik-baik saja Alby."
Alesya mengalihkan pandangannya ke wajah Afnan yang terlihat berkeringat. Dengan lembut dia mengusap keringat yang terlihat mengganggu ketampanan suaminya saja.
"Kalau kamu baik-baik saja kenapa nggak angkat telepon aku dari tadi?, aku cemas banget takutnya kamu kenapa-knapa sampai nggak bisa angkat telepon aku."
Alesya tercengir menatap suaminya yang ternyata mengkhawatirkan keadaannya lantaran dirinya mengabaikan panggilan telepon dari suaminya. Alesya pikir yang telepon bukan Afnan mangkanya tadi dia tidak segera mengangangkat panggilan teleponnya.
"Oh itu kamu yang telpon Alby, maaf tadi nggak sempat aku angkat soalnya aku lagi sibuk banget nih." Afnan menggelengkan kepala melihat Alesya dengan polosnya menjelaskan alasannya tidak mengangkat telepon.
Afnan mengerti. "Ya sudah tapi lain kali jangan diulangi lagi ya." Alesya mengangguk berkali-kali untuk meyakinkan Afnan bahwa dirinya tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.
"Oh ya Einy, kamu sudah makan siang?"
Alesya tercengir kembali. Menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih. "Belum, aku lu-pa soalnya sibuk mengerjakan skripsi." Ucap Alesya sambil tertawa kecil bak bocah kecil yang tertangkap basah sedang berhujan-hujanan.
Tanpa banyak bicara lagi. Afnan segera beranjak dari tempat duduknya dan melenggang pergi entah ke mana, Alesya yang memperhatikannya hanya dapat mengangkat kedua bahunya. Kemudian fokus kembali ke layar laptop.
Sedang beberapa menit kemudian, sang pangeran Arabnya Alesya datang dengan membawa nampan yang bersajikan sepiring nasi dan segelas air.
"Einy, walaupun kamu sedang sibuk, kamu jangan lupa makan, kasihan anak-anak kita di dalam sana, aku nggak mau mereka kelaparan."
"Ohya Alby, kira-kira nanti anak-anak kita memanggil kita dengan sebutan apa ya?." Disela mengunyah makanannya Alesya berpikir tentang panggilan apa yang tepat untuk anak-anaknya nanti saat memanggil dirinya dan Afnan.
Afnan terpancing untuk berpikir. Dia perlu memirkan hal itu. Agar mulai sekarang terbiasa memanggil dirinya dengan sebutan semacam ayah dan ibu tetapi baik Alesya maupun Afnan ingin memiliki panggilan yang berbeda dari yang lain, istilahnya unik.
Mata Afnan berbinar. Dia mendapatkan nama panggilan yang cocok untuk dirinya dan Alesya. "Bagaimana kalau Baba dan Umma."
Alesya mengkerutkan dahinya seolah menimbang-nimbang panggilan yang Afnan cetuskan "Baba?, Umma?"
"Iya Einy, bagaimana kamu setuju nggak?"
"Bagus, aku setuju Alby, berarti mulai sekarang kalau kita mau ngobrol sama anak-anak kita manggilnya Baba dan Umma." Ucap Alesya sembari menunjuk kearah Afnan saat mengucapkan kata Baba dan menunjuk kedirinya sendiri saat mengucapkan kata Umma.
Deal, Alesya dan Afnan menyepakati panggilan baru pengganti Ayah dan Ibu untuk anak-anaknya saat memanggil mereka nanti, yaitu Baba dan Umma. Bahkan saat ini Alesya sudah mempraktikkannya. Memanggil dirinya dengan sebutan Umma dikala sedang mengajak ngobrol anak-anaknya yang sedang tenang di dalam rahimnya.
∆∆∆∆∆
Diteriknya panas matahari dan keramaian di jalan raya Alesya sedang mengendarai motor maticnya seorang diri. Melajukan motornya dikecepatan sedang lantaran dia sadar diri meskipun sedang terburu-buru tetapi bukan berarti menyepelekan keselamatannya apalagi saat ini Alesya sedang keadaan hamil anak kembar lagi. Jadi dia berhati-hati dalam mengendarai motornya. Sebenarnya tadi Afnan ngotot ingin mengantar Alesya namun namanya juga Alesya sang calon Ibu hebat yang tidak ingin menyusahkan suaminya sendiri.
Tujuan kepergian Alesya hari ini adalah kampusnya. Tadi malam dia sudah membuat janji dengan Dosen pembimbingnya untuk membahas tentang skripsi yang sedang digarapnya. Dosen pembimbingnya akhirnya berbaik hati kepada Alesya untuk bertemu besok di kampus. Meskipun awalnya dipenuhi dengan drama yang mana dosen pembimbing nya lama sekali membalas pesannya. Maklum namanya juga seorang dosen pasti sibuk dan mahasiswi yang dibimbingnya bukan hanya Alesya seorang. Untung saja Alesya bisa bersabar dan cukup sadar diri jika tidak, mungkin dia sudah melabrak rumah Dosennya karena telah membuatnya naik pitam dan tentunya tidak akan bisa menemui dosennya hari ini untuk membimbing dirinya dalam mengerjakan skripsi.
Alesya telah sampai di parkiran motor. Ia melepas helm serta turun dari motornya secepat mungkin. Jam dipergelangan tangannya menunjuk kan pukul 09.20, itu artinya 10 menit lagi dosennya akan sampai ke kampus karena mereka janjiannya jam 09.30.
Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Alesya segera bergegas meninggalkan tempat parkiran menuju ruangan dosennya yang berada dilantai 7. Berarti Alesya harus menaiki lift agar lebih cepat sampai. Namun tidak sesuai perkiraannya. Banyak mahasiswa yang mengantri didepan lift. Tidak mungkin Alesya ikut mengantri juga karena waktu yang dimilikinya semakin berkurang. 8 menit lagi. Bagaimana ini apa iya Alesya akan menaiki anak tangga?, sebenarnya Alesya sudah terbiasa menaiki beberapa anak tangga semenjak dulu sering aktif mengikuti mata kuliah ditahun-tahun lalu. Namun dikondisinya saat ini yang sedang hamil dia tidak yakin akan kuat untuk menaiki anak tangga mana lantai 8 lagi. Dilema mengusik ketenangannya.
"Aduh Nak bagaimana ini, liftnya mengantri, kalau kita naik tangga Umma takut kalian kenapa-kenapa."
Disaat Alesya sedang asyiknya mengelus-elus perutnya sembari mengobrol dengan kedua janin dikandungannya, tanpa disadari beberapa mahasiswi sedang memperhatikannya dan langsung menghampirinya.
__ADS_1
"Mbak mau naik lift ya?"
Alesya sedikit terkejut akan kehadiran dua orang mahasiswi yang menghampirinya. Dengan ragu Alesya mengangguk seraya tersenyum ramah kepada mereka.
Kedua mahasiswi itu saling memadang satu sama lain sambil mengisyaratkan sesuatu sehingga akhirnya salah satu diantara mereka berjalan menuju kerumunan mahasiswa yang sedang mengantri didepan lift dan yang satunya tetap disampung Alesya.
"Tunggu sebentar ya Mbak." Ucapnya.
Lagi-lagi Alesya hanya tersenyum tak mengerti. Kira-kira apa yang sedang mereka lakukan kepadanya.
Alesya terkejut ketika semua mahasiswa serta mahasiswi yang mengantri didepan lift secara bersamaan menoleh kebelakang menatapnya dengan wajah-wajah yang ramah. Mahasiswi yang tadi menghampiri Alesya melambaikan tangan berisyarat kepada mahasiswi yang disamping Alesya.
"Ayo Mbak kesana, Mbak boleh masuk lift duluan."
Dengan wajah kebingungan akhirnya Alesya mengikuti arahan mahasiswi itu untuk berjalan memasuki lift yang sudah dipenuhi beberapa mahasiswa dan mahasiswi lainnya dan tinggal satu tempat kosong. Saat melewati kerumunan mahasiswa yang mengantri sayup-sayup Alesya mendengar obrolan singkat diantara mereka.
"Lho kenapa dia masuk duluan?, enak banget." Tanya seorang mahasiswa dengan jengkel.
"Mbak itu sedang hamil, jadi harus diutamakan, kalau kamu mau masuk duluan, silakan, asal kamu juga sedang hamil." Celetuk salah satu mahasiswi yang kemudian disambar gelak tawa oleh yang lainnya.
Alesya sempat terkekeh geli. Ada-ada saja kata-kata lucu mereka. Masa iya laki-laki disuruh hamil.
Sebelum memasuki liftnya tak lupa Alesya mengucapkan terima kasih kepada dua mahasiswi tadi yang telah membantunya untuk masuk kedalam lift lebih dulu tanpa harus mengantri. Bersyukur sekali Alesya. Ternyata di kampusnya masih menanamkan rasa kepedulian antar sesama dan menyingkirkan rasa egoisme.
Ting! Pintu lift terbuka, Alesya dipersilahkan untuk keluar lebih dulu oleh beberapa mahasiswi yang akan keluar juga di lantai 8, ah mereka baik sekali Alesya jadi terharu dibuatnya.
Tepat jam 09.30 Alesya memasuki ruang fakultas untuk menanyakan apakah dosen yang berstatus sebagai dosen pembimbingnya sudah datang. Seorang perempuan yang bertugas berjaga disana menggelengkan kepala pertanda bahwa dosen yang ditunggu Alesya belum juga datang.
Dengan rasa kecewa Alesya keluar dari ruang fakultas dan memilih duduk dikursi depan ruang fakultas yang memang sudah disediakan.
"Pak Irsyad ke mana ya?, katanya jam 09.30 nhgak boleh lebih sedikit, tapi beliau sendiri malah belum datang, semoga saja sebentar lagi beliau datang, aamiin."
Jam terus berputar melompati angka demi angka, hari pun semakin siang. Namun yang ditunggu Alesya tak kunjung datang. Kemanakah dirinya berada?, tidak ingatkah dengan janjinya?. Alesya sudah mencoba menelponnya namun tidak segera diangkat. Tak lupa dia juga membubuhkan pesan yang tak kunjung dibaca juga.
"Subhanallah, ini sudah jam berapa coba."
Alesya melirik jam tangannya yang tertera angka 12.05 itu artinya sudah 2 jam lebih 35 menit dia menunggu dan menunggu. Tidak enak rasanya menunggu sesuatu yang tidak pasti begitulah yang saat ini Alesya rasakan. Drama macam apa lagi ini, dosennya sama sekali tidak memunculkan batang hidungnya. Inikah yang dinamakan sakit tapi tak berdarah. Beginikah cobaan yang sering dialami mahasiswa dan mahasiswi semester akhir. Menunggu Dosen pembimbingnya bagaikan menunggu jodoh yang tak kunjung datang. Untung saja Alesya sudah menemukan jodohnya jadi cukup dia merasakan lelahnya menunggu sang Dosen pembimbing.
Adzan dzuhur sudah berkumandang 4 menit yang lalu. Dari pada menunggu yang belum pasti sebaiknya Alesya menunaikan kewajibannya untuk sholat dzuhur sekaligus berdoa kepada Allah semoga dosen pembimbingnya tidak melupakan salah satu mahasiswinya yang sudah membuat janji dengannya. Siapalah Alesya dimata dosen pembimbingnya itu, sehingga pasti dengan mudahnya terlupakan.
Sesuai niatnya, usai sholat dzuhur berjamaah di masjid kampus. Alesya berdoa sungguh-sungguh agar dosennya segera datang supaya dirinya bisa cepat selesai mengerjakan skripsi. Dan akhirnya bisa lulus tepat waktu.
Setelah keluar dari masjid Alesya hendak kembali ke ruang fakultas untuk memastikan apakah Dosen yang bernama Irsyad sudah datang ke kampus. Tetapi tiba-tiba saja perut Alesya kram dan melilit. Dia tidak sanggup untuk berdiri hingga akhirnya duduk di emperan masjid sembari terus mengelus-elus perutnya yang sakit mendadak.
"Astaghfirullahal adzim, ya Allah kenapa perutku sakit seperti ini, Mak kalian yang kuat ya di dalam sana, maafkan Umma yang melupakan keselamatan kalian, semoga kalian baik-baik saja ya, Umma mencintai kalian Nak."
Alesya merutuki dirinya sendiri yang tidak memikirkan kondisi bayi kembar dikandungannya. Mungkin karena terlalu capek dan banyak pikiran sehingga kedua bayinya harus terkena imbasnya.
Dibelakang Alesya yang sedang duduk, terlihat Ziva yang baru saja keluar dari masjid usai melaksanakan sholat dzuhur berjamaah juga. Pandangan Ziva tidak sengaja tertuju kearah Alesya. Meskipun tidak melihat wajah Alesya namun Ziva merasa mengenalinya.
"Itu Kak Al kan?, Kak Al kok duduk situ?"
Tanpa berlama-lama lagi Ziva segera menghampiri kakak iparnya yang terlihat duduk santai. Tetapi setelah dihampiri Ziva terkejut. Wajah Alesya pucat pasih dan berkeringat ditambah lagi Alesya memegang perutnya.
"Kak Al kenapa?." Tanya Ziva panik.
Alesya terkejut ketika mendapati Ziva sudah berada didekatnya. "Ziva?"
"Perut Kak Al kenapa?, sakit ya Kak Al?." Ziva sudah panik bukan kepalang. Dia takut terjadi apa-apa dengan kakak ipar serta calon keponakan kembarnya yang masih berada di dalam kandungan.
Alesya menggeleng lemas. Kesakitan di perutnya mengakibatkan dirinya tidak sanggup berkata apa-apa lagi.
"Kak Al jangan bohong sama Ziva, wajah Kak Al pucat banget, kita ke rumah sakit ya Kak Al."
__ADS_1
Akhirnya Alesya pasrah juga. Dia menuruti ajakan Ziva untuk segera ke rumah sakit. Dengan bantuan Ziva Alesya mencoba berdiri namun tiba-tiba saja penglihatannya gelap pekat dan seketika tubuhnya jatuh terlunglai.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤