
Pernikahan bukan akhir dari segalanya
Bukan tentang hidup bahagia saja
Melainkan ujian cinta juga akan menyapa
Teguhkan hati dan sabarkan diri
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah
Selamat membaca
Semoga suka
🌻🌻🌻
Perjalanan Jakarta-Singapura cukup memakan waktu 1 jam 30 menit lamanya. Usai keluar dari area bandara Singapura. Alesya dapat menghirup udara segar dari dalam mobil yang dibuka kaca pintu mobilnya. Mereka menggunakan jasa taksi. Bukannya tidak dijemput oleh kedua orang tuanya atau oleh Alula dan suaminya. Namun Alesya ingin memberikan kejutan kepada mereka yang kini menetap di kota singa tersebut.
Mobil yang membawa mereka telah sampai didepan apartement kediaman kedua orang tuanya sekaligus kakaknya. Alesnya turun dari mobil dengan bergelayut mesra dilengan Afnan. Tanpa menunggu waktu lama lagi mereka masum ke dalam apartement tersebut. Baik Alesya maupun Afnan, dua-duanya sudah pernah menginjakkan kaki di bangunan percakar langit dimana mama Farha beserta keluarga kecilnya berada.
Ting! Pintu Lift yang membawa mereka telah terbuka. Mereka melangkah beriringingan menuju apartement yang bertuliskan nomor 200. Afnan menekan sebuah tombol kecil yang terpasang didinding samping pintu. Terbukalah pintunya menampilkan sosok laki-laki paruh baya yang wajahnya langsung antusias setelah melihat kedatangan Alesya dan Afnan.
"Assalaamu 'aikum Papa." Salam Alesya yang segera mencium punggung tangan papa sambungnya. Afnan mengikutinya.
Masih dengan wajah girang David langsung mempersilahkan anak dan menantunya masuk ke dalam rumahnya. Lalu menutup pintunya kembali. Dengan langkah ragu, Alesya beserta Afnan sudah sampai di ruang tamu. David meninggalkan mereka sebentar untuk memanggil istrinya yang sedang berada di dapur.
"Siapa yang data-"
Farha memalingkan wajah ketika melihat siapa yang datang ke rumahnya. Dengan ragu Alesya mencium punggung tangan mamanya. Sama halnya dengan Afnan. Tatapan Farha datar. Tidak ada ekpresi apapun. Tidak sama dengan David yang begitu senang kedatangan anak dan menantunya dari Indonesia.
"Ayo duduk dulu." Ajak David yang menyuruh mereka untuk duduk. Melihat sang istri masih berdiri David mengajaknya untuk duduk bergabung dengan Alesya serta Afnan.
Alesya dan Afnan hanya dapat saling menatap. Setelah melihat Farha yang nampaknya tidak menyukai kehadiran mereka. Untung David menjadi penengahnya yang dapat mencairkan suasana yang menegang.
"Kalian tumben ke sini?, liburan atau honeymoon?." Tanya David dengan ramah.
Alesya tersenyum tipis. Sama halnya dengan Afnan yang mengisyaratkan kepada Alesya untuk membuka obrolannya. Alesya memandangi mamanya sekali lagi. Masih dengan ekspresi yang sama.
Alesya menghela napas panjang sebelum akhirnya berucap. "Kami datang ke sini, ingin memberi kabar bahagia untuk Ma-Mama dan Papa." Ucapnya dengan lirih.
David semakin berkonsentrasi untuk mendengar ucapan Alesya selanjutnya. Sementara Farha nampaknya biasa saja. Tidak berminat untuk mendengarkan apa-apa dari putri bungsunya yang sudah membuatnya kecewa.
"Alhamdulillah, aku hamil Ma, Pa."
Farha terkejut bukan main. Sorotan tajamnya tertuju ke arah Alesya yang tidak berani menatapnya. Afnan yang menyadari ketakutan sang istri segera menggenggam tangannya. Memberikan kekuatan agar Alesya dapat kembali menenangkan dirinya.
Seakan tak percaya Farha beranjak dari tempat duduknya. Memilih berdiri dengan memunggungi Alesya beserta Afnan. David tidak memperdulikan sang istri dia justru senang mendapat kabar bahagia tentang kehamilan Alesya.
"Alhamdulillah, putri Papa hamil, itu artinya Lapa akan menimang Baby, Baby yang lucu dan menggemaskan." David sangat senang sampai dia memperagakan dirinya sedang menimpang seorang bayi.
"Masalah baru apa lagi ini." Ujar Farha tanpa menoleh kebelakang. Wajahnya merah padam akibat memendam amarah yang tak tertumpahkan. Sudah kesekian kalinya Alesya membuat masalah baru dalam hidupnya. Lagi-lagi putri bungsunya memberinya sebuah kekecewaan, bukan kebahagiaan.
David beranjak dari duduknya. Menghampiri Farha serta berucap "Masalah baru?, masalah baru apa Darling?." Tanya David tak mengerti.
Tatapan tajam Farha kepada Alesya dan Afnan seakan mengisyaratkan rasa kesalnya kepada mereka. Mata Alesya sudah berkaca-kaca. Dia tidak mengerti mengapa Mamanya terlihat marah dan tidak suka saat mengetahui bahwa Alesya sedang hamil.
"Mereka nggak ada habis-habisnya buat Mama kecewa La, terutama Alesya, dia bukan anak yang penurut."
Alesya merasa bersalah. Farha dengan lantangnya menunjuk ke wajah Alesya dengan raut wajah tidak bersahabat. Dia mengatakan bahwa putri bungsunya bukan anak yang penurut. Dan selalu membuat dirinya kecewa.
"Mama ini bicara apa?, Alesya sedang hamil harusnya Mama senang sebagai seorang Ibu yang sebentar lagi akan punya cucu."
__ADS_1
"Apa?, senang?." Tanya Farha dengan tersenyum sinis.
"Mama kecewa sama kamu Alesya, sangat kecewa!"
Farha menolehkan pandangannya kearah Alesya yang dibuat tercekat atas ucapannya. Mengapa Farha kecewa dengan Alesya?, apa yang sebenarnya Farha pikirkan?. Apa dia tidak suka dengan kehamilan Alesya. Apa Alesya telah membuat suatu kesalahan lagi?, entahlah saat ini Alesya hanya dapat terdiam tanpa ingin mengucapkan satu katapun.
"Kenapa kamu bisa hamil?, kenapa nggak ditunda dulu, kehamilan kamu itu membawa masalah." Farha mendengus kesal, tak habis pikir apa yang ada dipikiran sang anak.
"Sebaiknya kamu jangan hamil dulu." Ujar Farha dengan tegas.
Alesya terkejut. Begitu juga dengan Afnan. Mereka saling menatap satu sama lain hingga akhirnya beralih menatap ke arah Farha yang sama sekali tidak merasa salah bicara.
Alesya masih mencerna ucapan sang Mama. Ia tidak menyangka kedatangannya, kehamilannya tidak disambut bahagia oleh Mama kandungnya sendiri. Apa Mamanya tidak menginginkan dirinya hamil?, sama seperti waktu itu tidak menginginkan dirinya menikah. Apakah Alesya sudah berbuat kesalahan lagi di mata Mamanya?, apa kehamilannya adalah suatu kesalahan?. Entahlah Alesya ingin menanyakannya namun dadanya sesak usai mendengar ucapan Mamanya.
"Apa maksud Mama bicara seperti itu?, Mama nggak suka jika Alesya hamil?"
David mewakili Alesya untuk bertanya kepada istrinya. Dia juga tidak habis pikir mengapa istrinya berspekulasi bahwa kehamilan Alesya adalah sebuah masalah. Bahkan harus dihindari.
"Bukan cuma tidak suka Papa, tapi BENCI." Lagi-lagi Alesya dibuat tercekat dan air matanya meluruh begitu saja.
"Ya Allah, kenapa Mama benci aku hamil?, apa benar kehamilanku adalah sebuah masalah, dan Mama menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku ini?." Gumam Alesya di dalam hatinya yang pilu.
"Kenapa Mama membenci kehamilan Alesya?." Kali ini Afnan angkat bicara. Dia sudah tidak ingin berdiam diri saja ketika sang Mama mertua membuat istrinya menangis dalam diam.
"Kamu nggak mikir ya, Alesya masih kuliah, apa jadinya kalau dia hamil, nanti ujung-ujungnya dia cuti dan bisa jadi berhenti kuliah, hancur masa depannya, dan itu semua gara-gara kamu, kenapa kamu harus datang di kehidupan anak saya?, dari awal saya memang nggak setuju anak saya menikah sama kamu, tapi mau bagaimana lagi sudah terjadi, dan lagi-lagi kalian buat saya kecewa dan-"
Farha memotong ucapannya sendiri. Kekesalannya terlalu besar sehingga tidak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata. Dia sadar bahwa hanya Alula satu-satunya anaknya yang mau menuruti setiap ucapannya. Tidak seperti Alesya yang terus saja membuat amarahnya memuncak.
Jadi Mamanya itu tidak membenci kehamilannya lantaran takut jika kuliah Alesya terbengkalai. Alasan yang sama seperti dulu yang mana Mamanya tidak menyetujui pernikahannya karena takut Alesya tidak menyelesaikan pendidikannya.
Ini saatnya Alesya membuktikan kepada sang Mama bahwa dia bisa menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah walau saat ini sedang mengandung. Meskipun tidak begitu yakin tetapi Alesya percaya ada Allah yang akan selalu membantunya menghadapi suatu permasalahan. Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar dan Allah tidak akan menguji hamba-Nya diluar kemampuan Hamba-Nya. Itulah yang selalu Alesya tanamkan dalam hati untuk menguatkan hatinya.
"Mama tenang aja, in syaa Allah aku akan lulus kuliah, dengan tepat waktu." Ucap Alesya meyakinkan mamanya sekaligus berjanji kepada dirinya sendiri.
"Mama butuh bukti bukan sekedar janji."
Afnan kembali menatap Alesya dengan ragu. Dia menggelengkan kepala dengan rasa khawatir atas janji yang baru saja terlontarkan dari mulut Alesya. Genggaman erat tangannya mengisyaratkan kepada Afnan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Ka-kamu yakin Alesya?, saat ini kamu sedang hamil, apa kamu bisa lulus kuliah dengan tepat waktu?, apa kamu tidak mau cuti dulu?, takutnya kalau kamu sibuk kuliah ini akan membahayakan kehamilan kamu."
David sangat khawatir. Dia takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan jika sang putri sambung nya menyibukkan diri untuk kuliah. Lebih baik dia mengambil cuti saja agar tidak membahayakan kandungannya.
"Papa benar Sya, kamu nggak usah membuktikan apa-apa sama Mama, in syaa Allah suatu saat nanti Mama akan menerima semuanya, ya." Timpal Afnan yang menyetujui ucapan Papa mertuanya.
Pendirian Alesya sudah kuat. Apa yang sudah keluar dari mulutnya tidak bisa ia tarik kembali. Ini juga saatnya dia membuktikan kepada mamanya bahwa dia bisa lulus kuliah dengan tepat waktu meskipun saat ini dia sedang mengandung anak pertamanya bersama Afnan.
"Papa nggak usah khawatir, kamu juga nggak usah khawatir Sayang, in syaa Allah aku bisa lulus kuliah tepat waktu, dan in syaa Allah calon anak kita akan baik-baik saja, percaya sama Allah ya."
Afnan sudah tidak bisa berucap apa-apa lagi. Pertahanan Alesya cukup kuat. Semoga calon anaknya baik-baik saja sampai lahiran nanti. Alesya membawa tangan sang suami ke perutnya untuk meyakinkan bahwa buah hati mereka akan baik-baik saja. Afnan mengelus lembut perut Alesya yang mulai terasa sedikit membesar.
Usai mengobrol singkat dengan David. Alesya memilih untuk pamit pulang ke Indonesia. Afnan yang mendengarnya dibuat terkejut. Pasalnya mereka berniat untuk menginap beberapa hari di rumah mama dan papanya, tetapi mengapa saat ini Alesya merubah niat asalnya sehingga memilih untuk pulang ke Indonesia.
Dengan berat hati David merelakan kepergian Alesya dan Afnan dari rumahnya. Dia mengerti akan suasana hati Alesya yang tidak baik. Sebab ucapan istrinya yang menyakitkan sekali.
Hati Alesya memang hancur. Dia tidak bisa menginap di rumah mamanya yang tidak senang akan kehadirannya bahkan membenci kabar bahagia yang nyatanya tidak lantas membuat sang mama ikut bahagia. Itu hanyalah angan-angan Alesya saja. mamanya masih teguh kepada pendiriannya yaitu kecewa yang tidak berkesudahan.
Meskipun pintunya sudah tertutup sejak 5 menit yang lalu, namun Alesya masih menatap pintu itu berharap sang Mama membukakan pintu untuknya dan memeluknya dengan kasih dan sayang. Jujur saat ini Alesya ingin merasakan pelukan hangat dari Mama kandungnya, Mama yang telah mempertaruhkan nyawa demi dirinya lahir ke dunia. Cukup lama Alesya tidak merasakan pelukan Mamanya lagi lebih tepatnya setelah dirinya memutuskan menikah dengan Afnan, bahkan hubungannya dengan sang Mama merenggang, menciptakan jarak yang semakin jauh. Entah sampai kapan Mamanya menatapnya seperti seorang musuh bukan seorang anak. Disaat-saat seperti ini, Alesya sangat membutuhkan Mamanya untuk menjalani masa kehamilannya. Tetapi sang Mama justru tidak menginginkan seorang cucu darinya.
"Kamu yang sabar ya Nak, in syaa Allah suatu saat Oma akan menerima kamu dengan senang hati." Gumam Alesya dalam hati sambil mengelus-elus perutnya seakan sedang mengelus calon anaknya.
Afnan mengelus pundak sang istri. Menyadarkan Alesya yang tengah merenungi nasibnya yang diabaikan oleh mamanya sendiri. Afnan tahu apa yang sedang Alesya alami. Luka dihati Alesya adalah lukanya juga.
"Yang sabar ya, in syaa Allah kita buktikan sama-sama." Ucap Afnan yang terus menguatkan Alesya agar lebih kuat lagi.
Alesya mengangguk pelan sambil mengelus tangan Afnan yang sedang menggenggam pundaknya. Mereka saling menampilkan senyuman untuk menguatkan satu sama lain.
Kreggg
__ADS_1
Suara pintu terbuka menyadarkan mereka. Namun bukan pintu yang dibelakang mereka yang mana pintu apartement kedua orang tuanya, melainkan pintu apartement dihadapan mereka.
Seorang perempuan keluar dari pintu yang terbuka lebar. Wajahnya tidak asing bagi Alesya. Tatapan mereka pun saling bertemu. Kedua mata Alesya berbinar-binar ketika melihat sang kakak yang sudah lama tidak terlihat dimatanya kini berdiri tersenyum kearahnya.
Alesya berlari menghampiri Alula. Memeluknya dengan sangat erat, menghapus rindu yang bersarang dibenaknya selama kepergian kakaknya.
Rasa penasaran muncul dibenak Alula. Ada apa adiknya beserta adik iparnya datang ke Singapura?, apa ada hal penting yang tidak bisa dibicarakan lewat sambungan telepon sehingga membuat mereka harus datang langsung ke Singapura.
"Kalian habis dari rumah Mama?, kok nggak beritahu Kakak?." Tanya Alula kepada Alesya dan Afnan.
Alesya dan Afnan kompak tidak menjawab pertanyaan Alula sehingga membuat Alula semakin penasaran "Ya sudah ayo masuk dulu." Ajak Alula yang sudah merangkul Alesya dan membawanya masuk ke dalam apartementnya. Afnan pun ikut masuk ke dalam setelah istri dan kakak iparnya masuk lebih dulu.
"Diminum dulu Dik."
Alula membawa segelas air putih dari dapurnya untuk diberikan kepada adiknya. Dengan ragu Alesya mengambil segelas air tersebut lalu meneguknya sedikit. Merasa sudah lebih baik Alesya mencoba untuk menjawab pertanyaan sang kakak yang belum mendapatkan jawaban darinya.
"Aku sama Afnan datang ke sini ingin memberitahu kabar bahagia, untuk Ma-Mama dan Kakak."
Alesya menyunggingkan senyuman seolah-olah tidak terjadi apa-apa, meskipun suasana hatinya sedang bergerumuh hebat. Alesya tidak ingin memperkeruh suasana, hubungan kakaknya dengan mamanya saat ini sedang baik, tidak mungkin dia merusaknya karena masalahnya dengan mamanya. Kakaknya tidak boleh diikutsertakan dalam masalahnya.
"Oh ya?, kabar bahagia apa?." Tanya Alula sambil menatap Alesya dan Afnan dengan bergantian.
"Kakak, aku hamil."
Kedua mata Alula membulat sempurna. Dia terkejut sekaligus senang. Adiknya saat ini sedang hamil, ini adalah kabar kebahagian untuknya dan pasti untuk keluarga besarnya termasuk mamanya.
"Alhamdulillah, kamu hamil Dik, Kakak senang banget, kamu harus jaga kesehatan kamu, nggak boleh capek dan harus makan-makanan yang bergizi dan satu lagi kamu harus minum susu Ibu hamil, oke, kamu juga dengarkan Afnan, tolong ingatkan istri kamu ya."
Alesya terkekeh geli. Kakaknya sangat antuasias sekali setelah mengetahui kehamilan adiknya. Bahkan dia sudah seperti seorang dokter yang menasehati dirinya untuk menjaga kesehatan dan lain-lain bahkan Afnan juga diikutlibatkan. Berbeda dengan mamanya yang mana tadi terang-teranganan membenci akan kehamilannya. Alesya menepis ingatannya tadi. Itu sudah berlalu tidak perlu diungkit lagi.
"Oh ya kamu tadi sudah memberitahu Mama kan?, pasti Mama senang banget mendengar kabar bahagia ini."
Alesya hanya tersenyum merespon ucapan kakaknya. Dia tidak ingin menjawabnya karena takut kakaknya malah membenci mama mereka, jika tahu bahwa Mama mereka tidak menyukai bahkan membenci kehadiran janin yang tidak bersalah.
"Oh ya tadi kalian kenapa keluar dari rumah Mama?, ataum emang mau ke rumah Kakak ya?"
Alula teringat bahwa tadi kedua adiknya berdiri membelakangi apartement kedua orang tuanya berarti mereka baru saja keluar dari rumajawab. Alesya bingung apa yang harus dia jawab sementara Alesya tidak ingin berbohong tetapi tidak mungkin juga dia berkata yang sejujurnya.
Alula pun tidak membutuhkan jawaban atas pertanyaannya. Alesya dan Afnan sudah berada dihadapannya jadi dapat dipastikan memang mereka ingin mengunjungi nya untuk memberitahu kabar bahagianya.
"Ya sudah kalau begitu mending kalian istirahat saja dulu, pasti capek kan setelah penerbangan yang cukup melelahkan, ayo Kakak antarn ke kamar."
Alula meraih tangan Adiknya untuk membawanya ke kamar yang sudah dia sediakan untuk sang Adik. Namun Alesya menolaknya dengan halus.
"Kak, rencananya hari ini aku sama Afnan akan langsung pulang ke jakarta."
Alula terkejut. Apa dia tidak salah dengar, jika Alesya dan Afnan akan pulang ke Indonesia hari ini juga. Mengapa secepat itu, setidaknya bermalam saja untuk mengistirahat kan tubuh mereka akibat lelahnya berdiam diri di dalam pesawat selama 1 jam lebih.
"Lho kok cepat banget, memangnya kalian nggak niat untuk tinggal di sini dulu beberapa hari, Kakak kangen sama kamu Dik, kangen kamu marah-marah sama Kakak, kamu ingat Nggak waktu Kakak pinjam khimar kamu terus Kakak lupa mengembalikan dan kamu marah-marah sama Kakak, itu kenangan yang selalu Kakak rindukan."
Alesya sempat tersenyum. Mengingat kejadian saat dirinya marah-marah sama Alula karena tidak mengembalikan khimar yang dipinjaminya. Bukan hanya Alula yang merasa rindu akan moment itu. Alesya juga merindukannya. Meskipun mereka selalu beradu mulut tetapi mereka saling menyayangi namanya juga saudara yang sudah tinggal satu atap sejak dulu. Seperti ini rasanya jika terpisah jarak dengan orang yang sudah terbiasa menghabiskan waktu bersama.
"Maaf Kak, kita harus pulang, in syaa Allah kapan-kapan aku sama Afnan akan ke sini lagi, atau Kakak saja yang pulang ya nanti kalau aku sudah lahiran."
Alula menghela napas dengan lemas. Tetapi apa mau dikata. Dia tidak bisa memaksakan adiknya untuk tinggal beberapa hari disini. Sebenarnya Alesya ingin sekali menghabiskan waktu bersama kakaknya namun ini bukan waktu yang tepat.
"Ya sudah kalian hati-hati ya, kalau sudah sampai Jakarta kabari Kakak, biar Lakak tenang, Afnan, Kakak titip Adik ya, titip calon keponakan Kakak juga."
Baru kali ini Alula secemas itu kepada Alesya. Apa karena adiknya kini sedang hamil atau karena dia juga mengkhawatirkan adiknya yang sudah tidak tinggal bersamanya. Semenjak jarak memisahkan mereka justru hubungan mereka semakin lengket saja.
"Kakak tenang saja, Tuan putriku dan calon buah hatiku akan baik-baik saja, in syaa Allah."
Alula dapat bernapas dengan tenang. Setidaknya dia percaya bahwa Afnan adalah laki-laki yang bertanggung jawab yang bisa menjaga serta membahagiakan adiknya yang kini sedang berbadan dua.
Sebuah pelukan hangat mengakhiri pertemuan singkat mereka. Dengan berat hati Afnan menggandeng Alesya untuk meninggalkan kakak Alula yang mana kedua matanya sudah berkaca-kaca. Ingin rasanya dia ikut kembali ke Jakarta. Tinggal bersama ayah bundanya lagi tetapi itu tidak mungkin karena kini dia sudah bersuami dan tinggal bersama suaminya di Singapura.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1