Takdir Terindah

Takdir Terindah
Membenci


__ADS_3

Jika seluruh isi dunia membencimu


Jangan berkecil hati


Sebab masih ada Allah yang akan menemanimu


Dan takkan pernah membenci orang baik sepertimu


~Takdir Terindah~


Ukhfira


~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~


Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah🙏


Selamat membaca


Semoga suka


🌻🌻🌻


Semalaman suntuk Alesya terjaga, kedua matanya tidak dapat tertutup rapat, disebabkan otaknya yang masih bekerja dengan normal, ia terjaga sampai subuh menyapa, kejadian tadi malam menguras otaknya yang tidak berhenti memikirkan apa yang akan terjadi padanya setelah Kalista memergoki dirinya bersama Afnan.


"Sya sudah kamu nggak usah kepikiran seperti ini, sampai kamu nggak tidur semalaman."


Afnan yang baru saja pulang dari masjid usai sholat subuh berjamaah mendapati sang istri yang masih mengenakan mukenah dan duduk diatas sajadahnya menciptakan kekhawatiran didiri Afnan. 


"Kamu bilang nggak usah dipikirkan?, perempuan tadi malam itu cinta sama kamu Afnan, dan setelah tau kalau aku adalah istrimu, apa kamu tahu apa yang akan dia lakukan sama aku?, nggak kan?"


Ternyata pikiran Alesya sudah melesat jauh dari dugaan Afnan, sampai sejauh itukah Alesya memikirkan dirinya yang akan terancam jika Kalista mengetahui tentang jati dirinya yang sebenarnya.


"Apakah kamu kenal dengan Kalista Sya?, dan kamu tahu dari mana kalau dia mencintaiku?"


Rasa penasaran kini muncul dibenak Afnan, ia tidak habis pikir dari mana Alesya mengetahui bahwa Kalista mencintainya, padahal ia belum menceritakan apapun bahkan tentang seorang perempuan yang mencintai dirinya, lalu dari mana Alesya mengetahui hal itu?


Kejadian waktu itu tidak bisa dengan mudahnya Alesya lupakan bahkan wajah perempuan penuh amarah itu masih tersimpan jelas dimemori ingatannya, Alesya yakin sekali bahwa perempuan tadi malam adalah perempuan yang sama, yaitu perempuan yang bernama Kalista.


"Waktu itu qodarullah aku mendengar obrolan kalian di taman, perempuan itu menyatakan perasaannya sama kamu kan?  bahkan dia rela menjadi selingkuhan kamu, tetapi aku nggak mengenalnya, kita nggak saling kenal."


Afnan sangat bersyukur karena Kalista tidak mengenal Alesya, itu artinya istrinya masih aman dan Kalista tidak akan pernah tau tentang siapa sebenarnya Alesya.


"Itu artinya kamu aman Sya, Kalista nggak akan pernah tahu kalau kamu istri aku, kalian kan nggak saling kenal."


Alesya menatap lekat wajah Afnan yang begitu senang karena ia meyakinkan dirinya bahwa rahasia mereka tetap aman dan Kalista tidak akan pernah mengetahui bahwa Alesya adalah perempuan yang menjadi istri dari laki-laki yang dicintainya.


"Tapi Afnan aku sama dia satu kampus bahkan satu fakultas, bagaimana kalau tiba-tiba aku bertemu dengan dia di kampus?, dia pasti akan terus-terusan menyuruh aku untuk berkata jujur dan Aku nggak akan bisa berbohong."


Alesya tidak bisa begitu yakin dengan ucapan Afnan bahkan dia begitu takut kalau nantinya di kampus mereka akan bertemu hingga akhirnya Kalista akan menyercanya untuk mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya.


Pikiran Afnan tidak sampai kemana arah pikiran Alesya berpacu, semua kekhawatiran yang sedang menimpa istrinya itu tidak akan pernah terjadi, tetapi ada satu hal yang harus Afnan tanyakan terlebih dahulu kepada Alesya untuk memastikan bahwa kekhawatiran Alesya tidak akan pernah sampai terjadi.


"Apakah sebelumnya kalian pernah bertemu di kampus?, satu kali atau dua kali?, atau sering?"


Alesya mencoba mengingat-ingat apakah antara dirinya dengan Kalista pernah bertemu di kampus, walaupun hanya sekali atau bahkan mereka sering bertemu atau hanya sekedar berpapasan saja.


Gelengan pelan menandakan bahwa Alesya memang tidak pernah saling bertemu dengan Kalista di kampus, Afnan yang melihat gelengan kepala tersebut dapat memastikan bahwa semua akan baik-baik saja, Kalista tidak akan pernah tau bahwa Alesya adalah istrinya. Dia harus segera meyakinkan sang istri agar tidak memikirkan hal itu lagi.


"Kalau sebelumnya kalian belum pernah bertemu di kampus, itu artinya nggak akan pernah ada pertemuan diantara kalian, in syaa Allah aku yakin itu Sya, apa lagi jadwal kuliah kalian kan nggak sama, jadi kamu nggak usah memikirkan hal ini lagi ya, kamu harus percaya sama aku Sya, kamu percaya sama aku kan Sya?"


Walau masih ada keraguan yang masih mengganjal tetapi Alesya segera menganggukkan kepalanya membuat Afnan yang melihatnya bisa bernapas lega lalu membawa sang istri kedalam pelukannya agar rasa khawatir yang istrinya rasanya bisa segera reda bahkan menghilang dengan cepat.


"Semoga semuanya baik-baik saja aamiin, tapi aku harus tetap waspada karena aku nggak bisa memprediksi apa yang akan terjadi setelah ini"


∆∆∆∆∆


Usai memarkirkan motornya, dengan langkah cepat Alesya menyusuri koridor bangunan besar dimana kelas mata kuliahnya berada. Dari tergesa-gesanya tanpa sadar Alesya menabrak seseorang, dari bawah terlihat sepatu flatshoes itu artinya dia menabrak seorang perempuan. Jantung Alesya berdetak kencang pikirannya sudah tidak karuan, dia tidak berani mengangkat kelapanya untuk melihat perempuan yang ditabraknya itu.


"Al?"


Sepertinya Alesya mengenali suara tersebut yang sedang memanggilnya, dengan pelan dia pun mengangkat kepalanya dan melihat perempuan yang sedang berdiri didepannya dengan wajah keheranan melihat dirinya sedang ketakutan.


"Silmi." Ucap Alesya dengan leganya setelah tahu siapa yang dia bentur.


"Kamu kenapa?, kok seperti orang ketakutan?"


Alesya menggeleng cepat seraya mengedarkan pandangannya keseluruh sudut penjuru.


"Aku nggak apa-apa, ya sudah ayo kita ke kelas nanti kita terlambat."


Tanpa berlama-lama lagi Alesya langsung menarik paksa tangan sahabatnya yang mau tidak mau mengekor saja. Ternyata ketakutan Alesya kian meningkat, dia sangat takut akan bertemu dengan Kalista, maka dari itu dia mempercepat langkahnya untuk menuju kelasnya.


Walaupun tidak bertemu dengan Kalista, tetapi hati Alesya masih belum tenang dan sepenuhnya dia merasa dirinya sedang tidak aman, tetapi mau bagaimana lagi jika dia tidak kuliah dia akan ketinggalan mata kuliahnya dan meninggalkan kelas tanpa alasan yang jelas itu bukan karakter Alesya.


"Al kamu sudah mau pulang?"


Setelah mata kuliah yang sedang mereka ikuti selesai Alesya dan Silmi pun segera meninggalkan ruangannya bersama teman-teman yang lainnya.


"Iya Sil aku mau pulang saja." Jawab Alesya dengan yakin.


"Yah kok buru-buru pulang sih Al, kita ke perpus aja ya, ada buku yang ingin aku pinjam."


Ajakan Silmi yang penuh pengharapan agar Alesya menyetujuinya rupanya langsung ditolak dengan cepat oleh Alesya, sebenarnya dia tidak ingin menolak ajakan sahabatnya itu tetapi keadaan yang menyuruh dirinya untuk menolak, untuk sementara ini Alesya tidak boleh berlama-lama di kampus karena dia tidak bisa memastikan bahwa dirinya aman dan tidak akan bertemu dengan Kalista.


"Afwan ya Sil, untuk hari ini aku nggak bisa menemani kamu, aku harus pulang, kalau begitu aku pulang dulu ya, assalaamu 'alaikum."


Baru saja Alesya mengambil satu langkah kedepan tetapi dia menghentikan langkah berikutnya, betapa kagetnya Alesya ketika melihat kearah depan, ternyata kehadiran seorang perempuan yang sedang asyik mengobrol dengan kedua temannya itu membuat Alesya kaku dan kedua matanya melotot melihat perempuan yang dia hindari tetapi ternyata sedang ada di depannya.


Perempuan itu tak sengaja menoleh kearah Alesya yang berdiri tidak jauh darinya namun sempat terhalang oleh mahasiswi-mahasiswi yang sedang berlalu lalang, Alesya tidak bisa diam saja perempuan itu sudah melihatnya dan bahkan sepertinya akan melangkah menghampirinya.


"Sil ayo kita ke taman."


Dengan cepat Alesya langsung menarik tangan Silmi untuk menemaninya ke taman, sebenarnya dia ingin menghindar dari perempuan tersebut yang tak lain adalah Kalista. Dengan jalan yang cepat Silmi mengoceh mempertanyakan keanehan tingkah Alesya hari ini, tetapi Alesya tidak menghiraukan itu yang kini sedang ia harapkan adalah semoga Kalista tidak begitu jelas melihat dirinya tadi.


Belum sampai di tempat tujuan tiba-tiba saja langkah Alesya terhenti begitu juga dengan Silmi, tatapan Alesya langsung tertuju kedepan dimana ada 3 perempuan cantik telah menghentikan langkahnya.


"Kalista?"


Alesya terbelalak ketika melihat Kalista yang sudah berdiri dihadapannya dengan tatapan sinis kearahnya. Alesya berharap semoga Kalista tidak mengenalinya walaupun baru saja tadi malam mereka bertatap muka untuk yang pertama kalinya.


"Ternyata kamu kuliah disini juga?"


Dugaan Alesya tidak kena sasaran, Kalista adalah perempuan yang begitu hebat dalam mengingat dirinya, padahal mereka baru satu kali bertemu dan itu hanya sekilas saja tetapi Kalista mengenali wajah Alesya dengan begitu cepat, apakah karena Alesya adalah perempuan yang makan malam bersama laki-laki yang dia cintai sehingga dengan mudahnya dia mengingat wajah Alesya.

__ADS_1


Sementara Silmi, dia hanya bisa diam saja dengan penuh kebingungan, ingin sekali bertanya sesuatu kepada Alesya mengenai perempuan dihadapannya itu tetapi ini bukan saatnya yang tepat lantara melihat wajah Alesya sedang ketakutan.


"Ada hubungan kamu dengan Afnan?"


Pertanyaan itu akhirnya terdengar juga ditelinga Alesya, ketakutannya tentang pertanyaan itu kini menjadi nyata, harus bagaimana dia sekarang, rasanya Alesya tidak siap mengungkapkan jati dirinya saat ino ditambah lagi sahabatnya kini sedang bersamanya, ini bukan waktu yang tepat untuknya berterus terang.


"Hei kamu nggak bisu kan?, aku tanya sekali lagi, ada hubungan apa kamu dengan Afnan?" Bentak Kalista yang mengagetkan Alesya dan juga Silmi.


"Alesya nggak ada hubungan apa-apa dengan Afnan."


Tatapan tajam Kalista beralih ke Silmi yang baru saja menjawab pertanyaannya.


"Hei diam kamu!, jangan ikut campur!" Bentak Kalista kepada Silmi. Ditambah lagi kedua temannya menyuruh Silmi untuk diam.


"Ada hubungan apa kamu dengan Afnan?, ayo jawab!"


Bentakan Kalista kali ini nyaris membuat Alesya terjatuh dari kagetnya dia mendengar bentakan tersebu. Keringat sudah membanjiri wajahnya yang sudah putih pucat, ketakutannya kian meningkat tetapi Alesya tidak bisa berbuat apa-apa lagi, jika dia tidak menjawabnya maka perempuan dihadapannya yang kini sudah diselimuti oleh api amarah akan menerkamnya tanpa ampun, walau tidak kenal betul siapa Kalista sebenarnya tetapi semenjak dia menyatakan perasannya kepada Afna, Alesya dapat mengetahui bagaimana karakter Kalista, Kalista adalah perempuan yang penuh dengan emosi dan siap menghalalkan segala cara agar apa yang diinginkan dapat tercapai, itulah yang dapat Alesya baca dari karakter Kalista.


"A-aku...aku istrinya Afnan."


Pernyataan Alesya seakan mengantamkan batu besar didada Kalista, sakit dan perih menerpa hatinya, rasa amarah yang kian bertambah membuatnya ingin menghabisi nyawa Alesya detik ini juga tetapi itu tidak mungkin ia mengotori tangan sucinya.


"Apa Al?, kamu ngomong apa?, laki-laki tebar pesona itu bukan suami kamu, kenapa kamu mengaku-ngaku istrinya dia?"


Silmi tidak percaya akan pernyataan yang baru saja keluar dari mulut sahabatnya itu, mana mungkin Alesya adalah istri dari laki-laki yang selama ini Alesya benci, itu benar-benar tidak mungkin.


Tatapan Alesya beralih ke Silmi. "Aku nggak mengaku-ngaku Sil, aku memang istrinya Afnan, kami sudah menikah."


Silmi mengenal betul siapa sahabatnya itu, selama mereka memutuskan untuk menjalin persahabatan Alesya tidak pernah berbohong baik perbuatan ataupun ucapannya, berarti pernyataan Alesya kali bukan sebuah kebohongan melainkan sebuah kejujuran.


"Aku nggak mengerti sama jalan pikiran kamu Al, kamu sangat membenci laki-laki itu tapi kenapa kamu menikah sama dia, aku kecewa sama kamu."


Dengan rasa kecewa yang teramat dalam Silmi akhirnya pergi meninggalkan Alesya yang tidak diberinya kesempatan. Alesya ingin mengejar Silmi tetapi Kalista langsung menahannya dengan benturan yang sangat keras.


"Mau kemana kamu, urusan aku sama kamu belum selesai."


"Apa mau kamu dari aku?" Tanya Alesya.


"Lepaskan Afnan." Pinta Kalista dengan tatapam tajam ke arah Alesya.


"Aku nggak akan pernah melalukan perbuatan yang dibenci oleh Allah."


Plakkk


Tamparan keras menerpa pipi Alesya yang langsung memerah, sakit dan perih yang dirasakan membuatnya memegangi pipi yang menjadi korban kemarahan Kalista yang saat ini tersenyum sinis kearah mangsanya.


"Ini bukan apa-apa, aku bisa berbuat lebih sadis dari ini, kamu pikir kamu siapa?, kamu harusnya sadar kamu nggak pantas mendampingi Afnan."


Kalista berjalan memutari Alesya lalu memperhatikannya dari bawah sampai atas, dia tersenyum penuh ejekan.


"Afnan adalah laki-laki tampan, mapan dan sempurna, sedangkan kamu, perempuan kampungan yang nggak modis dan memakai pakaian karung seperti ini, kamu nggak pantas untuk Afnan."


Ejekan yang terus-terusan Kalista lontarkan tidak membuat Alesya berkecil hati, sebab dia tidak membutuhkan penilaian dari manusia, apalagi menilai dari segi fisik saja, sama sekali tidak membuatnya  terendahkan.


"Semua sama di mata Allah." Ucap Alesya dengan lirih.


"Hei perempuan kampungan, Afnan itu cocoknya hanya sama aku, perempuan yang cantik, fashionable dan nggak kampungan seperti kamu." Ujar Kalista dengan membanggakan dirinya.


"Tapi Afnan menikah denganku, bukan dengan kamu, itu artinya Afnan memilih aku untuk menjadi istrinya, dan aku minta tolong sama kamu jangan mencintai suami aku, lupakan Afnan, karena dia sudah punya istri." Pinta Alesya dengan penuh pengharapan agar Kalista mau melupakan Afnan.


Dengan senyuman yang penuh akan kelicikan, tiba-tiba saja Kalista berteriak agar semua mahasiswi yang berada tidak jauh darinya untuk berkumpul dihadapannya.


Alesya kebingungan setelah kedatangan mahasiswi-mahasiswi yang sudah berkumpul mengkerumuninya, apa yang akan Kalista lakukan kepadanya, dia benar-benar tidak mengerti akan semua ini.


"Ada apa Kalista?"


"Iya ada apa Kal?"


Mahasiswi-mahasiswi yang sudah berkumpul ditengah-tengah Kalista dan Alesya bertanya-tanya kepada Kalista mengapa mereka disuruh berkumpul.


"Coba kaalian lihat perempuan yang berdiri dihadapan kalian, dia adalah istri dari Muhammad Afnan Rafisqy."


Semua mahasiswi yang berkumpul ditengah-tengah mereka langsung kaget bukan main setelah Kalista mengatakan bahwa perempuan dihadapan mereka yaitu Alesya adalah istri dari pangeran kampus yang mereka idolakan.


"Apa?, nggak salah ini, dia istrinya Afnan?"


"Siapa dia memangnya?, nggak pantas banget jadi istrinya Afnan."


"Perempuan biasa banget seperti dia mana mungkin jadi istrinya Afnan, mimpi kali tuh orang."


Ejekan-ejakan dari para mahasiswa yang menatapnya dengan sinis itu membuat Alesya merasa dikucilkan, terhina dan direndahkan, mengapa mereka setega itu mengejek dirinya padahal mereka semua berhjiab sama dengannya tetapi ucapannya tidak mencerminkan kemuslimahannya.


"Kalian sebagai fans dari Afnan nggak setuju kan kalau perempuan kampungan ini menjadi istrinya Afnan si pangeran kampus?"


"Nggak lah Kalista." Ujar salah satu mahasiswi.


"nggak banget." Sambung mahasiswi lainnya.


"Memangnua dia nggak ngaca ya?, dia itu nggak pantas banget buat Afnan." Timpal salah satu mahasiswi yang begitu sensi melihat Alesya.


"Iya, kita lebih setuju kalau Kalista yang jadi istrinya Afnan, sudah cantik, fashionable pokoknya sempurna deh, cocok banget sama Afnan." Sambung mahasiswi lainnya.


Kalista tersenyum puas melihat Alesya yang diam saja bahkan air mata jatuh perlahan. "Kamu dengar sendiri kan apa kata mereka, kamu itu nggak cocok sama Afnan, sadar diri jadi orang."


Sekokoh apapun tembok besar di pinggir lautan jika dihantam ombak terus menerus maka akan terkikis juga begitulah ketegaran hati Alesya, sekuat apapun hatinya dia tidak akan bisa sanggup bertahan menghadapi cemoohan orang-orang yang tidak suka dengannya lantaran menjadi seorang istri dari laki-laki yang mereka idolakan.


Dengan wajah yang tak dapat menyembunyikan kesedihannya Alesya memilih pergi dari kerumanan mahasiswi yang tidak menyukai dirinya bahkan tatapan mereka menorehkan kebencian kepada dirinya.


∆∆∆∆∆


"Assalaamu 'alaikum."


Suara salam seorang perempuan yang baru saja masuk ke dalam rumahnya secara tiba-tiba membuat bunda Aiza kaget, ditambah lagi perempuan itu sedang menangis dan langsung berhambur kepelukannya.


"Wa 'alaikumus salaam, ya Allah Alesya ada apa Sayang kenapa kamu menangsi seperti ini?"


Aiza sangat panik ketika mendapati putri bungsunya pulang ke rumahnya dalam keadaan menangis bahkan sampai tidak sanggup untuk menjawab pertanyaannya.


"Kita duduk dulu ya Sayang." Ucap Aiza yang segera membawa Alesya duduk di sofa dalam keadaan masih memeluk putri bungsunya yang masih mencurahkan kesedihannya dengan linangan air mata.


Tidak sanggup rasanya bagi bunda Aiza melihat kesedihan sang putri bungsu yang menangis tiada henti, sampai tak terasa air mata bunda Aiza ikut terjatuh berkali-kali. Saat ini Alesya sangat membutuhkan pelukan hangat dari bundanya yang dapat menenangkannya. 


"Ya Allah apa yang sedang terjadi sampai putriku menangis seperti ini, semoga semuanya baik-baik saja, lindungi keluarga kami ya Allah, aamiin Allahumma aamiin."

__ADS_1


∆∆∆∆∆


Kejadian tadi siang masih terngiang-ngiang diingatan Alesya membuat air matanya terus menetes membasahi wajahnya yang tersirat akan kesedihan, ditambah lagi sahabatnya juga ikut kecewa kepadanya dan bahkan Silmi tidak mau mengangkat teleponnya. Betapa hancurnya hati Alesya saat ini, dijauhi oleh sahabatnya dan juga mendapatkan kebencian dari seluruh teman-teman di kampusnya.


"Kuatkan hamba dalam menghadapi ujianMu ini ya Allah, hamba mohon jangan ikut membenci hamba, karena jika Engkau juga ikut membenci hamba, hanculah hidup hamba ini ya Allah."


Tok tok tok


Suara ketokan pintu menyadarkan Alesya yang sedari tadi terus teringat akan kejadian tadi siang, siapakah yang sedang mengetuk pintu kamarnya?


"Lesya, ini Ayah, Nak."


Ahyar yang sedang mengetok pintu kamar Alesya, tetapi bukannya ini masih sore tapi ayahnya sudah pulang dari kantor, tidak seperti biasanya, apakah ayahnya sengaja pulang lebih awal karena tahu bahwa putri bungsunya sedang pulang ke rumah mereka, dan pasti Aiza yang memberitahu Ahyar.


"Ayah masuk ya?"


Walau Alesya tidak bersuara bukan berarti dia tidak mengizinkan Ayahnya untuk masuk ke dalam kamarnya, karena ini adalah rumah ayahnya jadi ayahnya berhak memasuki kamarnya.


Ahyar berhasil membuka pintu kamar Alesya yang tidak dikunci, didapatinya Alesya yang sedang duduk ditepian kasurnya dengan memeluk bantal dan matanya sembab akibat banyak menangis dari tadi.


"Sini peluk Ayah, Nak."


Kedua tangan Ahyar direntangkan sembari tersenyum menatap sang putri bungsu yang langsung luluh dan berhambur kepelukannya dengan diiringi isak tangis. Dielusnya puncak kepala sang putri untuk menenangkannya.


"Putri bungsu Ayah adalah perempuan yang kuat dan tegar, jangan bersedih ya, Allah akan selalu bersama kita Nak, in syaa Allah Ayah akan selalu ada di samping kamu ayo tersenyum jangan menangis lagi ya."


Dengan sekuat tenaga Alesya mencoba untuk melukiskan senyuman dihadapan sang ayah yang sudah tersenyum lebih dulu walau hatinya masih belum bisa tersenyum untuk melupakan kejadian pahit yang menimpanya.


"Ayah kalau Afnan datang ke sini, aku nggak mau bertemu dengannya, aku mohon sama Ayah, jangan biarkan dia masuk ke dalam kamarku Ayah, aku mohon."


Dengan penuh pengharapan dan air mata yang terus menetes Alesya memohon kepada ayahnya agar jangan membiarkan Afnan menemuinya karena untuk saat ini dia belum sanggup untuk menatap wajah seseorang yang menyebabkan dirinya terluka seperti ini.


Akhirnya Ahyar dapat mengetahui penyebab dari kesedihan putru bungsunya itu, Alesya sedang bertengkar dengan suaminya, dan itu hal yang wajar, bukan suatu masalah yany besar sehingga Ahyar menyetujui keinginan putri bungsunya untuk tidak akan mengizikan menantunya itu bertemu dengan putri bungsunya, dengan kondisi Alesya yang seperti ini Ahyar dapat mengerti bahwa putrinya hanya membutuhkan waktu untuk menyendiri menenangkan hatinya.


∆∆∆∆∆


Di waktu malam, keluarga Alesya berkumpul di ruang keluarga tetapi Alesya sendiri tidak menampakkan batang hidungnya, itulah yang dikhawatirkan Ahyar beserta Aiza tak terkecuali Alula yang dibuat bingung sendiri.


"Ayah sebenarnya Adik itu kenapa, kenapa sampai sekarang dia mengurung diri di kamar?, Adik juga nggak mau makan bagaimana kalau dia sakit?"


"Adik kamu sedang butuh sendiri Lula, biarkan dia menenangkan diri dulu." Jawab Ahyar lebih tenang dari pada Alula.


Aiza ikut bertanya "Ada masalah dengan putri bungsu kita Mas?"


"Iya Ayah, masalah apa yang sedang Adik hadapi?" Sambung Alula yang begitu serius ingin mengetahui tentang permasalahan yang dihadapi Alesya.


Ahyar menghembuskan napas pelan "Ayah juga gak tau apa yang sedang terjadi, tetapi Lesya tadi berpesan kalau Afnan datang ke sini, dia tidak ingin bertemu Afnan dulu."


Sepertinya Alula sudah mengetahui permasalahan apa yang sedang terjadi kepada adiknya itu, Alesya berpesan untuk tidak ingin bertemu dengan suaminya itu artinya dia mempunyai masalah dengan Afnan.


"Berarti Adik dan Afnan sedang ada masalah Ayah, buktinya Adik nggak ingin bertemu dengan Afnan, dan sekarang Afnan juga nggak memunculkan dirinya, berarti benar mereka lagi bertengkar."


Ahyar hanya dapat menggelengkan kepala seraya tidak tahu apakah yang dikatakan putri sulungnya itu benar jika antara putri bungsunya dengan menantunya sedang ada masalah, tetapi dari keinginan Alesya yang tidak ingin bertemu dengan suaminya itu menjelaskan bahwa dia memang sedang ada masalah dengan Afnan.


"Alula, jangan su'udzhon dulu Sayang, kita nggak tau apa yang sebenarnya terjadi, sebaiknya kita tunggu saja Alesya menjelaskan semuanya setelah nanti dia merasa lebih tenang."


Nasihat Aiza ada benarnya, memang tidak seharusnya Alula langsung menyimpulkan bahwa antara adik kandung dan Adik iparnya sedang ada masalah, itu belum tentu, hanya Alesya dan Afnan lah yang tahu tentang semuanya yang terjadi.


Sementara disisi lain, Afnan sedang cemas dan sangat khawatir karena hari sudah gelap tetapi sang kekasih hati belum pulang ke rumah, pikiran Afnan sudah kemana-mana dia takut terjadi sesuatu dengan Alesya karena tidak biasanya Alesya pulang sampai larut malam, jikalau dia pulang malam pasti dia akan memberitahu Afnan tetapi kali ini jangankan untuk memberitahu Afnan, handponenya bahkan tidak aktif membuat Afnan kian bertambah rasa khawatirnya.


"Ya Allah Alesya kamu di mana?, kenapa sampai sekarang kamu belum pulang juga?, apa kamu baik-baik saja?, Ya Allah lindungilah istri hamba di manapun dia berada."


Rumah keluarga Alesya, entah mengapa Afnan terpikir akan itu,  apa mungkin Alesya sedang berada disana?, Afnan bergegas merogoh ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang. Sambungannya terhubung, cepat-cepat Afnan bersuara.


"Hallo assalamulaikum Kak Alula."


Rupanya yang ditelpon Afnan adalah sang kakak ipar, Afnan rasa menelpon Alula adalah keputusan yang tepat, dia sengaja tidak menelpon Ahyar atau Aiza dikarenakan dia tidak ingin mertuanya dilanda kecemasan karena dirinya menanyakam keberadaan Alesya.


"Wa 'alaikumus salaam, Afnan kamu pasti mau bertanya tentang Alesya kan?"


Tanpa ditanya lagi Alula sudah mengetahui bahwa adik iparnya itu meneleponnya untuk menanyakan kebaradaan Alesya yang saat ini sedang bersembunyi di rumah mereka.


"Iya Kak Alula, apa Alesya ada di sana?"


"Iya Afnan, Alesya ada di sini, kamu nggak usah khawatir dan kamu nggak usah ke sini dulu, karena Alesya nggak ingin bertemu kamu."


Afnan tersentak mendengar perkataan sang kakak ipar yang mengatakan bahwa Alesya tidak ingin bertemu dengannya, apa yang sebenarnya terjadi mengapa istrinya tidak ingin bertemu dengannya?, apakah dia telah berbuat salah kepada istrinya?, Afnan benar-benar dibuat tidak mengerti.


"Apa Kak?, Alesya Nggak ingin bertemu sama aku?, tapi kenapa Kak?"


Alula yang mendengarkan jawaban dari Afnan dibuat tidak mengerti, mengapa Afnan malah bertanya tentang Alesya kepadanya, seharusnya Alula yang menanyakan tentang Alesya kepada Afnan karena Afnan adalah suaminya ditambah lagi Alesya tidak ingin bertemu dengan suaminya sudah dapat dipastikan bahwa antara adik kandung dan adik iparnya sedang ada masalah.


"Kamu kenapa malah nanya sama aku?, seharusnya aku yang nanya sama kamu, ada masalah apa kalian berdua?, sampai Alesya seharian menangis dan nggak ingin keluar kamar."


Betapa kagetnya Afnan ketika mengetahui kabar terbaru dari istrinya yang menangis seharian bahkan tidak ingin keluar kamar, apa yang sebenarnya terjadi mengapa dia tidak tahu menahu tentang kondisi Alesya saat ini, bahkan Alesya malah pulang ke rumah orang tuanya seharusnya dia menceritakan kepada dirinya sebagai suaminya.


"Aku dan Alesya nggak sedang bertengkar kami baik-baik saja, tapi aku nggak tahu apa yang sedang terjadi sama Alesya, Kak Alula tolong izinkan aku bertemu sama Alesya aku ingin meluruskan semuanya, aku sangat khawatir sama Alesya, Kak."


Alula benar-benar dibuat bingung, jika diantara Afnan Alesya tidak terjadi apa-apa lalu mengapa adiknya menangis dan mengurung diri di kamarnya, ini tidak bisa dibiarkan, Alula harus ikut turun tangan.


"Iya Afnan, kamu datang saja ke rumah, masalah ini harus segera diselesaikan."


Setelah mengakhiri sambungan teleponnya, Afnan langsung bergegas keluar dari rumahnya lalu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya untuk menuju rumah keluarga Alesya dimana Alesya sedang berada saat ini.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


Assalamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Hayyyy readersss


Jangan lupa ya setelah singgah dilapak ini, tinggalkan vote dan komennya


Jangan malah pergi tanpa jejak


Itu menyakitkan😢


Yukkk hargai setiap cerita yang disuguhkan dengan vote dan komen ya


Buat kalian para readers


Yang vote dan komen


Kalian LUAR BIASA

__ADS_1


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


__ADS_2