
Tidak semua yang buruk menurutmu
Itu memang buruk
Tidak semua yang baik menurutmu
Itu memang baik
Tapi percayalah Tuhan tau mana yang terbaik untuk hidupmu
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah
Selamat membaca
Semoga suka
🌻🌻🌻
Alesya baru saja dipindahkan ke ruang rawat inap. Keluarga yang sejak tadi menunggu proses persalinannya berbondong-bondong memasuki ruangan tersebut yang mana Alesya sedang duduk bersender di brankarnya dengan ditemani oleh sang pangeran arab yang mempunyai panggilan sayang "Alby" pemberiannya.
"Bagaimana keadaanmu Nak?, pasti masih ada yang sakit ya?"
Izma yang baru saja masuk ke dalam langsung menghampiri Alesya dan menanyakan keadaan sang menantu kesayangan usai melahirkan cucu kembarnya.
Alesya tersenyum manis. Mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja. "Alhamdulillah aku sudah nggak apa-apa Mami, iya masih ada yang sakit, tapi sudah hilang setelah melihat Mami sebahagia ini karena cucu-cucunya sudah lahir."
Alesya bisa saja mengubah raut wajah Izma yang tadinya cemas langsung tersenyum seketika. Suasana pun mencair dengan gelak tawa bahagia dari perempuan yang baru saja melahirkan anggota baru di keluaga besarnya, dua anggota sekaligus.
"Mama."
Alesya menatap Farha yang baru saja memunculkan diri di hadapannya. Dengan ragu Farha menghampiri Alesya. Afnan memundurkan langkahnya dan mempersilahkan mama mertuanya berdiri didekat Alesya.
Isakan tangis mulai memecahkan keheningan. Alesya terkejut mendapati Mamanya menangis tersedu-sedu didepan matanya.
"Ma?, Mama kenapa nangis?, ada apa Ma?." Tanya Alesya dengan panik.
Farha menggeleng pelan "Ma-Mama minta maaf Alesya, Mama minta ya?, Ma-Ma-"
Alesya menghentikan ucapan Mamanya yang tidak seharusnya meminta maaf kepadanya. Farha sama sekali tidak berbuat salah apapun dimata Alesya sebagai anak kandungnya.
"Mama bicara apa?, Mama nggak punya salah sama aku, harusnya aku yang minta maaf sama Mama, karena sudah pernah membuat Mama kecewa, maafkan aku ya Ma."
Dengan rasa bersalah Alesya menggenggam erat tangan Farha untuk meminta maaf atas kesalahannya yang sudah pernah membuat Mamanya kecewa bahkan marah.
Farha tidak sanggup lagi menahan kesedihannya dan langsung memeluk sang Putri bungsu yang baru saja beberapa jam yang lalu menjadi seorang Ibu seperti dirinya.
Pelukan hangat yang selalu dirindukan oleh Alesya kini dia mendapatkannya dari Mama kandungnya yang disayangi dari dulu sampai detik ini.
Pelukan itu pun terlepas tetapi air mata Farha belum kunjung terhenti. Terus saja mengalir membuat Alesya ikut terbawa suasana hingga akhirnya menitikkan air mata. Air mata bahagia karena hari ini Mama kandungnya telah menatapnya dengan penuh kasih sayang bukan menatapnya dengan penuh amarah lagi seperti yang sudah lalu.
Farha mengelus pundak Alesya dengan lembut. "Mama bangga sama kamu, bangga sekali, kamu anak Mama yang kuat, sangat kuat, kamu adalah putri Mama yang saaaangat Mama sayangi."
Alesya berhambur kembali kepelukan mamanya. Kata-kata itulah yang dia nantikan selama ini. Membuat Mamanya bangga kepadanya adalah impian Alesya sejak dulu. Lebih tepatnya sejak dia memutuskan untuk menikah dengan Afnan.
Kali ini bukan hanya Alesya yang menangis dengan rasa haru tetapi Aiza, Ahyar serta Alula juga ikut menangis terharu. Akhirnya Farha kembali menyayangi Alesya seperti sedia kala. Hubungan ibu dan anak kini tersambung kembali.
"Permisi."
Ketokan pintu sekaligus ucapan permisi menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
Dua orang Suster mulai memasuki ruangan sembari menggendong bayi kembar Alesya dan Afnan. Lalu ingin memberikan kepada Alesya namun Alesya menyuruh Suster memberikan bayi perempuannya kepada Farha dan Afnan juga menyuruh Suster yang menggendong bayi laki-lakinya untuk diberikan kepada Ahyar yang mana adalah kedua orang tua kandung dari Ibu bayi kembar tersebut.
Farha tidak kuasa menahan air mata harunya saat melihat bayi mungil yang kini sedang berada dalam dekapannya adalah anak dari putri bungsunya yang artinya adalah cucunya.
"Kamu cantik Nak, seperti Ibu kamu." Puji Farha seraya mengelus lembut pipi bayi perempuan yang sedang dalam dekapannya.
"Seperti Oma kamu juga Nak." Timpal Alesya menambahi ucapan Farha yang akhirnya menoleh kearahnya dengan tersenyum.
Sementara Ahyar juga ikut terharu menatap bayi laki-laki yang sedang damainya tertidur.
"Maa syaa Allah, kalau yang ini tampan seperti Ayahnya." Puji Ahyar memuji ketampanan cucu pertamanya yang mewarisi paras tampan dari sang Ayah.
Afnan tersenyum. "Seperti Opa kamu juga Nak." Sambung Afnan yang ikut menambahi ucapan Ahyar.
Disaat yang lain sedang tersenyum menatap kedua bayi kembar tersebut. Ali si bocah laki-laki yang tadinya hanya terdiam di samping Papanya berucap "Papa, Ali punya dua adik sekaligus ya?." Tanyanya polos.
David pun terkekeh geli seraya menoleh ke arah putranya. Diikuti suara gelak tawa oleh semua orang yang memandang Ali dengan gemas.
__ADS_1
"Iya Ali Sayang, tapi bukan Adiknya Ali, melainkan keponakannya Ali, sekarang Ali sudah jadi Om muda."
"Hah?, Om muda?." Tanya Ali tak mengerti atas ucapan Alesya kepadanya.
"Kakak Ale, Ali kan masih kecil kok sudah jadi Om sih, Ali nggak mau!" Ocehnya yang tidak mau dipanggil Om.
Alesya terkekeh. "Ya sudah kalau begitu, Ali maunya dipanggil apa?"
Ali memasang wajah mikir. "hmmm, Ali maunya dipanggil Abang Ali."
"Okelah kalau begitu, nanti kalau adik-adik Ali sudah besar, mereka akan memanggil Ali dengan sebutan Abang Ali."
"Oke kakak Ale." Jawab Ali dengan semangat.
"Oh ya adik-adik Ali namanya siapa kakak Ale?"
Alesya pun menoleh ke arah Afnan untuk membantunya menjawab pertanyaan adik sambungnya. Dikarenakan yang menyiapkan nama adalah Afnan. Ayah dari sang bayi kembar.
"Untuk sementara waktu namanya Putra dan Putri dulu ya, soalnya nama aslinya baru akan diumumkan saat aqiqah nanti."
Seluruh anggota keluarga Alesya dan Afnan mengangguk pertanda mengerti sekaligus mulai memanggil nama bayi kembar itu dengan sebutan Putra dan Putri.
Bicara soal Aqiqah yang masih seminggu lagi. Alesya jadi teringat akan Mamanya. "Ma bagaimana kalau Mama menemani aku dulu di sini sampai menunggu acara aqiqah, in syaa Allah seminggu lagi, soalnya aku masih kangen sama Mama, aku butuh pelukan Mama." Jiwa kekanakan Alesya muncul begitu saja. Dan dengan manjanya memeluk pinggang Farha yang dibuatnya geleng-geleng kepala saja.
David angkat bicara. "Iya, Mama sebaiknya di sini saja dulu menemani Alesya. Kangen katanya tuh sama Mama." Alesya tersenyum ke arah David yang membantunya membujuk Farha agar mau tinggal di Indonesia untuk sementara waktu.
"Tapi Papa sama Ali bagaimana?" Farha memikirkan suami dan anaknya yang tidak mungkin berlama-lama di Indonesia lantaran David harus berkerja dan Ali harus sekolah. Tidak mungkin jika kantor dan sekolah di pindah ke Indonesia.
David berpikir sejenak. "Begini saja, Papa sama Ali pulang saja ke Singapura Mama tetep di sini, nanti saat acara aqiqahnya Papa sama Ali ke sini lagi."
Sebenarnya Farha berat sekali untuk membiarkan suami dan anaknya pulang ke Singapura tanpa dirinya. Farha juga tidak yakin jika suami dan anaknya bisa melakukan aktivitas tanpa dirinya karena selama ini mereka selalu dilayani olehnya.
"Tapi Papa yakin bisa mengurus diri sendiri sama Ali?"
"In syaa Allah bisa, iya kan Ali?"
Ali mengangguk saja. Padahal dia masih kecil dan pasti membutuhkan Mamanya.
"Mama tenang saja, kan ada aku, nanti biar aku saja yang mengganti posisi Mama sebagai Ibu saja tapi bukan sebagai istri."
David terkekeh lantaran Alula sempat menoleh ke arahnya disaat mengucapkan kata yang terakhir.
"Lho Kak Alula sudah mau pulang ke Singapura?, nggak mau di sini dulu?." Tanya Alesya dengan kecewa.
Ya mau bagaimana lagi. Alesya tidak bisa memaksakan Alula untuk tetap di Indonesia. Tak apalah yang terpenting nanti saat acara aqiqah keluarga besarnya berkumpul kembali. Tidak enak rasanya jika harus terpisah-pisah seperti ini. Tetapi Alesya bisa apa. Jika Allah sudah berkehendak seperti ini. Disyukuri saja apa yang terjadi. Memang sudah seharusnya sebagai seorang manusia harus tetap bersyukur disetiap keadaan apapun.
∆∆∆∆∆
Di sore hari Alesya baru saja terbangun dari tidur siangnya. Dengan perlahan ia mengumpulkan kesadarannya usai terlelap beberapa jam yang lalu. Diperhatikannya seluruh sudut ruangan. Sepi dan hening. Anggota keluarganya tiba-tiba menghilang begitu saja meninggalkan dirinya dan kedua bayi kembarnya yang sedang terlelap tidur dengan kompaknya di box bayi yang berdekatan dengan brankarnya.
"Tidur yang nyenyak ya dua kesayangan Umma. Ngomong-ngomong Baba kalian mana ya Nak?, kok nggak ada di sini?"
Kemanakah pergi Afnan, mengapa tidak memberitahu Alesya. Apakah dia tidak ingin mengganggu Alesya yang sedang tertidur.
Alesya mengganti posisi yang tadinya sedang terbaring kini sudah duduk sambil bersandar di kepala brankarnya padahal saat ini dia ingin bersandar di pundak suaminya.
Untuk mencari tahu keberadaan sang suami. Alesya mengambil ponselnya yang berada di meja dekat brankarnya. Ada pesan masuk. Dari Afnan.
"Einy, aku pulang dulu ya sebentar, soalnya mengantar Mama dan Papa sama Ali juga pulang ke rumah kita untuk istirahat, kasihan mereka kecapean, keluarga yang lain juga sudah aku suruh pulang dulu. Kalau kangen sama aku ditahan dulu ya. Sebentar lagi aku ke sana lagi kok. Aku mencintaimu Einy."
Alesya tersenyum sembari geleng-geleng kepala membaca pesan dari suaminya. Tahu saja jika Alesya sudah merindukannya. Baiklah Alesya akan menahan rindunya sejenak.
"Assalaamu 'alaikum."
Seseorang datang menghampiri Alesya. Dialah Silmi sahabat Alesya yang baru saja memunculkan dirinya. Sebenarnya tadi Silmi ingin menemani Alesya ke rumah sakit. Hanya waktunya tidak tepat. Keluarganya datang ke acara wisudanya jadi Silmi harus bersama mereka untuk merayakan hari kelulusannya.
"Wa 'alaikumus salaam, Silmi."
Dengan antusiasnya Alesya langsung memeluk Silmi. Menyingkirkan jarak yang tadinya memisahkan mereka. Usai berpelukan singkat Silmi pun menolehkan pandangannya ke arah dua bayi kembar yang masih terlelap.
"Maa syaa Allah, bayinya kembar?, kok aku nggak tahu sih."
Silmi terheran-heran melihat kedua bayi itu yang baru saja terlahir dari rahim sahabatnya. Alesya mengangguk senang tetapi dia sempat merasa bersalah karena tidak memberitahu Silmi sebelumnya. Tetapi tak apalah Itung-itung kejutan untuk Silmi.
"Maa syaa Allah nggak menyangka aku Al, anak kamu kembar ternyata, jenis kelaminnya apa?"
"Laki-laki dan perempuan, Alhamdulillah Allah memberikannya sepasang."
Lagi-lagi Silmi dibuat takjub dan menyebut kalimat Maa syaa Allah untuk memuji Allah yang sangat baik kepada sahabatnya dengan menitipkan bayi kembar yang sepasang, laki-laki dan perempuan.
"Maa syaa Allah mereka lucu-lucu sekali, Al aku boleh gendong nggak?"
Dengan senang hati Alesya memperbolehkan si mbak jomblo untuk menimang bayi kembarnya. Silmi kebingungan bayi yang mana yang akan dia gendong. Tidak mungkin kedua-duanya juga. Akhirnya setelah cukup lama menimbang Silmi memutuskan untuk menimang bayi yang perempuan.
__ADS_1
"Bismillah." Ucapnya dengan hati-hati.
Silmi berhasil menimang bayi perempuan yang mulai terusik tidurnya. "Maa syaa Allah, masih bayi sudah cantik saja kamu Nak, kira-kira kamu mirip siapa ya?, mirip Ibu kamu atau Ayah kamu?" Silmi melirik Alesya. Untuk melihat reaksi wajah Alesya yang tersenyum kearahnya.
"Yang jelas nggak akan mirip sama yang lagi gendong." Gurau Alesya kepada Silmi yang dibuatnya geleng-geleng kepala.
"Oh ya Al ngomong-ngomong pada ke mana, kok ruangan kamu sepi?, Afnan juga ke mana?"
Akhirnya Silmi menyadari bahwa ruangan Alesya sedang sepi dan sunyi. Tidak ada sanak keluarga yang memenuhi ruangan tersebut.
"Keluarga aku lagi pada pulang semua, kasihan mereka pasti capek karena seharian kan menemani aku dari tadi acara wisuda sampai aku masuk rumah sakit. Afnan juga lagi pulang sebentar. Nanti balik lagi ke sini."
Silmi pun manggut-manggut usai mengetahui alasan ruangan Alesya dirawat terlihat sepi dan senyap. Dikarenakan keluarga besar Alesya sedang beristirahat di rumahnya masing-masing. Berarti Silmi datang di waktu yang tepat. Disaat keluarga Alesya tidak ada di ruangan tersebut karena dia tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka.
∆∆∆∆∆
Sudah dua hari Alesya dirawat di rumah sakit. Dokter belum mengizinkannya pulang lantaran kondisinya yang belum pulih betul. Kedua bayinya sebenarnya sudah boleh dibawa pulang namun jika ibunya masih di rumah sakit sebaiknya bayinya juga di rumah sakit dulu. Untuk memudahkan Alesya saat memberikan asi kepada bayi kembarnya.
Hari ini yang sedang menjenguk Alesya adalah dari pihak keluarga Afnan, yakni Izma dan Zawir. Ziva tidak bisa menjenguknya dikarenakan hari ini masuk kuliah pagi. Rencananya setelah pulang kuliah baru Ziva akan menyusul kedua orang tuanya ke rumah sakit untuk menjenguk keponakan kembarnya yang sudah membuatnya jatuh cinta sejak pertama kali dilahirkan ke dunia.
Kini si bayi perempuan yang untuk sementara waktu diberi nama Putri sedang digendang oleh Omanya. Dan si bayi laki-laki "Putra" juga sedang di gendong oleh Opanya. Sementara Ummanya sedang duduk bersandar di brankarnya sambil disuapkan makan oleh Afnan yang duduk dikursi sebelah brankarnya. Semenjak kemarin usai melahirkan dengan telaten Afnan membantu Alesya melakukan aktivitasnya termasuk aktivitas makannya. Sebenarnya Alesya tidak ingin merepotkan Afnan tetapi Afnan sadar diri bahwa kondisi istrinya masih belum pulih sehingga akan kesulitan dalam melakukan aktivitasnya. Istilahnya Afnan ingin menjadi suami yang siaga untuk Alesya dan tidak menutup kemungkinan dia juga akan menjadi Ayah yang siaga untuk bayi kembarnya.
"Assalaamu 'alaikum Putri, cucu kesayangan Omi, selamat pagi Nak, Putri sedang digendong sama Omi ya, iya?, maa syaa Allah cantik sekali kamu Nak, jadi gemes Omi." Izma mencium pipi si bayi perempuan dengan gemasnya.
Zawir juga tidak mau kalah dengan istrinya. Dia juga ingin mengajak sang cucu laki-lakinya mengobrol untuk pertama kalinya. "Assalaamu 'alaikum Putra, kembarannya Opi, yang mewarisi ketampanannya Opi ya Nak, dan bisa jadi menyaingi ketampanan Opi dan Baba kamu."
"Sudah Alby, aku sudah kenyang."
Disela-sela sarapan paginya, Alesya sudah merasa kenyang meskipun bubur ayam yang dibawa oleh maminya dari rumah masih tersisa separuh. Ya mau bagaimana lagi. Afnan tidak bisa memaksakan yang terpenting ada asupan makanan yang masuk ke tubuh istrinya. Maklum namanya juga Alesya masih kurang sehat. Jadi selera makannya juga terganggu.
"Oh ya, Afnan, Alesya, kira-kira kalian akan menggunakan jasa babysitter nhgak untuk membantu merawat si kembar?"
Afnan dan Alesya saling bertemu pandang sejenak usai mendengar pertanyaan Izma. Hingga akhirnya mereka saling tersenyum menatap Izma yang sudah menunggu jawaban dari salah satu mereka.
"Untuk saat ini, kita belum mau menggunakan jasa babysitter Mami, soalnya Alesya nhgak mau, dia maunya kita saja yang merawat si kembar."
Alesya ikut menambahi. "Iya Mami, in syaa Allah kami bisa kok merawat si kembar tentunya nanti Mami sama Papi juga bantu ya kan sudah berpengalaman, hehehe."
"Siap, Papi malah senang kalau disuruh mengurus si ganteng ini." Oceh Zawir dengan antusiasnya sambil mengelus pipi si bayi Putra.
Izma tersenyum penuh syukur. "Alhamdulillah kalau begitu, ternyata kalian pikirannya sama seperti Mami dan Papi, itu kan bayi kalian jadi kalian sendiri yang harus merawatnya bukan orang lain, selagi masih bisa merawat sendiri kenapa nggak, iya kan?"
Alesya setuju sekali dengan pemikiran Mami mertuanya yang tidak jauh berbeda dengannya. Lagi pula Alesya senang jika dirinya sendiri yang merawat anak-anaknya. Dapat melihat perkembangan anak-anaknya secara langsung. Itu adalah moment terpenting dalam hidupnya.
"Oh ya Alesya, memangnya kamu nggak ingin cari kerja Nak?, kamu kan lulusan sarjana, ya siapa tahu kamu ingin jadi wanita karir?"
Izma mengajukan pertanyaan lagi yang bersangkutan dengan Alesya. Lebih tepatnya tentang hidup kedepannya Alesya yang kini baru saja menyandang status sebagai lulusan sarjana sekaligus sebagai seorang Ibu.
Sepertinya itu bukan pertanyaan yang sulit sehingga dengan mudahnya Alesya akan menjawabnya. Tentunya dengan keputusan yang sudah matang lantaran ini menyangkut masa depannya nantinya.
"In syaa Allah Alesya ingin berkerja di rumah saja Mami." Alesya tersenyum ke arah Afnan yang ikut membalas senyumnya. "Mengurus rumah, suami dan anak-anak, istilahnya jadi Ibu rumah tangga."
Disatu sisi Izma senang jika Alesya sudah memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga ketimbang menjadi wanita karir. Tetapi disisi lain Izma penasaran kira-kira apa alasan menantunya itu tidak tertarik bekerja di luar. Padahal dia lulusan sarjana yang pastinya lebih mudah mendapatkan pekerjaan.
"Kalau boleh Mami tahu, kenapa kamu nggak berniat kerja di luar Nak?, malah kamu ingin menjadi Ibu rumah tangga saja, kamu kan lulusan sarjana."
Alesya kembali berucap. "Ibu rumah tangga itu juga bekerja lho Mami, bekerja di dalam rumah, mengurus rumah, mengurus suami, mengurus anak-anak dan digaji langsung sama Allah, bukan sama manusia lagi."
Izma yang serius mendengarkan Alesya kini mulai takjub akan pemikiran menantu sulungnya. Bukan cuma Izma yang takjub Zawir juga bahkan kini Afnan sudah menatap istrinya dengan penuh cinta dan tanpa berkedip sedikitpun. Seakan sudah terhipnotis.
"Aku juga ingin menjadi madrasah pertama untuk anak-anakku, mengajari mereka membaca Al-Quran, ilmu agama serta ilmu umum yang aku dapatkan saat belajar di sekolah maupun di kampus. Memang sudah seharusnya seorang Ibu harus berpendidikan tinggi karena dia yang akan mengajari anak-anaknya. Guru saja yang hanya beberapa jam mengajari murid-muridnya di sekolah harus berpendidikan tinggi kan, apa lagi seorang Ibu yang akan mengajari anak-anaknya dari kecil sampai dewasa sudah seharusnya berpendidikan tinggi. Karena Ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas, in syaa Allah."
Sekian penuturan Alesya yang cukup panjang tetapi sangat bermakna bagi dirinya dan bagi perempuan-perempuan di luaran sana. Alesya berharap bukan hanya dia yang mempunyai pemikiran seperti itu namun juga calon-calon ibu diluaran sana. Karena sejatinya seorang ibu sangat berperan penting dalam masa depan anak-anaknya. Sebagaimana yang diungkapkan seorang penyair dalam bait syairnya:
الأم مدرسة إذا أعددتَها
أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق
"Al-ummu madrasatul ula, iza a'dadtaha a'dadta sya'ban thayyibal a'raq."
Artinya : Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.
"Maa syaa Allah Alesya, merinding Mami dengarnya, kamu memang seorang Ibu yang sholehah, in syaa Allah." Puji Izma disela-sela rasa kagumnya kepada Alesya.
"Aamiin." Ucap Alesya dengan rendah hati dan berharap Allah mengabulkannya.
Zawir ikut memujinya. "Maa syaa Allah, Alesya, Papi bangga sama kamu, bangga sekali Nak."
Afnan yang sejak tadi tidak berpaling dari wajah cantik Alesya akhirnya angkat bicara juga. "Maa syaa Allah beruntungnya aku berjodoh denganmu Einy."
Alesya terharu mendengarnya. Hati istri mana yang tidak tersentuh bila diberikan kata-kata manis dari suami yang dicintainya karena Allah.
"Maa syaa Allah aku juga bersyukur menjadi tulang rusukmu. Menjadi penyempurna agamamu. Bagiku kamu adalah takdir terindah dalam hidupku." Ucap Alesya yang juga mensyukuri skenario indah yang Allah gariskan kepadanya.
__ADS_1
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞