Takdir Terindah

Takdir Terindah
Bahagia Bersama


__ADS_3

Yang tulus mencintai


Tidak akan pernah berpikir


takut tidak bahagia


Melainkan akan berusaha


bagaimana caranya orang yang dicintai bahagia bersamanya


~Takdir Terindah~


Ukhfira


~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~


Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah


Selamat membaca


Semoga suka


🌻🌻🌻


Keesokan harinya


Farha dan David serta Ali anak mereka sudah berdiri di teras rumah dengan di hadapan mereka ada Afnan dan Alesya serta si kembar yang berada di kereta bayi.


"Mama pulang dulu ya, jaga diri kalian baik-baik, in syaa Allah Mama akan ke sini lagi menjenguk si kembar."


"Papa juga."


Alesya tak kuasa menahan air matanya disaat-saat kepergian. Mamanya yang akan kembali ke Singapura. Farha juga dari kemarin tiada hari tanpa menangis. Rasa sedih dan haru bercampur aduk di hatinya.


"Mama sama Papa juga hati-hati ya, kalau sudah sampai kabari aku." Ucap Alesya penuh harap.


"Hubungi kami sering-sering juga ya Ma, Pa." Sambung Afnan.


Lambaian tangan Afnan dan Alesya akhirnya mengiringi kepergian Mama dan Papanya serta adiknya, Ali. Mereka sudah masuk ke dalam taxi. Lalu taxinya keluar dari pintu gerbang yang terbuka lebar.


Afnan dan Alesya sebenarnya ingin mengantar mereka ke bandara. sekaligus ingin bertemu dengan Alula yang akan pulang juga ke Singapura bersama Mama dan Papanya. Namun Farha tidak memperbolehkannya dengan alasan si kembar jangan di bawa keluar dulu apalagi ke bandara juga karena keadaan Alesya yang masih dalam masa nifas usai melahirkan.


"Owekkk owekkk owekkk"


Tiba-tiba saja si kembar dengan kompaknya menangis. Alesya terkejut. Lantaran tadinya si kembar sudah dalam keadaan terlelap sehabis digendong Farha dan David. Mungkin mereka tahu jika Oma dan Opanya sudah pulang ke Singapura. Sehingga mereka ikut menangisi kepergian Oma dan Opanya yang begitu menyayangi mereka.

__ADS_1


"Subhanallah, kok anak-anak Umma tiba-tiba menangis, kenapa Sayang, cup cup."


Alesya menimang bayi Arsy untuk menenangkannya. Begitu juga dengan Afnan yang ikut menimang bayi Asrya. Mereka pun masuk ke dalam rumahnya. Menutup pintunya dengan rapat.


Si kembar dibawa ke kamar mereka. Sudah saatnya Alesya memberikan ASI kepada kedua anaknya. Karena bayinya ada dua jadi Alesya memberikan ASI-nya secara bergantian. Yang pertama kali diberikan ASI adalah Arsy karena si bayi perempuan tersebut sudah berada didekapan Alesya. Sementara bayi Arsya masih di gendong Afnan dengan duduk didepan Alesya.


"Arsy jadi putri yang sholihah ya Nak, yang mencintai Allah dan menyayangi Rasulullah. Serta mencintai dan menyayangi Umma dan Baba, iya Sayang."


Disela-sela menyusui, tak lupa Alesya mengajak ngobrol bayi keduanya itu dengan obrolan menanamkan tauhid sejak dini. Agar nantinya saat dewasa dia menjadi manusia yang taat dan patuh terhadap perintah Allah dan Rasulullah. Itulah yang diharapkan semua orang tua di dunia ini. Mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah.


Usai si bayi kembar terlelap dalam tidurnya. Alesya menaruh bayi Arsya ke tempat tidurnya yang mana bayi Arsy sudah tertidur di tempat tidurnya lebih dulu. Lantaran tadi Alesya menyusuinya duluan.


"Alby kemana ya?, apa dia pergi ke butik?"


Alesya mencari keberadaan Afnan disekitar kamarnya. Usai meletakkan Arsy di tempat tidurnya tadi Afnan beranjak keluar kamar dan tidak kembali lagi. Alesya pun keluar kamar untuk mencari suaminya yang ntah sedang dimana dan sedang berbuat apa.


"Alby"


"Alby"


"Alby, kamu di mana?"


"Alby?, kamu lagi apa?"


Setelah mencari ke setiap sudut rumahnya. Akhirnya si pangeran berparas wajah Arab dan sedikit campuran wajah Indonesia ditemukan oleh Alesya di tempat jemuran dan sedang menjemur beberapa pakaian kecil milik bayi kembarnya mereka.


Alesya yang kini sudah berada di samping Afnan terheran-heran melihat Afnan yang baru saja selesai menjemur pakaian-pakaian yang berbentuk mungil di tempat jemuran.


"Iya Einy, alhamdulillah sudah selesai kok." Jawab Afnan yang beralih menatap wajah istrinya yang sedang menatapnya tanpa kedip.


"Kenapa kamu melakukan ini semua Alby?, kenapa kamu nggak menyuruh aku saja yang mencuci baju-baju si kembar?"


"Ya nggak lah Einy, masa iya aku menyuruh kamu, kamu kan habis menyusui sama menidurkan si kembar, jadi biar aku yang mencuci baju mereka, lagi pula nggak berat kok cuma mencuci doang, beratan tugas kamu Einy."


Afnan selalu saja membuat hati Alesya takjub. Dipeluknya suaminya yang penuh pengertian itu oleh Alesya dengan rasa syukur yang tiada henti.


"Maa syaa Allah, jazakallah khoiron Albh, kamu pengertian banget sih sama istri kamu ini, selalu saja membuat istri kamu bahagia, sampai takjub."


"Wa jazakillah khoiron Einy, karena aku mencintaimu, makanya aku akan terus berusaha agar orang yang aku cintai ini bahagia bersama aku."


"Maa syaa Allah." Ucap Alesya sambil membenamkan wajah bahagianya di dada bidang Afnan yang sedang berdebar-debar. Debaran cinta.


∆∆∆∆∆


Alesya baru saja keluar dari kamar mandi. Jam menunjukkan pukul 19.20 malam, sementara Alesya baru selesai mandi. Sebenarnya Alesya tahu mandi di waktu malam tidak baik untuk kesehatan tubuhnya tapi mau bagaimana lagi dia baru bangun dari tidurnya setelah sore tadi merebahkan tubuhnya sejenak yang ternyata malah terbawa tidur.

__ADS_1


Si kembar sudah dari tadi siang di culik oleh Izma dan Aiza. Tidak tahu mengapa. Kedua Oma muda itu membawa cucu-cucunya ke rumahnya masing-masing. Arsya di bawa ke rumah Izma dan Arsy di bawa ke rumah Aiza. Mereka sudah meminta izin kepada kedua orang tua si bayi. Lebih tepatnya izin dengan memaksa. Afnan dan Alesya pun mengizinkan mereka untuk mengajak si kembar tidur di rumah mereka secara terpisah. Yang terpenting saat ini bagi Afnan dan Alesya kedua orang tuanya bahagia. Toh mereka juga bersyukur dengan dibawanya si kembar oleh nenek-nenek mereka. Afnan dan Alesya bisa menggunakan waktu santai mereka dengan beromantis ria. Layaknya pengantin baru yang tidak ingin diganggu.


Ponsel Alesya berdering 5 menit yang lalu. Diraihnya ponsel tersebut yang tergeletak di meja nakas dekat ranjangnya.


Pesan dari Afnan. "Einy, kalau sudah selesai mandi turun ke bawah ya, aku mencintaimu."


Alesya yang membaca pesan tersebut langsung geleng-geleng kepala sambil memikirkan kira-kira Afnan sedang menyiapkan apa di lantai bawah?. Sampai acara kirim pesan segala. Padahal mereka tinggal di satu atap.


"Alby, sedang apa sih di bawah?, jadi penasaran deh."


Alesya bergegas keluar dari kamarnya untuk mendatangi Afnan  yang katanya sedang berada di lantai bawah.


Alesya terkejut. Melihat lampu di rumahnya padam namun ada cahaya lilin-lilin yang menyala di lantai, di samping ribuan kelopak bunga mawar merah yang bertaburan di sepanjang lantai sampai menuju ke anak tangga.


Alesya pun berjalan dengan menginjak ribuan kelopak bunga mawar tersebut yang sampai ke lantai bawah dan terhenti di sebuah meja dan kursi yang telah disediakan untuknya.


Alesya tersenyum kearah laki-laki yang sudah berdiri menunggu dirinya sambil memegang bucket bunga mawar mewah. Siapa lagi jika bukan Afnan yang kini sudah berlutut di hadapan Alesya sembari memberikan rangkaian bunga mawar merah tersebut kepada Alesya.


Dengan senang hati Alesya menerimanya. Mencium aroma bunga mawar tersebut yang harum semerbak.


"Kamu yang menyiapkan ini semua?." Tanya Alesya dengan tersenyum bahagia.


Diperhatikannya seluruh meja dan kursi dihadapannya yang sudah tertata rapi bahkan sudah tersaji makanan dan minuman di atasnya.


"Iya, ini semua aku persembahkan untuk Bidadari hatiku."


Makan malam romantis. Siapa yang tidak senang mendapatkan kejutan itu bahkan yang menyiapkan adalah orang dicintainya. Begitulah yang dirasakan Alesya saat ini. Hatinya berbunga-bunga. Dan wajahnya bersemu bahagia.


Afnan menggandeng Alesya menuju meja makan yang sudah disediakan olehnya. Mempersilahkan Alesya duduk di kursi yang sudah dia tarik kebelakang agar Alesya bisa mendudukinya.


Kini Afnan dan Alesya saling duduk berhadapan. Dengan kedua mata mereka yang saling menatap dengan penuh cinta yang menghadirkan pahala karena cinta halal mereka.


"Maa syaa Allah Alby, kamu romantis banget, aku sampai nggak bisa berkata apa-apa lagi, kamu memang paling bisa ya menyenangkan hati istri kamu ini."


Afnan tersenyum. "Apapun akan aku lakukan agar istriku yang paling cantik ini tersenyum bahagia."


"Kamu suka?"


"Suka banget." Jawab Alesya mengangguk cepat.


Alesya mencium punggung tangan Afnan yang sejak tadi saling menggenggam erat.


"Aku mencintaimu takdir terindahku."


Afnan juga mencium punggung tangan Alesya."Aku juga mencintaimu Bidadari hatiku."

__ADS_1


Mereka pun akhirnya mencicipi hidangan makan malam romantis mereka yanga mana persembahan Afnan untuk Alesya-nya. 


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2