
Bukan sekedar cinta dimodalkan
Juga bukan harta serta
tahta yang ditawarkan
Namun iman dan taqwalah
Yang mampu meluluhkan
hati kedua orang tua
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu ya
Selamat membaca
Semoga suka
🌻🌻🌻
Semenjak sang Ayah menyuruh laki-laki yang mengajaknya ta'aruf untuk bertamu ke rumahnya dengan tujuan melamar dirinya, semenjak itulah Alesya merapatkan jarak kepada Tuhannya, mendekat dan lebih dekat. Tanpa jeda setiap malamnya ia menghidupkan malam dengan sholat malam sekaligus berdoa kepada Allah untuk meminta petunjuknya mengenai laki-laki asing yang tak lain adalah Afnan sang pangeran kampus yang akan datang untuk melamarnya.
Setelah mencapai salam dengan segenap hatinya yang penuh keraguan, Alesya menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya memohon dan berdoa kepada Sang khalik.
"Ya Allah ya Robbi, ya Rohman ya Rohim, Allahumma sholli ala Muhammad wa'alaali Muhammad, Ya Allah hambaMu ya lemah ini datang kembali bersimpuh dihadapanMu, sudah kesekian kalinya hamba memohon kepadaMu tolong berilah hamba petunjuk atas masalah besar ini, jika memang laki-laki yang akan melamar hamba adalah laki-laki yang baik, hamba ikhlas jika memang nantinya hamba menikah dengannya, tetapi jika laki-laki itu adalah laki-laki yang tidak baik singkirkan dari kehidupan hamba. Dan berilah hamba kemantapan hati jika memang laki-laki itu adalah jodoh hamba, jangan biarkan hati hamba dilanda keraguan seperti ini, sungguh ya Allah tiada daya dan upaya melainkan atas izin engkau,aamiin Allahumma aamiin."
Dengan lembut Alesya mengusap wajahnya yang penuh air mata dengan kedua tangannya yang sudah ia tangkupkan diwajah cantiknya. Rasa lega kini telah menyapa hatinya. Ia percaya akan kekuatan sebuah doa dan ia juga percaya bahwa Allah tidak akan menguji HambaNya diluar batas kemampuan HambaNya.
Hari ini Alesya sudah pasrahkan semuanya kepada TuhanNya, takdir hidupnya adalah kehendak TuhanNya, apapun jawaban atas doanya akan ia terima dengan lapang dada, karena ia percaya Allah menyayangi dirinya sebab itu Allah tidak akan membuat hidupnya menderita dengan mendatangkan seseorang yang tidak baik dalam hidupnya.
Tok... tok... tok...
Pandangan Alesya langsung tertuju kearah pintu kamarnya yang tertutup rapat namun sedang diketok oleh seseorang, entah siapa malam-malam seperti ini mendatangi kamarnya. Dengan cepat Alesya membuka mukenah serta melipatnya lalu bergegas membuka pintu kamarnya.
"Ayah."
Yang sedang mengetok pintu kamarnya adalah laki-laki terhebat yang sedang tersenyum menatapnya.
"Boleh Ayah masuk?"
Alesya pun menganggukkan kepala seraya mempersilahkan sang Ayah masuk ke dalam kamarnya.
"Lesya duduklah disini Nak, disamping Ayah."
Dengan langkah pelan Alesya mendudukan tubuhnya tepat ditepi ranjang kamarnya di mana sang Ayah duduk dan sedang menepuk-nepuk kasurnya supaya Alesya duduk disamping dirinya.
"Nak, Ayah ingin bicara."
Lagi-lagi Alesya hanya dapat menatap wajah senduh sang Ayah yang tengah tersenyum kearahnya.
"Besok, Afnan beserta keluarganya akan bertamu ke rumah kita untuk melamar putri bungsu Ayah yang cantik ini."
Ditatapnya wajah sang Putri yang sudah melengos mengalihkan pandangannya kebawah.
"Jika kamu tidak menyukai Afnan, kamu boleh menolaknya."
Mendengar pernyataan sang Ayah, membuat Alesya langsung menoleh kearah Ayahnya yang kini sudah beranjak dan berdiri dihadapannya dengan wajah tetap tersenyum, Alesya pun menghampiri sang ayah dan menatap wajahnya dengan kebingungan.
"Mak-sud Ayah?"
"Afnan memang laki-laki yang baik, tetapi jika kamu tidak menyukainya, kamu boleh menolaknya, kamu berhak atas itu semua Nak, karena kamu yang akan menjalaninya."
Alesya pun dapat mengukir senyuman setelah mendengar pernyataan sang ayah yang sama sekali tidak membebaninya dan tidak memaksanya untuk menerima lamaran laki-laki yang akan melamarnya nanti malam.
"Tetapi..."
Wajah Alesya langsung berubah seketika setelah Ahyar kembali melanjutkan ucapannya.
"Nak, kamu pasti sudah tahu kan tentang sebuah hadis yang menyatakan, terimalah lamaran seorang laki-laki yang baik agama serta akhlaknya, jika tidak maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di bumi ini."
Lidah Alesya serasa keluh setelah mendengar lanjutan ucapan sang Ayah ditambah lagi ayahnya menyebutkan sebuah hadis yang sebenarnya Alesya mengetahuinya tetapi ia terlupa dan sekarang Ayahnya mengingatkannya kembali.
"Tapi Ayah, laki-laki yang baik bukan hanya dia, pasti akan ada yang lebih baik darinya, jadi jika aku tidak menyukainya aku berhak menolaknya, iya kan Ayah?"
Ahyar menangkupkan kedua tangannya tepat diwajah polos Alesya lalu ditatapnya dengan senyuman terukir diwajahnya yang sudah terlihat tidak muda lagi.
"Kamu benar Nak, laki-laki yang baik dan yang lebih baik dari Afnan itu banyak di luaran sana, tapi takutnya jika kamu menolak lamaran Afnan, Allah akan kecewa sama kamu, dan Allah tidak mendatangkan laki-laki yang baik lagi untuk datang melamar kamu, karena kamu sudah pernah menolak lamaran laki-laki yang baik, itu yang Ayah khawatirkan Nak, dan kesempatan tidak akan datang dua kali, belum tentu akan datang laki-laki yang baik lagi seperti Afnan untuk melamar kamu."
Rasanya Alesya sudah tidak dapat bergeming lagi, ucapan ayahnya benar-benar membuat pondasinya yang kokoh untuk menolak lamaran laki-laki yang ia anggap tidak baik seakan runtuh, hancur berkeping-keping, sejujurnya semua yang dikatakan ayahnya adalah benar dan ia tidak dapat berbuat apa-apa tetapi ntah mengapa rasa ragu masih terus menyelimuti perasaannya.
"Tetapi semuanya tergantung kamu, Ayah hanya memberikan pandangan, Ayah tidak akan pernah memaksakan kehendak kamu, ambillah keputusan yang terbaik, untuk masa depan kamu, sakarang istirahatlah Putriku."
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam."
Alesya hempaskan tubuhnya ke kasur setelah kepergian ayahnya dari kamarnya, ntah apa yang harus Alesya perbuat, ia benar-benar dilanda kebingungan, perasaan kini bercampur aduk didalam hatinya, air mata pun terjatuh tanpa ia sadari seakan merapuhkan hatinya yang saat ini benar-benar tidak tau harus berbuat apa.
Disisi lain Alesya ingin sekali menolak lamaran laki-laki yang tidak ia sukai tapi disisi lain ia sadar bahwa apa yang diucapkan ayahnya tadi adalah benar.
Rasa dilema kini mulai menyesakkan dadanya ditambah lagi besok malam Afnan beserta keluarganya akan datang melamarnya sehingga Alesya sudah tidak punya waktu lama lagi, apakah ia akan berdamai dengan takdirnya atau ia akan menentang takdirnya, ntahlah saat ini Aleysa hanya mengharap segera mendapatkan petujuk dari Allah dan ia akan menerimanya dengan hati yang lapang.
^^^^^
"Alhamdulillah akhirnya tugas presentasi aku selesai juga, lega sekali ya Allah."
Silmi yang baru saja mengucapkan rasa syukur karena telah selesai presentasi dimata kuliahnya kali ini langsung menoleh kearah Alesya yang tengah duduk disampingnya yang sedang melamun.
Semua teman-temannya sudah meninggalkan kelas, tinggal Alesya dan Silmi saja yang masih dikelas mereka. Silmi merasakan ada keganjalan kepada diri sahabatnya itu, sejak tadi pagi Alesya diam seribu bahasa dan seperti ada yang dipikirkan.
__ADS_1
"Al?, Alesya?"
Nada yang sedikit keras akhirnya dapat menyadari Alesya yang tengah melamun tidak jelas. Dengan gelagapan Alesya langsung menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya.
"I-iiya, iya Sil ada apa?"
"Kamu tuh yang ada apa, tumben sekali diam nggak banyak bicara, biasanya kalau ada presentasi kamu yang sering aktif bertanya."
Silmi pun menggeser kursinya untuk duduk lebih dekat dengan Alesya
"Kamu ada masalah apa?, ayo cerita sama aku."
"Aku nggak apa-apa kok Sil, cuma lagi, aku lagi kurang enak badan."
Dalam situasi seperti ini Alesya berusaha untuk menyembunyikan semuanya dari sahabatnya. Meskipun sebenarnya ingin sekali ia menceritakan semuanya kepada Silmi seperti yang sudah-sudah, setiap ada masalah ia selalu membaginya kepada Silmi, tapi kali ini Alesya memilih bungkam saja ditambah lagi Silmi juga tidak menyukai Afnan. Apa jadinya jika ia menceritakan bahwa nanti malam Afnan beserta keluarganya akan melamar dirinya, bisa jadi bukan mencari solusi yang ada Silmi akan memperkeruh masalah.
"Al, aku sahabat kamu lho, kamu sedang berbohong, ayo ngaku kamu lagi ada masalah apa?, kenapa nggak cerita sama aku?"
Silmi terlalu pandai untuk Alesya bohongi, bagaimana tidak selama ini mereka sudah sangat dekat dan dapat dipastikan tahu karakter masing-masing, Alesya sudah tertangkap basah sedang berbohong kepada Silmi, entah apa yang harus ia lakukan tapi yang jelas ia tidak akan membuka suara tentang masalahnya itu.
"Sil, aku lapar nih, ayo kita ke kantin, nanti kita ada kelas lagi, sampai sore lho."
Silmi memutar bola matanya jengah. Ia kesal kepada sahabatnya itu yang mulai saat ini pandai sekali menyembunyikan sesuatu hal dan malah mengalihkan pembicaraannya.
^^^^^
Tak terasa matahari sudah selesai menjalankan tugasnya dengan baik dan kini rembulan beserta prajuritnya para bintang menghiasi awan yang kini berwarna hitam pekat.
Rasa cemas dan gugup kini mulai menyapa perempuan cantik yang sudah berhias diri senatural mungkin karena hari ini ia akan dilamar oleh laki-laki yang minggu kemarin datang bertaaruf dengannya.
Malam ini adalah malam dimana Alesya akan memutuskan sebuah keputusan yang akan berdampak pada masa depannya, ia sudah menyiapkan keputusan yang terbaik.
Seorang perempuan cantik dengan gamis syarinya yang berwarna maroon dipadukan dengan pasmina yang menutupi dadanya dengan dilengkapi oleh kacamata minusnya yang selalu menjadi aksesoris wajahnya itu masuk kedalam kamar adiknya yang saat ini sedang duduk ditepian ranjang kamarnya dengan wajah tertunduk kebawah.
"Adik." Tangannya menyentuh pundak sang Adik yang akhirnya mendongkkan kepala untuk menatapnya.
"Kakak." Panggil Alesya lirih.
Alula tersenyum seakan menguatkan sang adik yang sedang dilanda rasa gugup. "Adik ayo keluar, Afnan dan kedua orang tuanya sudah datang."
Mendengar pernyatan sang Kakak, sontak membuat mata Alesya membulat dengan sempurna dan rasa gugup itu makin terasa.
"Kakak serius?, mereka sudah datang?." Tanya Alesya dengan nada bicara sedikit terbata-bata.
Entah mengapa susah sekali rasanya bagi Alesya untuk menelan salivanya setelah mendengar bahwa laki-laki itu bersama kedua orang tuanya sudah datang dan pastinya sudah dipersilahkan masuk oleh Ayah dan Bunda yang sudah siap sejak tadi setelah usai sholat isya.
"Iya dik, mereka sudah di bawah bersama Ayah dan Bunda, ayo kita ke bawah mereka sudah menunggu kamu."
Alesya langsung mengapit lengan sang kakak dengan sangat erat ketika kakinya sudah melangkah keluar dari kamarnya dan mulai menuruni anak tangga dengan pelan dan hati-hati. kini mereka sudah sampai dilantai bawah dan mulai melangkah lagi menuju ruang tamu.
Semua mata pun tertuju kearah Alesya yang tidak berani menatap wajah seorang laki-laki yang kini sedang duduk dihadapan kedua orang tuanya dengan didampingi oleh seorang laki-laki paru baya dengan wajahnya yang masih terlihat tampan dan seorang perempuan paru baya yang cantik dengan balutan khimarnya.
Kini Alesya sudah duduk diantara Bunda dan Kakanya sedangkan Ayahnya duduk disofa single.
"Maa syaa Allah itu calon menantu Mami, Afnan?, cantik sekali."
Bisikan Izma tepat ditelinganya, membuat Afnan mengukir senyuman ditambah lagi sang mami memuji kecantikan wajah Alesya yang terpancar dari hatinya yang baik.
"Bismillahirrohmaanirrohiim, kedatangan kami kemari, saya selaku Papi dari putra paling ganteng kami yaitu Muhammad Afnan Rafisqy, punya niatan baik, Putra papi yang paling ganteng silahkan sampaikan niat baiknya."
Zawir yang baru saja membuka obrolan langsung mempersilahkan sang putra sulung yang dipanggilnya dengan sebutan putra paling gantengnya itu sempat membuat Alesya melengos, dan dengan menghela napas pelan Afnan membuka suaranya menyambungkan obrolan yang sudah diakhiri oleh sang Papi.
"Bismillahirrohmaanirrohiim, Bapak Ahyar dan Ibu Aiza alhamdulillah saya datang kesini lagi bersama kedua orang tua saya."
"Saya ingin melamar putri Bapak dan Ibu, untuk menjadi istri saya."
Senyuman manis kini terukir diwajah ayah Ahyar setelah mendengar penuturan Afnan yang melamar putri bungsunya, sedangkan Alesya hanya dapat menghela napas dan seketika ucapan ayahnya tadi diwaktu sepertiga malamnya itu terngiang-ngiang dipikirannya, tanpa ia sadari semua mata sudah tertuju kearahnya kecuali Afnan yang sangat menjaga matanya untuk tidak memandang ke wajah Alesya yang masih bukan mahromnya itu.
"Alesya, bagaimana apa kamu menerima lamaran Nak Afnan?"
Sentuhan lembut tangan Aiza dipunggung tangannya menyadarkan Alesya dari lamunannya dan segera mengangkat kepala untuk memandang wajah sang Bunda kemudian beralih kepada Ayahnya yang sepertinya sudah menunggu jawaban darinya.
"Terima saja dik, Afnan laki-laki yang ganteng, uppss, maksudnya laki-laki yang baik."
Awalnya Alesya cemberut ketika mendengar bisikan kakaknya yang menyuruhnya untuk menerima lamaran Afnan karena kegantengannya tetapi ia membenarkan ucapannya lagi dengan menggantinya dengan kata kebaikannya.
Alesya masih belum berani membuka suara untuk menjawab pertanyaan sang ayah yang menanyakan apakah dirinya menerima lamaran dari Afnan.
"Alesya, ayo sayang dijawab, jawaban kamu sudah ditunggu-tunggu sama Nak Afnan dan kedua orang tuanya."
Alesya pun mengalihkan pandangan kearah kedua orang tua Afnan yang hanya dapat tersenyum menunggu jawaban darinya, kemudian ia mengalihkan pandangannye kearah sang Ayah yang sepertinya melihat ada keraguan yang masih mengganjal dihati putri bungsunya itu makanya ia masih bungkam seribu bahasa.
"Bismillahirrohmaanirrohaim, saya, saya menerima lamaran ini."
Jawaban Alesya dengan penuh kemantapan hatinya langsung direspon oleh ucapan syukur semua orang yang berada diruang tamu tersebut, ruangan dimana menjadi saksi lamaran seorang laki-laki tampan diterima oleh sang perempuan cantik idamannya.
"Silahkan diminum dulu tehnya."
Aiza mempersilahkan para tamunya yang sebentar lagi akan menjadi besannya itu.
Dengan rasa bahagia Zawir, Izma dan Afnan pun menyeruput teh yang sudah dihidangkan untuk mereka.
Sedangkan Alesya, ia memang sedang tersenyum seakan sedang merasakan bahagia sama seperti Ayah Bunda serta Alula yang memandangnya dengan wajah tersenyum. Nyatanya senyuman itu bukanlah senyuman ketulusan melainkan senyuman karena keterpaksaan.
"Jadi sekarang kita bisa langsung menentukan tanggal pernikahannya, bukan begitu Pak Ahyar?"
"Apakah secepat itu?"
Baru saja ayah Ahyar membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan dari calon besannya yaitu Zawir tetapi sudah keduluan Alesya yang dibuat terkejut karena Ayah dari laki-laki itu ingin menentukan tanggal pernikahannya hari ini juga.
"Lho bukannya lebih cepat lebih baik kan?"
Alula pun segera membisikkan sesuatu kepada adiknya ketika keadaan sudah mulai tegang akibat ulah Alesya yang tidak memikirkan terlebih dahulu ucapannya itu.
"Adik kamu bicara apa, ini urusan Ayah dan calon mertua kamu, kamu diam saja"
__ADS_1
"Tapi Kak, aku berhak bersuara, karena ini kan menyangkut masa depan aku."
Melihat kedua putrinya sedang berdebat lirih Aiza langsung bertindak untuk menghentikan perdebatan tersebut.
"Lula, Lesya sudah jangan berbicara sendiri, biarkan Ayah yang berbicara."
"Hm, benar apa yang dikatakan Pak Zawir yang terhormat, niat baik memang harus segera dilaksanakan, Lesya kamu tidak keberatan kan nak?"
Kini sang ayah yang mempersilahkan dirinya untuk bersuara, tetapi ia dibuat kebingungan apa yang harus ia jawab dengan pertanyaan sang ayah.
"Tidak Ayah, sesuatu yang baik memang harus segera dilaksanakan, lebih cepat lebih baik." Jawab Alesya kembali memantapkan dirinya.
"Jadi bagaimana, kapan waktu yang tepat untuk pernikahan anak kita Pak Ahyar?, jujur saja keluarga kami sudah tidak sabar dalam hal ini."
Tawa kecil mencairkan suasana yang tadinya tegang tetapi berubah seketika setelah Zawir mengatakan bahwa keluarganya ingin mempercepat acara pernikahan anaknya.
"Keluarga kami juga tidak sabar untuk pernikahan anak kami Pak Zawir, tetapi kami serahkan kepada anak kami Alesya, karena dia yang akan menjalaninya."
"Bagaimana Lesya, kamu ingin pernikahannya dilaksanakan kapan Nak?"
Lagi-lagi sang Ayah memberikan kesempatan kepada Alesya untuk memutuskan semuanya.
"Lesya serahkan semuanya sama... Afnan."
Mendengar namanya dipanggil ditambah lagi yang memanggil adalah Alesya, Afnan pun mencoba mendongakkan kepala dan kini kedua bola matanya yang berwarna hitam pekat beradu pandang dengan bola mata indah yang dimiliki oleh Alesya, kemudian Afnan mengalihkan pandangannya dari Alesya yang juga segera membuang pandangannya dari laki-laki itu.
"Bagaimana Nak Afnan, Lesya anak kami sudah menyerahkannya sama kamu, kapan acara pernihakan kalian akan dilaksanakan?" Tanya Ahyar kepada Afnan dengan ramah.
"Bagaimana kalau pernikahannya minggu depan, lebih tepatnya hari jumat."
Ketika Afnan sudah menyuarakan keinginannya untuk melangsungkan pernikahannya itu minggu depan, kedua orang tuanya pun menyetujuinya begitupun dengan calon kedua mertuanya, sedangkan Alesya ada rasa terkejut ia mendengarnya, tetapi apa buat ia sudah menyerahkannya kepada calon suaminya, jadi ia hanya bisa menurut saja, dan semoga ini adalah yang terbaik bagi kehidupannya kedepan.
"Saya setuju, karena menikah adalah ibadah, jadi harus disegerakan, tetapi saya ada satu persyaratan untuk pernikahan saya nanti."
"Persyaratan?" Tanya Afnan dengan wajah penasaran.
Alesya mengangguk kecil seraya menatap lurus kedepan tetapi bukan kepada pemilik wajah tampan yang duduk dihadapannya itu.
"Saya tidak ingin saya ataupun kamu mengundang teman-teman kampus, kecuali sahabat terdekat saja."
Persyaratan yang Alesya ajukan itu sangat membuat membingungkan keluarganya, bagaimana tidak pernikahan itu seharusnya disiarkan biar semua orang tahu, tetapi ini ia malah secara langsung meminta untuk merahasiakan pernikahan mereka.
"Lho dik, kamu bicara apa?, dimana-mana kabar bahagia itu harus diberitahu semuanya, ini kok kamu malah ingin merahasiakan."
Alula yang sempat tidak habis pikir dengan jalan pikiran sang adik dibuat bingung sendiri dan hanya dapat geleng-geleng kepala tak mengerti.
"Kak, apa yang diomongkan kakak itu memang benar, tapi masalahnya aku belum siap menjadi santapan kemarahan para fans dia, secara dia kan pangeran kampus, apa jadinya kalau semua teman-teman kampus tahu kalau aku menikah sama dia, bisa tinggal nama aku nantinya."
Sorot mata Alesya langsung beralih ke wajah tampan Afnan yang sempat mengangkat kepala untuk menatap mata tajam milik Alesya yang terlihat jelas adanya gurat kekesalan.
"Lho tapi Alesya salah satu tujuan putra kami yang paling ganteng ini menikah ya supaya tidak dikejar-kejar lagi oleh para fansnya yang semuanya perempuan itu."
Kali ini Izma ikut merespon persyaratan yang diajukan oleh calon menantunya itu dengan rasa kecewa.
"Aku setuju dengan persyaratan itu, Mami, Alesya benar, nanti Afnan akan beri pengumuman di kampus kala Afnan sudah menikah, tetapi mereka tidak akan pernah tahu siapa istri Afnan sesungguhnya."
Izma pun mempercayakan semuanya kepada putranya yang terlihat dewasa sekali dalam menghadapi masalahnya ini, dan Alesya yang mendengar bahwa Afnan menyetujui persyaratannya itu akhirnya dapat bernapas lega, karena ia tidak akan menjadi korban bulan-bulan para fans calon suaminya itu yang rata-rata sangat menggilai calon suaminya bahkan bisa jadi berbuat gila kalau mereka tau bahwa dirinya adalah istri dari fansnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Jangan lupa Vote dan komentarnya
Yah Readers
🙏🙏🙏
See you in next chapter
❤❤❤
Pengumuman penting❗❗❗
Readers kalian tau gak????
Pastinya gak tau ya???
Nih author kasih tau....
Mau cerita ini cepet selesai gak????
Mau gak????
Mau????
Gak????
Kalo iya buruan klik 🌟
ketik komentar
yaaaaaa.....
Soalnya BINTANG dan KOMENTAR kalian
Membuat akutuh semangat ngebut
ngabisin cerita ini
percaya deh ya❗❗❗❗
Percaya aja
okayyy
Good bye
__ADS_1
Wassalaamualaikum Warohmatullah Wabarokaatuh