Takdir Terindah

Takdir Terindah
Allah Mengabulkan


__ADS_3

Rezeki jodoh dan ajal berada digaris Tuhan


Manusia hanya dapat berikhtiar dan menerima


Percayalah skenario Tuhan begitu indah


Cukup rela hati dan syukuri


In Syaa Allah keinginanmu terkabuli


~Takdir Terindah~


Ukhfira


~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~


Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah


Selamat membaca


Semoga suka


🌻🌻🌻


1 bulan kemudian


"Kak Alula beruntung sekali ya, sudah lulus kuliah dan sekarang sudah menikah aja, indah sekali skenario hidupnya."


Disela-sela mengunyah mie ayam pesannya, Silmi bercerita tentang Alula, Kakak dari Alesya yang kini sedang duduk bersamanya di kantin kampus. Tetapi ia mengabaikan mie ayam pesanannya.


Silmi pun menegurnya. "Al, kamu kenapa?, kok nggak dimakan mienya?." Tanya Silmi dengan heran.


Alesya merasa tidak berminat untuk menyentuh mie ayamnya, padahal tadi dia yang mengajak Silmi untuk makan di kantin tetapi kini selera makannya tiba-tiba hilang begitu saja.


"Aku tiba-tiba nggak selera makan nih Sil, nhgak tau kenapa."


Alesya merasa aneh terhadap dirinya sendiri, ini sudah kesekian kalinya dia seperti itu, tadi pagi saja dia mengabaikan nasi goreng yang sudah Afnan buatkan untuknya. Sebenarnya Alesya merasa lapar tapi dia tidak berselera makan. Entah apa yang terjadi kepadanya dirinya, Alesya saja tidak mengerti.


Kepala Alesya terasa pening. pandangannya ikut mengabur. Tubuhnya juga terasa lemas, mungkin karena perutnya yang tak terisi makanan apapun sejak tadi pagi. Alesya mencoba beranjak dari duduknya. Namun dia terduduk lagi sambil mengkedip-kedipkan matanya untuk memfokuskan pandangannya.


Silmi terkejut. "Astaghfirullahal adzim, Al kamu kenapa?." Tanyanya yang kemudian menghampiri dan menyentuh pundak Alesya untuk memastikan bahwa sahabatnya itu baik-baik saja.


Dengan masih terus memegang pelipisnya Alesya merasa bahwa saat ini kepalanya terasa sangat pusing bahkan tubuhnya saja tidak sanggup berdiri.


"Aku pusing Sil, badan aku juga lemas banget, mungkin karena aku nggak makan dari tadi pagi." Ucap Alesya yang menyendarkan tubuhnya di kursi.


Wajah Alesya sudah pucat, tubuhnya juga melemas, Silmi tidak bisa berdiam diri saja. "Al kita ke rumah sakit saja ya, aku takut kamu kenapa-kenapa, aku bantu ya." Silmi segera merangkul punggung Alesya. Memapahnya untuk berdiri.


Alesya menurut saja. Dia harus ke rumah sakit untuk memastikan keadaannya yang tiba-tiba melemah, mungkin karena tubuhnya yang kurang asupan makanan. Semoga saja dirinya baik-baik saja dan tidak terjangkit penyakit parah lantaran kini dia harus fokus kuliah. Sudah semester 7 dimana disemester ini akan membuatnya semakin sibuk dari pada semester-semester sebelumnya.


∆∆∆∆∆


Motor matic kesayangannya baru saja tiba di parkiran sebuah butik baju yang cukup besar. Usai melepas helm dikepalanya Alesya bergegas untuk masuk ke dalam butik yang isinya baju-baju pria dengan berkombinasi batik-batik unik.


Sapaan dari sejumlah orang yang berpakaian sama mengiringi dirinya yang sudah tiba di dalam butik. Sudah satu tahun menyandang status seorang istri pemilik butik tersebut, sudah dipastikan akan dikenali oleh para karyawan disana. Walaupun jarang sekali dia mengunjungi butik milik suaminya itu.


Alesya sudah melewati kerumunan orang-orang yang sedang berada di butik. Dia membuka pintu sebuah ruangan yang letaknya dipaling ujung. Pintunya terbuka matanya berbinar ketika melihat sosok pria sedang berdiri memunggunginya yang menikmati pemadangan di luar dari jendela ruangannya.


Afnan terkejut. Mendapati kedua tangan seorang perempuan di dadanya yang memeluknya dari belakang. Alesya menikmati aroma parfum yang tercium di hidungnya.

__ADS_1


Untuk memastikan siapa perempuan yang sedang memeluknya. Afnan menoleh. Dia tersenyum ketika melihat sang istri sedang tersenyum kearahnya.


Pelukan mereka pun terlepas. "Aku pikir siapa, tumben kesini Sya?, ada apa, kangen ya?." Goda Afnan kepada Alesya dengan asal tetapi siapa sangka Alesya justru menganggukkan kepalanya berkali-kali.


"Istri mana sih yang nhgak kangen sama suaminya." Alesya memeluk suaminya lagi. Kali ini dari depan karena mereka sudah berhadapan. Seperti tidak bertemu berbulan-bulan, Alesya mengeratkan pelukannya sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Afnan. Mendapati sang istri yang terlihat manja tidak seperti biasanya, tentu Afnan memanfaatkan moment ini dengan membalas pelukan istrinya dan sesekali mencium puncak kepala Alesya yang terbalut kain khimar.


Alesya pun melepas pelukannya. Dia meraih tangan Afnan. Menempelkan di perutnya yang rata. Dengan sedikit terkejut Afnan kebingungan apa maksud dari Alesya yang meletakkan tangannya ke perut Alesya.


Mata Alesya berbinar melihat kebingungan sang suami yang belum sadar juga. Alesya paham, karena dia tidak menjelaskan apapun jadi suaminya bingung sendiri.


"Hay calon Ayah." Bisik Alesya di telinga Afnan. Kemudian menatap suaminya lagi.


Afnan membulatkan kedua matanya tak percaya. Apa yang baru saja Alesya bisikkan?, Hai calon Ayah?, maksudnya?, Alesya hamil?


"Sya Ka-kamu?"


Alesya mengangguk. Dia mengelus pipi sang suami yang masih terdiam tanpa bereaksi apapun, tetapi kedua matanya sudah berkaca-kaca.


"Aku hamil." Ujar Alesya sembari mengambil sebuah kertas putih di dalam tasnya. Dia berikan kepada Afnan.


Isi kertas tersebut menyatakan bahwa nyonya Alesya Faihanah positif hamil. Itu artinya istrinya saat ini sedang mengandung buah cinta mereka berdua.


Air mata Afnan meluruh begitu saja. Tatapannya beralih kepada Alesya yang masih dengan raut wajah bahagia. Entah apa yang harus Afnan ucapkan kecuali rasa syukur kepada Allah. Karena saat ini Allah mengamanahi seorang janin yang nantinya akan menjadi penerusnya dengan Alesya.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah." Ucap syukur Afnan sambil kembali memeluk tubuh sang istri yang kini di rahimnya sudah ada buah cinta mereka berdua.


"Kamu ke rumah sakit sama siapa Sya?, kok nhgak ajak aku?"


"Aku tadi bareng Silmi, tadinya aku kira aku sakit soalnya nggak makan seharian, eh ternyata aku sakit karena lagi hamil."


Mendengar perkataan Alesya yang seharian belum makan juga, seketika itu pula Afnan mengkhawatirkan kondisi sang istri. Ditambah lagi kondisinya saat ini sedang hamil. Dia tidak ingin istri dan calon anaknya kenapa-napa.


Jiwa kebapak-an Afnan muncul. Bukannya merasa bersalah karena tidak makan seharian Alesya malah terkekeh geli. Rasanya melihat wajah khawatir sang suami membuat dirinya lucu dan segera mengelus pipi Afnan kembali.


"Aduh calon Ayah panik banget, tenang saja tadi aku sudah makan kok, sebelum ke sini."


Alesya memang tidak berbohong. Walau di kantin tadi dia tidak makan. Tetapi usai dari rumah sakit dia dipaksa makan sama Silmi. Awalnya Alesya mengabaikan tetapi setelah tahu bahwa dia sedang hamil. Akhirnya dia makan juga ya walaupun hanya beberapa sendok. Yang terpenting sudah ada yang masuk. Namanya juga bawaan hamil. Wajar bila nafsu makannya sedang terguncang.


Afnan bernapas lega usai mendengar pernyataan Alesya yang katanya sudah makan.


"Oh ya, kamu masih sibuk nggak?." Tanya Alesya sambil memperhatikan sebuah laptop yang menyala di meja kerja Afnan.


Sambil ikut menoleh kearah laptopnya Afnan menggelengkan kepala. "aku sudah nggak sibuk kok, itu laptopnya lupa dimatikan."


Afnan pun bergegas mematikan laptopnya. Lalu kembali menghampiri Alesya yang bernapas lega karena dia datang disaat yang tepat. Disaat Afnan selesai dalam urusan bisnis yang digelutinya.


Setelah menamatkan kuliahnya, Afnan memang sengaja tidak mencari kerja di tempat lain karena dia sudah punya bisnis jadi untuk apa mencari pekerjaan lain toh bisnisnya itu sudah jaya dan sangat menghasilkan. Lagian juga ilmu yang dia dapatkan waktu kuliah dapat digunakan dibidang bisnisnya jadi tidak ada yang sia-sia, justru menguntungkan baginya.


"Ayo kita pulang." Ajak Afnan yang sudah menggandeng tangan Alesya.


"Kita pulang ke rumah Mami ya, pasti Mami senang banget mendengar kabar bahagia ini."


Dengan sangat antusias Alesya sudah tidak sabar membagikan kabar bahagia ini kepada mami mertuanya. Mami mertuanya pasti sangat senang mendengar kabar bahagia ini. Karena dialah alasan utama Alesya bersedia menjadi seorang ibu.


Alhamdulillah, Allah mengabulkan keinginan Izma yang ingin segera menimang cucu. Anak dari Afnan dan Alesya. Afnan tersadar dan mengingat keinginan maminya tempo lalu. Tidak disangka Allah mengabulkan dengan cepat.


∆∆∆∆∆


"Alhamdulillah ya Allah, engkau mengabulkan keinginan hamba."

__ADS_1


Kabar bahagia ini telah sampai di telinga Izma. Alesya dan Afnan sudah duduk bersama Izma dan Zawir. Untuk memberitahu kehamilan Alesya.


Izma langsung memeluk Alesya usai melihat langsung kertas hasil pemeriksaan tentang kehamilan Alesya. Zawir juga ikut memeluk Afnan yang sebentar lagi akan menyandang status baru.


"Alesya mulai sekarang kamu harus jaga kesehatan ya, jangan terlalu capek, Afnan kamu harus jaga kesehatan istri kamu, Mami nggak mau menantu sama calon cucu Mami kenapa-kenapa, mengerti?!"


Alesya hanya bisa tersenyum tipis mendengar nasihat sang mami mertua yang begitu mengkhawatir kan dirinya dan juga calon anaknya. Sementara Afnan, dia merasa diragukan oleh maminya untuk menjaga kesehatan sang istri dan calon anaknya. Padahal tidak perlu disuruh, Afnan sudah paham tugasnya untuk menjaga istri dan calon anaknya agar baik-baik saja.


Tidak sabar baginya untuk segera menimang seorang cucu yang sudah diidam-idamkan sejak dulu, lebih tepatnya sejak Izma menjenguk anak dari sahabatnya yang melahirkan. Allah memang baik terhadap keluarganya. Izma akan selalu mensyukuri itu semua.


"Apa?!"


Suara seorang perempuan tiba-tiba hadir ditengah-tengah mereka. Dialah Ziva yang baru saja masuk ke dalam rumahnya dan mendapati abang dan kakak iparnya sedang duduk di ruang tamu bersama kedua orang tuanya. Ziva terkejut karena baru saja mendengar ucapan maminya yang berucap kata calon cucu. Itu artinya kakak ipar yang paling dia sayangi kinis sedang berbadan dua. Apakah dirinya akan menjadi seorang tante?, pikiran Ziva sudah tertuju ke hal itu.


"Jadi kak Al hamil?." Tanya Ziva untuk memastikan kembali bahwa dirinya tidak salah dengar. Alesya yang kini sudah berada disamping Ziva hanya mengangguk pelan seraya tersenyum.


Ziva terkejut dan menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Dia tidak tau harus berkata apa lagi, rasa bahagia sudah tidak bisa terbantah kan. Dipeluknya sang Kakak ipar dengan rasa sayangnya yang tiada tara.


∆∆∆∆∆


Usai mengunjungi kediaman mertuanya kini giliran Alesya untuk mengunjungi kediaman orang tuanya. Kehamilan perdananya ini adalah kabar bahagia yang harus disebarluaskan kepada keluarganya termasuk kedua orang tuanya yang kini sudah tersenyum haru mengetahui kehamilan Alesya yang baru saja menginjak 3 minggu.


Air mata Aiza tak terasa mengalir begitu saja. "Alhamdulillah, Bunda ikut senang dengarnya, Mas sebentar lagi kita akan jadi Kakek dan Nenek." Ucap Aiza sambil menoleh kearah Ahyar yang tak kalah senangnya.


"Iya Sayang, nggak kerasa ya, kita sudah setua ini, rasanya baru kemarin Ayah menggendong putri bungsu Ayah yang manja ini, eh besok sudah mau jadi seorang Ibu."


Alesya tidak bisa menahan tangis harunya ketika mendengar sang ayah mengungkapkan rasa tak menyangka bahwa sang putri yang dicintainya kini sudah dewasa dan sebentar lagi akan memberikan dirinya seorang cucu. Waktu terasa cepat bergulir.


Dipeluknya sang Ayah dengan linangan air mata haru. Bagi Alesya Ayahnya adalah laki-laki pertama yang memberinya cinta seluas samudera. Walau sudah menikah Alesya tidak pernah melupakan nama sang Ayah untuk terus disematkan disetiap doanya kepada sang ilahi Robbi. Hanya kesehatan dan kebahagiaan yang Alesya minta untuk ayahnya kepada RobbNya.


"Oh ya, Alesya sayang jangan lupa beritahu Mama kamu ya, dia pasti sangat senang mendengar kamu lagi hamil." Ucap Aiza mengingatkan Alesya kepada Mama kandungnya.


Aiza benar. Farha berhak diberi tahu kabar bahagia ini. Alesya berharap semoga dengan dirinya hamil mamanya dapat menerimanya kembali serta ikut bahagia atas kehamilannya.


"Iya Bun, in syaa Allah nanti Alesya akan telpon Mama untuk memberi kabar bahagia ini."


"Lho kok ditelpon sih Sya?"


Alesya terkejut seraya terheran-heran. Jika ingin memberitahu mamanya ya dia harus menelponnya. Lantas jika bukan ditelpon lalu bagaimana cara memberitahunya.


Afnan tersenyum melihat sang istri keheranan akan ucapannya. "Maksud aku bagaimana kalau kita ke rumah Mama saja."


Alesya terkejut. Afnan mengajaknya untuk ke rumah mamanya, itu artinya mereka akan ke Singapura?, apa Afnan mengajaknya ke Singapura untuk memberitahu sang Mama tentang kehamilannya?, jika iya Alesya akan senang sekali. Hitung-hitung menyegarkan otaknya yang sedikit terbebani karena kegiatan kuliahnya yang mulai padat.


Alesya menatap wajah Afnan dengan berbinar-binar. Suaminya itu berhasil mengalihkan perhatiannya dengan ucapannya tadi. "Maksud kamu kita ke Singapura?" Tanya Alesya memastikannya.


Mengapa tidak?, justru itu yang diucapkan oleh Afnan. Hanya saja sang istri menanyakannya agar lebih jelas. "Iya Sya, kita akan ke Singapura, sabtu in syaa Allah, nanti aku pesan tiketnya." Ucap Afnan dengan santainya. Sementara Alesya sangat bahagia sekali mendengar ucapan Afnan yang lebih memperjelas.


"Maa syaa Allah, jazakillah khoiron Sayang, kamu tahu saja kalau aku lagi butuh jalan-jalan."


Dipeluknya Afnan dengan sangat erat bahkan tanpa malu-malu mencium pipi Afnan dengan mesra. Afnan terkejut bukan main. Pasalnya ini kali pertama Alesya bertindak seromantis itu, didepan orang tuanya lagi. Afnan pun menoleh kearah sang istri dengan mengisyaratkan bahwa mereka sedang menjadi pusat perhatian Bunda dan Ayahnya.


Alesya malah mengabaikan isyarat itu. Malah dia lebih mempererat pelukannya seraya tersenyum ke arah Bunda dan Ayahnya yang ikut senang melihat keromantisan anak dan menantunya itu.


"Sya kamu nggak malu, di depan kita ada Bunda sama Ayah lho." Bisik Afnan dengan lirih sambil membalas senyuman mertuanya dengan canggung.


"Kenapa harus malu, justru kalau di hadapan Bunda sama Ayah kita harus romantis begini, biar Ayah dan Bunda itu senang melihat aku bahagia bersama kamu, Sayang."


Afnan pun tersenyum. Walau awalnya canggung karena dihadapannya ada mertuanya tetapi tak disangka sang Ayah mertua malah merangkul Bunda mertuanya dengan penuh cinta. Alesya pun terkekeh geli karena kedua orang tuanya tidak mau kalah dengan anak dan menantunya.

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2