Takdir Terindah

Takdir Terindah
Cinta Karena Allah


__ADS_3

Tiada hal yang paling indah


Melainkan dua insan yang saling mencinta


Menjadikan Allah saksi cinta mereka


Lalu keduanya saling mencintai karena Allah


~Takdir Terindah~


Ukhfira


~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~


Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah


Selamat membaca


Semoga suka


🌻🌻🌻


Hari demi hari telah terlewati, bulan pun ikut berganti, tak terasa hari ini adalah hari bahagia bagi Alula yang mana dia baru saja menamatkan pendidikan pasca sarjananya, dengan balutan gamis kebaya anggun berwarna maroon menampilkan dirinya tampak cantik di hari yang paling bersejarah untuknya.


Alesya dan Afnan ikut serta menghadiri acara wisuda sang kakak bahkan Silmi juga ikut memeriahkan acara wisuda kakak dari sahabatnya yang mana sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri.


"Alhamdulillah selamat ya Kak Alula atas kelulusan S2nya."


Usai acara mengabadikan foto sang wisudawati bersama keluarganya, Silmi mengucapkan selamat kepada Alula yang mana tadi tidak sempat mengucapkannya.


"Jazakillah khoiron ya Sil kamu juga Sudah mau hadir di acara wisudaku, dan mau berfoto bersama juga."


Sedang asyiknya mengobrol di luar depan gedung yang tadi dijadikan tempat wisuda tiba-tiba keluarga Alesya kedatangan tamu yang spesial.


"Mama, Papa." Panggil Alula ketika melihat kedua orang tuanya yang datang menghampirinya.


Mama kandung Alula beserta Papa sambungnya baru saja tiba di hadapannya. Mereka tidak berdua melainkan bersama anak laki-laki mereka.


"Maaf ya Sayang, Mama terlambat, soalnya tadi landingnya lama, oh ya selamat ya, Mama bangga sama kamu sekarang kamu sudah lulus S2, pendidikan kamu sangat bagus, kamu memang kebanggaan Mama."


Alula yang melihat kedatangan sang Mama begitu senang sekali bahkan dia tidak dapat mengatakan apa-apa kecuali bersalim dan berpelukan kepada Farha dan David.


"Mama, Papa terima kasih sudah mau hadir di wisuda aku yang kedua kalinya, aku Sayang Mama dan Papa."


"Sama-sama Alula Sayang, Papa senang sekali bisa ke Indonesia ya walau cuma satu hari saja."


Wajah berseri Alula tiba-tiba berubah menjadi kecewa disaat sang papa kandung mengatakan bahwa mereka hanya satu hari saja di Indonesia.


"Iya Alula, kami cuma satu hari saja, soalnya kerjaan Papa kamu nggak bisa ditinggal lama-lama dan Adik kamu Ali juga izin sekolah lama-lama."


Setelah ucapan Farha yang segera mengelus kepala sang Putra menyadarkan Alula bahwa kini Adik bungsunya sedang berdiri di hadapannya.


"Ali, sini dong, Kak Alu kangen sama Ali."


Dengan senang hati Ali menghampiri kakaknya dan segera memeluknya, sementara Alesya dengan ragu meraih punggung tangan Farha yang hanya diam saja tetapi tatapan matanya begitu tidak bersahabat, kini giliran Afnan yang menyalimi Mama mertuanya yang sudah menatapnya dengan tatapan tidak menyukainya.


"Alesya, Papa rindu sama kamu my little daughter, lihat wajah kamu begitu cantik setelah menikah, pasti suami kamu sangat sayang sama kamu, makanya kamu begitu bahagia, iya kan?"


Papa David mencairkan suasana yang tegang dengan pujian yang ditujukan kepada Alesya serta kepada Afnan juga. Alesya hanya membalas pujian itu dengan senyumannya yang getir sama halnya dengan Afnan. Mengapa yang terlihat baik adalah papa sambungnya sementara mama kandungnya menatap Alesya seperti menatap seorang musuh.


Aiza segera mengelus pundak Alesya untuk menenangkannya, begitu juga Ahyar melakukan hal yang sama kepada Afnan setelah Afnan berdiri di sampingnya lagi.


"Oh ya Alula Mama punya kejutan sama kamu Sayang, sebentar ya."


"Faqih."


Sepertinya Farha sedang memanggil seseorang yang bernama Faqih, dan memang benar usai nama tersebut dipanggil datanglah seorang laki-laki dengan pakaian rapinya berdiri di samping Farha yang tampaknya terlihat bahagia sekali.


"Mas Faqih." Pekik Alula dengan lirih seakan tidak percaya akan kedatangan laki-laki tersebut.


"Hai Alula, kamu apa kabar?." Tanya Faqih dengan begitu ramah.


"Alhamdulillah aku baik Mas." Jawab Alula dengan malu-malu.


"Lula dia siapa?." Tanya Ahyar kepada Alula dengan tatapan tertuju kearah Faqih.


Mendengar pertanyaan dari sang Ayah, Alula ingin memperkenalkan laki-laki tersebut kepada ayah dan keluarganya namun mama Farha berhasil mengurungkan niat Alula.


"Faqih ini teman kerja Mas David, apartementnya berhadapan sama apartement kami, liburan kemarin Alula dan Faqih berkenalan hingga akhirnya berteman baik bahkan hari ini Faqih sengaja datang ke Indonesia karena ada yang ingin dia katakan kepada Alula, Faqih silahkan katakan sama Alula."


Sebelum Faqih memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu hal kepada Alula, David memperkenalkan dirinya kepada Ahyar ayah kandung Alula dan Aiza bunda sambung Alula yang seharusnya Farha yang memperkenalkan mereka kepada Faqih tetapi David mewakilkannya.


"Bapak, Ibu kedatangan saya ke Indonesia saya ingin melamar Alula untuk menjadi istri saya."


Mata Alula langsung terbelalak namun seketika senyuman terpancar di wajah cantiknya yang terpoles make up natural, dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, bagaimana tidak semenjak perkenalannya dengan Faqih waktu itu, Alula merasakan getaran yang berbeda, dan dia akui bahwa pesona Faqih telah membuatnya terjerumus rasa cinta.


"Bagaimana Alula, apa kamu mau menerima lamaran dari Faqih?." Tanya mama Farha yang berharap sekali putri sulungnya itu menerima lamaran tersebut.


Pandangan Alula tertuju kearah Ahyar yang mengerti akan tatapan putri sulungnya itu, Alula tidak bisa menjawabnya karena dia harua meminta izin dulu kepada Ayahnya.


"Lula, jawaban kamu adalah jawaban ayah juga nak, jika laki-laki ini adalah laki-laki yang baik agama dan akhlaknya maka terimalah Nak."


Ucapan bijak sang Ayah dapat melegakan hatinya sehingga Alula bisa memberikan jawaban atas lamaran dari laki-laki yang diam-diam dia sebut dalam doanya selama ini.


"Bismillahirohmaanirrohiim, aku terima lamaran kamu Mas." Ucap Alula dengan keyakinan hatinya.


Rasa bahagia langsung menyeruak dihati Farha yang senang sekali karena putri sulungnya menuruti keinginannya, karena bahagianya itu Farha langsung memeluk Alula.


"Terima kasih Sayang, kamu memang anak Mama yang penurut, Mama bangga sama kamu, lihat sekarang kamu sudah lulus kuliah dan akan segera menikah dengan laki-laki pilihan Mama, kamu pasti bahagia karena ridho Mama selalu menyertaimu."


Ucapan Farha memang membuat Alula bahagia karena sudah menjadi anak kebanggaan orang tua, sementara Alesya merasa mamanya sudah menyindirnya dan membandingkannya dengan kakaknya yang penurut ketimbang dirinya. Ternyata sang Mama belum sepenuhnya meridhoi pernikahannya dengan Afnan, hati anak mana yang tidak sedih ketika mamanya mengabaikan dirinya hanya karena keputusan yang diambilnya, itulah yang saat ini dirasakan oleh Alesya.


Mungkin yang lain tidak menyadarinya tetapi sebagai seorang suami Afnan merasakan apa yang sedang istrinya rasakan dan ini juga karena dirinya yang menikahi Alesya dengan waktu yang kurang tepat tetapi itu menurut Mama mertuanya.


∆∆∆∆∆


Setelah Alula resmi dilamar oleh Faqih, pemuda tampan itu harus kembali ke Singapura karena pekerjaannya yang tidak bisa ditinggal lama-lama, tetapi Farha dan David tidak ikut kembali ke SingapurA lantaran ada yang ingin disampaikan kepada Alula dan mantan suaminya.


Kini mereka sudah duduk di ruang tamu dengan formasi lengkap yang mana Alesya dan Afnan ikut berkumpul juga dengan Ali duduk ditengah-tengah mereka.


"Alula kamu tau kan Sayang kalau Faqih calon suami kamu itu sekarang menetap di Singapura, itu artinya setelah kalian menikah kamu akan menetap juga di Singapura, kamu nggak keberatan kan?, oh ya Mama juga sudah menyediakan pekerjaan untuk kamu juga jadi kamu akan bekerja juga di Singapura."


Sebenarnya ini yang Alula resahkan, dia ragu untuk menikah dengan Faqih walau sudah ada rasa dengannya karena Alula tidak ingin meninggalkan Indonesia terutama meninggalkan ayahnya yang sudah membesarkannya dari kecil bersama Bundanya yang sangat menyayanginya juga.


"Bagaimana Sayang?, kamu mau kan menetap di Singapura?, dan ini saatnya Mama dan Papa bisa berkumpul lagi sama kamu, masalah Ayah kamu, kan disini juga sudah ada Alesya, jadi sudah seharusnya kamu tinggal di Singapura bersama Mama dan Papa, biar adil."


Perkataan Farha dengan nada memaksa itu tidak serta merta membuat Alula menyetujuinya, ini bukan hal yang mudah baginya untuk memutuskan, tetapi disisi lain ucapan Mamanya benar, mungkin ini saatnya dia tinggal bersama Mama kandungnya.


"Jadi ini tujuan utama kamu menjodohkan Alula dengan Faqih?, rupanya kamu ingin Alula tinggal bersama kamu, tapi kamu berhak atas Alula, baik aku akan mengizinkan Alula untuk tinggal bersama kamu."


Walau berat dan tidak semudah itu seorang Ayah melepaskan putrinya dari ganggamannya tetapi apa boleh buat Ahyar tidak bisa melarang mantan istrinya itu untuk tinggal bersama putrinya dia juga mempunyak hak atas Alula.


"Lula, Ayah dan Bunda tidak keberatan jika kamu ingin tinggal di Singapura bersama Mama kamu dan suami kamu nantinya."


Ahyar mencoba menampilkan wajah yang tersenyum bahagia walau hatinya sangat berbanding terbalik. Sementara Alesya sangat keberatan dan dia tidak ingin Kakaknya menetap di Singapura, walaupun mereka sering bertengkar tetapi bukan berarti Alesya tidak menyayangi Kakaknya. Adik mana yang tidak sedih jika akan ditinggalkan oleh Kakaknya, itulah perasaan posisi Alesya saat ini.


Alesya ingin menyeruakan isi hatinya yang tidak ingin ditinggal oleh sang Kakak namun Afnan berhasil menahannya agar tidak mengatakan apa-apa karena ini bukan waktu yang tepat.


"Baiklah kalau Ayah dan Bunda mengizinkan aku untuk tinggal di Singapura, aku akan tinggal di Singapura."


Alesya menatap sang Kakak dengan linangan air mata, dia tidak ingin Kakaknya pergi meninggalkannya. Jangankan ke Singapura ke kota lain pun Alesya tidak ingin. Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak berhak melarang Kakaknya untuk pergi. Lagi-lagi Afnan hanya bisa mengelus pundak Alesya untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Baguslah kalo begitu Sayang. Oh ya tadi Mama sudah membicarakan kepada kedua orang tua Faqih dan mereka setuju kalau pernikahan kamu dan Faqih akan diadakan tiga bulan lagi, dan semuanya sudah Mama urus jadi kamu hanya mempersiapkan diri kamu saja ya Sayang."


Farha begitu antuasias dalam acara pernikahan putri sulungnya bahkan dia sendiri yang menghandle semuanya, dan hanya menyuruh Alula untuk mempersiapkan dirinya menunggu acara pernikahan itu tiba.


∆∆∆∆∆


"Kak jangan tinggalkan aku."


Alula yang baru saja duduk di samping Bundanya terkejut dengan kehadiran Alesya yang sudah berlinang air mata.


Baru saja Farha dan David beserta Ali keluar dari rumah mereka karena akan kembali ke Singapura malam ini juga, dan inilah waktunya Alesya mengutarakan kekecewaannya atas keputusan sang Kakak yang terlalu cepat baginya. Kali ini Afnan tidak dapat melarang istrinya mengatakan sesuatu hal yang sudah ditahannya dari tadi.


"Dik ini sudah saatnya Kakak pergi dari rumah ini, sama seperti kamu kan, setelah menikah seorang istri akan ikut bersama suaminya, iya kan Dik?"


"Iya Kak, tapi kenapa harus pergi jauh, kenapa kalian nggak tinggal di dekat sini saja, kenapa harus ke Singapura?"


Melihat Adiknya yang tidak dapat menahan kesedihannya, Alula segera memeluk Alesya dengan penuh haru dan tanpa terasa air matanya ikut terjatuh namun buru-buru dia hapus agar tidak terlihat sedih dihadapan Adik dan Ayah dan Bundanya.


"Kamu sweet banget sih, sudah jangan menangis begitu dong, kita masih bisa bertemu kok, dan kita juga masih bisa video call?, lagi pula bukannya kamu senang ya, kalau Kakak pergi kita sudah nggak bertengkar lagi kan."


Gurauan sang Kakak langsung membuat Alesya memukul Kakaknya sembari memanyunkan wajahnya, sementara Alula malah tertawa sama halnya dengan Ahyar dan Aiza yang menutupi kesedihan mereka dengan ikut tertawa.


"Alula, Alesya ini sudah malam, kalian istirahat ya Sayang." Ucap Aiza dengan lembut.


"Oh iya sudah malam, kalau begitu Alula ke kamar dulu ya Ayah, Bunda."


Alula pun beranjak dari duduknya lalu menghampiri sang Ayah dan Bunda untuk memberikan pelukan selamat malam kepada mereka, disusul dengan Alesya yang kemudian merangkul sang Kakak.


"Malam ini aku mau tidur sama Kakak." Ujar Alesya memaksa.


"Lho tapi Afnan bagaimana?." Tanya Alula yang segera menoleh kearah Afnan.


"Aku nggak masalah kok Kak."


Setelah mendengar ucapan Afnan yang tidak mempermasalahkan dirinya untuk tidur bersama kakaknya, Alesya langsung menarik Alula untuk segera menuju kamarnya agar bisa mengistirahatkan tubuh mereka setelah tadi cukup lelah dikarenakan acara wisudah Alula yang lumayan menguras tenaga mereka.


"Afnan kamu istirahat juga ya." Pinta Aiza yang mempersilahkan Afnan untuk ikut mengistirahatkan dirinya.


Setelah Afnan benar-benar pergi meninggalkan mereka berdua, Aiza langsung membenamkan wajahnya di dada suaminya yang mengerti akan kesedihannya.


"Aku tahu kamu sedih karena putri sulung kita akan meninggalkan rumah ini, aku juga sedih tapi kita nggak boleh egois, ini memang sudah saatnya dia pergi meninggalkan kita Sayang."


Aiza pun mencoba tegar dan menerima kenyataan pahit ini, baginya sebagai ibu yang sudah membesarkan Alula denga penuh kasih sayang berat sekali harus mengikhlasan putri sambungnya itu pergi meninggalkannya namun dia tidak boleh egois dan sebagai orang tua dia harus selalu mendukung keputusan anak-anaknya.


"Berat rasanya Mas harus berjauhan dengan putri yang sudah aku besarkan dengan penuh kasih sayang, tapi kamu benar aku nggak boleh egois, semoga Alula bahagia ya Mas dengan keputusannya itu."


"Aamiin."


∆∆∆∆∆


Alesya keluar dari kamar Kakaknya yang mana semalam dia tidur bersama Alula, wajahnya terlihat lemas karena rasa lapar sudah menyapanya. Sesampainya di ruang makan Alesya langsung mendudukkan dirinya di kursi lalu mengambil piring yang diisi dengan roti berselai coklat.


Alula yang sedang mengunyah roti nya dibuat geleng-geleng kepala saja lantaran sang adik datang-datang langsung main nyelonong memakan sarapan yang sudah disiapkan bundanya.


"Dik kamu kok santai banget sih?, makannya yang cepat."


Alesya bingung ketika sang Kakak menyuruhnya untuk segera menghabiskan sarapan paginya, jelas Alesya tidak mengindahkan perintah Kakaknya itu karena dia tidak suka melakukan apapun dengan terburu-buru, kecuali darurat.


"Memangnya kenapa sih Kak?, kok menyuruh aku makan cepat sih?"


Alula memutar bola matanya jengah "Kamu ini bagAimana sih, hari ini Afnan sidang skripsi kan?, setengah jam yang lalu dia Sudah pergi tuh, kamu malah masih disini, sudah sana susul Afnan."


Astaghfirullah, Alesya melupakan hal penting itu, istri macam apa dia yang lupa bahwa hari ini suaminya akan melaksanakan sidang skripsinya, tetapi dia tidak serta merta bersalah karena Afnan sendiri tidak mengingatkannya.


"Allahu akbar aku lupa, kalau begitu aku pergi dulu assalaamu 'aikum."


Dengan setengah berlari Alesya mengambil tasnya yang berada di kamar kakaknya setelah itu dia menyalimi punggung tangan ayah dan bundanya lalu melenggang pergi dengan diakhiri ucapan salam.


∆∆∆∆∆


Seorang laki-laki menggunakan kemeja putih dengan celana berwarna hitam yang tak lain adalah Afnan menoleh kearah sumber suara di belakangnya, seorang laki-laki berlari kecil kearahnya.


"Mas Shuwan." Ucap Ziva yang ikut menemani abangnya dalam sidang skripsinya.


"Bro lo harus semangat, jangan lupa doa, semoga sidangnya sukses ya, biar kita bisa wisuda bareng."


Sebagai seorang sahabat sudah seharusnya Shuwan memberi dukungan kepada Afnan, sebagaimana dua hari yang lalu Afnan menyemangati dirinya dan sidangnya sukses.


"Aamiin doain gue Bro." Ujar Afnan dengan wajah yang serius.


Shuwan mengedarkan pandangannya, tetapi yang dia cari tidak ditemukan. "Istri lo kemana?, kok nggak ada disini?." Tanya Shuwan yang mencari keberadaan Alesya.


"Aku di sini."


Semua menoleh ke arah suara tersebut, terlihat Alesya yang didampingi Silmi tersenyum kearah mereka, Afnan yang melihat kedatangan istrinya langsung sumringah.


Kini Alesya sudah berdiri di hadapan Afnan yang begitu bahagia karena kedatangannya. Rasa gelisah dan cemas seketika hilang dari hati Afnan, yang ditunggu akhirnya datang juga.


"Maaf ya aku terlambat, dan sebenarnya aku lupa, aku minta maaf banget sama kamu."


Alesya langsung memasang wajah bersalah sekaligus mengatupkan kedua tangannya berisyarat memohon maaf kepada Afnan yang justru malah memeluk Alesya dengan erat.


"Jazakillah khoiron Sayangku sudah mau hadir, rasanya aku sudah tenang dan nggak gugup lagi."


"Wa jazakallah khoiron."


Pelukan mereka akhirnya harus tersudahi dikarenakan nama Afnan telah dipanggil untuk memasuki ruang sidang, rasa gugup mulai menghampirinya lagi tetapi Alesya menenangkannya sehingga rasa gugup itu memudar.


"Bismillah." Ucap Alesya memberikan semangat kepada Afnan yang akhirnya mulai memasuki ruangan tersebut.


Bait-bait doa bergema dari mulut Alesya, Ziva, Shuwan beserta Silmi yang ikut mendoakan kelancaran sidang skripsi suami dari sahabatnya itu.


Selang beberapa saat kemudian, Afnan keluar dari ruangan tersebut, semuanya langsung menghampiri Afnan dan bertanya apakah sidangnya berjalan dengan sukses, namun dari wajahnya yang muram mengisyaratkan bahwa apa yang mereka inginkan tidak terwujud.


"Nggak apa-apa kok, mungkin sekarang belum saatnya." Ucap Alesya memberikan suntikan semangat kepada suaminya.


"Iya Bang Af, Nggak apa-apa kok, masih ada hari esok."


Shuwan dan Silmi ikut mengangguk kan kepala, beruntungnya Afnan dikelilingi oleh orang-orang yang tetap menyemangatinya walaupun dia belum mengatakan apa-apa, tetapi mereka sudah menebak yang bukan-bukan.


Senyuman indah terlukis diwajah Afnan membuat semua yang melihat nya kebingungan dan saling menatapnya dengan penuh tanya.


"Kalian ini kenapa sih aku kan belum ngomong apa-apa."


"Alhamdulillah aku..., lulusssss."


Ucapan Afnan dengan wajah bahagianya itu sukses membuat Alesya dan yang lainnya saling menghembuskan napas lega dan mengucapkan Alhamdulillah hampir bersamaan.


"Alhamdulillah, ishhh kamu ya sudah buat aku-"


"Jatuh cinta." Timpal Afnan yang sengaja melengkapi ucapan sang istri yang belum lengkap.


"Trus wisudanya kapan?." Tanya Alesya kemudian segera dianggukkan kepala oleh Ziva yang ikut mempertanyakan acara wisuda sang abang.


"Tiga bulan lagi, ya kan Bro?"


Untuk memastikan benar atau tidaknya Afnan bertanya kepada Shuwan agar memperjelas ucapannya yang mendapat anggukan kepala dengan mantap oleh Shuwan.


"Tiga bulan lagi?, tanggal berapa?, soalnya Kak Alula kan mau menikah tiga bulan lagi juga?"


"Sepertinya dua hari setelah Kak Alula menikah Sya, jadi in syaa Allah nggak tabrakan kok."

__ADS_1


Syukurlah, Alesya pun dapat bernapas lega lantaran acara wisuda suaminya tidak bertabrakan dengan hari dimana sang Kakak melepas masa lajangnya.


∆∆∆∆∆


3 bulan kemudian...


Acara akad nikah akan segera dilangsungkan, semua para tamu sudah memenuhi rumah keluarga Ahyar Lazuardy. Sang calon pengantin pria juga sudah menduduki tempat duduknya yang mana di depan Penghulu yang juga sudah menduduki tempat duduknya. Ayah Ahyar Lazuardy segera mengisi tempat duduk yang kosong yaitu tepat di hadapan sang calon pengantin pria dengan didampingi Ayahnya yang duduk di sampingnya.


Sementara di lantai atas, calon pengantin perempuannya sudah cantik dengan gaun pengantin berwarna cream, dia sudah duduk di tengah-tengah Farha sebagai Ibu kandungnya dan Aiza sebagai ibu sambungnya, juga Alesya yang ikut berpoles cantik dengan gaun senada, layaknya seorang Ibu, Alesya mengelus kepala Ali yang duduk dipangkuannya. Calon Mama mertua Alula juga sudah berkumpul bersama mereka.


Sambil menunggu acara ijab qobulnya dimulai, Ziva yang berprofesi sebagai photografer sibuk mengabadikan tiap wajah-wajah cantik yang hadir menemani sang calon pengantin perempuan, dan Silmi kini mengambil profesi barunya yaitu memvideo setiap gerakan dan moment penting hari paling bahagia Alula yang mana sudah dia anggap kakaknya sendiri. Begitu juga dengan sepasang sahabat yang berada di lantai bawah, Afnan dan Shuwan sama-sama memegang satu camera masing-masing, lalu memgabadikan tiap moment terpenting itu.


Acara akad nikah pun dimulai, hanya dengan satu kali hembusan napas Faqih mengucapkan ijab qobulnya dengan lancar setelah sang ayah mertua melafalkannya terlebih dahulu. Kini Alula sudah sah menjadi seorang istri sama seperti adiknya yang sudah menikah duluan.


Prosesi akad nikah berjalan dengan lancar, hampir sama dengan prosesi acara akad nikah Alesya waktu itu, hanya saja kini ada Farha yang menghadiri acara pernikahan putri sulungnya.


Dengan deraian air mata Alula berhambur kepelukan Mama kandungnya yang ikut menangis terharu karena sang putri sulung telah menuruti semua keinginannya dia sangat bahagia.


Tetapi tidak dengan Alesya, air matanya jatuh perlahan-lahan melihat mereka berpelukan, bukan karena terharu tetapi karena tersakiti, dia masih ingat betul di mana disaat hari bahagianya mama kandungnya tidak memeluk dirinya sebagaimana yang didapatkan Kakaknya jangankan pelukan seorang mama, kehadirannya saja tidak ada diacara bahagianya itu.


"Kenapa Mama pilih kasih, Mama hadir dan memeluk Kakak di hari pernikahannya, tapi di hari pernikahanku aku tidak mendapatkan itu semua, aku juga putrimu Ma, aku juga berhak mendapatkan itu semua." Ucap Alesya di dalam hatinya yang sedang tergores luka.


Alesya hanya dapat menahan rasa sakitnya seorang diri walau jiwanya tidak dapat menerima itu semua tetapi hati juga tidak akan mungkin tega merusak kebahagiaan Kakaknya dan juga keluarganya. Alesya sudah tidak bisa berpura-pura untuk bahagia dihari yang bahagia ini, dia melarikan diri ke dalam kamarnya dan tertunduk dilantai kamarnya dengan isakan tangis yang tidak bisa dibendung lagi.


"Aku juga anakmu Ma, tapi kenapa Mama lakukan ini semua...."


Hati anak mana yang tidak teriris ketika mendapatkan perlakuan tidak adil oleh ibu kandungnya sendiri, diabaikan bahkan ditatap seperti seorang musuh, itu yang Alesya rasakan.


Tiba-tiba kedua mata Alesya membulat dengan sempurna ketika dia melihat ada seseorang yang kini sudah duduk dihadapannya bahkan mengusap air matanya.


"Afnan..."


Sebenarnya sudah dari tadi Afnan memperhatikan raut wajah istrinya yang bersedih saat melihat kakak iparnya berpelukan dengan mama mertuanya, dan dia tahu betul saat ini istrinya sedang menanggung kesedihan seorang diri, tetapi dia tidak akan pernah membiarkan perempuan yang dicintainya menangis seorang diri.


"Jangan menangis Sya, aku nggak akan memaafkan diriku sendiri kalau kamu terus menangis seperti ini."


Bukan hanya Alesya yang merasakan kesakitan di hatinya tetapi Afnan juga merasakan hal yang sama, dia juga merasa bersalah karena ini terjadi tidak luput karena keputusannya yang tetap menikahi Alesya walau Mama mertuanya tidak sepenuhnya merestuinya.


Alesya meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat dengan kedua tangannya. "Maafkan aku Afnan, maafkan aku, aku belum bisa membuat Mama menyayangi kamu sebagai menantunya, maafkan aku."


Sama sekali Afnan tidak berminat untuk membahas tentangnya, tetapi mengapa disaat-saat seperti ini Alesya masih memikirkan perasaan orang lain ketimbang perasaan dirinya sendiri yang dapat Afnan baca dari sorotan mata istrinya yang mengisyaratkan tentang kesedihannya.


Dia memeluk istrinya dengan sangat erat tak lupa mendaratkan kecupan di kepala sang istri. "Jangan pikirkan tentang aku Sya, tapi pikirkan dirimu saja." Pelukan terlepas dan Afnan menangkupkan kedua pipi sang istri untuk menatapnya lebih dalam lagi.


"Dengarkan aku Sya, in syaa Allah semua akan baik-baik saja, Mama hanya membutuhkan waktu untuk menerima aku sebagai menantunya, dan kamu nggak usah khawatir Sya, selagi Allah menjadi saksi cinta kita, maka Allah akan meluluhkan hati Mama agar bisa menerima aku, kamu harus percaya itu ya."


Rasanya saat ini hati Alesya sudah lebih tenang bahkan dia menganggukkan kepala dengan sangat yakin bahwa apa yang dikatakan suaminya barusan benar sekali, dia harus bersabar untuk menunggu kebahagiaan itu tiba.


Afnan juga sudah dapat tersenyum melihat istrinya kink sudah tidak menangis lagi, bahkan membalas pelukannya dengan erat.


∆∆∆∆∆


Acara pernikahan Alula dan Faqih kini telah usai dengan diakhiri acara resepsi yang diadakan di salah satu gedung mewah pilihan dari pihak keluarga Faqih, untuk malam ini Alula dan Faqih akan tidur di rumah keluarga Faqih dikarenakan besok mereka sudah harus pergi ke Singapura jadi sebelum pergi ke Singapura Faqih mengajak istrinya bertemu dengan keluarga besarnya agar lebih dekat lagi.


"Papa sedang apa di sini?"


Farha yang baru saja keluar dari kamarnya langsung menghampiri suaminya yang sedang duduk santai di samping rumah keluarga Ahyar Lazuardy mantan suaminya, sebenarnya Farha tidak ingin menginjakkan kakinya di rumah itu tetapi demi kelancarana acara pernikahan putri sulungnya mau tidak mau dia harus bermalam di rumah itu, rumah yang menyisakan kenangan kelamnya dulu, untung hanya satu hari saja dan besok dia sudah akan pulanh kembali ke rumahnya di Singapura.


"Mama, ini Papa sedang menikmati angin malam di sini, karena besok kita akan kembali lagi ke Singapura, tidak tahu kenapa Papa merasa nyaman berada di sini, dan Ahyar begitu baik sekali sama aku walaupun aku ini adalah suami dari mantan istrinya."


"Papa ini bicara apa, itu teh siapa yang buat?"


Secangkir teh yang baru saja David teguk rupanya menjadi pusat perhatian sang istri dikarenakan teh itu bukan istrinya yang membuatkan.


"Ini teh buatan Aiza, dia juga sangat baik sama Papa, mereka memang keluarga yang baik ya, Papa senang bertemu dengan mereka."


Tidak ada habis-habisnya suaminya itu memuji ayah dari anak-anaknya beserta ibu sambung dari anak-anaknya, telinga Farha rasanya terbakar mendengarkan itu semua mungkin jika yang sedang berbicara bukan suaminya sudah dipastikan dia akan menyiram teh ke mulutnya agar segera diam dan tidak berbicara lagi.


"Mama, Papa."


Panggilan dari ambang pintu menghentakkan mereka lalu memusatkan pandangannya ke arah yang memanggilnya.


"Alesya." Ucap David ketika melihat siapa yang sedang memanggilnya.


Dengan senyuman yang mengembang Alesya mulai menghampiri Papa dan Mamanya tetapi seketika ia terdiam David pun sepertinya paham akan kedatangan salah satu putri sambungnya.


"Kalau begitu Papa masuk dulu ya, Papa mau ikut main bersama Ali dan Afnan."


David pun berlenggang meninggalkan mereka dan benar saja dia ikut bermain bersama Ali dan Afnan yang sedang asyik bermain game plastation dengan ditonton Ahyar dan Aiza.


Sementara Alesya segera menepis rasa canggungnya lalu duduk menggantikan David tadi. Ia menatap Mamanya yang memadang lurus ke depan, suasana pun menjadi hening seketika dengan susah payah Alesya mencoba merubah suasana hening itu.


"Jadi besok Mama akan pulang ke Singapura bersama Kak Alula ya Ma?, kenapa harus besok Ma, padahal Alesya masih kangen sama Mama dan sepertinya Afnan masih ingin bermain sama Ali juga."


Dengan wajah yang riang Alesya menceritakan keinginannya yang masih ingin Mamanya tidak terburu-buru pulang dia pun sekilas menoleh kearah Afnan yang ternyata mudah sekali akrab dengan Adiknya.


"Kami harus pulang besok, dan tiketnya juga sudah dipesan." Ujar Farha datar bahkan tidak menoleh sekilas pun ke arah Alesya.


"Oh ya, dua hari lagi Afnan wisuda Ma, bagaimana kalau Mama pulangnya setelah Afnan diwisuda aja, soalnya Afnan mengharap kehadiran Mama di acara wisudanya."


Akhirnya Farha mau menoleh ke arah Alesya namun sorotan matanya begitu tajam membuat Alesya takut untuk menatapnya.


"Kamu dengar nggak sih Mama bilang apa tadi, besok kami harus pulang!"


"Tapi Ma-"


"ALESYA!"


"Mama dan Papa kamu ini sangat sibuk dengan pekerjaan kami, kamu sebagai anak harus mengerti dong, lagi pula sudah ada Ayah sama Bunda kamu kan, untuk apa kami hadir juga, acara itu juga nggak penting buat kami, sudahlah Mama capek ingin istirahat."


Alesya tidak habis pikir Mamanya sampai begitu marah kepadanya padahal dia tidak berbicara dengan nada yang lantang dan ucapannya juga tidak ada yang salah, tetapi mengapa Mamanya sampai hati memarahi dirinya, apa karena dia tidak menuruti ucapan Mamanya dulu untuk tidak menikah dengan Afnan sehingga sampai saat ini mamanya masih menyimpan rasa kecewa yang bisa berubah menjadi amarah.


"Astaghfirullahal adzim, kuatkan hati hamba ya Allah." Batin Alesya menguatkan dirinya.


∆∆∆∆∆


Keesokan harinya Farha dan David benar-benar pulang ke Singapura tentunya bersama Alula dan Faqih. Deraian air mata tak sanggup lagi untuk Alesya tahan, dia berusaha kuat melihat sang Kakak sudah masuk ke dalam mobil sama halnya dengan Ahyar dan Aiza yang ikut menitikkan air mata melepas kepergian sang putri sulung dari rumah mereka.


Lambaian tangan mengiringi kepergian Alula yang tidak hentinya meneteskan air mata begitu juga dengan Ali dan David yang duduk di depan. Sementara Farha sama sekali tidak menolehkan wajahnya untuk melihat Alesya yang sudah berlinangan air mata.


"Pak ayo jalan." Pinta Farha yang dituruti oleh supir taxinya tersebut.


Mobil taxi yang membawa mereka akhirnya melaju perlahan-lahan keluar dari pekarangan rumah keluarga Ahyar Lazuardy. Alula sudah pergi bersama suaminya ke Singapura untuk menjalani kehidupan barunya.


"Semoga kamu bahagia Nak, doa Ayah selalu menyertaimu."


"Bunda akan selalu merindukan kamu Sayang."


Setelah mobil taxi itu tak terlihat lagi, Ahyar memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya bersama Aiza yang tiada hentinya menangis melepaskan kepergian sang putri sulung. Sementara Alesya, dia sudah jatuh terduduk lemas karena mulai sekarang jarak sudah memisahkannya dengan Kakak yang disayanginya.


Melihat sang istri yang bersedih membuat Afnan ikut terbawa suasana dan langsung merangkul tubuh sang istri dengan sangat erat.


"Maafkan aku, aku gagal mengajak Mama untuk hadir ke acara wisuda kamu, aku minta maaf, aku-"


Afnan langsung menghentikan ucapan Alesya yang semakin histeris dalam tangisannya, ditambah lagi Alesya masih terus mengucap kata maaf yang tidak seharusnya diucapkan.


"Sudah Sya jangan pikirkan hal itu, nggak apa-apa kok."


Afnan semakin mengeratkan pelukannya agar sang istri dapat merasakan ketenangan dan tidak memikirkan tentang Farha yang tidak bisa hadir di acara wisudanya karena jika Alesya terus memikirkan hal itu justru akan semakin membuat Afnan merasa bersalah.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2