Takdir Terindah

Takdir Terindah
Pencitraan


__ADS_3

Beribadahlah dengan niat karena Allah


Bukan ingin terlihat baik dimata manusia


apalagi hanya sebagai dijadikan pencitraan


~Takdir Terindah~


Ukhfira


~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~


Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu ya


Selamat membaca


Semoga suka


🌻🌻🌻


Acara akad nikah telah usai, setelah rentetan acara akad nikah yaitu dari acara tukar cincin, tanda tangan buku nikah sampai pengambilan foto pengantin dan sekeluarga telah selesai dilakukan, seluruh tamu undangan pun yang kebanyakan para tetangga termasuk Shuwan sudah kembali ke rumahnya masing-masing dan nanti akan kembali lagi hadir di acara resepsi pernikahan Afnan dan Alesya di ball room hotel yang telah disewa oleh pihak keluarga pengantin.


Saat ini keluarga Alesya bersama keluarga Afnan sedang menikmati hidangan makanan yang tersaji dimeja ruang makan, mereka sedang sarapan pagi bersama dan ini adalah hal perdana bagi mereka.


Aiza dan Izma dengan kompaknya mengambilkan sarapan pagi untuk suaminya masing-masing setelah itu baru mereka mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Alesya pun yang memperhatikan mau tidak mau harus melayani suaminya yang kini sedang duduk disampingnya.


Afnan pun memperhatikan sang istri yang sedang mengambil piringnya dan menyendok nasi goreng yang diletakkan dipiring tersebut.


"Segini cukup?" Tanya Alesya yang menoleh kearah Afnan.


Afnan pun mengangguk seraya tersenyum.


"Mau telur dadar atau telur ceplok?" Alesya menoleh lagi ke arah Afnan.


"Telur ceplok." Jawab Afnan dengan sedikit tegang karena semua anggota keluarganya menjadikan dirinya pusat perhatian.


"Terima kasih."


Afnan pun segera menerima makanan yang baru saja disodorkan oleh Alesya.


"Sama-sama."


Kini giliran Alesya yang mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Sedangkan Alula dan Ziva sedang pandang-pandangan dengan senyuman dibalik udang.


"Kak Alula mau diambilkan nasi goreng atau nasi mentah?"


"Nasi goreng saja Zi."


"Oke, kita jangan mau kalah sama pengantin baru ya Kak."


Suasana pun hangat dengan tawa kecil yang hadir akibat ulah Ziva dan Alula yang tengah melontarkan candaan kepada sepasang suami istri yang baru sah beberapa jam yang lalu.


Sarapan pagi pun selesai, dan Afnan beranjak dari tempat duduknya seraya mengenakan kembali kopyah silver pengantinnya.


"Sudah waktunya sholat jum'at, Papi Ayah ayo kita ke masjid, takutnya terlambat."


Zawir dan Ahyar pun beranjak dari tempat duduknya untuk mengikuti langkah Afnan yang sudah berada didepan mereka untuk menuju masjid.


"Maa syaa Allah, Afnan itu paket komplit banget ya, sudah gantengnya maksimal, sholeh lagi, bersyukur banget kamu Dik, dapat suami suami Afnan, limited edition itu namanya."


Bukannya merespon pujian dari sang Kakak, Alesya justru menyibukkan diri dengan mengangkat piring-piring kotor untuk dibawa ke dapur.


"Bunda sama Mami istirahat saja dulu, biar Alesya yang bereskan semuanya."


Aiza dan Izma pun tidak menolak permintaan Alesya lalu mereka berdua pergi menuju ruang tamu untuk sekedar bercengkrama agar semakin dekat hubungan mereka.


Setelah Alesya pergi menuju dapur dengan membawa piring-piring kotor Alula pun bergegas juga untuk membawa sisa piring kotor ke dapur.


"Kak Alula, biar Ziva saja ya yang bawa ke dapur, Kak Alula bereskan saja yang di sini."


"Oh ya sudah nih."


Dengan senang hati Ziva langsung mengambil alih piring-piring kotor itu lalu menuju dapur dimana Alesya sedang sibuk mencuci piring di wastafel.


"Kak Al, Zizi bantu ya"


Tanpa meminta persetujuan dari Alesya, Ziva langsung mengambil piring yang sudah dicuci untuk dilap dengan kain yang sudah tersedia.


"Zi...kenapa aku yang kamu jodohkan dengan kakak kamu?, padahal diluaran sana banyak yang lebih baik daripada aku"


"Karena Kak Al pantas mendampingi bang Af, kalian pasangan yang serasi kak Al wanita sholihah dan bang Af pria sholih, Maa Syaa Allah"


Alesya terdiam mendengar jawaban Ziva yang terdengar tulus tanpa dibuat-buat, ia pun melanjutkan mencuci piring tanpa bersuara lagi sedangkan Ziva ia merasa aneh karena baru kali ini mendapati Alesya tak banyak bersuara, apa sebenarnya Alesya termasuk orang yang pendiam?, ntahlah Ziva tidak ingin terlalu memikirkannya, yang terpenting sekarang keinginannya sudha terwujud yaitu mempunyai kakak ipar sebaik Alesya.


^^^^^


Jam menunjukkan pukul 13.00, usai sholat dzuhur berjama'ah para kaum hawa di rumah Alesya sedang kompaknya menonton tv berjama'ah, selain menunggu para kaum adam mereka, Izma maupun Ziva sepakat untuk menetap di rumah keluarga Alesya untuk sementara waktu supaya nanti malam mereka bisa berangkat bersama menuju hotel tempat resepsi pernikahan Afnan dan Alesya diselenggarakan.


Selang beberapa menit terdengar suara bariton mengucapkan salam, setelah ditengok rupanya ketiga laki-laki sholeh yang sama-sama menyandang status suami pulang dari sholat jumat, wajah mereka nampak bersinar mungkin karena bekas air wudhu tadi yang membuat wajahnya bersinar dan berseri-seri khususnya sang pengantin laki-laki.


Melihat suaminya sudah datang, baik Aiza maupun Izma dengan kompaknya menghampiri suami mereka masing-masing lalu menggandengnya menuju kamar masing-masing.


Kini tinggal Afnan seorang diri yang berdiri. Alula langsung menyenggol lengan Alesya yang tadinya fokus ke arah layar tv. Lalu Alula pun melirik kearah Afnan membuat Alesya ikut menoleh kearah Afnan.


"Dik itu suami kamu menunggu kamu, sana samperi."


Dengan malas Alesya beranjak dari duduknya sedangkan Alula maupun Ziva sama-sama tersenyum melihat tingkah pasangan pengantin baru yang terlihat malu-malu.


"Ayo ke atas."


"Ke atas mana tuh?" Goda Ziva.


"Atas langit Beb." Celetuk Alula ikut-ikutan.


Kedua wanita jomblo itu sukses menggoda mereka, membuat Afnan tersenyum malu sedangkan Alesya bergeming tidak menyukai godaan tersebut.


Alesya tersentak ketika mendapati lengannya dipegang oleh Afnan, bola matanya membulat sempurna lalu beralih menatap wajah yang beraninya memegang lengannya itu.


"Kak Alula, Zizi, kita ke kamar dulu ya."


Afnan pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dengan tangan erat menggandeng Alesya yang hanya menurut saja.


"Ishh mereka so sweet banget ya Kak, aku kapan coba diposisi Kak Alesya."


Alula yang mendengarkan keluh kesah Ziva, bukannya ikut cemberut dia malah tertawa dan langsung merangkul Ziva yang sempat kaget akan kehadirannya.


"Yang sabar ya Mblooo, jodohmu masih otw kok."


"Kak Alula juga yang sabar ya, kan masih jomblo juga."


Kini giliran Ziva yang menggoda Alula dengan menyuruhnya bersabar juga untuk menunggu jodohnya, jadi jomblo semangatin jomblo.


^^^^^


Kreggg


Afnan berhasil menurunkan gagang pintu kebawah dan terbukalah pintu kamar Alesya, lalu ia mempersilahkan Alesya untuk masuk duluan kemudian baru dirinya masuk.


Sorot bola mata Afnan yang berwarna hitam pekat mulai mengedar keseluruh penjuru kamar yang bernuansa silver dengan taburan mawar merah diatas kasur. Harum bunga mawar pun tercium semerbak dihidung mancung Afnan.


Alesya mulai gugup dan salah tingkah, ntah ia harus berbuat apa karena baru kali ini ada orang asing yang memasuki kamarnya. Afnan pun mendudukkan dirinya ditepian ranjang lalu menoleh kearah Alesya yang kebingungan.


"Alesya."


Suara lembut yang keluar dari mulut Afnan menyadarkan Alesya dan langsung menatap kearah Afnan yang hanya tersenyum melihat tingkah lucu istrinya.


"Sini duduk."


"Ha?"


Melihat sang istri masih mematung lantas membuat Afnan gemas dan beranjak menghampiri sang istri. Lalu membawanya duduk ditepian ranjang.


Tak hentinya Afnan menatap lekat wajah cantik Alesya yang hanya menunduk kebawah sembari menggerutu tidak jelas, diraihnya dagu sang istri sehingga membuat Alesya kini menatap wajahnya lebih dekat.


"Terima kasih ya kamu sudah bersedia mau menjadi istriku, menjadi bidadari hatiku."


Diraihnya tangan Alesya lalu diciumnya punggung tangan itu dengan penuh ketulusan membuat hati sang empu berdesir tidak karuan.


Ditariknya dengan paksa tangannya sendiri membuat Afnan sempat tersentak dan hanya bisa tersenyum, Alesya pun beranjak dari duduknya tetapi tangannya berhasil diraih lagi oleh suaminya mau tidak mau ia menoleh dan harus melihat wajah sok tampan yang sebenarnya tidak ingin melihatnya.


"Mau kemana?"


"kamar mandi."


"Jangan lama-lama ya."


Mendengar kalimat terakhir dengan nada yang sok lembut itu membuat telinga Alesya sakit dan langsung bergidik ilfeel, hanya dengan satu kali anggukan saja akhirnya Alesya berhasil meloloskan diri dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket karena keringat.

__ADS_1


Setelah kepergian Alesya yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, Afnan pun merebahkan tubuhnya yang terasa remuk di atas kasur sembari tersenyum sendiri mengingat moment tadi bersama sang istri yang terlihat gugup sekali.


"Alesya-Alesya lucu banget sih kamu, untung sudah jadi istri, jadi sudah halal aku unyel-unyel kamu nanti."


Afnan pun tertawa kecil akibat ucapannya sendiri yang terdengar lucu dan menggelikan.


^^^^^


10 menit berlalu, pintu kamar mandi pun terbuka dengan perlahan menampilkan Alesya yang sudah segar dan berganti baju lengkap dengan khimar syarinya.


Ia dapat bernapas lega sekali ketika mendapati laki-laki yang mengganggunya tadi sudah menutup mata terlelap dalam tidurnya dengan keadaan memiring ke kanan.


"Alhamdulillah tuh orang sudah tidur, ya Allah apa aku kuat menghadapi ujian terberatmu ini, kuatkan aku ya Allah menghadapi salah satu hambaMu ini yang rese' dan ngeselin banget."


Alesya pun mengkedikkan kedua bahunya saat menoleh kearah wajah damai Afnan yang sedang tertidur lelap.


^^^^^


"Maa syaa Allah, ini nyaman sekali scraf ya Zi, tegak sudah seperti tenda perkemahan."


Ziva pun tertawa kecil mendengar pujian berlebihan dari Alula yang sedang bercermin dan memperbaiki scraf sya'i yang melekat dikepalanya.


"Ish Kak Alula bisa saja deh mujinya, ngomong-ngomong serius kan, Kak Alula mau bantu Ziva promosikan scraf by Ziva Kinanah ini?"


Alula megangguk mantap. "In syaa Allah Zi Kakak akan bantu kamu, pokoknya kalau sama Kakak tenang saja."


"Alhamdulillah, kalau begitu itu gratis untuk Kak Alula."


"Nah begitu dong. Jazakillah khoion ya Zi."


"Wa jazakillah khoiron Kak Alu."


Sedang asyiknya ngobrol di ruang keluarga, pandangan mereka pun kompak tertuju kepada seseorang perempuan yang turun dari anak tangga kemudian duduk bergabung bersama mereka.


"Lho pengantin baru kok keluar sendirian, pasangannya mana?"


Pertanyaan yang keluar dari mulut Alula lantas membuat Alesya sebal karena ia tidak suka akan candaan sang kakak.


"Iya Kak Al, Bang Af memang kemana?" Ziva pun ikut menanyakan keberadaan Afnan.


"Afnan lagi tidur."


"O." Dengan kompaknya Alula dan Ziva ber-o ria setelah mengetahui bahwa pengantin laki-lakinya sedang tidur siang.


"Kak Al sendiri kok Nggak tidur siang?, nanti malam kan acara resepsi pernikahan kalian, nanti Kak Al malah ngantuk-ngantuk di pelaminan."


"Aku nggak ngantuk Zi."


"Oh ya Dik, sahabat kamu si Silmi ke mana?, kok nggak hadir di pernikahan kamu?"


"Iya Kak Al, Kak Sil ke mana?, masa ke acara pernikahan sahabatnya nggak hadir?"


Akhirnya antara Alula dan Ziva baru peka bahwa Silmi sang sahabat pengantin wanita tidak hadir di acara pernikahan Alesya. Dan itu menjadis sebuah tanda tanya besar bagi mereka.


"Silmi pulang ke Pontianak, Ayahnya masuk rumah sakit."


"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun."


Keduanya kompak lagi dalam mengucapkan kalimat istirja setelah mendengar bahwa Silmi sedang tertimpa musibah yaitu Ayahnya tengah sakit dan sedang terbaring di rumah sakit.


^^^^^


Siang pun kini berganti malam, usai sholat isya berjamaah, kedua keluarga yang sedang berada di satu atap yang sama saling menyiapkan diri untuk memeriahkan pesta resepsi pernikahan anak mereka, Afnan dan Alesya.


Alesya yang baru saja selesai di rias oleh tukang rias yang tadi pagi meriasnya segera berganti baju menggunakan gaun pengantin+khimar syar'i bak cinderella dengan nuansa berwarna silver kombinasi putih, tukang riasnya pun setelah selesai merias wajah Alesya sekaligus melontarkan pujian-pujian manis akan kecantikan Alesya pamit undur diri dari kamar Alesya.


Kini Alesya sedang fokusnya menatap wajahnya di cermin, ia tersenyum tatkala mensyukuri apa yang telah Allah anugerahkan kepadanya, wajah cantik yang selalu ia harapkan semoga hatinya secantik wajahnya.


Tiba-tiba Alesya kaget ketika melihat pantulan seorang laki-laki dengan menggunakan tuxedo berwarna silver dengan didalamnya terbalut kemeja berwarna putih yang baru saja keluar dari kamar mandi, dia adalah Afnan.


Kini kedua mata mereka saling menatap dibalik pantulan cermin, saling mengagumi satu sama lain, terkhusus Afnan yang terpanah akan kecantikan Alesya. Rasanya Afnan enggan untuk berpaling dari wajah cantik sang istri, sedangkan Alesya langsung tersadar bahwa ia sedang menatap Afnan, kemudian dengan cepat ia mengalihkan pandangannya membuat Afnan tersentak dan hanya bisa tersenyum.


Langkah kaki Afnan kini mulai mendekat dengan Alesya yang masih pada posisinya duduk didepan cermin, Afnan pun mendekatkan wajahnya disalah satu pundak sang istri dengan tatapan tetap fokus ke paras cantik Alesya dibalik pantulan cermin. Alesya yang kini sudah tidak ada jarak lagi dengan Afnan merasa terganggu tetapi ia tidak bisa menjauh diri.


"Maa syaa Allah, nikmat Allah manakah yang kamu dustakan Afnan."


Deg


Alesya memalingkan wajahnya kesamping disaat itulah Afnan itu memalingkan wajahnya sehingga kedua mata mereka saling beradu dan wajah mereka semakin tidak ada jarak, dekat sekali sehingga Alesya dapat mencium aroma mint yang bersumber dari mulut Afnan yang sedikit terbuka.


"Bang Af, Kak Al."


Alesya tersentak setelah menoleh kebelakang dimana terlihat Ziva yang melotot dan menutup mulutnya, sedangkan Afnan dengan kecewa menjauhkan diri dari Alesya laly ikut menoleh kebelakang.


"Afwan Zizi ganggu Bang Af, siapa suruh pintunya nggak ditutup, hehehe."


Ziva pun merasa tidak enak karena telah mengganggu abang dan kakak iparnya yang sedang menikmati moment berdua tetapi memang salah mereka tidak menutup pintunya sehingga Ziva mengganggunya dalam unsur ketidaksengajaan.


"Ada apa Zi?" Tanya Alesya mengalihkan pembicaraan seraya bersyukur karena Ziva datang diwaktu yang tepat sehingga Afnan langsung menjauh darinya.


"Oh iya Ziva hampir lupa kan, Ziva ke sini disuruh manggil kalian berdua, keluarga kita di bawah sudah siap berangkat ke tempat resepsi, ayo kita turun bang Af, Kak Al."


Alesya pun ingin beranjak dari tempat duduknya tetapi ia kaget melihat Afnan sudah mengulurkan tangan dihadapannya, Ziva yang melihatnya dibuat tersenyum dan langsung berdehem.


Dengan berat hati Alesya menerima uluran tangan itu, jika tidak ada Ziva dihadapan mereka mungkin Alesya sudah menepis mentah-mentah uluran tangan tersebut.


Ziva pun berjalan duluan sambil geleng-geleng kepala melihat pasangan pengantin baru tersebut bergandengan dengan mesra.


^^^^^


30 menit berlalu, mobil yang membawa mereka pun sudah sampai di depan hotel mewah ternama tempat dimana resepsi pernikahan Afnan dan Alesya diselenggarakan.


Alesya turun dari mobilnya dengan dibantu Afnan yang dengan senang hati mengulurkan kembali tangannya dan lagi-lagi Alesya terpaksa menerima uluran tangan tersebut.


"Afnan ayo kita masuk, kalian kan beda ruangan."


Zawir mengajak sekaligus mengingatkan Afnan yang lengket sekali dengan Alesya bahwa ruangan mereka terpisah jadi tidak bisa masuk berbarengan. Dengan senang hati Alesya langsung melepas tangannya dari apitan lengan Afnan yang terlihat kecewa karena ia akan berpisah dengan istrinya.


"Sudah Afnan nggak usah sedih seperti itu, berpisahnya cuma sementara kok, nanti habis acara resepsi, kalian bisa lengket lagi."


Zawir yang sepertinya dapat membaca ekspresi wajah Afnan menyuruhnya untuk tidak usah sedih karena mereka berpisah hanya sekejab saja dalam beberapa jam saja.


Afnan yang kini sudah diapit oleh Zawir dan Ahyar beserta Shuwan yang sudah siap dengan kameranya masuk kedalam hotel lewat jalur kanan dimana terlihat papan mini bertuliskan "Tamu Pria", sedangkan Alesya yang diapit oleh Aiza dan Izma beserta pasangan jomblo Alula dan Ziva masuk juga ke dalam hotel lewat jalur kiri dimana terlihat papan mini tertera tulisan "Tamu Wanita".


Kedua ruangan megah yang bersebelahan dengan dekorasi bernuansa silver dan putih kini sudah terlihat ramai dikerumuni para tamu undangan, di kursi pelaminan Afnan dan Alesya yang masing-masing didampingi orang tua serta mertua mereka sedang dibanjiri para tamu undangan yang mengantri dengan rapi untuk bersalaman serta mengucapkan selamat kepada mereka.


^^^^^


Tepat jam 10.00 acara resepsi pernikahan yang tamunya rata-rata teman sahabat serta tetangga dari kedua orang tua Afnan dan Alesya telah selesai, kedua orang tua Afnan beserta sang adik kembali pulang ke rumah mereka, begitu juga dengan Shuwan yang pulang ke rumahnya sendiri, sedangkan Afnan ikut pulang ke rumah keluarga Alesya.


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga, ya Allah remuk semua badanku."


Afnan yang sudah selesai mandi dan berganti baju tidur langsung naik ke atas ranjang, duduk bersandar di dipan ranjang dengan kaki diselonjorkan, pintu kamar mandi terbuka menampilkan Alesya yang baru saja selesai mandi dan sudah berganti baju tidur lengkap dengan khimar syar'i serta kaos kaki.


Afnan beranjak dari sandarannya lalu duduk tegak sembari memperhatikan setiap gerakan sang istri yang kini sudah naik ke atas kasur tepat disampingnya.


"Alesya ini di kamar lho, kok kamu masih pakai khimar sama pakai kaos kaki juga?"


Alesya sedikit tersentak setelah mendengar ucapan Afnan yang dibuat heran sebab dirinya yang masih menutup auratnya dengan sempurna padahal di kamarnya hanya ada dia dan suaminya saja.


"Memangnya siapa yang bilang ini di pasar." Oceh Alesya dalam hati.


"Ya soalnya, soalnya Allah dan Rasulullah yang memerintahkan aku untuk menutup auratku."


Afnan pun terkekeh mendengar jawaban polos dari mulut sang istri yang sedang menepuk-nepuk bantal yang akan digunakannya untuk tidur.


"Tapi Allah dan Rasulullah juga memerintahkan kamu untuk membuka auratmu di hadapan suamimu."


Tatapan Alesya langsung tertuju kearah Afnan yang sedang menampilkan senyumannya yang lebar. Hanya sekilas mereka saling beradu tatap hingga akhirnya Alesya memalingkan wajahnya mejauh dari tatapan Afnan. Lalu ia menarik selimut dan sudah mulai menutupi kakinya.


"Mau apa?"


"Mau tidur."


"Kok sudah mau tidur?"


Pertanyaan Afnan kali ini membuat Alesya tersentak dan langsung menolehkan wajahnya kearah Afnan yang masih saja setia menampilkan senyuman.


"Ya, terus mau ngapain?"


Alesya mengutuk dirinya yang sedang berbicara dengan terbata-bata apalagi dihadapan Afnan yang sudah tertawa geli karena mendengar nada bicara sang istri yang seperti orang gagap.


"Alesya aku ingin..."


Degup jantung Alesya mendadak berdetak kencang, aliran darahnya juga berdesir hebat bahkan kedua kelopak matanya tidak bisa dikedipkan, ucapan lembut Afnan sukses membuat Alesya salah tingkah dan pikirannya sudah menjelajah ke mana-mana.


"Ka-kamu i-ingin apa?"

__ADS_1


Lagi-lagi Alesya berbicara dengan terbata-bata, ia memang sudah tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya apalagi laki-laki dihadapannya terus menatapnya dengan tatapan tidak biasa.


"Aku..., ingin..."


"Aku ingin..., ngobrol sama kamu."


Alesya langsung bernapas lega sekali karena ternyata dugaannya salah, Afnan rupanya ingin mengajaknya bukan mengajak yang lainnya.


Sedangkan Afnan yang sedari tadi tak lepas pandangan dari wajah sang istri langsung tersenyum geli karena reaksi Alesya yang sedang menghembuskan napas panjang.


"Kamu kenapa Alesya?"


"Nggak apa-apa."


"Oh ya sudah kalau begitu kamu temani aku ngobrol ya."


Sebenarnya Alesya malas sekali untuk menemani Afnan ngobrol, apalagi hari sudah semakin larut, tubuhnya perlu untuk dibaringkan dan harus segera tidur agar esok bisa bangun malam untuk menunaikan sholat malam.


"Alesya kamu mau tahu nggak kenapa aku memilih kita menikah di hari jumat?"


Afnan mulai mengajukan pertanyaan kepada Alesya yang terlihat tidak berminat sekali untuk menjawabnya, tetapi mau bagaimana lagi ia harus tetap meladeni suaminya yang mengajak dirinya mengobrol.


"Kenapa?" Tanya Alesya datar.


"Karena hari jumat adalah hari pernikahan para Nabi kita, yaitu pernikahan Nabi Adam dengan Siti Hawa, pernikahan Nabi Yusuf dengan Zulaika, pernikahan Nabi Muhammad dengan Siti Khodijah, pernikahan Nabi Muhammad dengan Siti Aisyah dan pernikahan Ali bin Abi tholib dengan Fatimah Azzahra."


"Maa syaa Allah ternyata hari jum'at bukan sembarang hari melainkan hari pernikahan para nabi, sungguh aku bersyukur sekali bisa menikah di hari jum'at."


Disisi lain Alesya merasa bersyukur karena Allah mengizinkannya menikah di hari jum'at dimana hari jum'at adalah hari baik karena para nabi menikah di hari tersebut.


"Oh."


Afnan terheran-heran karena Alesya merespon perkataannya dengan dua kata saja yaitu "oh" ditambah lagi wajahnya yang datar padahal Afnan menceritakan sesuatu hal yang sangat menakjubkan.


"Sudah selesai ngobrolnya kan?, aku mau tidur."


Belum mendengar jawaban dari Afnan, Alesya langsung membaringkan tubuhnya yang sudah terbalut selimut sampai leher, Afnan pun ikut membaringkan tubuh menghadap kekanan kearah sisi sang istri yang berbaring membelakanginya.


^^^^^


Cukup lama terlelap dalam tidurnya, tubuh Afnan pun mulai menggeliat dan perlahan mencoba membuka kelopak matanya sembari berusaha mendudukkan dirinya, masih dalam keadaan ngantuk ia meraba-raba meja kecil disamping tempat tidurnya untuk mengambil handponenya.


Layar handpone yang baru dinyalakan menampilkan angka 03.10, Afnan pun menaruh kembali handponenya lalu ia menoleh kearah samping dimana tubuh Alesya masih terbaring dengan posisi seperti semula, memunggunginya.


"Alesya belum bangun ternyata."


Dengan perlahan Afnan beranjak turun dari ranjangnya tetapi ia tidak langsung ke kamar mandi melainkan menuju samping Alesya dan kini wajah tenang Alesya yang sedang terlelap dalam mimpi indahnya itu dapat ia pandang sesuka hati dengan jelas lagi.


"Alesya bangun." Ucap Afnan yang dengan lembut mengelus pipi Alesya.


Setelah beberapa kali elusan, akhirnya tubug Alesya merespon dan dengan perlahan ia membuka matanya, dan terlihatlah wajah tampan sang suami yang jaraknya begitu dekat dengannya.


"Astaghfirullahal adzim."


Alesya terperanjat bukan main, ia langsung menjauhkan diri dari Afnan yang sudah menegakkan badannya dengan kebingungan melihat reaksi sang istri yang kaget melihatnya.


"Kamu, kamu ngapain di sini?, kamu ngapain di kamar aku?, keluar nggak!, keluar!"


"Lho Alesya, kamu kenapa?, bangun-bangun kok seperti hilang ingatan saja?"


Afnan semakin dibuat tidak mengerti akan tindakan dan ucapan Alesya yang menyuruhnya untuk keluar dari kamar mereka.


"Kamu ngapain di kamar aku, kita bukan mahrom, keluar nggak!"


Mendengar ucapan Alesya selanjutnya membuat Afna geleng-gelemg kepala sembari tersenyum, rupanya istrinya itu sedang ilang ingatan sementara.


"Kamu lupa ya, kita sudah menikah, aku suamimu dan kamu istriku."


"Jangan bercanda kamu."


Alesya masih tidak mengingat sesuatu bahkan dia merasa laki-laki dihadapannya itu sedang ngelantur.


"Kok kamu nggak percaya sih Alesya, nih cincin kita sama kan."


Afnan mengangkat tangan kanannya untuk memperlihatkan cincin berwarna silver yang melingkar di jari manisnya, refleks Alesya langsung beralih ke tangan kanannya juga dimana terlihat cincin yang sama persis melilit di jari manisnya juga. Ingatan pun kembali bermunculan dengan sempurna dan Alesya mulai mengakui bahwa laki-laki dihadapannya benar-benar suaminya.


"Ada apa bangunkan aku?"


"Sudah jam 3, ayo kita sholat tahajjud berjama'ah."


"Nggak salah kamu mengajak aku sholat tahajjud?"


Pertanyaan ngelantur Alesya membuat Afnan kebingungan dan dibuat tidak mengerti mengapa istrinya bertanya seperti itu.


"nggak kok, memang ada yang salah ya?"


Bukannya menjawab pertanyaan Afnan, Alesya malah nyelonong menuju kamar mandi, Afnan pun tidak bisa menahannya dan hanya bisa mengkedikkan kedua bahunya.


Usai mengambil wudhu dan menggelarkan sajadahnya tepat di belakang Afnan kini Alesya sudah siap dengan mukenah yang menutupi auratnya, Afnan yang juga sudah siap dengan pakaian sholatnya pun menoleh kebelakang memastikan bahwa sang istri sudah siap untuk melaksanakan sholat tahajjud yang akan di imami olehnya.


"Allahu akbar."


Setelah melafalkan niat dalam hati Afnan mengangkat kedua tangannya untuk bertakbiratul ihrom seraya berucap takbir, kemudian diikuti oleh Alesya yang kini berstatus sebagai makmum sholat sekaligus makmum dikehidupannya.


Dengan khusu'nya Afnan melantunkan surah Al-fatihah dengan dilanjutkan surah Al-Quran lainnya, Alesya yang sedang tenang mendengarkan suara merdu lantunan suaminya tiba-tiba tidak fokus karena ia begitu kagum dengan suara indah tersebut dan ia juga tidak menyangka seorang laki-laki tebar pesona seperti Afnan rupanya pintar mengaji bahkan menghafal surah-surah panjang kitab Al-Quran.


Sholat tahajjud mereka pun mencapai salam, dan Afnan menoleh ke belakang refleks Alesya segera meraih tangan kanan Afnan lalu mendaratkan hidung mancungnya tepat dipunggung tangan kanan suaminya, setelah Alesya selesai mencium tangan sang suami, kini giliran Afnan yang mendaratkan ciuman di kening Alesya yang dibuat ya kaget dan tidak sempat menahannya.


Kini mereka berdua dengan kompak mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada sang ilahi robbi pemilik cinta yang abadi.


"Ya Allah...tak hentinya hamba mengucapkan terima kasih kepadaMu karena engkau telah menganugerahkan hamba seorang istri yang sholihah, izinkan kami saling mencintai diatas ketaatan kami kepadaMu ya Rob aamiin Allahumma aamiin."


"Ya Allah ya Rohman ya Rohim, hamba percaya bahwa semua yang telah terjadi ini adalah kehendakMu, kini hamba sudah sah menjadi seorang istri, hamba ikhlas karenaMu, semoga engkau tepat menjodohkan hamba dengan laki-laki yang kini sedang berada dihadapan hamba, hamba percaya kepadaMu ya Allah, engkaulah maha pembolak-balik hati manusia, jadikanlah suami hamba menjadi laki-laki yang lebih baik dan tidak tebar pesona lagi kepada para wanita diluaran sana agar hamba dapat menerimanya dengan kerelaan hati, aamiin Allahumma aamiin."


"Alesya, aku ke masjid dulu ya."


Alesya hanya menganggukkan kepala tetapi Afnan tidak mempermasalahkannya justru senyuman masih saja melekat diwajah tampannya itu.


"Assalaamu 'alaikum."


"Wa 'alaikumus salaam."


Setelah Afnan keluar dari kamarnya, sepertinya Alesya sedang memikirkan sesuatu hal yang membuat ekspresi wajahnya serius sekali.


"Sebenarnya apa alasan dia menikahi aku?, laki-laki seperti dia yang digandrungi para perempuan cantik dan stylish nggak mungkin dengan mudahnya mau menikah dengan gadis yang biasa-biasa saja seperti aku, dia pasti punya alasan dibalik semua ini, aku harus cari tau, siapa tau dia ingin berbuat jahat sama aku, ini nggak bisa dibiarkan."


^^^^^


"Alesya tolong bantu Bunda ambil mangkok di lemari sana ya?"


Aiza yang sedang sibuk dengan kegiatan paginya yaitu membuat nasi goreng di dapur meminta bantuan kepada Alesya yang memang sedang membantu dirinya untuk mengambil mangkok untuk diisikan nasi goreng yang sudah matang.


"Maa syaa Allah, aromanya menggoda nih, jadi tambah lapar."


Alesya yang baru saja meletakkan mangkok berisi nasi goreng masakan bundanya di meja makan langsung melirik kearah Alula yang baru saja datang dan sedang menghirup aroma sedap dari nasi goreng tersebut.


"Datang-datang main nyelonong saja, bantu bunda sana, jangan cuma makan doang."


"Wisss, pengantin baru pagi-pagi sudah main ngegas saja."


Alesya ingin membalas ocehan kakaknya yang menyebalkan tetapi keduluan terdengar suara salam dan muncullah ayah Ahyar dengan disusul Afnan.


"Wa 'alaikumus salaam"


"Alhamdulillah Ayah sama Nak Afnan sudah pulang, ayo kita mulai sarapannya."


Aiza pun muncul juga dari dapur dengan membawa beberapa piring kosong kemudian mengajak seluruh anggota keluarganya untuk sarapan pagi.


"Oh ya Bunda tahu Nggak?, ternyata menantu kita bukan cuma ganteng lho tapi sholeh dan tadi Afnan jadi imam sholat subuh di masjid lho Bun, maa syaa Allah suaranya merdu sekali Bun, ayah berasa diimami sama imam masjidil haram, bukan cuma Ayah Saja tapi seluruh jama'ah bilang begitu, Ayah beruntung sekali bisa punya menantu seperti kamu Afnan, Ayah tidak salah menerima lamaran kamu dan menjadikan kamu suami dari Lesya."


Mendengar pujian sang Ayah mertua yang panjang lebar itu cukup membuat Afnan tersenyum bahagia tetapi ia tetap rendah hati dan tidak sombong. Disaat sang bunda dan kakaknya kagum kepada Afnan berbeda hal dengan Alesya yang lamgsung bete ditambah lagi sang Kakak menyenggol lengannya.


"Beruntung sekali kamu Dik, dapat suami pangeran Arab seperti Afnan."


"Pencitraan banget sih nih orang, nggak sekalian saja pamerkan diri ke seluruh dunia kalau dia itu laki-laki yang sholeh, pintar ngaji, sempurna banget deh pokoknya."


Entah mengapa Alesya kesal sekali dengan pujian berlebihan yang diucapkan sang Ayah kepada laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Jangan lupa Vote dan komentarnya


Yah Readers


🙏🙏🙏


See you in next chapter

__ADS_1


❤❤❤


__ADS_2