
Ketika banyak mata tajam menatapmu
cukup balaslah dengan senyuman
Besarkan hatimu
Sebab Allah akan bersama dengan orang-orang yang sabar
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah
Selamat membaca
Semoga suka
🌻🌻🌻
Dengan langkah yang tergesa-gesa Afnan keluar dari mobilnya lalu masuk ke dalam rumah yang mana pintunya sedang terbuka lebar, dia bertemu dengan Alula yang sudah menunggunya di ruang tamu.
"Assalaamu 'aikum Kak."
"Wa 'alaikumus salaam, kamu duduk dulu, aku akan coba bicara sama Alesya."
Afnan mempercayakan semuanya kepada Alula, kali ini dia memang membutuhkan bantuan Kakak iparnya untuk membujuk Alesya agar keluar dari kamarnya dan menemuinya tentunya untuk menyelesaikan masalahnya.
Belum sampai Alula melangkahkan kakinya untuk menuju kamar Alesya, Ahyar beserta Aiza keluar dari kamar mereka karena mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumahnya, ternyata yang sedang datang ke rumah mereka adalah Afnan, menantunya.
"Ayah, Bunda."
Dengan rasa hormat Afnan segera beranjak dari duduknya untuk mencium punggung tangan kedua orang tua istrinya yang tak lain adalah mertuanya.
"Ayah, Afnan datang ke sini untuk bertemu dengan Alesya."
"Lula, kamu tahu kan untuk saat ini Lesya tidak ingin bertemu dengan Afnan. Afnan sekarang kamu pulang dulu ya, biarkan Lesya menenangkan dirinya."
"Jangan Afnan, kamu jangan pulang."
Afnan dilanda kebingungan, siapa yang akan ia turuti ucapannya, Ahyar adalah Ayah mertuanya dia tidak mungkin membantahnya tetapi saat ini dia harus menuruti ucapan Alula karena Kakak iparnya itu akan membantunya untuk bertemu dengan Alesya dan menyelesaikan masalah yang sebenarnya dia tidak mengetahui masalah apa yang sedang terjadi.
"Alula." Kali ini Aiza ikut bersuara. "Biarkan Afnan pergi dulu, kamu jangan ikut campur sayang, ini masalah rumah tangga Adik kamu, tolong kamu turuti keinginan Alesya yang tidak ingin bertemu dulu dengan Nak Afnan."
"Tapi Bunda, Afnan sendiri nggak tahu apa masalahnya dengan Alesya, makanya Alula menyuruhnya datang ke sini untuk meluruskan semuanya."
Kini semuanya tertuju kearah Afnan yang sedari tadi memilih bungkam dan tidak berani untuk mengatakan sesuatu, tetapi saat ini Alula memberikannya kesempatan untuk membela dirinya yang tidak ada kaitannya dengan kesedihan yang sedang Alesya alami.
"Afnan, sekarang kamu bicara sama Ayah dan Bunda."
Afnan pun menatap Ahyar dan Aiza yang sama-sama menunggu penjelasan darinya.
"Ayah, Bunda, aku nggak tahu apa yang terjadi, tadi pagi aku dan Alesya baik-baik saja, tapi setelah Alesya kuliah dia nggak pulang ke rumah dan handponenya nggak bisa dihubungi."
Usai menjelaskan semuanya, Ahyar dan Aiza malah semakin kebingungan, jika putri bungsunya sedang tidak ada masalah dengan menantunya, lalu apa yang menyebabkan Alesya menangis dan tidak ingin diganggu.
"Lula, kamu temui Adikmu, bujuk dia untuk bertemu dengan Afnan."
Perintah Ahyar langsung di turuti oleh Alula dengan senang hati, akhirnya Ahyar berpikir sama dengannya.
Sementara di dalam kamarnya, Alesya masih saja kepikiran tentang ucapan-ucapan yang tidak mengenakkan hatinya itu, padahal dia sudah bersusah payah untuk tidak mengingatnya tetapi tetap saja ucapan-ucapan yang menghinanya telah menyakiti hati dan perasannya.
"Kalian berhasil membuat aku seperti ini, kalian berhasil menyakiti aku dengan kata-kata menyakitkan itu."
Alesya membenci kejadian tadi, dia membenci atas semua yang terjadi padanya, semua mahasiswi di kampusnya sudah tahu siapa dirinya dan dia akan menghadapi cemoohan mereka setiap hari, dan itu bukan hal yang mudah baginya, tidak ada pilihan lain selain mengakhiri semuanya dengan menuruti keinginan mereka, jika tidak kuliahnya akan berantakan karena dia tidak sanggup untuk menapaki kakinya di lorong kampus.
"Dan sekarang Silmi juga ikut membenci aku, lengkap sudah penderitaanku ini. Sil seharusnya kamu ada disaat aku menghadapi masalah berat ini bukan malah kamu juga ikut membenci aku."
__ADS_1
Alesya masih ingat kejadian tadi pagi dimana Silmi begitu kecewa setelah mengetahui bahwa sahabatnya adalah istri dari laki-laki yang mereka benci, Alesya tahu bagaimana perasaan Silmi saat ini dan dia juga akan bersikap seperti apa yang Silmi lakukan kepadanya.
Tok... tok... tok...
Pandangan Alesya tertuju kearah pintu kamarnya, siapa yang mengetok pintu kamarnya?, apakah itu Afnan?, tetapi tidak mungkin karena Alesya sudah memberitahu kepada Ayahnya bahwa untuk saat ini dia tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu, lantas siapa yang sedang mengetok pintu?
"Dik, ini Kakak, boleh Kakak masuk?"
Alula yang sedang mengetok pintu bahkan dia meminta izin kepada Aleysa untuk masuk ke dalam kamar Adiknya. Alesya sudah jauh lebih baik, usai sholat isya' di kamarnya dan menumpahkan semua air matanya dihadapan sang ilahi Robbi, dia mendapatkan ketenangan.
"Masuk saja." Jawabnya datar.
Dengan penuh syukur Alula segera membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam menemui Alesya yang sedang duduk ditepian ranjangnya dengan pandangan lurus ke depan bukan ke arah Kakanya yang sudah duduk di sampingnya.
"Dik, di luar ada Afnan, dia ingin bertemu sama kamu."
Dengan tatapan tajam Alesya menoleh ke wajah sang kakak yang baru saja mengatakan bahwa laki-laki yang tidak ingin ditemuinya sedang berada di rumahnya bahkan ingin bertemu dengannya.
"Aku nggak mau bertemu sama dia." Tolak Alesya dengan tegas.
"Tapi Dik, dia itu suami kamu, kalau kalian ada masalah itu diselesaikan jangan kabur-kaburan sepeti ini."
"Tapi aku belum bisa bertemu sama dia sekarang Kak, tolong Kakak mengerti posisi aku." Ujar Alesya yang masih dengan pendiriannya.
"Terus kalau kamu nggak bertemu sama suami kamu, masalah ini nggak akan selesai, kamu sudah dewasa, berhenti bersifat kekanak-kanakan seperti ini Dik."
Sebenarnya Alesya belum siap untuk bertemu dengan Afnan, tetapi ucapan Kakaknya ada benarnya, jika dia tidak bertemu dengan Afnan maka masalah mereka tidak akan pernah terselesaikan.
"Baik Kak, aku mau bertemu sama dia, tolong Kakak panggil dia ke sini."
Alula dapat tersenyum ketika sang Adik akhirnya mau mendengarkan nasihatnya untuk bertemu dengan Afnan agar masalah yang mereka hadapi segera tuntas.
Kini Afnan sudah berdiri di ambang pintu sementara Alesya berdiri di depan jendela kamarnya menatap indahnya bintang bertaburan di langit yang hitam.
Afnan mulai melangkahkan kakinya menghampiri sang istri yang mengetahui kedatangannya tetapi enggan untuk menoleh kebelakang di mana ia sedang berdiri.
"Sya kamu kenapa?, apa yang terjadi sampai kamu nggak ingin bertemu sama aku, apa aku ada salah sama kamu?"
"Kekhawatiranku akhirnya terjadi juga, Kalista sudah tahu tentang jati diriku yang sebenarnya dan dia juga berhasil membuat semua fansmu menghinaku dengan kata-katanya yang menyakitkan itu."
Air mata Alesya tak dapat dibendung lagi hingga akhirnya terjatuh membasahi wajah cantiknya yang diselimuti oleh rasa kekesalan atas apa yang telah Kalista perbuat kepadanya.
"Aapa?, jadi Kalista sudah tahu kalau kamu adalah istriku?"
Afnan benar-benar tidak percaya akan secepat ini Kalista membongkar rahasia yang mereka sembunyikan dengan rapat, kekhawatiran istrinya ternyata bukan hanya sebuah kekhawatiran tetapi sebuah firasat yang benar-benar terjadi.
"Jadi kamu menangis seperti ini karena Kalista dan mahasiswi-mahasiswi di kampus menghina kamu Sya?, dan dalangnya adalah Kalista?, keterluan dia!"
"Iya itu semua gara-gara kamu, gara-gara aku menikah sama kamu semua orang membenciku bahkan sahabat aku sendiri juga membenciku."
"Apa?, Silmi juga ikut membenci kamu?"
Afnan sangat terkejut bahwa bukan hanya Kalista dan mahasiswi-mahasiswi di kampusnya yang mengetahui tentang status Alesya sebagai istrinya tetapi juga Silmi sahabat Alesya, betapa marahnya Silmi kepada Alesya, itulah yang membuat Alesya sangat bersedih karena sahabatnya ikut membenci dirinya.
"Sekarang aku minta sama kamu keluar dari kamarku, aku ingin sendiri dulu."
"Tapi Sya, aku janji aku akan menyelesaikan semuanya ini, dan aku harap kamu jangan pedulikan omongan mereka terutama omongan Kalista, kamu tahu sendiri kan siapa itu Kalista, jadi aku mohon jangan pedulikan hal itu."
Dengan berat hati Alesya langsung mendorong Afnan untuk keluar dari kamarnya, sementara Afnan tidak bisa berbuat apa-apa, dia bingung harus berbuat apa, tetapi sepertinya saat ini istrinya memang membutuhkan waktu untuk sendiri.
∆∆∆∆∆
"Assalaamu 'alaikum."
Dengan suara lemas Afnan mengucapkan salam, mengejutkan Izma dan Zawir yang sedang mengisi malam mereka dengan duduk berdua di ruang keluarga sembari menyeruput teh hangat buatan Izma.
"Wa 'alaikumus salaam."
"Afnan." Ucap Izma dengan lirih ketika melihat putra sulungnya sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Dengan rasa hormat Afnan mencium punggung tangan mami dan papinya secara bergiliran. Lalu tanpa permisi Afnan main nyelonong saja duduk di samping Izma bahkan menyandarkan kepalanya disalah satu pundak Izma. Sementara Zawir yang melihatnya dibuat geleng-geleng kepala saja.
"Kenapa lagi kamu Afnan?, istri kamu menginap lagi di rumah orang tuanya?, dan kenapa kamu nggak ikut menginap juga, malah ganggu Papi dan Mami di sini." Oceh Zawir dengan kesal karena istrinya malah mengelus-elus kepala putranya seharusnya dia yang berada diposisi putranya itu.
"Iya Papi, kali ini Alesya pulang ke rumahnya dia lagi ngambek sama Afnan, dan Afnan nggak dibolehkan menginap di sana juga."
"Mami, Afnan nggak bisa tidur tanpa Alesya, Afnan sudah kecanduan sama Alesya, Mami."
Seperti anak kecil saja Afnan merengek kepada Izma dikarenakan malam ini dia tidur tanpa Alesya di sampingnya. Berat sekali rasanya bagi Afnan yang sudah kecanduan tidur bersama dengan istrinya, Izma yang mendengarkan curhatan putra sulungnya terlihat merana sekali ditinggal sama istrinya, Alesya benar-benar telah membuat putra sulungnya itu tidak bisa hidup tanpanya.
"Yang sabar ya Nak, untuk malam ini kamu tidur sendiri saja dulu seperti waktu itu kan." Ucap Izma dengan tenang.
Tatapan mata Afnan menjelajah seluruh sudut rumahnya yang mewah nan glamor, sepertinya dia sedang mencari seseorang siapa lagi kalau bukan sang Adik, Ziva Kinanah.
"Oh ya Mami, Zizi ke mana?, kok nggak kelihatan, biasanya kalau Afnan datang ke sini dia senang banget meledek Afnan."
"Zizi sudah tidur katanya capek banget, soalnya tadi ada matkul tambahan katanya." Jawab Izma menjelaskan tentang keberadan sang putri bungsu.
"Kalo gitu Afnan ke kamarnya Zizi dulu ya"
Afnan pun beranjak dari tempat duduknya, tetapi sebelumnya sempat ditahan oleh mami Izma, namun papi Zawir malah menyuruhnya untuk segera menuju kamar adiknya supaya dia bisa menggantikan posisi Afnan tadii yaitu tidur dipundak sang istri tercinta. Mami Izma yang mendapati suaminya sudah meletakkan kepalanya dipundaknya hanya dapat geleng-geleng kepala saja.
Kreg
Kamar yang bernuansa serba pink berhasil Afnan masuki, pintunya tidak terkunci sehingga dengan mudahnya Afnan masuk kedalam, didapatinya sang adik yang begitu nyenyaknya terlelap, lampu yang baru saja dinyalakan langsung membuat kedua mata Ziva bergerak sepertinya dia merasa silau akam cahaya yang dihasilkan oleh lampu kamarnya, siapa yang menyalakan lampu kamarnya yang tadinya sudah ia matikan.
"Zi, bangun dong, Bang Af mau curhat nih."
Kini Afnan sudah duduk disamping adiknya yang merasa terganggu sekali akan kehadirannya, dengan malas Ziva membuka matanya tetapi Afnan rupanya menginginkan lebih dari itu, dia langsung menarik lengan Ziva sehingga Ziva sudah berganti posisi yaitu duduk sambil bersandar di dipan ranjangnya.
"Aduh Bang Af, ada apa sih malam-malam ganggu Zizi bobok cantik, lagi pula tumben ke kamar Ziva, ada apa Bang?"
"Zi, Alesya marah sama Bang Af."
Seketika kedua mata Ziva membulat sempurna. Rasa kantuk yang tadinya menyelimuti mata Ziva langsung hilang dalam sekejab, Afnan berhasil membuat adiknya tidak merasa ngantuk lagi.
"Astaghfirullahal adzim, kok sampai Kak Al marah sama Bang Af, memangnya Bang Af melakukan apa sampai Kak Al marah?"
Ziva tidak habis pikir apa yang dilakukan abangnya itu sehingga membuat kakak ipar kesayangannya itu marah kepadanya. Bagaikan diinterogasi oleh polisi Afnan malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bang Af nggak melakukan apa-apa Zi, tapi para fans Bang Af terutama si Kalista dia berhasil memprovokasi para fans Bang Af di kampus."
"Hah?, memangnya Kalista melakukan apa Bang Af sama Kak Al?" Tanya Ziva geram mendengar nama Kalista disebutkan.
"Kalista membuly Alesya dengan perkataan yang nggak sepantasnya, dan para fans Bang Af juga ikut-ikutan."
Kemarahan Ziva sudah berada di puncak setelah mengetahui perbuatan yang tidak terpuji yang dilakukan oleh perempuan ternekat itu, ditambah lagi Ziva kenal betul siapa Kalista, untuk mendapatkan Afnan dia nekat melakukan apa saja bahkan Ziva sendiri pernah menjadi korban atas kenekatannya itu dan ini tidak bisa dibiarkan apalagi kakak ipar tersayangnya yang menjadi korban saat ini.
"Astaghfirullahal adzim tuh perempuan nggak ada taubat-taubatnya berbuat jahat, Zizi nggak bisa diam saja Bang Af, lihat saja kamu Kalista, kamu akan mendapatkan balasan atas perbuatan kamu sama Kak Al."
Baru kali ini Afnan melihat sang adik begitu marahnya sampai kedua tangannya mengepal menandakan kemarahan yang sedang berapi-api. Begitu sayangnya kah Ziva kepada Alesya sampai ia tidak terima atas apa yang menimpa kakak iparnya itu.
"Dan Silmi juga ikut menjauhi Alesya, sampai Alesya merasa sangat sedih atas kejadian ini, Bang Af sudah nggak tahu lagi harus berbuat apa, makanya Nang Af datang ke sini meminta bantuan kamu Zi, otak Bang Af sudah nggak bisa berpikir lagi karena Alesya nggak mau bertemu dulu sama Bang Af untul saat ini."
Afnan sangat berharap agar adiknya dapat membantunya menyelesaikan masalah ini, karena dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, percuma juga kalau dia melabrak Kalista karena Kalista tidak akan pernah mendengarkannya karena telah dibutakan oleh cintanya kepada Afnan.
"Apa?, Kak Sil juga ikut-ikutan menjauhi Kak Al?, pasti Kak Sil juga sudah tahu kalau Kak Al istrinya Bang Af, ya Allah kasihan banget sih Kak Alnya Zizi, pasti sedih banget soalnya dijauhi sama sahabatnya sendiri."
Afnan pun turut sedih. "Makanya itu Zi, tolong bantu Bang Af ya."
Ziva mengangguk dengan sangat yakin. "In syaa Allah Bang Af, Zizi akan bantu menyelesaikan masalah ini, Bang Af tenang saja, perempuan nggak punya malu itu nggak akan pernah memunculkan diri dihadapan Bang Af, lihat saja besok."
Sepertinya ziva sudah sangat yakin akan membuat Kalista menjauh dari abangnya, bahkan dia sudah mempunyai rencana untuk Kalista besok, tidak sabar rasanya bagi Ziva untuk cepat-cepat besok agar Kalista tidak lagi mengusik ketenangan abangnya bersama kakak iparnya tersayang.
∆∆∆∆∆
Kini Afnan sudah terbaring di kasur empuk kamarnya yang sudah lama ia tinggali dikarenakan dia memilih untuk tinggal di rumahnya sendiri. Hari sudah larut malam tetapi Afnan belum kunjung tertidur yang ada dia membolak-balikkan tubuhnya mencari posisi ternyaman agar dapat terlelap tidur tetapi semuanya gagal walaupun berkali-kali juga dia menutup matanya tetapi wajah Alesya selalu muncul dalam pikirannya, Alesya telah berhasil membuatnya tidak bisa tidur bahkan dia begitu rindu akan wajah dan senyuman istrinya tersebut.
"Sya, aku benar-benar nggak bisa tidur tanpa kamu, aku sudah kecanduan akan kehadiran kamu di samping aku Sya, semoga masalah ini cepat selesai ya, supaya aku bisa sepuasnya memandang wajah cantik kamu istriku Sayang."
__ADS_1
Karena rasa kantuk yang tidak kunjung datang, Afnan bosan terbaring di tempat tidurnya, dia pun beranjak dari terbaringnya kemudian menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan menunaikan sholat malam, lebih baik dia berkomunikasi dengan Robbnya ketimbang terbaring di tempat tidurnya tetapi tidak bisa memejamkan matanya.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤