
Bukan jarak yang memisahkan
Tetapi perbedaanlah
yang menciptakan jarak
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah
Selamat membaca
Semoga suka
π»π»π»
5 Hari Kemudian
Hari ini para undangan beramai-ramai menghadiri acara aqiqah si kembar putra dan putri dari Afnan dan Alesya di rumah mereka tentunya. Tepat dijam 14.00 siang acara aqiqahnya dimulai. Keluarga besar Afnan dan Alesya sudah berkumpul sejak tadi pagi di rumah mereka. Alula dan Faqih juga sudah datang bersama papa David dan juga Ali juga tentunya. Mereka kompak menggunakan pakaian senada berwarna silver. Tentunya atas pemintaan sang tuan rumah yang memang penyuka warna silver. Ini sudah acara ketiga di mana Alesya menggunakan pakaian berwarna silver. Yaitu yang pertama kali saat pernikahannya, yang kedua saat wisuda dan yang ketiga ini saat aqiqah bayi kembarnya.
Sang ustadz yang diundang untuk mengisi acara aqiqah si kembar sudah memulai acaranya dengan mengucapkan bismillah terlebih dahulu, setelah itu memimpin doa yang dikhususkan untuk sang punya hajat kemudian untuk kedua bayi yang tepat hari ini berumur 7 hari dimana diwajibkan untuk diaqiqah.
Sebagaimana Dari Samurah bin Jundab berkata jika Rasulullah bersabda, βSemua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya di sembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.β [Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, NasaβI 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya].Β Β
Aqiqah merupakan perayaan menyembelih kambing yang dilakukan sebagai bentuk dari rasa syukur karena bayi yang baru lahir. Untuk persyaratan jumlah kambing yang akan di sembelih antara bayi laki-laki dan perempuan juga berbeda yakni 1 ekor kambing untuk anak perempuan dan 2 ekor kambing untuk anak laki-laki.
Usai pembacaan doa selesai. Sang ustadz mempersilahkan Afnan selaku ayah dari sang bayi kembar untuk mengumumkan nama-namanya. Agar semua para tamu undangan beserta keluarga mengetahui nama-nama yang akan disematkan kepada si bayi kembar yang saat ini sedang diletakkan di tempat yang sudah disediakan untuk mereka yaitu ditengah-tengah Alesya dan Afnan.
"Assalaamu 'alaikum warohmatullah wabarokaatuh."
"Wa 'alaikumus salaam warohmatullah wabarokaatuh."
"Hari ini saya selaku Ayah dari kedua bayi yang saat ini sedang melaksanakan aqiqah akan mengumumkan nama-nama dari bayi kami yang kembar, yang alhamdulillah berjenis kelamin laki-laki dan perempuan."
"Bayi pertama kami yang berjenis kelamin laki-laki kami beri nama Arsya putra Rafisqy, dan bayi kedua kami yang berjenis kelamin perempuan kami beri nama Arsy putri Rafisqy."
"Yang memiliki arti singgasana putra dan putri yang sempurna. Kami juga meminta doanya untuk semua yang hadir disini semoga kedua bayi kami menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah."
"Aamiin."
Alhamdulillah, akhirnya setelah seminggu dilahirkan si bayi kembar sudah mempunyai nama-nama indah yang disematkan oleh Babanya lima menit yang lalu.
Usai rentetan acara aqiqah dilaksanakan dengan lancar semua tamu undangan bergegas meninggalkan tempat acara dengan tak lupa kedua orang tua si bayi kembar yang baru saja menyelenggarakan acara aqiqah mengucapkan terima kasih kepada para tamu undangan atas waktunya yang menyempatkan untuk hadir ikut serta mensyukuri kelahiran Arsya & Arsy ke dunia.
Dalam sekejab istana keluarga kecil Afnan dan Alesya sudah kembali sunyi lantaran para tamu undangan sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Kini hanya tinggal keluarga inti yang masih meramaikan rumah berlantai dua tersebut.
Jangan ditanya lagi si kembar di mana keberadaannya, sudah pasti mereka berhasil menjadi pusat perhatian keluarga besarnya. Bahkan sang Umma dan Babanya mau tidak mau harus mengalah yang terpenting keluarga besar mereka bahagia karena kehadiran anggota keluarga baru yang akan meramaikan kehidupan mereka.
Kini mereka sedang berkumpul dengan duduk santai di ruang tamu sambil ditemani jus buah serta puding buah yang dikirim langsung dari jus cafe milik Afnan.
"Alula, sini, coba kamu gendong Arsy, hitung-hitung belajar menggendong sejak dini supaya nanti kalau sudah punya anak jadi nggak kaku lagi."
Alula terkejut. Farha menyuruhnya untuk menggendong bayi Arsy yang sedang dalam dekapan Farha. Awalnya Alula ragu dan enggan untuk menuruti keinginan mamanya. Karena dia takut salah gendong atau malah takutnya bayi Arsy malah jatuh dari gendongannya. Maklum Alula kan belum pernah menggendong bayi. Namun Alesya membujuk Alula terus-menerus sehingga Alula akhirnya menghampiri Farha untuk mencoba menggendong Arsy. Begitu hati-hatinya Alula menggendong Arsy sampai dia tidak ingin bergerak karena takut terjadi apa-apa. Semua orang yang melihatnya dibuat tertawa meskipun mereka tahan agar Alula tidak merasa kesal. Namun setelah cukup lama akhirnya Alula tidak kaku lagi bahkan mengayun-ayunkan tubuh mungil Arsy yang berada dalam dekapannya.
"Faqih juga belajar gendong bayi. Ayo sini gendong Asrya."
Giliran Faqih yang disuruh menggendong juga.
Kali ini David yang menyuruhnya lantaran bayi Arsya sedang berada dalam dekapannya. Jika tadi Alula harus dibujuk berkali-kali, Faqih tidak. Karena Afnan langsung menariknya untuk menuju papa David. Akhirnya sepasang suami istri yang masih hangat-hangatnya saat ini sama-sama menggendong bayi Arsya dan Arsy yang tidak lain adalah keponakan mereka sendiri.
Disaat yang lain sedang fokus memperhatikan si kembar. Alesya malah terfokus menatap Farha yang beranjak ingin ke kamar mandi. Alesya menghampirinya dan membawanya sedikit menjauh dari ruang tamu.
Akibat kesibukannya menyiapkan acara aqiqah kedua anaknya. Alesya sampai tidak memperhatikan sang mama yang terlihat berbeda hari ini. Menggunakan gamis lengkap dengan khimar syarinya. Alesya begitu pangling melihat mamanya saat ini yang auranya terpancar begitu saja.
"Maa syaa Allah, hari ini Mama cantik banget, aku sampai pangling lihatnya."
Farha yang sedang dipuji oleh sang Putri bungsu tersenyum dengan malu-malu. Dia pun membenarkan khimarnya untuk menutupi salah tingkahnya.
__ADS_1
"Ah masa sih, kamu jangan berlebihan begitu memuji Mama Alesya, nanti Mama malah jadi nggak percaya diri nih."
"Serius Ma, Mama cantik banget hari ini, pasti tadi Papa memandangi Mama sampai nggak berkedip ya?." Goda Alesya yang membawa-bawa David disela-sela pujiannya.
"Alhamdulillah akhirnya gamis yang aku belikan dipakai juga sama Mama, aku senang banget tahu Ma."
Tanpa berlama-lama lagi Alesya sudah berhambur dipelukanamanya yang dengan senang hati membalas pelukan putri bungsunya.
Tak terasa air mata jatuh di pelupuk mata Farha. Alesya terkejut dan langsung bertanya kepada Mamanya.
"Ma?, Mama kenapa menangis?, Mama kok sedih?"
Farha menggeleng pelan. "Mama sedih, karena Mama pernah membenci anak sesholihah kamu Alesya, seharusnya Mama bangga, bukan malah membenci kamu."
Alesya menggeleng-gelengkan kepala menyatakan ketidakinginan mengungkit masalalu yang sudah tertinggal jauh. Dengan lembut Alesya mengusap air mata mamanya. Lalu memeluknya dengan sangat erat.
"Mama nggak usah ingat-ingat itu lagi. Itu sudah berlalu Ma, yang terpenting sekarang keluarga kita kembali utuh, itu sudah cukup bagi aku Ma."
Sungguh mulia hati Alesya. Sama sekali tidak ada rasa dendam atau marah atas apa yang telah Mamanya perbuat diwaktu dulu. Sejujurnya Alesya merasa kecewa dan sedih saat itu walau bagaimanapun dia seorang manusia yang memiliki hati dan perasan. Namun itu sudah berlalu. Tidak baik Menyimpan dendam apalagi kepada ibu yang sudah melahirkannya. Yang terpenting sekarang Alesya harus banyak bersyukur karena Allah sudah mengembalikan keluarganya dengan utuh. Bahkan menambahkan dua anggota baru dikeluaganya yaitu si kembar Arsya dan Arsy.
"Alesya."
Ahyar dan Aiza muncul dihadapan Alesya secara tiba-tiba. Farha mengusap air matanya dengan cepat agar tidak menampakkan kesedihan didepan mantan suami dan istri dari mantan suaminya sekaligus ibu sambung anak-anaknya.
"Ayah, Bunda, kalian mau ke mana?, jangan bilang sudah mau pulang?"
Alesya memperhatikan kedua orang tuanya yang sepertinya akan pulang lantaran Aiza sudah menenteng tasnya.
"Iya Sayang, Bunda sama Ayah pulang dulu ya, in syaa Allah besok kembali lagi ke sini." Ucap Aiza sembari mengulas senyuman ke arah Farha yang ikut membalas senyumannya.
"Lho kok sudah mau pulang sih?, kan kita masih kumpul-kumpul."
Alesya tampak kecewa karena kedua orang tuanya sudah buru-buru ingin pulang padahal dia masih ingin berkumpul bersama-sama apalagi ini moment langka yang tidak setiap hariΒ bisa mereka lakukan.
"Lesya. Ayah sama Bunda harus pulang soalnya setelah ini kita harus menghadiri acara pernikahan anak temannya Ayah di kantor. Nggak apa-apa ya kami pulang duluan."
Alesya bisa apa jika memang itu alasannya. Ya sudahlah tidak apa-apa toh juga mereka pasti akan datang lagi ke rumahnya untuk menjenguk cucu-cucu mereka.
"Mas Ahyar, Aiza maafkan aku ya, selama ini aku sudah banyak salah sama kalian, aku sudah sering melukai hati kalian dengan kata-kata yang tidak pantas aku ucapkan. Tolong maafkan aku Mas Ahyar, Aiza."
"Aku sudah memaafkan kamu Farha, kita ini keluarga jadi sudah seharusnya saling memaafkan."
"Iya Mbak Farha, saya juga tidak pernah merasa sakit hati atas apa yang dulu Mbak Farha ucapkan kepada saya. Lagi pula itu semua sudah berlalu. Saat ini kita sudah bersatu kembali menjadi keluarga. Jadi sudah saatnya saling menyayangi satu sama lain."
"Terima kasih Mas, terima kasih Aiza kalian adalah orang-orang yang baik, aku bersyukur bisa berada ditengah-tengah keluarga ini, keluarga yang in syaa Allah orang baik semua."
"Aamiin." Dengan kompaknya Alesya ikut mengucapkan kata aamiin.
Akhirnya keluarga besar yang selama ini Alesya impian sudah bersatu kembali. Farha yang berstatus sebagai Mama kandungnya kini bisa berdamai dengan Ahyar dan juga Aiza. Diantara mereka sudah tidak ada lagi rasa benci dan amarah yang ada adalah cinta dan kasing sayang yang menyelimuti hati mereka.
βββββ
Lambaian tangan Afnan dan Alesya mengiringi kepulangan keluarganya ke rumahnya masing-masing. Hari sudah sore acara perkumpulan keluarga mereka harus dibubarkan. Mobil yang membawa Zawir, Izma juga Ziva lebih dulu keluar dari pekarangan rumah Afnan dan Alesya Kemudian disusul mobil yang dikemudikan Faqih dan Alula. Kedua mobil tersebut akhirnya lenyap dari pandangan Afnan dan Alesya. Mereka pun bergegas masuk ke dalam rumah menjumpai si kembar yang sedang di gendong oleh Farha dan David. Untuk malam ini mereka akan menginap di rumah Afnan dan Alesya lantaran besok sudah harus kembali ke Singapura beserta Alula dan Faqih juga.
"Einy, biar aku saja, kamu temani Mama sama Papa saja ya."
Alesya menuruti perintah Afnan untuk bergabung bersama kedua orang tuanya yang sedang mengajak mengobrol Arsya dan Arsy bersama Ali juga. Sementara Afnan membereskan piring-piring kotor di meja yang tadinya ingin Alesya bereskan.
"Abang Ali nggak mau gendong adik Arsya sama adik Arsy?"
Alesya mengajak ngobrol Ali saat sudah duduk di samping Ali yang sedang memperhatikan kedua Adik bayi yang sedang digendong oleh Mama dan Papanya.
"Nggak Kak Ale, Ali takut Adik kembar jatuh."
Alesya tersenyum. "Ya sudah kalau begitu cium saja ya adik Arsya sama adik Arsynya."
Ali mengangguk seraya mencium pipi Arsya dan Arsy secara bergantian.
Farha tidak sengaja menoleh kearah Afnan yang melenggang pergi menuju dapur dengan membawa piring-piring kotor.
"Alesya, itu kok Afnan yang bereskan semuanya?"
__ADS_1
Alesya sempat menoleh kearah Afnan yang sudah tidak kelihatan lagi. "Iya Ma Afnan sendiri kok yang mau, lagi pula dia sudah biasa bantu-bantu aku membereskan rumah, contohnya ya seperti sekarang, dia lagi cuci piring di dapur."
Farha tak percaya bahwa menantunya akan melakukan hal itu. Dikarenakan kebanyakan laki-laki bahkan suaminya sendiri tidak pernah berinisiatif membersihkan rumah apalagi mencuci piring.
"Ah masa sih?"
Alesya terkekeh melihat mamanya menyerngitkan dahi tak percaya. "Iya Mama, kalau Mama nggak percaya lihat saja ke dapur."
Farha penasaran sekali, apakah benar Afnan saat ini sedang mencuci piring?. Untuk menepis rasa penasarannya akhirnya Farha beranjak menuju dapur sebelum itu ia memberikan Arsy kepada Alesya.
Kedua mata Farha membulat sempurna. Melihat Afnan sedang asyik mencuci piring yang hampir selesai.
"Afnan-, kamu- mencuci piring?"
Afnan terkejut. Farha sudah berdiri didekatnya. Memperhatikan dirinya yang sedang mencuci piring.
Dengan cepat Afnan menyelesaikan pekerjaannya. Lalu menatap Mama mertuanya yang sudah menunggu jawaban darinya.
"Iya Ma, Mama perlu sesuatu?"
Farha menggeleng pelan. Masih tak percaya akan apa yang dilihatnya tadi. Seorang laki-laki mencuci piring di dapur. Moment langka sekali.
Afnan tersenyum canggung melihat sang Mama mertua tiada henti memperhatikannya dengan tatapan berbinar-binar dan tersenyum manis.
Farha mengelus-elus pundak Afnan sambil tersenyum. "Maa syaa Allah, beruntung sekali anak Mama mempunyai suami seperti kamu Afnan, suami yang sempurna. Mama bangga sama kamu. Mulai saat ini Mama akan menyayangi kamu seperti anak Mama sendiri."
Farha mengelus pipi Afnan dengan lembut. Air mata jatuh di pipinya. "Kamu menantu kesayangan Mama."
Rasa bahagia tidak dapat disembunyikan lagi oleh Afnan. Akhirnya Mama mertuanya mengakuinya sebagai menantunya. Suami dari putri bungsunya. Bahkan sudah menganggapnya layaknya anak sendiri.
"Terima kasih Ma, sudah mau menerima aku sebagai menantu Mama, suami dari Alesya, putri bungsu Mama.. "
Farha mengangguk berkali-kali menyatakan bahwa dirinya memang sudah seharusnya menganggap Afnan sebagai menantunya.
"Sini peluk Mama menantuku."
Dengan rasa haru Afnan memeluk Mama mertuanya yang sudah menerimanya dengan senang hati. Akhirnya Afnan merasakan juga hangatnya pelukan dari Mama mertua yang selama ini ingin dia rasakan.
βββββ
Afnan dan David beserta Ali usai menunaikan sholat isya' berjamaah di masjid yang tak jauh dari rumah mereka. Dibukanya pintu rumah dengan cepat oleh Ali. Kemudian berlari menuju Farha yang sedang duduk sambil menimang Arsy sementara Arsya tertidur di sebelahnya. Afnan dan David yang berjalan dibelakang Ali hanya geleng-geleng kepala seraya tersenyum melihat Ali yang begitu girangnya mengelus-elus bayi Arsya.
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam."
"Papa sini gendong adik Arsya, cepat Pa."
David segera menghampiri Ali. Kemudian menimang Arsya dan duduk di sebelah Farha. Ini moment langka yang tidak boleh terlewatkan. Baik Farha maupun David mereka begitu menikmati kebersamaan dengan cucu-cucunya lantaran besok mereka sudah harus kembali ke Singapura dan tentunya tidak akan bisa menimang cucu-cucu mereka seperti saat ini.
Afnan memperhatikan seluruh sudut ruangan rumahnya. "Mama, Alesya mana ya Ma?, kok nggak ada di sini?" Tanya Afnan yang mencari keberadaan Alesya.
"Alesya sudah ke kamarnya, Mama yang menyuruh dia istirahat, soalnya dari tadi pagi dia belum istirahat, kamu juga sebaiknya istirahat saja Afnan. Si kembar biar Mama sama Papa yang jaga."
"Benar itu Afnan, kamu istirahat saja,Β biar malam ini si kembar tidur sama Papa dan Mama, soalnya besok kami kan sudah kembali lagi ke Singapura."
"Mama juga sudah bilang tadi sama Alesya, dia izinkan kok."
Afnan tersenyum. "Kalau begitu Afnan pamit ke kamar dulu ya Ma, Pa."
Dengan kompak Farha dan David mengangguk. Mempersilahkan Afnan untuk segera ke kamarnya di lantai atas. Baik sekali kedua mertuanya itu. Tahu saja jika Afnan sudah lelah akibat seharian tadi belum istirahat sama sekali.
Afnan memasuki kamarnya dengan hati-hati. Takut Alesya terbangun dari tidurnya. Dengan pelan Afnan mulai menaiki ranjangnya. Menyusul Alesya yang sudah terlelap sejak tadi. Tetapi Afnan tidak langsung tertidur melainkan sedang menatap lekat wajah cantik Alesya yang meneduhkan hatinya.
Afnan menyingkirkan anak rambut yang menghalangi kecantikan wajah istrinya. Dengan lembut Afnan membelai wajah sang istri yang kulitnya lembut bagaikan bayi yang baru lahir.
Kedua mata Alesya perlahan terbuka. Wajah tampan Afnan sangat dekat dengan wajahnya. Afnan merasa bersalah karena telah mengusik tidur nyenyaknya sang istri. Ia pun ingin beranjak agar Alesya dapat terlelap kembali. Tetapi tak disangka Alesya memegang tangan Afnan menahannya agar tidak beranjak.
"Jangan bangun Alby, sini tidur lagi di samping aku."
Afnan kembali terbaring. Alesya meraih tangannya dan diletakkanΒ di pipinya. "Belai aku lagi Alby, aku ingin dibelai kamu."
__ADS_1
Dengan senang hati Afnan menuruti keinginan sang istri. Membelainya dengan mesra. Alesya pun tertidur dalam keadaan memeluk tubuh Afnan dengan sangat erat. Tentunya pelukan cinta. Hingga akhirnya mereka tertidur dalam keadaan sedang berpelukan ria.
ππππππππππππππ