Takdir Terindah

Takdir Terindah
Pembuktian


__ADS_3

Jangan mau kalah dengan godaan syeitan


Sebab syeitan akan selalu menggoda manusia


Buktikan bahwa dirimu manusia yang kuat


Takkan terperdaya akan godaan syeitan


~Takdir Terindah~


Ukhfira


~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~


Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah


Selamat membaca


Semoga suka


🌻🌻🌻


Kalista sudah melampau batas, tidak seharusnya dia berbuat hal yang tidak diinginkan oleh Ziva, sebagai adik ipar yang teramat menyayangi kakak ipar pilihannya, Ziva tidak bisa diam saja, ditambah lagi dia mengorek apa saja yang dilakukan Kalista kemarin kepada Alesya dan betapa terkejutnya Ziva ketika mengetahui bahwa kakak iparnya ditampar oleh Kalista, rasanya tangan Ziva sudah gatal ingin membalas perlakuan kasar itu kepada Kalista, perempuan tidak tahu diri dan berani berbuat kasar.


Ziva mulai melangkahkan kakinya dengan cepat ketika melihat seseorang yang dicari-cari sedang duduk santai di taman bersama teman-temannya.


Melihat kedatangan Ziva yang berwajah masam, membuat Kalista kebingungan dan langsung berdiri untuk membalas tatapan tajam dari Ziva.


"Punya keberanian kamu menampakkan wajah dihadapan saya?." Tanya Kalista dengan merendahkan Ziva.


Plak


Tangan Ziva melayang bebas di pipi Kalista yang dibuatnya kaget dan merasa kesakitan akibat tamparan keras tersebut.


Tak terima kedua teman Kalista ingin menampar Ziva juga namun Ziva sudah lebih dulu menahannya dengan tatapan sengit.


"Kalian nggak usah ikut campur, ini urusan Ziva sama dia." Ujar Ziva sambil menunjuk wajah Kalista yang memerah karena marah.


"Kenapa? kamu kaget Ziva tampar?, itu kan yang kamu lakukan sama Kakak ipar Ziva?"


Perkataan Ziva berhasil membuat Kalista tidak mengerti tetapi dia tahu kakak ipar yang dimaksudnya adalah Alesya karena kemarin dia memang menampar Alesya, tetapi kenapa Ziva mengatakan Alesya kakak iparnya?, Kalista benar-benar tidak mengerti.


"Kenapa?, kamu kaget?, perkenalkan aku Ziva Adik kandungnya Abang Afnan, kamu terobsesi menjadi istri dari Abang Ziva kan?, jangan mimpi!, karena sampai kapanpun Ziva nggak akan membuat mimpi kamu menjadi nyata."


"Ja-jadi kamu?." Ujar Kalista yang kaget sampai terbata-bata.


"Iya Ziva adiknya Abang Afnan, dan  Ziva yang menjodohkan Abang Afnan dengan Kak Alesya, karena Ziva tahu bagaimana wajah asli kamu, memalukan!, wajah boleh cantik tapi perbuatan buruk, ingat ya!, jangan pernah kamu dekati Abang Afnan lagi, karena kamu nggak akan pernah menjadi istri Abang Afnan, kamu seharusnya sadar diri, kenapa kamu nggak bisa mendapatkan Abang Afnan, ya karena hatimu nggak secantik wajahmu, assalamulaikum."


Dengan perasaan puas Ziva meninggalkan Kalista yang masih tidak percaya bahwa Ziva adalah adik dari laki-laki yang dia cintai, dan Ziva berharap dengan dia memberikan peringatan kepada Kalista, perempuan itu tidak akan pernah mendekati abangnya juga tidak akan pernah menyakiti kakak ipar tersayangnya.


"Sial!!!, aku sudah menghancurkan mimpi aku sendiri untuk mendapatkan Afnan."


Kalista benar-benar merasa menyesal karena dia telah berbuat salah bahkan dia tidak tahu menahu tentang Ziva yang mana adalah adik kandung dari Afnan, pupus sudah impiannya untuk menjadi istri dari Afnan.


"Maksud kamu bagaimana Kal?, Ziva itu hanya menggertak kamu, kamu masih bisa mendapatkan Afnan kok." Ujar salah satu temannya yang mengingatkan Kalista untuk tetap teguh dalam pendiriannya.


"Kamu nggak dengar tadi dia bilang apa, dia yang menjodohkan Afnan dengan Alesya itu artinya Afnan sangat percaya sama adiknya, dan adiknya sekarang sudah tahu bagaimana sifat asli aku, percuma kalau aku dekati Afnan karena Ziva sudah tahu bagaimana aku ini, sial kan?!"


"Tapi Kal, kamu masih bisa membuat Alesya melepaskan Afnan."


Usulan salah satu temannya yang ikut menyemangati Kalista tidak membuatnya dapat tersenyum bahagia, bahkan dia malah semakin meluapkan amarahnya yang tidak bisa dikontrol lagi.


"Percuma, kalaupun aku bisa membuat Alesya melepaskan Afnan, bukan berarti aku bisa mendapatkan Afnan, Ziva pasti nggak akan pernah terima aku sebagai Kakak iparnya, apa lagi setelah tahu bagaimana aku yang sebenarnya, sudahlah aku nggak mau memikirkan ini lagi, capek!"

__ADS_1


Dengan rasa kesal yang bercampur aduk dengan rasa marahnya, Kalista pergi meninggalkan teman-temannya yang saling mengkedikkan bahunya melihat Kalista yang marah sekali.


∆∆∆∆∆


Usai memperingatkan Kalista lebih tepatnya melabraknya, Ziva berharap perempuan itu tidak akan pernah memunculkan dirinya baik dihadapannya maupun dihadapan abang kandung dan kakak iparnya.


"Sekarang urusan Kalista sudah selesai, sekarang saatnya Ziva bertemu sama Kak Sil dan menjelaskan semuanya."


"Itu dia kak Sil." Ucap Ziva saat pandangan matanya tertuju kearah perempuan yang sedang duduk di bangku taman, sendirian.


"Assalaamu 'aikum Kak Sil." Sapa Ziva ketika sudah berdiri dihadapan Silmi.


Melihat Ziva yang sedang berdiri dihadapannya membuat wajah Silmi berubah seketika, sorotan matanya sangat tajam seolah ingin menerkam Ziva yang meringis melihatnya.


Silmi beranjak dari duduknya tetapi bukan untuk menatap Ziva melainkan pergi dengan langkah yang begitu cepat sehingga Ziva tidak bisa menahannya bahkan dia juga tidak bisa menyusulnya.


"Kak Sil-"


"Semarah itu Kak Sil sampai-sampai dia menghindar dari Ziva, nggak Ziva nggak boleh menyerah, ini semua demi Kak Al, Ziva harus jelaskan semuanya sama Kak Sil."


Seakan pantang untuk menyerah, Ziva melangkah pergi dari area taman, ntah ingin kemana dia, yang jelas dia akak menyeselaikan masalahnya sampai keakar-akarnya.


∆∆∆∆∆


Rasanya Alesya tidak bisa berdiam diri saja di kamarnya, dia harus melakukan sesuatu, dia harus tetap melanjutkan kuliahnya tetapi dia juga belum sanggup mendengarkan kata-kata kebencian dari teman-teman di kampusnya, Alesya harus bertindak ini demi masa depannya.


Kini di hadapan Alesya terdapat Ayah dan Bundanya yang senang melihat putri bungsunya sudah keluar dari kamarnya dan sekarang sudah duduk dihadapannya, begitupun dengan Alula yang baru saja meletakkan teh hangat untuk Ayah dan Bundanya.


"Alhamdulillah kamu sudah mau keluar Sayang, Bunda senang lihatnya." Ucap Aiza senang.


"Iya Ayah juga senang lihat kamu sudah tenang seperti ini Nak." Sambung Ahyar yang tak kalah senangnya.


Alesya tersenyum singkat, setelah itu dia kembali terdiam seperti ada yang dipikirnya sampai-sampai panggilan kakaknya yang tidak dihiraukan. 


"Aku nggak apa-apa Kak, aku cuma ingin mengatakan sesuatu."


Dari wajah serius yang ditampakkan oleh Alesya membuat kedua orang tuanya penasaran begitu juga dengan Alula yang sudah tidak sabar apa yang akan dibicarakan oleh adiknya itu.


"Kemarin aku menangis, karena aku dihina oleh teman-teman di kampus, mereka bilang aku nggk pantas menjadi istrinya Afnan, karena Afnan adalah Pangeran kampus idaman mereka, sedangkan aku, aku cuma perempuan kampungan yang nggak pantas mendapatkan cinta dari laki-laki sempurna seperti Afnan."


Air matanya sudah mengalir begitu saja, melihat adiknya sedih seperti itu Alula tidak bisa berdiam diri dia langsung duduk disamping adiknya bahkan memeluknya dengan erat membuat Alesya langsung menumpahkan air matanya dengan histeris.


Ahyar dan Aiza begitu kalut ketika mengetahui apa yang sedang terjadi kepada putri bungsunya, selama ini Ahyar menyayangi kedua putrinya dengan begitu tulus, bahkan selalu berusaha membuat kedua putrinya tersenyum bahagia, tetapi kini ada yang telah berani menyakiti hati putri bungsunya dengan menghinanya, ayah mana yang tak sakit hati jika anaknya diperlakukan seperti itu.


"Mereka pikir mereka siapa, seenaknya mereka menghina Adikku, ini namanya pembulian, ini nggak boleh dilakukan oleh siapapun, apa lagi sama kamu Dik, ini nggak bisa dibiarkan, Kakak nggak terima."


Sebagai Kakak yang menyayangi Adiknya sudah pasti Alula tidak terima akan penghinaan yang diterima oleh Adiknya itu, apa lagi Adiknya tidak seperti yang mereka hinakan, Adiknya adalah perempuan yang sempurna dan dia pantas mendampingi Afnan.


"Kakak aku sudah nggak apa-apa, tapi aku nggak bisa masuk kuliah, aku nhgak sanggup harus dihina terus-menerus."


"Iya Dik, Kakak mengerti, makanya mereka harus berhenti menyakiti kamu dengan perkataan mereka itu, ini harus dihentikan."


Tatapan Alesya kini tertuju kepada Ayah dan Bundanya yang sedari tadi hanya dapat menatapnya dengan perasaan luka yang sama sepertinya. Orang tua mana yang tidak ikut sakit hati ketika melihat anaknya tersakiti.


"Katakan Lesya, apa yang harus Ayah perbuat, apa kita laporkan saja mereka ke kantor polisi?"


Aiza dan Alula sangat menyetujui usulan Ahyar untuk membawa masalah ini kepihak yang berwajib, ini bukan perkara sepele, karena yang mereka sakiti adalah mental Alesya yang mana mental jauh lebih lama pengobatannya ketimbang raga yang dapat sembuh dengan dirawat secara intensif.


"Nggak Ayah, ini bukan salah mereka tapi ini salah aku, aku yang menyebabkan mereka menghinaku."


Apa yang Alesya katakan, mengapa dia menyalahkan dirinya sendiri yang jelas-jelas sebagai korban atas penghinaan dari teman-temannya di kampus, ini membuat keluarganya tidak habis pikir dengan cara pandanganya yang berbeda dengan mereka.


"Apa maksud kamu Dik, jelas-jelas mereka yang salah bukan kamu."

__ADS_1


"Aku yang salah Kak, aku harus menghentikan mereka untuk nggak menghinaku lagi dengan cara aku harus melepaskan Afnan."


Ucapan Alesya kali ini membuat kedua orang tuanya beserta Alula sangat terkejut, Alesya akan melepaskan Afnan, itu artinya dia ingin bercerai dengan Afnan.


"Lesya kamu bicara apa?." Tanya Ahyar nampak kecewa.


"Alesya, istighfar Sayang, jangan turuti bisikan syeitan." Ucap Aiza yang mengingatkan putri bungsunya untuk beristighfar agar terhindar dari godaan syeitan yang semakin nyata.


"Mereka nggak akan menghina kamu lagi, tapi bukan dengan cara kamu melepaskan Afnan, itu salah."


Alesya mengusap air matanya yang terjatuh. "Apa yang salah Kak?, mereka menghina aku karena aku menikah sama Afnan, jadi mereka nhgak akan menghina aku lagi kalau aku berpisah sama Afnan, karena itu yang mereka inginkan."


Alesya sudah benar-benar membuat kedua orang tuanya tidak tahu harus berkata apa, secepat inikah putri bungsunya harus mengakhiri pernikahannya yang baru seumur jagung dan hanya karena perbuatan teman-teman di kampusnya yang sengaja membuat Alesya mengakhiri pernikahannya.


"Alesya Sayang, kamu tahu kan kalau Allah membenci perceraian, tapi kenapa kamu akan melakukannya?"


Aiza mencoba mnegingatkan Alesya akan kebencian Allah terhadap kata cerai dan Alesya sudah tahu itu, tetapi mengapa kini dia akan melakukan perbuatan yang dibenci oleh Tuhannya.


"Nggak ada pilihan lain Bunda, lebih baik aku melepaskan Afnan dari pada aku harus berhenti kuliah, karena menjadi sarjana diusia muda itu adalah impianku, dan menikah muda bukan keinganku."


"Tapi kamu ingat dengan ucapan Mama kan Alesya?, kamu mau, membuat Ayah semakin dibenci sama Mama?, karena kamu mengalami hal yang sama seperti Mama, yaitu menjadi janda diusia muda. Dan kamu sendiri kan yang akan membuktikan sama Mama kalau kamu akan mempertahankan pernikahan kamu, tapi kenapa sekarang kamu berubah pikiran?"


"Silahkan saja kamu bercerai sama Afnan, kalau kamu mau melihat Mama akan menyalahkan Ayah dan nggak akan pernah memaafkan Ayah untuk selamanya."


Kali ini ucapan Alula menyadarkan Alesya akan janjinya kepada dirinya sendiri dia akan membuktikan kepada mamanya bahwa dia bisa mempertahankan pernikahannya dan tidak akan pernah menyesal karena telah menikah muda tetapi kini dia akan mengakhiri pernikahannya itu artinya dia akan membuat mamanya marah dan semakin benci kepada ayahnya karena telah mengizinkannya menikah diusia muda. Alesya sangat pusing dia kehilangan akal untuk berpikir, disisi lain dia sudah tidak ingin menjadi korban penghinaan tapi disisi lain dia tidak ingin ayahnya menjadi korban karena perbuatannya.


"Terus aku harus bagaimana Kak, aku nggak mau kuliahku berantakan hanya karena mereka terus menghinaku, tapi kalau aku nggak melepaskan Afnan mereka nggak akan berhenti menghina aku." Tutur Alesya dengan tangisan air mata.


Alula memegang kedua pundak adiknya lalu menatapnya dengan penuh kepercayaan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Allah akan memberikan kita jalan keluar, bukan dengan perceraian, dan Afnan in syaa Allah dia akan memberikan jalan keluarnya, kamu tunggu aja kabar darinya, ya Dik."


Saat ini Alesya tidak ingin salah melangkah lagi, dia harus menuruti perintah kakaknya untuk menunggu Afnan memberikan jalan keluar dari masalah mereka.


Tanpa kata lagi Alesya sudah berlalu menuju kamarnya untuk menenangkan hatinya yang sedang digoda oleh syeitan. Sementara Alula menenangkan kedua orang tuanya agar tidak terlalu mencemaskan Alesya.


"Mas, biar aku saja, aku Bundanya."


Aiza menyusul Alesya yang sudah sampai ke kamarnya sementara Ahyar kembali duduk setelah sang istri menawarkan dirinya sendiri yang akan menenangkan sang putri bungsu.


Sementara Alesya merasa sangat menyesal akan ucapannya tadi, tidak seharusnya dia berkata seperti itu, seharusnya dia sadar bahwa syeitan tidak akan pernah lengah untuk menggodanya agar berpisah dengan Afnan.


"Ya Allah lindungi hamba dari godaan syeitan yang terkutuk, aamiin Allahumma aamiin." Ucap Alesya dalam hati.


"Alesya."


Aiza melangkahkan kakinya memasuki kamar putri bungsunya lalu duduk disamping putri bungsunya yang tengah menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bunda, maafkan Alesya, tadi."


Alesya ingin mengatakan semuanya kepada bundanya tetapi Aiza langsung memotongnya karena dia tidak ingin sang putri meneteskan air mata lagi, sudah cukup kamarin dia membiarkan putrinya menangis sejadi-jadinya tetapi saat ini dia tidak akan membiarkan setetes air mata menetes lagi di wajah cantik sang putri bungsu.


"Alesya Sayang sudah ya jangan memikirkan yang tadi. Sekarang dengarkan Bunda, menikah adalah ibadah terlama Sayang, jangan kamu berniat menikah hanya karena mencintai suami kamu saja, atau karena kamu ingin membuktikan sama Mama Farha kalau menikah muda itu nggak ada yang salah, tapi niatkanlah menikah karena ingin beribadah kepada Allah, kalau kamu sudah meniatkan menikah untuk beribadah kepada Allah, tentu kamu tidak akan pernah berhenti untuk tetap beribadah kepada Allah, dan perceraian tidak akan pernah terjadi."


Nasihat Aiza yang mulai mengetuk hatinya jelas membuat Alesya langsung menganggukkan kepala seraya meluruskan niatnya dati sekarang untuk beribadah terus kepada Allah sehingga kata berpisah tidak akan pernah lagi keluar dari mulutnya.


"Jazakillah khoiron Bunda sudah mengingatkan Alesya tentang itu, in syaa Allah Alesya akan istiqomah beribadah kepada Allah, sehingga nggak akan pernah ada kata pisah."


"Wa jazakillah khoiron putriku."


Kini Alesya dan Aiza saling berpelukan dengan luapan kasih sayang yang tiada hentinya, memiliki Bunda sambung seperti Aiza adalah anugerah yang tak ternilai harganya, Aiza berhasil memerankan perannya sebagai ibu yang selalu ada untuk putrinya bahkan disaat putrinya sedang dirundung masalah.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2