Takdir Terindah

Takdir Terindah
Rindu Menggebu


__ADS_3

Jarak yang memisahkan


Akan menciptakaan


rindu yang menggebu


Bersabarlah hati


Sebab cintamu akan menjulang tinggi


~Takdir Terindah~


Ukhfira


~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~


Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah


Selamat membaca


Semoga suka


🌻🌻🌻 


"Assalaamu 'alaikum."


Terlihat seorang pria tampan sedang tersenyum manis di layar ponsel yang berada di genggaman tangan Alesya serta dihadapkan ke wajah Alesya.


"Wa-wa 'alaikumus salaam, Alby."


Alesya tak kuasa menahan tangisnya yang pecah seketika. Silmi yang saat ini menemani Alesya duduk di ruang keluarga hanya senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan kedua bayi kembar yang berada di kereta bayinya.


"Alby, kapan pulang, aku rindu tahu, rinduku menggebu-gebu nih."


Afnan terkekeh di ujung sana, melihat Alesya bagaikan anak kecil yang di tinggal pergi oleh Ibunya. Maklum Alesya sudah terlalu rindu akan kehadiran Afnan di sisinya.


"Yang sabar ya Einy, aku juga rindu kok, rinduku juga menggebu-gebu."


Silmi terkekeh geli. Pasangan suami istri ini berhasil membuatnya geleng-geleng kepala. Pantas saja mereka berjodoh. Sifatnya tidak jauh berbeda. Memang benar adanya jika jodohmu adalah cerminan dirimu. Seperti Afnan dan Alesya bagaikan pinang dibelah dua. Afnan adalah laki-laki yang baik dan Alesya adalah perempuan yang baik. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nur Ayat 26


الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ


"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)."

__ADS_1


Afnan menyuruh Alesya agar tidak menangis lagi. Dan menghapus air matanya yang tidak boleh menyentuh pipinya lagi. "In syaa Allah sebentar lagi kita ketemu kok, kamu jaga diri kamu baik-baik ya Einy."


Alesya menggangguk patuh. "Masih tinggal satu bulan lagi Alby, masih lama."


"Yang sabar Bidadari hatiku, ingat!, Allah menyayangi orang-orang yang sabar."


Alesya kembali mengangguk. Kali ini Alesya berusaha untuk menguatkan hatinya yang terguncang kembali lantaran sesaknya menahan rindu yang sudah menggebu kepada Afnan.


1 bulan lagi, rindu yang Alesya tanggung akan segera terobati. Afnan akan kembali ke pelukannya. Dan akan selalu berada di sisinya. Jarak yang tega memisahkan mereka akan terkikis dengan cepat. Tak sabar rasanya Alesya menunggu waktu berpihak kepadanya. Alesya berjanji jika Afnan berada di depan matanya Alesya akan memeluknya dengan sangat erat bahkan Afnan tidak boleh memeluk yang lain. Meskipun Afnan ingin menggendong anak-anak mereka, Alesya tidak akan memperbolehkannya. Biarlah Alesya dikatakan egois. Siapa suruh dia dipisahkan dengan Afnan. Alesya berhak mengobati rasa rindunya kepada Afnan.


"Alby, perempuan-perempuan disana cantik-cantik ya?"


Atas dasar apa Alesya menanyakan hal itu. Ada-ada saja kata Afnan. Atau mungkin saja Alesya ingin menguji kesetiaan Afnan kepadanya. Kira-kira apakah Afnan tidak kuat iman ketika melihat perempuan-perempuan yang lebih cantik dari Alesya.


Afnan memutar bola matanya seolah-olah membayangkan kecantikan perempuan-perempuan di Australia.


Alesya mendengus kesal. "pasti cantik-cantik ya?"


"Iyalah Einy, mereka cantik-cantik, bahkan mereka lebih cantik dari Einy."


"APA?!"


Alesya terkejut, sampai kedua bola matanya membulat sempurna. "Mereka lebih cantik dari aku?"


Afnan terkekeh geli. Ia berhasil membuat istrinya mendengus kesal. Bahkan raut wajahnya berubah muram.


"Astaghfirullahal adzim, Einy kok ngomong begitu sih."


"Ya habisnya Albu ngomong begitu juga."


"Lho kan Einy yang bertanya, ya aku jawab dong. Dengerkan dulu dong aku belum selesai bicara. Perempuan-perempuan di sini itu memang cantik-cantik, bening seperti kaca. Tapi percuma cantik kalau jadi konsumsi publik. Percuma juga bening kalau nanti di celupkan ke api neraka karena mengumbar aurat yang seharusnya ditutup, naudzubillah."


Alesya terdiam sejenak. Membenarkan ucapan Afnan. Silmi juga sangat setuju dengan ucapan Afnan. Percuma cantik jika jadi konsumsi publik dan nantinya juga jadi bahan kayu bakar di neraka. Karena mempertontonkan auratnya di depan yang bukan mahromnya.


"Bagi aku, cantik itu bukan suatu kebanggaan. Bahkan aku berharap laki-laki di luar sana nggak tertarik sama kamu Einy, biar aku saja yang klepek-klepek sama kamu." Alesya tersenyum malu. "Aku bukan suami dayyuts yang nggak cemburu melihat istriku dipandang laki-laki lain. Cukup kamu cantik di depan aku saja ya Einy, kalau perlu di depan laki-laki lain kamu nggak perlu dandan."


"Maa syaa Allah." Ucap Silmi mengejutkan Afnan.


"Lho Einy, Silmi ada di rumah kita?"


Silmi memunculkan wajahnya didepan layar ponsel Alesya. Lalu melambaikan tangan kepada Afnan yang tersenyum canggung lantaran tidak mengetahui bahwa Silmi sedang berada bersama Alesya.


"Assalaamu 'alaikum pangeran Arabnya Alesya."

__ADS_1


"Wa- wa 'alaikumus salaam, eh Silmi."


"Einy sdah dulu ya, aku mau lanjut kerja lagi, nggak enak nih sama Pak Alex."


Alesya pun mengangguk dan membiarkan Afnan memutuskan sambungan video callnya. Namun sebelum diakhiri seperti biasanya mereka selalu mengucapkan kata-kata cinta yang membuat hati si jomblo berdesir hebat lantaran belum pernah mendapatkan kata-kata cinta seperti itu, siapa lagi jika bukan Silmi, si jomblo yang belum termiliki.


Silmi perlahan tersadar dari lamunan pikirannya. "Ternyata aku sudah salah menilai orang, Afnan adalah laki-laki yang baik. Dia suami dan Ayah yang baik. Aku jadi nggak enak sama Afnan, dulu aku sudah pernah berpikir negatif tentang dia."


"Iya Sil, sama aku juga, alhamdulillah akhirnya Allah menyadarkan aku bahwa Afnan adalah laki-laki yang baik."


"Iya Al, alhamdulillah aku juga senang melihat kamu bahagia bersama Afnan, sebagai seorang sahabat ikut akan senang jika melihat sahabat aku hidupnya bahagia."


"Jazakillah khoiron Sil, kamu sudah mau jadi sahabat terbaikku selama ini."


"Wa jazakillah khoiron Al, oh ya Al jangan lupa ya doakan aku, semoga skenario hidupku seindah skenario hidup kamu, mendapatkan suami yang sholih dan memiliki anak-anak yang lucu-lucu."


Alesya terenyuh. "Aamiin Allahumma aamiin."


Alesya pun memeluk Silmi dengan  bahagia sama seperti Silmi yang membalas pelukan Alesya dengan bahagia juga. Indahnya persahabatan yang mereka jalani sampai detik ini. Saling mengingatkan kepada kebaikan.


"Kira-kira stok seperti Afnan di pasaran masih banyak nggak ya Al?, kalau ada sisain satu saja buat aku."


Alesya terkekeh. Kemudian melepas pelukannya untuk menatap Silmi yang berhasil membuat Alesya geleng-geleng kepala.


"Kamu ada-ada saja deh Sil, dikira suami aku barang." Oceh Alesya dengan tak serius.


"Kamu nggak usah khawatir memikirkan jodoh kamu Sil, in syaa Allah dia orang baik bahkan lebih baik dari suami aku. Soalnya kamu kan juga orang baik, jodoh itu kan-"


"Cerminan diri." Timpal Silmi.


"Nah itu tahu, sudah deh Mblo nggak usah memikirkan jodoh dulu, sekarang bantu aku ganti popok si kembar ya."


"Hah?!, ganti popok?, aku kan nggak bis-"


Alesya membetulkan perkataan Silmi "Bukan nggak bisa, tapi belum bisa, makanya ayo belajar sekarang."


"Ya tapi-"


"Sil, ingat lho nanti kamu bukan hanya mengurusi suami kamu tapi juga mengurusi anak-anak kamu, sudah ayo! Belajar sama aku, mumpung gratis lho biasanya kalau kursus apapun minta bayaran kan."


Silmi mengangguk patuh. Menuruti ajakan Alesya untuk belajar menggantikan popok bayi. Awalnya Silmi ragu tetapi bukan Alesya namanya jika tidak bisa membujuk Silmi. Lagi pula apa yang dikatakan  Alesya benar. Mungkin saat ini Allah belum mempertemukan dengan jodohnya lantaran Silmi hanya mempersiapkan diri menjadi seorang istri padahal dia juga akan menjadi seorang Ibu untuk anak-anaknya kelak.


💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓

__ADS_1


__ADS_2