
Akan tiba masanya
Dimana air mata
akan berganti tawa bahagia
Disaat kedua insan saling mencinta
Bersatu kembali dalam
kemenangan cinta
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah
Selamat membaca
Semoga suka
🌻🌻🌻
Senyuman termanis menghiasi wajah Alesya yang auranya terpancar begitu saja. Dia berdiri di tengah-tengah padatnya orang-orang yang berlalu lalang. Alesya mengabaikan kondisi sekitar, tatapannya hanya fokus ke satu arah. Lurus ke depan. Menanti seseorang. Alesya tidak sendiri melainkan di samping kanannya ada Ahyar, Aiza, Silmi dan Shuwan serta baby Arsy yang sedang dalam dekapan Aiza. Sementara di samping kiri Alesya ada Zawir, Izma, dan Ziva serta si baby Arsya tentunya yang kini berada di dekapan Izma.
Mereka beramai-ramai datang ke bandara lantaran sang pangeran Arab akan kembali menginjakkan kakinya di tanah air. Tanah kelahirannya. Indonesia.
Kilatan cahaya di kedua bola mata Alesya mengisyaratkan rasa bahagianya. Seorang laki-laki tampan yang baru saja muncul di hadapan Alesya sedang menampilkan senyuman termanis untuk Alesya.
Kini laki-laki tampan itu sudah berdiri didepan mata Alesya. Dialah Afnan. Sang pangeran Arab yang kehadirannya selalu dirindukan.
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alakumus salaam."
Alesya terdiam. Menatap wajah Afnan yang kini sudah berada di hadapannya. Menatapnya dengan penuh cinta yang membara.
"Assalaamu 'alaikum Bidadari hatiku."
"Wa- wa 'alaikumus salam takdir terindahku."
Afnan melambaikan tangannya di depan wajah Alesya lantaran istrinya itu hanya terdiam menatapnya tanpa berkedip.
"Einy, ini aku, suami kamu."
Alesya tersenyum. Air matanya mengalir begitu saja. Alesya seakan tidak percaya kini Afnan sudah kembali lagi dan sedang berdiri dihadapannya.
__ADS_1
"Alby."
Alesya menangis. Berhambur kepelukan Afnan. Memeluknya dengan SANGAT erat. Afnan juga membalas pelukannya dengan sangat erat. Mengobati rasa rindu yang seakan ingin membunuh mereka.
Rasa haru tak bisa dibendung lagi
Kali ini bukan hanya Alesya dan Afnan yang meneteskan air mata. Tetapi keluarga besarnya yang menyaksikan mereka bersatu kembali juga ikut berderai air mata. Air mata haru.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah sudah mengembalikan suamiku ke pelukanku lagi."
"Alhamdulillah, terima kasih juga ya Allah, akhirnya kami bisa berkumpul kembali."
Lima menit berlalu. Tetapi Alesya masih enggan untuk melepaskan tubuh Afnan dari pelukannya. Sudah lama Alesya haus akan kehangatan tubuh suaminya. Alesya masih ingin berlama-lama berada di pelukan Afnan.
"Einy peluknya nanti lagi ya di rumah ya." Bisik Afnan tepat di telinga Alesya.
Alesya menggeleng cepat. "Nggak mau."
"Tapi ini kan di tempat umum Einu, kamu kan pernah bilang kita nggak boleh bermesra-mesraan di tempat umum."
"Kita kan cuma pelukan bukan mesra-mesraan Alby." Alesya tetap tidak mau melepaskan pelukannya.
Afnan sempat menoleh ke arah kedua orang tuanya beserta kedua mertuanya. Mereka menganggukkan kepala seakan mengisyaratkan untuk menuruti keinginan Alesya saja yaitu membiarkan Alesya memeluknya dengan lama. Namanya juga kerinduan seorang istri kepada suaminya. Hal yang wajar menurut kedua orang tua Afnan serta kedua orang tua Alesya.
Enam menit berlalu. Akhirnya Alesya mau melepaskan pelukannya atas dasar kemauannya sendiri. Afnan pun tersenyum kepada Alesya dan menciun kening Alesya dengan penuh cinta. Afnan pun bergegas menghampiri Papi dan Maminya mencium punggung tangan mereka dengan rasa hormat kemudian beralih mencium punggung tangan Ayah dan Bunda mertuanya dengan rasa hormat juga. Dan kini Afnan sudah berdiri dihadapan sahabatnya. Shuwan langsung memeluk Afnan dan menepuk-nepuk punggung Afnan dengan rasa bangga atas pencapaian Afnan sekarang ini. Kemajuan yang sangat pesar. Bisnis baju batiknya sudah berkibar di luar negeri lebih tepatnya di negera Australia.
"Gue bangga sama lo Bro, gue salut sama lo, akhirnya impian lo kesampaian juga."
"Assalaamu 'alaikum jagoan Baba, Baba kangen sama kamu Nak."
Afnan mengelus-elus kepala bayi Arsya yang berada digendongan Izma dan menciumnya kemudian Afnan beralih juga menghampiri Aiza yang sedang menggendong bayi Arsy.
"Assalaamu 'alaikum Bidadari kecil Baba, Baba kangen juga sama kamu Sayang." Ucap Afnan sembari mengelus-elus puncak kepala Arsy serta menciumnya juga.
Kini Afnan kembali berdiri di sebelah Alesya yang sejak tadi setia memadangnya. "Einy, kenapa memandang aku terus sih?, nggak bosan memangnya?"
Alesya menggeleng pelan. "Aku nggak akan pernah bosan memandang wajah ganteng kamu Alby."
Afnan tersenyum. "Ya sudah kalau begitu ayo kita pulang."
Dengan senang hati Alesya mengiyakan ajakan Afnan untuk pulang. Kini Afnan dan Alesya yang saling merangkul satu sama lain berjalan beriringan meninggalkan bandara Seokarno-Hatta yang menjadi saksi jiwa dan raga mereka yang dipersatukan kembali.
∆∆∆∆∆
Malam ini adalah malam terindah bagi Alesya lantaran malam-malam kemarin Alesya dilanda kesunyian dan kehampaan. Tetapi malam ini hatinya bertaburan bunga yang bermekaran. Tempat ternyaman bagi Alesya saat ini adalah di pelukan suaminya. Benar yang dikatakan orang-orang tempat ternyaman untuk bersandar adalah di bahu suami. Seempuk apapun sebuah bantal tetap lebih empuk bahu suami. Itulah yang Alesya rasakan saat ini. Menonton televisi sembari bersandar di bahu Afnan.
"Alby."
"Iya Einy."
__ADS_1
"Jangan pergi lagi ya, tetap di sini, di samping aku."
Afnan membelai lembut pipi Alesya "In syaa Allah aku nggak kan pergi ke mana-mana lagi."
"Tetaplah di sampingku Alby, tetaplah menjadi sandaran ternyamanku." Ucap Alesya yang menikmati kenyamanan bersandar di pundak suaminya.
"Iya Einy, bersandarlah di bahuku senyaman mungkin. Biarkan bantal iri karena kamu lebih memilih bersandar di bahuku ketimbang di bantal."
Alesya terkekeh geli. "ada-ada saja Alby nih."
"Alhamdulillah ya Alby, akhirnya kita lulus ujian cinta dari Allah, dan kemenangan cinta ada dipihak kita."
Alesya senang sekali lantaran berhasil lulus ujian cinta dari Allah bahkan kemenangan cinta sudah memihak mereka. Itu artinya cinta Afnan dan Alesya mulai memasuki level yang lebih tinggi tentu nantinya mereka akan kembali menghadapi ujian cinta yang levelnya jug lebih tinggi.
"Oh ya Alby, nanti kalau badai cinta datang, kita hadapi dengan cinta ya."
Afnan mengangguk dengan penuh ketulusan. "In syaa Allah kita juga hadapi sama-sama ya."
Alesya tersenyum dengan tulus "Iya Alby, in syaa Allah, dan semoga kita berhasil menerjang badai cinta itu."
"Aamiin Allahumma aamiin."
"Alby." Alesya kembali memanggil.
"Iya Einy."
"Hm, sudah malam."
"Terus?." Tanya Afna pura-pura bertanya.
Alesya tersenyum kikuk. "Kita, ayo kita ke kamar Alby."
Afnan melirik ke arah Alesya yang tersipu malu. "Memangnya di kamar mau ngapain?." Tanya Afnan sengaja memancing.
"Mau-"
"Mau bikin Adik buat si kembar ya?" timpal Afnan terang-terangan.
Wajah Alesya bersemu merah "Bi-bisa jadi." Jawabnya malu-malu.
Afnan pun terkekeh "Serius?"
"Ih Alby." Oceh Alesya kesal namun tak serius.
"Aku mengantuk"
"Mengantuk apa..." Goda Afnan dengan sengaja menghentikan ucapannya.
"Nggak tahu deh."
__ADS_1
Alesya langsung berlari menaiki anak tangga meninggalkan Afnan yang akhirnya ikut berlari menyusulnya. Gelak tawa hadir ditenga-tengah mereka. Akhirnya tawa lepas diantara keduanya terdengar kembali di istana cinta mereka. Cinta yang berlandaskan cinta kepada Allah Subhanahu Wata'ala.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞