
Bila ujian cinta datang menyapa
Tak perlu panik apalagi marah
Sebab disaat itulah setiamu diuji
agar cintamu semakin bersemi
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah
Selamat membaca
Semoga suka
π»π»π»
Matahari pagi bersinar cerah. Para pencari nafkah berbondong-bondong keluar dari rumah mereka untuk mengais rezeki untuk keluarga tercinta. Pengendara di jalan raya juga mulai memenuhi jalanan. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan hari secerah ini bahkan mereka menyambutnya dengan semangat yang menggebu. Jika matahari saja terlihat cerah maka wajah mereka juga harus terlihat cerah. Tetapi tidak dengan Alesya. Mahatari yang bersinar cerah tidak dapat membuat wajah Alesya cerah seperti mereka-mereka yang diluar sana.
3 bulan adalah waktu yang lama. sangat lama bagi Alesya. Apa dikarenakan Alesya menantinya dengan ketidaksabaran? Wajar saja bila Alesya tidak sabar, dia menunggu pangeran Arabnya segera kembali kepelukannya. Waktu yang terus bergulir seakan memudarkan semangat Alesya dalam menjalani kehidupannya. Kini Alesya merasakan bagaimana pahitnya menjalani cinta jarak jauh. Yang dipisahkan oleh waktu dan negara.Β
Alesya sedang duduk di teras rumahnya sambil memperhatikan si kembar yang terbaring di kereta dorong yang kembar juga.
"Nak, maafkan Umma ya, akhir-akhir ini Umma jarang menggendong kalian, Umma lagi nggak semangat Nak soalnya Baba kalian lagi nggak ada di samping Umma, Umma merasa hampa Nak."
Satu bulan sudah terasa lama sekali bagi Alesya. Dan Alesya masih harus bersabar menunggu waktu 2 bulan lagi. Segala upaya sudah Alesya lakukan demi melupakan senejak Afnan dari bayang-bayang ingatannya. Namun tidak semudah yang diinginkan. Cintanya kepada Afnan tidak menyetujuinya untuk melupakan takdir terindahnya yang kini sedang menginjakkan kaki di negeri orang.
"Alesya."
Suara yang memanggil nama Alesya hadir menemani kesunyian dihati dan raga Alesya. Dialah Izma yang kini sedang duduk disebelahnya. Memperhatikan Arsya dan Arsy lalu beralih menatap wajah Alesya yang tertunduk lesu.
__ADS_1
"Alesya, sini bersandar di pundak Mami, Sayang."
Izma menyandarkan kepalaΒ Alesya di pundaknya. Lalu mengelus punggung tangan Alesya dengan lembut. Seakan sedang menumbuhkan semangat di jiwa Alesya yang mulai terguncang akibat Afnan tidak terlihat di depan matanya.
"Mami mengerti perasaan kamu Nak, kita hanya perlu bersabar dan bersabar. Allah sayang sama kalian makanya Allah menguji cinta kalian."
Alesya terdiam. Seakan tidak berminat untuk mengeluarkan satu katapun. Padahal terbesit tanya di hatinya atas ucapan Mami mertuanya yang mengatakan bahwa Allah sedang menguji cintanya dengan Afnan.Β
"Percayalah kesedihan kamu, kekecewaan yang saat ini ada di hati kamu, in syaa Allah nanti akan Allah ganti dengan sebuah kebahagiaan yang tiada hentinya untuk disyukuri. Saat ini Allah ingin melihat seberapa kuat kamu menghadapi ujian ini. Dan juga seberapa setianya kamu menunggu Afnan kembali lagi. Jadi kamu jangan sedih lagi ya Nak, Allah hanya ingin menyuruh kamu untuk bersabar dan bersabar. In syaa Allah setelah Afnan kembali cinta kalian akan semakin bersemi."
Alesya membenarkan posisi duduknya. Menatap Izma yang tersenyum tulus kepadanya. Alesya pun ikut tersenyum. "Maa syaa Allah, jazakillah khoiron Mami, sudah mengingatkan Alesya. Mami benar Allah sedang menguji aku dengan Afnan. Menguji cinta kami. In Syaa Allah kami bisa melewati ini semua. Mami doakan ya semoga aku dan Afnan bisa bersabar menghadapi ini semua."
"Wa jazakillah khoiron Alesya. In syaa Allah doa Mami selalu menyertai kalian. Anak dan menantu kesayangan Mami."
Alesya tersenyum. "Aku sayang Mami." Ucap Alesya dengan tulus dan berhambur kepelukan sang mami mertua.
"Mami juga sayang kamu Alesya." Ucap Izma yang membalas pelukan menantu kesayangannya.
βββββ
"Mami, Kak Al."
Alesya dan Izma datang dengan kepanikan yang sama. Mencemaskan si kembar takut terjadi apa-apa.
"Ada apa Ziva?, kenapa teriak-teriak?." Tanya Izma sangat panik.
"Iya Zi, kenapa?." Timpal Alesya yang lebih tenang dari pada Mami mertuanya.
"Ini Kak, Arsy menangis. Ziva takut yang mau ambil."
Alesya pun menghela napas. Sementara Izma menggeleng-gelengkan kepala seakan tidak habis pikir dengan putri bungsunya yang sudah membuat dirinya panik.
"Astaghfirullahal adzim, Mami pikir si kembar kenapa."
Ziva tercengir menampilkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi "Maaf Mami, Ziva kan belum bisa mengambil Arsy dari tempat tidurnya."
__ADS_1
Alesya terkekeh geli melihat Ziva terlihat lucu sekali disaat-saat seperti ini. Jiwa kekanak-kanakannya muncul begitu saja. Wajarlah jika Ziva belum bisa mengambil bayi yang berada di tempat tidurnya. Lebih tepatnya belum terbiasa. Namanya juga anak bungsu. Tidak memiliki adik jadi belum terbiasa dengan yang berkaitan tentang bayi. Berbeda dengan Alesya, meskipun dia putri bungsu tetapi Alesya kan punya adik sambung, si Ali. Jadi waktu Farha melahirkan Ali, Alesya sempat tinggal beberapa hari di Singapura dan dia memperhatikan bagaimana Mamanya mengasuh Ali waktu bayi.
"Ya sudah kalau begitu, sekarang kamu coba saja Zi, hitung-hitung latihan, kamu kan juga calon Ibu nantinya, jadi harus belajar dari sekarang."
Ziva ragu. Dia tidak ingin mengambil resiko yang nantinya akan berakibat fatal. Apalagi ini menyangkut bayi mungil yang menggemaskan. Ziva tidak ingin menyakitinya. Ziva tidak setega itu.
"Mami bagaimana?, Ziva boleh nggak?"
Izma sedikit terkejut. "Lho kamu kok malah bertanya sama Mami, Arsy kan anaknya Kak Alesya, jadi izinnya sama Kak Alesya dong."
Alesya terkekeh lagi. Adik iparnya ini sungguh menggemaskan. Mungkin nanti jika dia sudah menikah suaminya akan gemas kepadanya.
"Sudah Zi, dicoba saja, aku kan sudah menyuruh kamu, ayo."
Ziva akhirnya menuruti perintah Alesya. "Bismillahirohmaanirrohiim."
Kedua tangan Ziva mulai menyentuh tubuh mungil Arsy. Dan perlahan Arsy sudah tidak menangis lagi. Mungkin dia sebal lantaran tidak digendong dari tadi. Tetapi kini sang Tante amatirnya mencoba untuk menggendongnya tanpa bantuan orang-orang yang sudah berpengalaman.
"Zi, hati-hati, jangan sampai cucu Mami tergores lho."
Alesya tidak sanggup menahan tawanya. Lantaran Izma mengomeli Ziva dan mengingatkan Ziva untuk berhati-hati dalam menggendong Arsy.
Berhasil. Tubuh mungil Arsy kini sudah berada dalam dekapan Ziva. Girangnya Ziva karena berhasil menggendong bayi Arsy tanpa bantuan Mami dan Kakak iparnya.
"Yey, alhamdulillah Ziva berhasil, Arsy Aunty Ziva berhasil gendong Arsy lho, tanpa bantuan Umma dan Omi, kalau begitu ayo kita keluar, pasti Arsy bosan ya di kamar terus, ayo kita keluar Sayang."
Ziva yang sedang menimang bayi Arsy akhirnya keluar dari kamar. Melihat Ziva yang membawa cucunya, kecemasan langsung menjalar dibenak Izma.
"Ziva hati-hati gendongnya, itu bayi bukan boneka."
Alesya tertawa kecil. Izma berhasil menggelitik perut Alesya karena ucapannya.
"Kamu kok malah tertawa sih, itu si Arsy lagi digendong sama Ziva dibawa keluar juga, Mami khawatir nih takutnya cucu Mami kenapa-kenapa, soalnya Ziva orangnya tuh ceroboh sekali."
"Mami tenang saja, Ziva pasti hati-hati, dia tahu kok lagi gendong Arsy yang masih bayi, lagi pula ini kesempatan buat Ziva mempersiapkan diri menjadi calon ibu yang bisa mengurus bayi. Kita kan nggak tahu kapan Ziva akan bertemu dengan jodohnya. Siapa tahu besok sudah ada yang bertamu ke rumah Mami. Sama seperti aku dulu, Afnan langsung datang saja ke rumah tanpa memberi kabar apapun. Alhamdulillahnya, aku sudah menyiapkan diri."
__ADS_1
Ucapan Alesya tepat sekali. Tidak ada salahnya jika Ziva mempersiakan diri sedini mungkin. Jodoh itu di tangan Allah jadi terserah Allah mau mempertemukannya kapan. Sama halnya seperti Alesya dulu. Meskipun awalnya Alesya kesal lantaran jodohnya tidak sesuai dengan harapannya. Namun siapa sangka Allah sudah menakdirkan Afnan menjadi jodohnya. Sekaligus menjadi takdir terindahnya Alesya. Maa syaa Allah.Β
ππππππππππππππ