
Jangan baper hanya karena mendengar orang menyanyi
Tetapi baperlah ketika mendengar orang mengaji
Jangan pula tersentuh ketika diperdengarkan nada-nada cinta
Tetapi tersentuhlah ketika diperdengarkan ayat-ayat kalamullah
~Takdir Terindah~
ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu ya
Selamat membaca
Semoga suka
๐ป๐ป๐ป
Hari semakin malam tetapi hujan masih setia mengguyur bumi yang semakin terasa dingin, kebanyakan dari orang-orang memilih untuk berdiam di rumahnya bahkan ada yang lebih dulu istirahat karena suasananya yang mendukung mereka untuk terlelap di malam hari, padahal masih jam 19.19 malam itu artinya masih belum waktunya mengistirahatkan tubuh tetapi apa daya diluar masih hujan tiada henti.
Seorang perempuan cantik tengah memandangi keadaan di luar yang sedang hujan deras dari jendela rumahnya, siapa lagi kalau bukan Alesya yang sudah cukup lama berdiri disamping jendela sembari pandangan tertuju ke luar rumahnya.
"Afnan kok belum pulang ya?, mana hujannya masih deras lagi."
Alesya bukan sekedar mengintip air hujan yang sedang turun membasahi pekarangan rumahnya melainkan dia sedang menunggu kepulangan Afnan dari masjid, tetapi yang ditunggu belum kunjung pulang, membuat Alesya dilanda kekhawatiran.
Tiba-tiba saja kedua bola mata Alesya membulat sempurna saat melihat seseorang membuka pagar rumahnya, pakaian yang dipakainya basah semua sepertinya dia sengaja mengizinkan air hujan untuk membahasi pakaian dan tubuhnya.
"Afnan?"
Seakan tak percaya akan sosok yang baru saja memasuki pekarangan rumahnya dan mulai melangkah menuju teras rumah, tetapi kedua mata Alesya masih sehat dan dapat menangkap cahaya begitu jelas dan memang benar pria yang kini sudah sampai di depan pintu adalah Afnan.
"Assalaamu 'aikum."
"Wa 'alaikumus salaam, astaghfirullahal adzim Afnan, ayo masuk."
Melihat Afnan yang sudah menggigil akibat terguyur hujan yang lebatnya hebat membuat Alesya langsung menyuruh Afnan masuk ke dalam rumah bersamanya.
"Kenapa kamu bisa hujan-hujanan seperti ini, bukannya tadi bawa payung kan?"
Alesya tidak habis pikir, mengapa Afnan bisa pulang dengan hujan-hujanan padahal tadi ia ingat betul saat pergi ke masjid Afnan menerobos hujan dengan berteduh dibawah payung yang ia bawa tetapi kini malah pulang dengan tangan kosong dan tubuhnya basah kuyup.
"Tadi payungnya terbang kena angin, jadi mau nggak mau aku pulang hujan-hujanan seprti ini deh." jawabnya dengan suara menggigil.
"Astaghfirullahal adzim, ya sudah sekarang kamu mandi air hangat dan ganti baju yang tebal ya, ayo."
Jiwa keibuan Alesya keluar, dia langsung menggandeng Afnan menuju kamar mereka untuk segera menghangatkan tubuh Afnan yang menggigil dengan mandi air hangat dan berganti baju tebal.
Sesampainya di kamar, Afnan langsung bergegas ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dengan air hangat agar rasa dingin yang sedang menggerogoti tubuhnya segera menyingkir. Sementara Alesya bergegas membuka lemari pakaian dan memilih-milih baju milik Afnan yang berbahan tebal, ia mendapatkannya lalu menaruhnya diatas kasur.
"Aku harus buat teh hangat untuk Afnan."
Dengan langkah seribu Alesya keluar dari kamarnya menuju dapur untuk melancarkan rencananya yaitu membuat teh hangat untuk Afnan.
Selang beberapa menit terlihat Afnan yang sudah lebih segar dengan balutan kaos tebal yang dikenakannya itu turun dari lantai atas kemudian berjalan menuju ruang tengah lalu mendudukan dirinya di sofa, sementara Alesya yang melihat Afnan sudah selesai mandi dan berganti baju segera menghampirinya dengan membawa secangkir teh hangat yang baru saja ia buat.
"Ini diminum dulu teh hangatnya, supaya badan kamu lebih hangat lagi."
Teh hangat yang baru saja diletakkan di meja oleh Alesya langsung diraih dengan senang hati oleh Afnan bahkan menyeruputnya sampai habis tetapi sebelum itu tak lupa ia mendahulukannya dengan membaca basmalah.
"Maa syaa Allah teh hangatnya pas, manis lagi, seperti yang buat."
Berhasil, Afnan membuat Alesya tersipu malu karena memuji teh hangat buatannya tersebut sekaligus juga memuji pembuat tehnya, yaitu Alesya.
"Duduk sini Sya."
Ajakan Afnan yang sambil menepuk sofa sebelahnya itu segera dianggukan kepala oleh Alesya lalu dengan ragu-ragu Alesya mulai duduk di sofa tepat disamping Afnan.
Rasa gugup tiba-tiba langsung mendera Alesya, ntah mengapa ia salah tingkah saat duduk berdampingan dengan Afnan ditambah lagi Afnan yang kini sedang tersenyum menatapnya.
"Sya kok ada yang berubah ya sama kamu?"
Pertanyaan aneh yang ditujukan untuknya membuat Alesya langsung menoleh kesamping dimana Afnan masih sedang menatapnya. Tatapan mata mereka bertemu, sekilas saja karena Alesya segera beralih menatap kedepan.
"Ma-maksud kamu?"
Alesya merutuki dirinya yang berbicara dengan gugup, padahal ia sudah berusaha untuk mengusir rasa gugup itu tetapi apa daya rasa gugup tersebut semakin menjadi-jadi.
"Maksud aku, sikap kamu berubah nggak seperti biasanya."
Untung saja Afnan tidak mempermasalahkan kegugupannya sehingga Alesya dapat bernapas lega, tetapi ia justru dibuat sebal karena Afnan malah mempertanyakan akan perubahan sikapnya tersebut.
"Sikap kamu jadi lembut bagaikan kapas."
"Memangnya kenapa kalau aku berubah seeprti ini, aku kan cuma mau bersikap lembut saja sama suamiku, apa itu salah?." Jawab Alesya dengan menampilkan wajah bete.
"Oh nggak, nggak salah kok Sya, justru itu maa syaa Allah banget, malahan suami kamu senang banget, lho."
Afnan langsung menjawab pertanyaan Alesya dengan sebaik mungkin karena ia tidak mau istrinya itu malah merajuk dan merubah sikapnya menjadi jutek lagi.
Alesya tersenyum. "Alhamdulillah deh kalau suami aku senang." Ucapnya dengan bernada lembut selembut kain sutra.
"Oh ya Sya kamu sudah makan?"
Alesya menggeleng pelan. "aku nggak biasa makan malam, takut gemuk." Ucapnya sambil cengengesan diakhir kalimat.
__ADS_1
Mendengar jawaban Alesya lantas membuat Afnan menyerngitkan dahi sembari memperhatikan Alesya dari atas ke bawah, sementara yang diperhatikan malah kebingungan dan langsung memperhatikan dirinya sendiri.
"Kamu nggak akan gemuk kok Sya kalau cuma makan malam, apa lagi porsi kamu kan sedikit, kamu tenang saja segemuk apapun kamu, suami kamu akan tetap cinta kok sama kamu."
Mendengar rayuan maut tersebut, tanpa sadar kedua bibir Alesya membentuk ulasan senyuman termanis membuat Afnan yang sedang fokus menatapnya dibuat terpesona bahkan kedua matanya enggan untuk berkedip.
Sadar akan sikap Afnan yang tiba-tiba mematung sambil menatapnya itu lantas Alesya langsung melambaikan tangan didepan wajah Afnan untuk menyadarkannya.
"Kamu kenapa sih kok melihat aku begitu banget?"
"Aku sedang mengagumi keindahan ciptaan Allah di hadapanku ini, maa syaa Allah indah sekali."
Lagi-lagi Afnan sukses membuat Alesya terpancing untuk mengukir senyuman yang mana dapat membuatnya terpesona akan keindahan senyuman yang tercipta dari wajah istrinya.
"Gombal." Ujar Alesya malu-malu.
"Ini bukan gombal istriku, tapi ini nyata."
"Sudah nggak usah bahas itu."
"Terus?." Tanya Afnan dengan menaikkan sebelah alisnya sambil menatap sang istri dengan tatapan genit.
Mata Alesya terbelalak sembari merutuki dirinya yang salah mengeluarkan kata-kata sehingga membuat pria dihadapannya itu bersikap genit dan sepertinya sedang berpikir yang macam-macam.
"Ya nggak usah diteruskan." Jawab Alesya ngasal.
"Sya." Panggil Afnan dengan lirih.
"Hm." Jawab Alesya yang tidak menoleh sama sekali kearah Afnan.
"Sya." Panggilnya lagi dengan terus menatap wajah gugup istrinya.
"Hm."
Afnan menghela napas. "Sya lihat ke suamimu dong." Pintanya dengan nada memaksa.
Mau tidak mau Alesya pun menuruti permintaan lebih tepatnya perintah suaminya untuk melihat kearah wajahnya yang sedang nampak tersenyum.
"Ada apa Pak suami?" Tanya Alesya dengan datar, maklum karena sedang mengontrol diri agar tidak terlihat gugup.
"Sudah malam nih, ayo kita ke kamar." Ajak Afnan lirih tepat ditelinga Alesya ditambah lagi ia mengkedipkan sebelah mata, genit.
Bulu kuduk Alesya kompak terbangun dan tubuhnya bergetar bagaikan terkena sengatan listrik, kedua bola matanya pun seakan mau loncat saat mendengar ucapan Afnan yang terdengar sangat jelas digendang telinganya.
"Ke-ke kamar?"
Kali ini Alesya tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya, bahkan suaranya pun ikut terdengar gemetaran.
"Iya ayo kita ke kamar." Ajak Afnan lagi bahkan langsung meraih pergelangan tangan Alesya.
Sementara Alesya sendiri seperti patung yang kaku untuk digerakkan, Afnan yang sudah beranjak dari duduknya dibuat kebingungan akan tubuh istrinya yang diam saja.
Afnan menganggukkan kepala seraya melepas tangannya yang mencengkram lembut pergelengan tangan Alesya.
"Sya."
Alesya membalikkan tubuh yang sudah berdiri didepan suaminya.
"Aku tunggu di kamar ya."
Dengan cepat Alesya langsung menganggukkan kepala lalu membalikkan tubuhnya lagi membelakangi sang suami yang masih menatap punggungnya yang mulai menjauh dan akhirnya tak terlihat lagi.
Sementara Alesya sudah tidak bisa menenangkan diri, pikirannya pun juga menjelajah kemana-mana, apa yang akan terjadi setelah ini?, ia tidak ingin membayangkan itu semua, karena bagi Alesya dirinya masih anak kecil yang polos, tetapi keadaan yang membuat dirinya harus berpikir dewasa.
โโโโโ
Seperti maling yang mengendap-endap di rumah orang, begitulah cara Alesya masuk ke dalam kamarnya yang sudah tidak ada cahaya sama sekali.
Kleg
Tiba-tiba saja lampu kamar menyala, refleks Alesya menoleh kearah samping dimana terlihat Afnan sedang berdiri dan baru saja memencet steker lampu, ia mulai melangkah menghampiri perempuan yang sedang berdiri dihadapannya.
"Sya, kok mengunci pintunya lama banget sih?." Tanya Afnan penasaran.
10 menit Afnan menunggu kedatangan Alesya, ternyata Alesya memang sengaja berlama-lama di lantai bawah karena ia pikir dengan membuang waktu 10 menit Afnan akan tertidur duluan dan ia bisa masuk kedalam kamar dengan tenang.
Tetapi dugaannya salah, yang dianggap telah terlelap tidur rupanya malah sedang menunggu kedatangannya, kini Alesya merasa sedang tidak diaman.
"Iya itu soalnya, soalnya..."
Otak Alesya buntu seketika dan ia kehabisan kata-kata lagi untuk memberikan alasan kepada Afnan yang sudah menunggu jawaban darinya.
Afnan menggenggam tangan Alesya "Ya sudah sekarang ayo kita tidur, bantal dan guling sudah menunggu tuh." Ajak Afnan yang beralih memandang kasurnya yang terlihat rapi begitupun Alesya yang ikut beralih memandang bantal guling yang katanya sudah menunggunya.
Entah harus berbuat apa lagi, Alesya seakan pasrah disaat suaminya menggandengnya menuju ranjang dan menyuruhnya untuk naik keatas ranjang. Setelah memastikan sang istri sudah duduk diatas ranjang kini giliran Afnan yang ikut menaiki ranjang kamar mereka dari sisi ranjang tempatnya tidur.
"Sya." Panggil Afnan dengan lirih.
Alesya memilih bungkam dan mengubur kata-kata yang ingin keluar dari mulutnya, pandangannya pun ke bawah menatap ujung khimar yang daritadi ia pegang.
Melihat sang istri yang terdiam bahkan menundukkan pandangannnya lantas membuat Afnan segera meraih dagu istrinya lalu mengangkatnya tepat didepan wajahnya, otomatis Alesya pun menatap wajah suaminya tersebut.
"Kamu kenapa Sya?"
Alesya langsung menggeleng kecil sembari melepas tangan suaminya yang masih menempel di dagunya.
"Sya, apa aku boleh meminta hakku malam ini?"
Bagaikan tersambar petir yang menggelegar, Alesya terperanjat di tempatnya, apa dia tidak salah dengar bahwa sang suami mengatakan hal tersebut?, apa yang harus dia lakukan saat ini, walaupun suaminya tidak mengatakan secara terang-terangan tetapi Alesya bukan anak kecil lagi yang tidak mengerti akan ucapan suaminya tersebut, memang seharusnya sudah dari kemarin Alesya memberikan hak suaminya yang ada pada dirinya, tetapi dia belum begitu siap lahir dan batinnya, tetapi ketika suaminya berucap dan memintanya dia wajib memberikannya, begitulah agama mengajarkannya untuk menjadi istri yang taat kepada suami.
__ADS_1
Jantung Alesya berdebar-debar saat tanga sang suami kini sudah menyentuh ujung khimarnya, padahal Alesya belum mengucapkan satu katapun tetapi suaminya itu sudah akan melepaskan penutup kepalanya.
"Tunggu."
Kata tunggu yang terlontar secara spontan berhasil membuat Afnan melepaskan ujung khimar istrinya, lalu menatap wajah sang istri yang sudah berkeringat dingin.
"Kenapa Sya?, aku berhak melihat rambutmu yang indah, aku sudah halal melihat auratmu yang selama ini kamu jaga dari yang bukan mahrommu."
Ternyata pikiran Alesya tidak sesuai kenyataan, hak yang diminta oleh suaminya itu adalah ingin melihat dirinya tanpa khimar bukan tentang hak yang lainnya, Alesya pun menghela napas begitu panjang karena dia masih berada dalam zona aman.
"Aku buka ya." Pinta Afnan dengan lembut, lalu kembali memegang ujung khimar panjang Alesya.
Berhasil, kini khimar yang selama ini terbungkus rapi dikepala Alesya sudah terlepas itu artinya Afnan sudah melihat Alesya tanpa khimar.
Kedua mata Afnan berbinar-binar ketika melihat perempuan yang sudah halal untuknya terlihat begitu cantik dengan rambut hitam pekat terurai indah menjuntai yang panjang nya sampai setengah punggung.
"Maa syaa Allah, kamu cantik sekali Sya, aku adalah laki-laki yang paling beruntung karena dapat melihat kecantikan kamu yang selama ini kamu sembunyikan dari yang bukan mahrommu."
Alesya tersipu malu bahkan tanpa tersadar kedua pipinya memerah saat pujian yang begitu indah terdengar untuknya, ditambah lagi yang memujinya adalah kekasih halalnya yang mana dia sudah meraih pahala karena sudah membuat kekasih halalnya itu bahagia ketika memandang dirinya.
"Jazakillah khoiron istriku, karena kamu sudah menutupi kecantikanmu dari yang bukan mahrom dan hanya aku saja yang bisa menikmatinya."
"Wa jazakallah khoiron, aku menutup auratku karena perintah Allah dan Rasulullah, dan hanya suamiku saja yang boleh melihat seluruh auratku" jawab Alesya yang dengan malu-malu.
"Maa syaa Allah."
Afnan sangat bersyukur karena dia tidak salah memilih perempuan yang dijadikan sebagai pendamping hidupnya, Alesya adalah perempuan sholehah yang taat dan patuh kepada perintah Robb dan Nabinya, perempuan seperti Alesya lah yang selama ini diidam-idamkan oleh Afnan bahkan ia meminta dengan penuh tangisan kepada Robbnya, karena perempuan yang sholehah akan memberikan kebahagiaan dalam hidupnya, dan kini Afnan dapat merasakan hasil dari kesabaran serta kesungguhannya dalam meminta kepada Robbnya yang maha pengasih lagi maha penyayang.
โโโโโ
ูููููููู ุฎูููุฑูุงุชู ุญูุณูุงูู.
ููุจูุฃูููู ุขููุงุกู ุฑูุจููููู ูุง ุชูููุฐููุจูุงูู.
ุญููุฑู ู ูููุตููุฑูุงุชู ููู ุงููุฎูููุงู ู.
Suara indah lantunan ayat suci Al-Quran sayup terdengar di telinga Alesya yang sedang terlelap dalam tidurnya, indahnya ayat suci kalamullah tersebut mampu menghilangkan rasa kantuk yang tadi bersarang ditubuhnya, dengan perlahan ia beranjak dari tidurnya lalu mengedarkan pandangannya.
Seorang laki-laki tampan dengan pakaian sholatnya sedang duduk bersimpuh dengan kitab suci Al-Quran berada dalam genggamannya dan suara indahnya mentilawahkan ayat suci Al-Quran begitu membuat hati Alesya terkagum-kagum sampai tanpa sadar ia duduk disamping laki-laki tersebut yang tak lain adalah Afnan, sang kekasih halal.
"Maa syaa Allah indah sekali lantunan ayat suci Al-Quran ini ya Allah, terima kasih engkau telah meridhoiku menikah dengan laki-laki bersuara merdu yang mentilwahkan ayat-ayat suci Al-Quran yang sangat menyejukkan hatiku."
"Sya kamu sudah bangun?"
Dari khusu'nya mendengarkan ayat-ayat kalamullah yang dibaca dengan begitu indah, membuat Alesya tidak sadar bahwa suaminya telah selesai mengaji bahkan sudah beralih menatapnya.
"Sya."
Panggilan Afnan yang sedikit bernada keras dapat menyadarkan Alesya dalam lamunannya, Alesya yang baru tersadar langsung kaget karena sang suami menangkap basah dirinya yang sedang terbawa perasaan tilawah Qur'an sang suami.
"I-iya." Jawab Alesya dengan terbata-bata.
"Sekarang kamu ambil wudhu ya kita sholat tahajjud berjama'ah." Ajak Afnan yang langsung diiyakan oleh Alesya bahkan secepat kilat Alesya sudah masuk kedalam kamar mandi sehingga membuat Afnan kaget dan hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
Sholat dua rakaat di tengah malam yang dilaksanakan oleh sepasang kekasih halal mampu menenangkan jiwa mereka, menumbuhkan rasa cinta kepada sang pencipta yang telah menyatukan mereka diikatan suci pernikahan.
Diraihnya tangan imam sholatnya sekaligus imam hidupnya, lalu dengan rasa hormat Alesya mencium punggung tangan suaminya itu dengan mengharap pahala basalannya.
"Maa syaa Allah begitu bahagianya hamba ya Allah bisa berkomunikasi denganMu bersama laki-laki yang Engkau ridhoi menjadi pendamping hidup hamba dan hamba sangatย bersyukur karena laki-laki yang dihadapan hamba kini adalah laki-laki yang cintanya kepadaMu begitu besar. Izinkan hamba mencintainya karenaMu ya Allah, aamiin Allahumma aamiin"
โคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโคโค
Assalamulaikum Warohmatullahi Wabatokatuh....
Maa syaa Allah
Beruntung sekali Alesya mendapatkan suami sesholeh Afnan, pintar mengaji pula๐
Ukhfira sih yakin Afnan bisa menaklukkan hati Alesya, secara
Al-Quran saja bisa dia taklukan apalagi hati Alesya...
Afnan juga beruntung sekali mendapatkan perempuan sholihah seperti Alesya....
Aurat saja setia ditutup
Apalagi hatinya pasti setia sekali kepada kekasih halalnya
Ini baru yang namanya baper...
Baper \=Bawa perasaan karena kesholihah sepasang kekasih halal
Dan
Baper\=Bawa perubahan supaya terus memperbaiki diri menjadi hamba yang sholih
Jangan lupa vote dan komennya ya readers yang sholih dan sholihah
Aamiin Allahumma Aamiin...
Percayalah vote dan komen kalian berarti sekali bagi Ukhfira untuk melanjutkan kisah cinta islaminya Afnan dan Alesyaโค
Sampai berjumpa di part selanjutnya ya
Readers setianya Ukhfira
๐๐๐
Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabatokatuh
__ADS_1