
"Bapak saya minta maaf, saya tertipu oleh kontraktor. pengiriman pasir tidak dibayar bayar. kontraktornya kabur pak. saya dan Nenden akan kembali tinggal disini. apalagi Nenden sedang hamil tua" Aden memohon kepada orang tuanya.
Bapak dan Ibu Hasan tidak tega melihat putranya seperti ini. "Baiklah Den, bapak ijinkan kamu tinggal disini. nanti Akan Bapak buatkan rumah sederhana di dekat kebun kacang".
Sebetulnya Bapak dan ibu Hasan sering memberikan modal kepada Aden namun selalu saja seperti ini. kena tipulah, untung sedikitlah, dan banyak alasan lainnya.
"Untuk sementara waktu Fikar sekarang tinggal dirumah mertuanya, karena tempat bekerja Fikar lebih dekat dari sanakan. bagaimana Fikar? "
__ADS_1
Bapak Hasan Tau sifat istri Aden, dia tidak bisa satu rumah dengan yang lain.
"Baiklah Pak, Nanti Fikar bicarakan dulu dengan Dewi" ayah berdiri meninggalkan Fikar dan Aden "iya.. silakan kalian berbicara"
Akhirnya Aden beserta keluarganya tinggal dirumah Pak Hasan, Fikar tinggal dirumah mertuanya.
"Assalamu'alaikum Ame" Amenah yang sedang menyusui Aida menoleh arah pintu "waalaikumsalam teh Nenden, kapan datang? " Nenden duduk di tepi ranjang Amenah "kemarin siang Ame, sekarang teteh akan tinggal disini". Amenah menatap Nenden " iya teh, Kak Aden Bisa mengelola perkebunan bersama Kak Ali teh".Nenden meng angguk. Nenden mulai bercerita kisahnya selama ini yang menurutnya sangat menyedihkan "sabar ya teh, semoga segera terganti yang lebih banyak". Nenden menjelekkan Dewi istri Fikar " kamu tau ga Ame, si Dewi a mau pindah ke rumah orang tua nya. Dia sudah merasa enak tinggal dengan Bapak dan ibu.. coba gimana ga enak, makan tinggal Aamm, kerjaan nya tidur semua sudah ada yg bantuin" Amenah hanya mendengarkan saja, takut salah ngomong "Nah kalo dirumah orang tuanya pasti dia yang harus masak, beres beres tuh.. " Amenah sebenernya tidak suka dengan perkataan Nenden "semoga saja Dewi dan teh Nenden segera memiliki rumah sendiri" sambil mengelus elus perutnya yang buncil Nenden meng amin kan doa Amenah "Berapa bulan sekarang teh" Amenah memegang perut Nenden "sudah 7 bulan, InsyaAllah 2 bulan lagi lahir" Amenah tersenyum mereka saling menatap "semoga persalinan nya lancar ya teh. berarti beda 2 bulan an dengan Aida ya" Nenden pindah duduknya dekat kaki Amenah "iya, seusia, ASi nya sudah banyak belum? " Amenah menatap beby Aida "Alhamdulillah banyak teh, Aida jarang menyusu jadi sering banjir ASi nya" Nenden memijat kaki Amenah "Berarti Aina sekarang sudah 2 minggu ya" Amenah merubah posisi duduk nya" iya teh, ayo teh dimakan borondong jagung sama kue rempah nya" ya dikampung jika ada yang melahirkan disediakan borondong (pop corn) dan sangrai kacang-kacangan yang ditumbuk.
__ADS_1
Lama berbincang Alma datang sambil berlari "eeehhh.. ehhh.. Alma kamu ya" Nenden agak marah melihat Alma berlari "awas nanti kena perut Wawa!!" Nenden berkata sambil memegangi perutnya. Alma cuek saja, langsung naik ke tempat tidur
bruggh.. "astaghfirullah alma" Nenden dan Amenah kaget
"Gawat Ame, kalo Aida sendiri. untung Aida lagi digendong"
Amenah menepuk-nepuk kasur "Sini Kak Alma, duduk sini" Alma mendekat, mengikuti perintah ibunya "Duduk Alma..jangan lompat-lompat ditempat tidur!!" Namun bukannya duduk malah berdiri. posisi Alma jadi ditengah tengah antara Amenah dan Nenden "dede... dede... ciluk.. baa... " tidak lama Alma melompat kembali kondisi kurang seimbang hingga terjatuh hampir menduduki perut Nenden. Untung Nenden menahan bokong Alma "Tuhkan.. kata wawa juga diam.. dasar bandel... ga bisa diam" Nenden merasa gemes agak kesal. "teteh pulang dulu Ame" Nenden beranjak meninggalkan Amenah dan Alma. "Astaghfirullah hal adzim" ucap Amenah.
__ADS_1