TAKDIRKU

TAKDIRKU
eps 21


__ADS_3

“Abang tidak memaksa Adek, abang hanya ingin adek jujur dengan perasaan adek dan satu hal yang kedua orang tua abang katakan, abang harus menerima perjohoan itu, jika abang tidak memberi kepastian dalam waktu dua hari, itu artinya besok abang sudah harus kasih kepastian pada kedua orang tua abang.” Kata Ais.


“Abang, bisa tidak Anisa meminta waktu sampai besok?.”


“Baiklah abang akan tunggu jawaban adek besok, tapi abang mau tahu satu hal dari adek, apakah adek ada rasa yang sama dengan abang?, tolong adek jawab sekarang.” Ais menatap Anisa berharap Anisa memiliki perasaan yang sama dengannya.


“Iya Aku juga punya rasa yang sama dengan bang Ais, jujur berulang kali aku ingin menghilangkan rasa ini tapi tetap saja tidak bisa, kata-kata abang, cara bica abang membuatku merasakan kehadiran ayahku, membuatku merasa nyaman, terlepas dari itu semua aku merasa perasaan abang padaku tulus.” Kata Anisa.


Ais tersenyum mendengarkan Anisa berbicara ingin rasanya Ais memegang tangan Anisa namun ia tau itu tak kan mungkin sebelum ada ikatan pernikahan, Ais terlihat bahagia karena perasaanya terbalaskan.


“Jujur abang senang sekali sampai – sampai abang bingung mau bicara apa hehehe…, Anisa sudah bisa menghilangkan keraguan Anisa, nikah sama anggota Tentara?,” tanya Ais.


“Kalau masalah ragu, kadang masih ada, tapi itu tugas abang supaya adek tidak ragu pada abang.” Jawab Anisa.


“Siap!!, abang akan berusaha semampu abang untuk tidak membuat adek kecewa dengan abang, berarti itu artinya adek bersedia menikah dengan abang, iya kan,” Ujar Ais.


“Tergantung keputusan ibu lah,” Kata Anisa dengan wajah malu-malu.


“Menurut abang ni ya…, ibu kelihatannya setuju deh….,” kata Ais sambil menyeruput kopinya.


“Abang sok tau,” kata Anisa.


“Hehehe…, senyum terus entar giginya kering loo…,” kata Ais bercanda.


“Iiihh…apaan si bang Ais,” Anisa sedikit malu karena candaan Ais.


“Hehehe…., balik yuk bentar lagi magrip, abang antar sampai rumah ya..., abang ikutin adek dari belakang.”


“Gak usah bang, rumahku kan ngelewatin asrama abang, nanti abang balik lagi.” Kata Anisa.


“Ya gak apa – apa, abang pengen mastiin adek sampai rumah,” kata Ais.


“Oke, apa kata abang aja lah, oiya bang Anisa minta rahasiain dulu ya soal kita.”


“Memangnya kita kenapa dek ?.” Ais menggoda Anisa lagi.

__ADS_1


“Abang ihh..., dari tadi nyandain aku terus, aku serius bang, aku gak enak kalau Dokter Andre sampai dengar, setidaknya sampai hubunganku denganya baik.” Kata Anisa.


“Iya…iya abang ngerti, abang bayar dulu kopinya, terus langsung pulang,” kata Ais.


Anisa tertawa, Ais bingung kenapa Anisa tertawa, “adek kenapa tertawa, memangnya ada yang aneh ya?,” tanya Ais.


“Abang tu… lucu, kopinya sudah aku bayar, disini pesan langsung bayar di tempat pesanan, baru nanti di bikinin trus kita tinggal duduk tunggu di antar, hehehe… .”


“Hahaha..., gitu ya, maklum abang gak pernah masuk di tempat begini,” ujar Ais.


Ais dan Anisa pulang bersama, Ais mengikuti Anisa dari belakang sampai rumah Anisa.


“Sudah mas, gak mampir dulu ni?,” kata Anisa.


“Besok aja, ini sudah mau magrip, salam buat ibu ya…, udah sana masuk.”


“Iya…, nanti aku salamin, hati – hati bang.”


Anisa masuk ke dalam rumah sedangkan Ais mengendarai motornya pulang ke asrama. Anisa memberitahu ibunya kalau dia bertemu dengan Ais dan menyampaikan salam Ais pada ibunya.


“Bu, tadi bang Ais melamar Nisa,” ujar Anisa.


“Iya, Nisa harus jawab besok, bang Ais besok ke rumah ketemu sama ibu,” kata Anisa.


“Alhamdulillah Doa ibu terkabul,” kata ibu sambil mengangkat kedua tangannya.


“Ha…, jadi selama ini ibu berdoa supaya aku berjodoh sama bang Ais?.” Anisa mengerutkan wajahnya.


“Iya, ibu sangat setuju kamu sama Ais, kata pamanmu Ais memang pemuda yang baik,” kata ibu.


“Jadi yang bikin Anisa gak bisa nerima Dokter Andre itu ibu ya….,” ujar Anisa bercanda. Anisa tertawa.


“Hahaha…, semua baik, Dokter Andre juga baik, tapi ibu lebih suka Anisa dengan Ais.” Kata ibu


menjelaskan.

__ADS_1


“Bismillah ya bu, aku akan berusaha berdamai dengan masa laluku, semoga memang ini yang terbaik bauatku,” ujar Anisa.


Pagi ini hari terakhir di Perkemahan, hari ini hanya acara penutupan saja, Anisa dan Timnya pergi dengan menggunakan kendaraan pribadi masing – masing, setiba di Perkemahan semua sudah berkumpul untuk melaksanakan upacara penutupan.


Kali ini Ais dan Rizal datang di acara penutupan, Dokter Andre menatap Ais yang sedang ngobrol dengan Rizal, Diana yang tidak sengaja meliat Dokter Andre langsung memberitahu Anisa dengan berbisik.


“Anisa, coba lihat pandangan Dokter Andre ke arah bang Ais, seperti ingin menyampaikan sesuatu ke bang Ais, iya kan?,” bisik Diana.


Anisa menoleh, Anisa berfikir, “ apa aku harus bertemu bertiga ya... supaya semua ini cepat selesai dan gak salah faham terus.”


“Iya Din, mungkin aku akan mencari waktu supaya aku dan mereka berdua bisa kumpul dan menjelaskan semuanya, aku harus meminta maaf sekali lagi karena ini semua salahku,” bisik Anisa.


“Eemm…,” Diana mengangguk – anggukkan kepala.


Acara Penutupan dimulai, masing – masing tim dipersilahkan menempati tempat yang sudah di sediakan oleh panitia.


Selesai acara, Anisa dan tim kesehatan lain berpamitan. Bang Rizal tampak mendekati Anisa dan Diana.


“Dek Diana,” suara bang Rizal memanggil Diana.


Diana dan Anisa menoleh, “ iya bang, ada apa?,” kata Diana.


“ Mumpung pulangnya pas jam makan siang, bareng yuk makan sama Ais juga, dia nunggu di parkiran, katanya lagi menjaga perasaan orang,” Ujar Rizal.


Semantara itu di parkiran Ais bertemu dengan Dokter Andre, Ais mencoba tersenyum pada Donter Andre. Dokter Andre yang sudah membuka pintu mobilnya menutup kembali dan menghampiri Ais.


“Kok baru nongol mas?, kemana aja beberapa hari gak kelihatan berjaga?,” tanya Dokter Andre.


“Ooo…, saya lagi keluar kota mas,” jawab Ais.


“Keluar kota?.” Dokter Andre teringat saat Anisa mendapat pesan dari temannya yang tugas keluar kota, “ mas tugas keluar kota ya?.” Tanya Dokter Andre lagi.


“Bukan bertugas mas, saya ambil cuti sebentar buat pulang kampung nengokin orang tua,” jawab Ais tersenyum.


Dokter Andre terdiam sebentar, ia berfikir, “apa mungkin pesan yang di terima Anisa waktu itu dari mas Ais, kayaknya gak salah lagi karena waktu itu Anisa seperti salah tingkah,” kata Dokter Andre dalam hati.

__ADS_1


“Mas Andre…, kok bengong ada apa?,” kata Ais.


“Mas, saya mau tanya tolong jawab dengan jujur ya, waktu mas Ais berangkat pulang kampung, mas Ais kirim pesan ke Anisa?,” tanya Dokter Andre ingin memastikan.


__ADS_2