
Permisi Dok, ini saya Anisa,” Kata Anisa sambil mengetuk pintu yang sedikit terbuka.
“Iya masuk, silahkan duduk,” jawab Dokter Andre dengan nada datar dan tanpa ada senyum di wajahnya.
“Baik Dok,” ucap Anisa, ia duduk di kursi depan Dokter Andre.
“Kamu tau kenapa saya panggil kamu kesini?,” tanya Dokter Andre, Ia menatap Anisa seraya memainkan pulpen di atas meja.
“Iya Dok saya tahu, maaf saya tidak menepati janji karena saya tidak bertukar jaga saat ada jadwal yang bertemu dengan Dokter, tapi Dok saya memang sengaja supaya pertemanan kita bisa pelan – pelan kembali baik Dok,”ujar Anisa, ia berbicara sambil menundukkan pandangannya karena ia masih merasa bersalah pada Dokter Andre.
“Hanya itu? Tidak ada lagi yang mau kamu sampaikan pada saya?,” tanya Dokter Andre lagi.
“Eeemm..., sebenarnya saya mau memberitahu Dokter bahwa saya akan dilamar, maaf Dok,” Anisa menatap Dokter Andre sebentar lalu menundukkan pandangannya kembali.
“Di lamar Mas Ais,” ucap Dokter Andre dengan nada sedikit tegas.
“I… itu… Eemm…, saya minta maaf Dok, saya benar – benar minta maaf.” Mata Anisa berkaca – kaca ia menahan air matanya.
Dokter Andre tak sadar kalau Anisa menahan Air mata karena Anisa menundukkan kepalanya, Dokter Andre bertanya lagi dengan nada yang tegas.
“Jangan hanya minta maaf saja, jawab! Kamu dilamar Mas Ais?,” kata Dokter Andre.
“Iya… Dok,” jawab Anisa dengan nada sedikit gemetar karena menangis, ia sudah tak sanggup menahan Air matanya.
Dokter Andre terkejut melihat Air mata Anisa yang jatuh mengenai tangan Anisa yang ada di atas meja. Seketika Dokter Andre menjadi cemas namun ia tak mau menunjukkan pada Anisa.
“Kamu…, kamu nangis?,” tanya Dokter Andre.
“Tidak Dok, ini mata saya tiba – tiba merasa pedih,” jawab Anisa sambil mengusap air matanya dengan tangan.
“Sudah tak usah berpura – pura begitu, kamu nangis karena nada bicara saya, karena saya tidak pernah bernada seperti ini tiap berbicara denganmu iya kan?,”ucap Dokter Andre, ia mendekatkan kotak tisu ke Anisa.
Anisa mengangkat kepalanya dan berbicara sedikit tegas, “ iya Dok! Saya sedih karena nada bicara Dokter berubah sama saya, saya menangis karena saya tak tau harus berbicara apa dengan Dokter, saya menangis karena saya merasa bersalah terus pada Dokter,” Anisa berbicara sambil terisak – isak dan kembali menundukkan pandangannya.
__ADS_1
Dokter Andre tercengang melihat Anisa, ia merasa bingung, ia ambil selembar tisu, ia berikan pada Anisa.
“Ini usap air matamu, sudah… sudah… jangan menagis, saya sudah memaafkanmu,” ucap Dokter Andre.
Medengar ucapan Dokter Andre, pendangan Anisa langsung tertuju ke Dokter Andre, ia berhenti menangis dan mengambil tisu yang di sodorkan Dokter Andre.
“Benar Dok? Saya tidak salah dengar kan, Dokter benar memaafkan saya?,” kata Anisa sambil mengusap Air matanya.
“Iya, kamu gak salah denger, kemarin Mas Ais sudah menjelaskan semua pada saya, medengar penjelasan Mas Ais saya bisa mengerti dan mengiklaskan, maafkan juga sikap saya barusan agak kasar, saya meluapkan kekesalan yang masih tersisa, sekarang saya sudah lega, semoga kamu dan Mas Ais bahagia dan semua yang kalian rencanakan berjalan lancar,” ujar Dokter Andre, ia tersenyum pada Anisa sebagai ungkapan bahwa ia sudah memafkan Anisa.
Anisa pun ikut tersenyum, ia sangat senang akhirnya Dokter Andre memaafkannya, Anisa agak malu karena menangis di hadapan Dokter Andre.
“Amiin…, terima kasi Dok, saya senang sekali, saya yakin Dokter akan mendapatkan pasangan hidup yang lebih baik dari saya karena Dokter orang yang baik dan juga pintar,” ucap Anisa. Mereka pun sama – sama tersenyum.
“Dok saya mau memberi bocoran pada Dokter sebagai balasan karena Dokter sudah memaafkan saya,” ujar Anisa.
Dokter Andre mengerutkan alisnya, “bocoran apa?,” tanya Dokter Andre.
“Sebenarnya ada yang diam – diam menyukai Dokter Andre lo…, dia…,” belem selesai Anisa berbicara Hp Anisa berbunyi.
“Sepertinya kita harus kembali Dok, ada miscall dari UGD mungkin ada pasien,” ujar Anisa lagi.
“Ooo…, eh jawab dulu siapa,” kata Dokter Andre.
“Nanti aja Dok, utamakan pasien dulu Dok,” ujar Anisa sambil berjalan keluar ruangan.
“Eehhh… Nis…,hemmm… bikin orang penasaran aja, siapa ya, sudah lah,” Dokter Andre berdiri dan berjalan ke UGD.
Sebelum masuk ruang UGD, Anisa membasuh mukanya di wastafel di ruang poli kebidanan kebetulan pintunya masih terbuka.
Teman – teman jaga memandangi Anisa, mereka ingin cepat – cepat bertanya soal Anisa dipanggil Dokter Andre, tak lama Anisa masuk UGD Dokter Andre masuk dan bertanya tentang pasien yang baru masuk.
“Ada Pasien?,” tanya Dokter Andre.
__ADS_1
“Iya Dok, ini pasien luka di bagian tangannya karna terkena sabit saat memotong rumput,” jawab teman Anisa.
Anisa bersiap memakai sarung tangan untuk membantu temannya merawat luka pasien, Dokter Andre mendekati pasien.
“Cukup dalam juga lukanya, ya sudah lanjutkan heating,” ujar Dokter Andre.
“Bapak ini lukanya di jahit ya karena lukanya lumayan dalam, ada keluhan lain selain lukanya pak,” tanya Dokter Andre pada pasien.
“Tidak ada pak Dokter,” jawab pasien yang berbaring di tempat tidur pasien.
Dokter Andre kembali ke tempat duduk, ia Ambil kertas resep dan menuliskan resep obat untuk pasien.
Beberapa menit kemudian Anisa dan temannya selesai merawat luka pasien.
“Pak lukanya sudah selesai di jahit dan di perban, bapak sudah boleh duduk disebalah sana ya pak,” kata Anisa pada pasien sembari menuntuk tempat duduk yang ada di depan Dokter Andre.
“Terimakasi mbak,” ucap pasien, pasien beranjak dari tempat tidur pasien dan duduk di tempat yang di tunjukkan Anisa.
“Bapak, lukanya tidak boleh terkena air dulu ya, 3 hari lagi kontrol kesini untuk mengganti perban, dan ini untuk obat
minumnya ada dua macam, ini pereda nyeri diminum 3 kali sehari 1 tablet, terus yang ini antibiotiknya diminum harus sampai habis, diminum 2 kali sehari 1 tablet, ada yang mau ditanyakan pak,”kata Dokter Andre menjelaskan.
“Tidak pak Dokter, terimakasi, untuk pembayar dimana ya pak Dokter?,” ucap pasien.
“Kalau soal pembayaran di jelaskan sama mbak perawatnya ya pak,” jawab Dokter Andre.
“Bapak untuk pembayarannya gratis ya pak, karna tadi bapak saat di data bapak pakai kartu jaminan kesehatan, sekarang bapak langsung ke apotik di samping Poli untuk ambil obatnya, ini silahkan dibawa resepnya untuk di serahkan ke penjaga apotik,” jelas teman Anisa.
“Ooo…, begitu, kalau begitu terimakasi ya mbak dan pak Dokter, permisi…,” kata pasien.
“Iya pak sama – sama, jangan lupa 3 hari lagi kontrol ya pak,” ucap Dokter Andre.
Pasien menganggukkan kepala, ia berjalan ke apotik, Dokter Andre melirik Anisa.
__ADS_1
“Anisa ikut saya ngecek ibu X, kita lihat keluhannya sudah berkurang atau belum?,” kata Dokter Andre.
Bersambung…